“Kau lihat sendiri, melepaskan ikatan mereka,” jawab Wang Sin dengan muka muram.
Kalau lain hamba yang berani memberi jawaban seperti ini kepada seorang tukang pukul, tentu ia akan menerima cambukan atau setidaknya akan ditampar mulutnya. Akan tetapi terhadap Wang Sin, sembarangan tukang pukul saja tidak berani sewenang-wenang. Dahulu, setahun yang lalu pernah Wang Sin melawan seorang tukang pukul sampai tukang pukul itu rebah dengan kepala benjol-benjol dan tuan tanah yang sayang kepada tenaga kerja Wang Sin, tidak menghukumnya.
“Budak Sin, apa kau mencari mampus? Maling ini dihukum oleh tuan besar sendiri karena ia mencuri gandum dan bininya dihukum karena berani kurang ajar dan memaki tuan besar. Dan kau sekarang berani melepaskan mereka?”
“Kau yang cari mampus, bukan aku,” jawab Wang Sin tenang.
“Bagaimana kau berani bilang begitu, bocah lancang?” tukang pukul itu marah. “Tentu saja, karena kau sebagai hamba tidak tahu akan kewajiban. Mereka ini sudah menjadi mayat, apakah kau mau mendiamkan saja dua mayat ini membusuk di sini dan mengotorkan tempat tinggal tuan besar, meracuni semua keluarga tuan besar?
Masih belum dikatakan lagi kalau roh mereka mengamuk. Apa kau berani bertanggung jawab?”
Mendengar itu, tukang pukul itu menjadi pucat karena kaget dan takut. Ia menjadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Pada saat itu dari dalam muncul Yang Nam. Tukang pukul itu menjadi makin pucat dan mengira tuan muda pasti akan marah sekali. Wang Sin telah menyelesaikan pekerjaan melepaskan dua orang mayat itu dan ia bersikap tenang, sudah terlalu biasa menghadapi kemarahan tuan-tuannya sehingga tidak ada kekhawatiran lagi dalam hatinya.
Akan tetapi aneh, benar-benar di luar dugaan tukang pukul itu, malah di luar dugaan Wang Sin sendiri. Yang Nam bersikap manis, tersenyum-senyum kepada Wang Sin dan berkata.
“Tepat sekali kata-katamu, Wang Sin. Memang seorang pekerja harus mengetahui kewajibannya sendiri.”
Kemudian dibentaknya tukang pukul itu disuruh pergi.
Setelah berdua saja dengan Wang Sin, Yang Nam memandang kepada kepada Wang Sin dan berkata dengan sungguh-sungguh. “Wang Sin, pakaianmu sudah robek semua. Setelah kau selesai mengurus dua mayat itu, mintalah makan ke dapur dan nanti kau kuberi pakaian baru satu stel. Biar kusuruh pelayan-pelayan gila itu membantumu.”
Wang Sin berdiri melongo saking herannya. Sampai datangnya pelayan-pelayan atau tukang pukul-tukang pukul itu, dua orang banyaknya untuk membantu ia mengangkut dua orang mayat, ia masih berdiri keheranan. Ia bekerja tanpa membuka mulut, dan timbul kekhawatiran dan kesangsian besar. Ia sudah terlalu kenal watak tuan muda, Yang Nam. Apakah kehendaknya maka ia begitu manis dan baik hati kepadaku.
Pikirnya gelisah. Biasanya, belum tentu dua tahun sekali ia mendapat pakaian apalagi pakaian baru. Dan menyuruh dia makan. Dalam mimpi pun belum pernah ia mendapat perlakuan semanis itu. Aneh, ada apakah? Demikian suara hatinya berbisik, membuat ia makin gelisah.
Sampai setelah sikap manis tuan muda itu menjadi kenyataan, yaitu ia sudah makan kenyang dan benar-benar mendapat hadiah satu stel pakaian yang tebal dan bagus sekali baginya. Wang Sin masih gelisah bukan main. Pakaian itu hangat dan membuat ia merasa enak badannya, akan tetapi tidak membuat enak hatinya. Sikap manis atau sikap baik dari tuan-tuan itu tidak pernah dikenal oleh para budak. Dan sikap tuan muda Yang Nam itu sudah berlebihan manisnya.
Wang Sin tidak dapat tidur. Jangankan tidur, meramkan mata saja hampir tidak dapat. Belum pernah ada perlakuan manis pada dirinya, dari ayahnya yang pemarahpun belum. Kecuali Ci Ying. Hanya gadis itulah orang satu-satunya di dunia ini yang
amat manis budi baginya. Entah bagaimana, bertemu saja dengan gadis itu sudah membuat dunia menjadi lebih terang. Setiap gerakan Ci Ying melembutkan hatinya, seakan-akan gadis itu sengaja menghiburnya, dengan senyum, dengan pandangannya, dengan suaranya yang halus. Memang Ci Ying tunangannya, itulah satu-satunya orang yang pernah dan selalu bersikap manis kepadanya. Akan tetapi Yang Nam?
Teringat akan tunangannya, terhibur hati Wang Sin. Ci Ying selain manis budi juga amat cerdik seperti ayahnya. Pandai melukis pandai menulis, pandai berhitung dan selalu banyak ceritanya yang hebat-hebat. Ci Ying gadis pandai, tentu akan dapat menerangkan arti sikap berlebihan dari tuan muda. Akan kutanyakan kepadanya, besok. Dengan wajah Ci Ying membayang di depan matanya, akhirnya Wang Sin dapat pulas juga.
Kalau saja ia dapat mendengar percakapan antara tuan besar Yang Can dan Yang Nam, agaknya bayangan wajah Ci Ying bahkan akan membuat ia tidak dapat tidur sama sekali.
Di dalam rumah gedung hanya beberapa belas meter jauhnya dari tempat tidur Wang Sin di kandang domba, dalam kamar duduk yang indah dan mewah Yang Can sedang bercakap-cakap dengan Yang Nam. Tuan besar itu duduk di kursi malas setengah berbaring. Dua orang selir muda dan cantik mengawaninya, seorang mengipasinya dengan kipas bulu domba, yang kedua memijit-mijit kaki tuan tanah itu yang kelelahan karena seharian tadi banyak berdiri dan berjalan ikut sibuk memeriksa hasil panen tanahnya. Yang Nam duduk di atas kursi di depan ayahnya, mukanya yang tampan ditundukkan, akan tetapi sepasang matanya yang sipit itu kadang-kadang mencuri pandang dan melirik dari ujung mata ke arah selir yang mengipasi ayahnya, selir yang cantik dan muda dan yang seringkali ia ajak bermain mata di luar tahu ayahnya.
“Panen tahun ini bagus sekali. Sayang ada saja gangguan sehingga terpaksa kita kehilangan dua orang tenaga budak,” terdengar suara tuan besar Yang Can. Dari ucapan ini saja sudah dapat diketahui bahwa nyawa para budak bagi tuan besar ini tidak ada artinya sama sekali, yang penting dan disesalkannya adalah hilangnya tenaga mereka, tenaga orang-orang yang ia peras untuk menumpuk harta kekayaan.
“Akan tetapi ada baiknya juga, ayah,” bantah puteranya. “Mereka itu perlu dikorbankan, tidak saja untuk menebus dosa mereka yang telah berani mencuri dan menghina kita, akan tetapi perlu untuk menjadi contoh dan membikin takut para budak. Orang-orang seperti mereka itu kalau tidak diatur dengan tangan besi, mana bisa taat? Mereka itu memang sudah berwatak rendah sehingga setiap saat dan kesempatan pasti akan mereka gunakan untuk mencuri dan memberontak.”
Yang Can mengangguk-angguk, cocok sekali dengan pikiran anaknya ini. Juga selir yang sedang menggoyang-goyang kipas tersenyum senang. Akan tetapi selir yang memijit-mijit kedua kaki tuan tanah itu menundukkan kepala dan menahan kedukaan hatinya. Dia ini tahu apa yang menyebabkan para budak kadang-kadang melakukan pencurian karena diapun berasal dari budak. Karena kebetulan ia cantik wajahnya dan halus putih kulitnya maka ia mendapat nasib baik menjadi selir tuan tanah itu. Ia tahu bahwa para budak terpaksa mencuri karena terlalu sering kelaparan, mencuri untuk menambah kebutuhan perut mereka. “Nam-ji (anak Nam), tentang permintaanmu tadi, tentu saja tidak menjadi soal kalau kau ingin menambah seorang selir lagi, akan tetapi gadis Ci Ying itu, bukankah sudah ditunangkan dengan anak si pandai besi? Dulu pernah kukatakan kepada mereka bahwa dua orang itu akan menjadi pasangan terbaik di antara para budak.”
“Pertunangan antara budak bisa dibatalkan!”
Tuan tanah itu mengangguk-angguk, berpikir. “Tentu saja, akan tetapi mereka itu tenaga-tenaga terbaik, Yang Nam. Kita akan rugi kalau kehilangan tenaga mereka. Ci Leng selain seorang petani baik, juga pandai membantu mengatur catatan-catatan dan perempuannya itupun rajin dan cepat. Harus diingat lagi Wang Sin yang amat setia dan pandai merawat domba. Malah ayahnya juga pandai besi satu-satunya.”
“Apa salahnya? Mereka, orang-orang tua itu, tentu akan senang sekali kalau dapat berjasa kepada kita, tentu mereka senang kalau Ci Ying menjadi selirku. Tentang Wang Sin, ah, biar aku yang mengurus dia. Diberi hadiah-hadiah sedikit saja masa ia tidak rela melepaskan Ci Ying?”
Ayahnya mengangguk-angguk. “Sesukamulah, kau atur sendiri. Akan tetapi sedapat mungkin jangan sampai mengecewakan hati mereka yang amat kita butuhkan tenaganya.”
Demikianlah percakapan di dalam kamar, di gedung itu yang tentu akan membuat Wang Sin gelisah dan tak dapat tidur kalau ia mendengarnya.
******
Di dalam sebuah gubuk seperti kandang butut itu, nenek tua yang lumpuh menangis terisak-isak sampai tidak ada suara lagi terdengar dari lehernya. Kedua tangannya memondong bayi yang menangis lirih karena kehabisan suara.
“Cucuku .... ahhh ..... cucuku yang manis .... kau harus lekas besar cucuku harus
lekas besar bagaimana aku bisa meninggalkan kau seorang diri di dunia ini?
Cucuku .... siapa yang akan menyusuimu sekarang, siapa siapa yang akan
menyambung hidupmu ?”
Nenek lumpuh ini sudah mendengar tentang kematian anak dan menantunya. Dapat dibayangkan betapa hancur hatinya, betapa hebat kedukaannya. Akan tetapi kebingungan dan kegelisahannya lebih besar lagi. Seorang nenek tua yang tak mampu bekerja seperti dia, tentu sudah dibiarkan mati kelaparan kalau saja anak dan mantunya tidak bekerja keras, membanting tulang dan membagi sedikit hasil makanan mereka dengan dia. Sekarang anak dan mantunya sudah mati, siapa lagi dapat diharapkan untuk memberi dia dan cucunya makan?
Keadaan cuaca masih gelap karena masih amat pagi. Sesosok bayangan memasuki gubuk melalui pintunya yang reyot.
“Nenek, jangan terlalu berduka,” kata Ci Ying dengan suara terharu sambil minta bayi itu yang segera dipondongnya dengan cara yang kaku namun penuh kasih sayang. Ci Ying tidak pernah mempunyai adik kandung, maka ia tidak biasa menggendong anak kecil, canggung benar ia memondong bayi itu, takut-takut kalau terlepas dan jatuh.
Kedatangan dan hiburan Ci Ying ini membuat nenek itu makin merasa nelangsa dan makin tersedu-sedu. Akhirnya dapat juga ia mengeluarkan suara,
“Ci Ying .... bagaimana aku takkan .... berduka .... bagiku yang sudah tua bangka ....
mati kelaparan bukanlah soal lagi .... akan tetapi .... cucuku ini ..... cucuku yang