Halo!

Nona Berbunga Hijau Chapter 05

Memuat...

belum punya nama ini ..... ia akan kelaparan ..... akan mati sedikit demi sedikit aduh,

alangkah ngerinya cucuku, dosa apakah yang kau lakukan dalam hidup yang

terdahulu ?”

Ci Ying terharu sekali. Sebagai anak seorang budak, ia maklum benar nasib sengsara apa yang dihadapi anak ini dan neneknya.

“Nenek, jangan khawatir. Aku akan memeliharanya, aku akan membagi makananku dengan nenek dan anak ini ” hiburnya.

Nenek itu memandang gadis ini dengan mata terbelalak, kemudian runtuh pula air matanya yang agaknya tidak mau habis. Terseok-seok ia mengesot bergerak dengan pahanya menghampiri gadis itu. Ci Ying maklum akan maksud nenek itu memeluknya sambil menangis.

“Ci Ying, kau baik sekali semoga Sang Buddha membersihkan kau dari sisa dosa-

dosamu dan mengangkatmu ke dalam penghidupan lebih bahagia. Kau kau

bawalah cucuku itu, tentang aku biarkan aku mati di gubuk ini, biarlah aku

menyusul anak dan mantuku. Tidak mau aku membiarkan gadis seperti kau kekurangan makan karena aku Pergilah, anak yang baik, pergilah!”

Ci Ying maklum bahwa ia takkan dapat memaksa nenek ini. Ia berdiri dan mendukung bayi itu ke pintu Sampai di pintu ia berhenti dan menoleh. “Akan

tetapi kau bagaimana dengan kau, nenek?”

“Aku dapat mengemis makanan atau mati kelaparan, bagiku sama saja. Eh, bawa anak itu sekali lagi ke dekatku, Ci Ying.”

Gadis itu datang lagi dan berlutut membiarkan nenek itu memeluk dan menciumi bayi itu. “Cucuku, kalau kau sudah besar, ingatlah semua yang menimpa ayah bundamu.

Kau kau, kuberi nama Wang Tui.”

Kemudian dengan isyarat tangannya karena tidak kuasa mengeluarkan suara lagi saking terharunya, menyuruh Ci Ying pergi. Gadis itu lalu meninggalkan rumah gubuk dan berlari pulang ke rumah ayahnya.

Setiba di rumah, ia melihat ayahnya berdiri, seperti patung dengan muka agak pucat dan di depannya berdiri seorang hamba tukang cuci yang kerjanya mencuci pakaian keluarga tuan tanah. Setiap hari, pagi-pagi sekali hamba ini mengambil pakaian- pakaian kotor dari rumah tuan besar untuk dibawa ke sungai dan dicuci. Melihat kedatangan puterinya yang memondong seorang bayi yang menangis, Ci Leng bertanya, suaranya ketus seperti orang marah.

“Ci Ying, anak siapa yang kaugendong itu?”

Ci Ying terkejut melihat ayahnya seperti orang marah. Belum pernah ayahnya marah kepadanya, biasanya bicaranya selalu manis terhadapnya. Memang Ci Leng agak memanjakan anaknya, karena anak yang sudah tidak beribu lagi ini mengingatkan dia kepada isterinya yang tercinta, isteri yang juga meninggal dunia karena gara-gara tuan tanah. Isteri Ci Leng amat cantik, seperti juga Ci Ying. Semenjak menjadi isterinya, tuan tanah selalu berusaha mendapatkan isterinya itu dan nafsu buruk ini ditahan- tahan karena isteri Ci Leng mengandung. Setelah Ci Ying terlahir, tuan tanah itu makin menjadi rindu dan gila. Dipergunakan segala daya upaya untuk mendapatkan isteri hambanya, namun isteri Ci Leng tidak sudi meladeninya. Akhirnya saking gelisah dan selalu ketakutan isteri Ci Leng jatuh sakit sampai matinya.

“Ayah, inilah cucu nenek lumpuh. Ayah bundanya sudah meninggal, siapa lagi yang akan memeliharanya? Biarlah aku membagi makananku dengannya.” Kemudian dengan sikap manja untuk menyenangkan hati ayahnya. “Ayah, bukankah kau ingin mempunyai anak laki-laki? Nah, dia ini laki-laki dan oleh nenek lumpuh diberi nama Wang Tui. Bagus, bukan? Lihat, anaknya sehat dan montok ”

“Gila kau!” ayahnya memaki dan kembali Ci Ying menjadi kaget. Selamanya belum pernah ayahnya memakinya.

Kemudian ayahnya menarik napas panjang, menundukkan muka tidak sudi melihat bayi itu. “Memang malapetaka tidak datang sendirian. Kau tambah lagi dengan beban, seakan-akan beban dan malapetaka yang menimpa kita masih kurang berat.”

Ci Ying pucat. “Ayah, ada apakah ?”

Ayahnya tidak menjawab, hanya memandang kepada hamba yang datang ke situ, perempuan tukang cuci itu. Ci Ying menengok kepadanya. “Bibi, ada apakah?”

Perempuan yang mukanya dimakan cacar itu berkata, “Celaka besar, Ci Ying. Aku diberitahu oleh nyonya besar ke lima bahwa tuan muda berkehendak mengambil kau sebagai selir ke delapan.”

“Ayah !” Hampir saja Ci Ying melepaskan bayi yang dipondongnya kalau ia tidak

ingat dan cepat-cepat memeluk bayi itu makin erat sambil memandang ayahnya dengan mata terbelalak lebar.

Ayahnya hanya menghela napas sekali lagi. “Celakanya, tuan besar yang kuharapkan akan dapat mengatasi tuan muda, malah sudah menyetujui kehendak tuan muda itu.”

“Betul,” sambung budak tukang cuci. “Nyonya besar ke lima mendengar sendiri percakapan antara tuan besar dan tuan muda.” Yang dimaksudkan nyonya besar ke lima itu adalah selir Yang Can ke lima yang dahulunya menjadi budak pula, selir yang memijiti kakinya ketika terjadi percakapan antara ayah dan anak di malam itu. Selir ini betapapun juga masih ingat akan asal-usulnya, mereka kasihan kepada Ci Ying dan diam-diam memberi kabar melalui tukang cuci yang setiap pagi mengambil cucian. Kebetulan sekali dialah yang mempunyai tugas mengumpulkan pakaian- pakaian kotor.

Hampir tidak terdengar lagi oleh Ci Ying kata-kata budak pencuci pakaian itu. Pikirannya tidak karuan, bingung, sedih, marah, takut menjadi satu. Pada saat itu ia teringat kepada Wang Sin, tunangannya. Bayangan Wang Sin menjadi sinar terang yang mencegahnya jatuh pingsan. Tiba-tiba ia lari keluar sambil berseru perlahan. “Aku tidak mau .....! Aku tidak mau !”

Melihat akibat berita yang dibawanya, tukang cuci itu menjadi takut kalau-kalau perbuatannya terlihat oleh para centeng tuan tanah. Maka ia cepat-cepat angkat kaki menuju ke sungai untuk memulai pekerjaannya.

Ci Leng kembali menarik napas berulang-ulang, lalu meninggalkan gubuknya. “Aku harus bicara dengan tuan besar,” katanya lirih kepada diri sendiri.

Sementara itu, sambil mengendong Wang Tui yang kembali menangis, Ci Ying lari terus ke bukit di mana ia tahu Wang Sin membawa domba-dombanya. Ia takut terlambat menghadang tunangannya itu dan kalau pemuda itu sudah melewati bukit, ia harus menyusul ke tempat yang agak jauh. Ia merasakan tubuhnya lemah sekali, namun ia paksakan diri, mendaki bukit sambil berlari.

Tiba-tiba ia menjadi girang sekali dan terusirlah semua kesengsaraan hatinya ketika ia mendengar suara nyanyian yang sudah dikenalnya amat baik itu.

“Wahai, Himalaya yang tinggi. Ahoi Yalucangpo yang panjang.

Dapatkah kalian memberi jawaban?”

“Wang Sin !” teriak Ci Ying, mempercepat larinya.

Suara nyanyian itu berhenti dan dari atas bukit berlari turun pemuda itu.

“Ci Ying ! Kebetulan sekali kau datang, aku memang ingin bertemu dengan kau!”

Tak lama kemudian mereka telah saling berhadapan dan saling berpandangan. Kabut tebal masih tidak kuasa melenyapkan sinar mata mereka ketika kedua orang remaja ini saling pandang penuh perasaan.

“Pakaianmu baru !” seru Ci Ying, baru ia melihat pakaian pemuda itu yang indah

dan tebal.

“Kau menggendong bayi !” Wang Sin juga berseru heran. Perhatiannya tadi

seluruhnya dikuasai oleh wajah gadis itu sehingga baru sekarang ia melihat dan mendengar tangis bayi di dalam pondongan Ci Ying.

“Ini anak yatim piatu yang orang tuanya dibunuh kemarin. Ku ambil dari nenek lumpuh,” jawab Ci Ying mengalah. Kemudian ia cepat mengulangi pertanyaannya, “Wang Sin, dari siapa kau mendapatkan pakaian baru yang indah ini?” Wajah Wang Sin menjadi merah, setengah malu-malu setengah bangga dan girang mendapat kesempatan memperlihatkan diri dalam pakaian itu di depan tunangannya. Tentu ia kelihatan gagah dan tampan. Otomatis tanpa disadarinya, tangan kirinya bergerak ke atas dalam usaha membereskan rambutnya. Pemuda mana di dunia ini takkan berlagak memperbagus diri di depan wanita, apalagi tunangan sendiri yang ayu seperti Ci Ying?

“Aku mendapat hadiah dari tuan muda. Inilah yang hendak kutanyakan kepadamu. Menurut pikiranmu, mengapa dia memberi hadiah pakaian kepadaku?”

Mendengar ini, malapetaka yang menimpa dirinya teringat kembali oleh gadis itu dan ia lalu menjatuhkan diri di atas tanah sambil menangis. Bukan main kagetnya hati Wang Sin melihat reaksi yang sebaliknya ini dari tunangannya. Ia cepat menjatuhkan diri berlutut pula sambil memegangi pundak Ci Ying.

“Ci Ying, ada apakah? Kenapa kau menangis?” tanyanya.

Ci Ying tak dapat menjawab karena bayi itu menangis lagi karena lapar. Ia berusaha mendiamkan bayi itu sambil menyusuti air matanya sendiri.

“Kenapa dia? Lapar?” tanya Wang Sin masih bingung.

Ketika gadis itu mengangguk, Wang Sin lalu cepat menghampiri kelompok dombanya, memegang kepala seekor domba yang sedang menyusui anaknya dan menuntun domba itu ke dekat Ci Ying.

“Si putih ini banyak air susunya, beri dia air susu,” katanya.

Ci Ying menahan gelora hatinya sendiri, menahan mulutnya yang ingin menceritakan semua kesengsaraan dirinya untuk mendahulukan kebutuhan bayi itu. Ia membawa bayi ke dekat susu domba itu dan tak lama kemudian bayi itu menyusu dari susu domba. Lahap sekali bayi itu yang sudah sehari semalam tidak diberi apa-apa.

Setelah bayi itu kenyang, ia tertidur pulas dalam gendongan Ci Ying. Baru ia teringat akan keadaan diri sendiri. Sambil menangis ia bercerita.

“Wang Sin malapetaka menimpa diriku. Pagi tadi bibi pencuci membawa berita celaka. Ia mendengar dari nyonya besar ke lima bahwa ... bahwa tuan muda ... hendak

... hendak mengambil aku sebagai ... sebagai selirnya yang ke delapan ... dan ... tuan besar sudah menyetujuinya ” Ia menangis makin keras.

Wang Sin menjadi pucat. Ia serentak berdiri, mengepalkan tinjunya, matanya bersinar-sinar, mukanya menjadi muram dan giginya berbunyi.

“Bedebah! Si keparat!” makinya dan di lain saat ia telah menanggalkan pakaian barunya yang menutupi pakaian butut. Dikoyak-koyaknya pakaian itu, hancur berkeping-keping. “Si keparat jahanam makanan neraka!” Kembali ia memaki. “Jadi itulah gerangan sebabnya ia berbaik kepadaku? Bedebah!” Ia melemparkan kepingan- kepingan baju itu ke atas tanah dan menginjak-injaknya dengan gemas membayangkan bahwa si pemberi yang ia injak-injak itu. “Wang Sin, bagaimana baiknya? Aku lebih baik aku mati dari pada menjadi

selirnya.”

Post a Comment