Dan kakek penjilat mengomel sepanjang jalan, menyalahkan gadis itu yang dikatakannya menjadi gara-gara sehingga tuan muda menjadi murung dan kesal yang akibatnya merugikan semua budak. Hanya setelah Ci Leng membentaknya, kakek penjilat itu tidak berani banyak cerewet lagi.
Malam itu mereka terpaksa menahan lapar. Baiknya kaum tertindas ini sudah mengenal setia kawan dan dengan secara gotong royong mereka mengumpulkan gandum seadanya dan membagi-bagi di antara mereka. Dengan jalan ini mereka seringkali dapat mengatasi bahaya kelaparan. Sayang seribu sayang gotong royong ini hanya dipergunakan untuk melawan bahaya kelaparan dan sedikitpun tidak pernah timbul dalam benak mereka untuk mempergunakan persatuan itu di bidang lain yang lebih penting, misalnya untuk menentang tuan tanah. Pada masa itu, siapa sih yang berani? Menentang tuan tanah sama dengan menentang para pendeta, menentang pendeta-pendeta itu sama dengan menentang Lama-Lama Besar dan menentang orang-orang suci ini sama dengan menentang Sang Buddha sendiri, menentang Tuhan! Demikianlah pelajaran yang sudah digoreskan dalam-dalam di hati semua budak, sudah mendarah daging.
****** Langit di barat merah seperti terbakar dikala matahari mulai mengundurkan diri. Dan semua makhluk di dunia pun biasanya ikut pula mengundurkan diri untuk beristirahat menanti datangnya esok berikutnya.
Segerombolan domba muncul dari kaki langit ketika mereka menanjak sebuah bukit kecil. Perut binatang-binatang ini menyendul kekenyangan, tanda bahwa dengan baik- baik pengembalanya telah membawa mereka ke padang rumput dan membiarkan mereka makan sekenyangnya.
“Hiyooo sini hitam! Kau selalu mau menyeleweng saja. Apa sudah lupa jalan
pulang?” demikian terdengar suara laki-laki yang nyaring sekali. Kemudian muncullah orangnya, seorang pemuda tegap yang memegang sebuah cambuk. “Hayo pemalas, hayo sini kumpul dengan rombongan!”
Setelah domba-dombanya berkumpul dan melanjutkan perjalanan ke kandang, pemuda yang usianya tujuh belas tahun itu bernyanyi sekuat dadanya :
“Wahai, Himalaya yang tinggi. Ahoi, Yalu-cangpo yang panjang. Dapatkah kalian memberi jawaban? Kedua tanganku kuat bekerja berat. Tapi tiada seperseratus hasilnya.
Menjadi bagianku!
Aku punya mulut.
Tak dapat mengeluarkan suara hati. Telingaku disusur tuli.
Mataku disusur buta.
Aku punya nyawa.
Aku punya nyawa.
Tak lebih berharga seekor domba! Wahai, Himalaya sembunyikan aku dipuncak-puncakmu!
Ahoi, Yalu-cangpo, lenyapkan aku di muaramu!”
Suara nyanyiannya nyaring dan mengandung keluhan jiwa para budak, akan tetapi terdengar bersemangat. Kemudian cambuknya dibunyikan di udara dan ia menyumpah-nyumpahi domba itu. “Hiyooo ! Domba-domba pemalas, jangan
menyeleweng! Tak pandai kerja, makan sekenyangnya. Kalah orang yang bekerja melebihi kuda, makanpun hampir tak kenyang!” Suara ini disusul bunyi “tar-tar-tar!” cambuknya yang dihantamkan dengan gemas di udara.
Tiba-tiba ia melihat bocah yang berteriak-teriak girang. Kuda tua larilah! Kuda tua lucu !!”
Ia melihat seorang anak laki-laki berusia lima-enam tahun menunggangi punggung seorang hamba tua yang kurus. Kakek itu terengah-engah dan berlari menggunakan sepasang tangan dan kaki seperti kuda dan bocah ini menjambak rambut dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya yang memegang cambuk memukul-mukul leher kakek itu. Kakek itu berlari makin keras dan sebentar saja lenyap di sebuah tikungan. Yang terdengar hanya teriak kegirangan bocah itu di antara napas yang megap-megap dari si hamba kakek.
“Anak iblis!” pemuda itu menggertak gigi dan mengepal tinju, kemudian cambuknya diayun memukul sebatang pohon dengan keras sampai menimbulkan suara keras dan kulit pohon itu lecet-lecet. Pemuda itu, Wang Sin, marah sekali. Sudah terlalu banyak ia menyaksikan kejadian-kejadian yang menyakitkan hatinya, sudah terlalu sering ia mendengar cerita ayahnya tentang kesengsaraan-kesengsaraan budak-budak di daerah ini, namun sebegitu lama ia dan ayahnya tidak berdaya.
Ayahnya Wang Tun, adalah satu-satunya pandai besi yang menjadi hamba tuan tanah Yang Can. Semenjak masih muda ayahnya sudah menjadi hamba sahaya, kerjanya setiap hari di perapian, menggembleng dan membentuk alat-alat pertanian dan alat- alat lain yang dibutuhkan oleh tuan besarnya. Kadang-kadang tuan besar membutuhkan barang-barang yang harus ditempa dan dijadikan secepat mungkin sehingga ayahnya harus bekerja siang malam, kadang-kadang sampai ketiduran di dapur kerja saking lelah dan mengantuknya.
Ayahnya bukan seorang lemah. Sudah dua kali ayahnya mencoba melarikan diri, yaitu ketika belum menikah, masih seorang pemuda yang kuat. Akan tetapi, anjing- anjing penjaga dan pendeta-pendeta Lama yang kosen dapat mengejar dan menangkapnya. Ia dipukuli habis-habisan, lebih mati dari pada hidup dan semenjak saat itu kedua kaki ayahnya dipasangi belenggu yang berantai panjang. Ayahnya dapat berjalan akan tetapi tidak mungkin dapat lari cepat. Dengan kedua belenggu di kaki ayahnya menikah, atau lebih tepat dinikahkan oleh tuan besar untuk menjadi pengikat yang lebih kuat dari pada belenggu. Setelah ia terlahir dan ibunya mati karena kekurangan darah, ayahnya membawanya lari lagi. Melarikan diri akan tetapi tidak berlari, hanya berjalan cepat di tengah malam. Malang tertawan lagi dan belenggu dikakinya diperpendek rantainya dan diperkuat. Semenjak itu, hati ayahnya yang sekuat baja melumer dan tidak mencoba melarikan diri lagi sampai sekarang, sudah lima puluh tahun usianya.
Alangkah buruknya hidup. Ketika ia masih kecil, sudah sering kali Wang Sin mengalami gebukan dan penghinaan. Pernah dia dijadikan kuda tunggangan tuan muda Yang Nam sampai kedua tangannya hampir patah karena dipakai berlari seperti binatang. Akhirnya, karena dia merupakan orang muda terkuat, ia dipilih sebagai pengembala domba. Ia harus melindungi dan menjaga domba-domba itu dengan seluruh jiwanya karena hilang seekor domba saja mungkin harus diganti dengan sebelah kaki atau tangannya. Ah, betapa buruknya hidup.
Kembali saking gemasnya Wang Sin mengayun cambuknya, memukuli batang pohon yang ia umpamakan sebagai tuan besar dan tuan kecil, sebagai anjing-anjing penjaga tuan tanah dan pendeta-pendeta gundul yang kejam. “Tar-tar-tar-tar!” bunyi cambuknya berkali-kali.
“Tar-tar-tar-tar!” Di lain tempat, tak jauh dari situ, cambuk lain diayun mencambuki sesuatu. Akan tetapi kalau cambuk di tangan Wang Sin hanya membikin lecet-lecet kulit-kulit pohon saja, cambuk yang lain ini memecah kulit mengiris daging punggung orang sehingga darah muncrat ke sana-sini diiringi rintihan yang makin lama makin lemah sampai akhirnya tidak terdengar lagi biarpun cambuknya masih terus berbunyi membuat kulit hancur bersama dagingnya.
“Rasakan kau, bangsat hina dina, berani mencuri gandum!” kata Yang Can, tuan tanah yang menyuruh tukang pukulnya menyiksa budak yang berani mengambil gandum di sawah tadi sambil meludahi muka budak itu yang sudah tidak keruan macamnya karena menjadi korban cambuk.
Budak itu diikat pada sebuah tiang di pekarangan samping rumah tuan tanah, dan kepala yang tadinya sudah lemas itu mendadak diangkat lagi, matanya yang bengkak- bengkak itu dibuka dan mulutnya mengeluarkan rintihan terakhir. “Menebus dosa ,
menebus dosa ..... untuk hidup kemudian ” Dan budak itu menghembuskan napas
terakhir. Kasihan orang ini, dan saat terakhir pengaruhnya dongeng para pendeta Lama masih menguasainya sehingga siksaan yang membuat nyawanya melayang itu ia anggap sebagai penebus dosa-dosanya.
“Suamiku !” Seorang wanita, isteri dari hamba yang disiksa sampai mati itu,
dengan rambut riap-riapan berlari datang sambil menangis. Dari sawah ia langsung lari ke situ ketika mendengar dari budak-budak lainnya bahwa suaminya disiksa oleh tuan tanah. Melihat suaminya terikat dan kepalanya menggantung tak bergerak-gerak lagi, mandi darah, ia menjerit ngeri dan menubruk mayat suaminya sambil memeluki kedua kakinya dan menangis tersedu-sedu. “Suamiku .... suamiku jangan
tinggalkan aku dan anakmu yang masih kecil ”
Yang Nam, putera tuan tanah yang keluar mendengar suara ribut-ribut ini, melotot marah melihat perempuan itu menjerit-jerit. Juga Yang Can marah sekali. Tukang pukulnya yang tadi menyiksa hamba itu sampai mati, melihat kemarahan pada wajah tuan besar dan tuan muda, segera mengangkat kaki menendang perempuan itu. “Pergi kau!”
Perempuan itu terguling-guling memegangi dadanya yang kena tendang, kemudian tiba-tiba ia melompat berdiri, rambutnya riap-riapan, matanya merah, kedua tangannya mengepal.
“Iblis! Biadab kau! Anjing penjilat tuan tanah, kau dan tuan tanah akan mampus dibakar api neraka!” Karena duka dan marah, wanita ini sudah tidak ingat apa-apa lagi, tidak kenal takut, sambil menuding-nudingkan telunjuknya kepada Yang Nam dan Yang Can dan tukang pukul itu, ia memaki-maki.
Kembali sebuah pukulan tukang pukul membuat ia roboh terguling. “Bunuh anjing betina ini!” seru tuan tanah Yang Can.
“Tidak, ayah. Dia berani memaki kita. Potong lidahnya!” kata Yang Nam, marah sekali karena dia yang semenjak kecil didewa-dewakan oleh semua budak, sekarang mengalami dimaki-maki oleh hamba perempuan itu.
“Betul, potong lidahnya!” ayahnya membeo. Tukang pukul yang mencari muka cepat menangkap wanita itu yang meronta-ronta, mengikatnya menjadi satu dengan mayat hamba yang disiksanya tadi, kemudian secara keji, di luar batas prikemanusiaan, ia memaksa membuka mulut wanita itu, menarik keluar lidahnya dan memotong lidahnya dengan pisau.
Terdengar pekik meraung mengerikan sekali dan di lain saat tubuh wanita malang itu berkelonjotan, nyawanya melayang menyusul nyawa suaminya.
“Kumpulkan semua budak, suruh menonton biar tidak ada lagi yang berani main gila,” gerutu Yang Can yang pergi memasuki rumah bersama puteranya.
Kelihatannya Yang Nam berbisik-bisik minta sesuatu kepada Yang Can. Ayahnya ini memandang tajam mengerutkan kening dan menggeleng kepala. Anaknya membujuk terus dan akhirnya ayah itu tersenyum mengangguk.
“Selirmu sudah tujuh, masih ditambah lagi? Baiklah, jangan khawatir,” terdengar ayah ini berkata.
Sementara itu, tukang pukul itu lalu memanggil para budak dan mengabarkan bahwa hamba itu mati karena mencuri gandum dan isterinya dicabut lidahnya karena berani memaki yang dipertuan. Semua budak menjadi pucat, akan tetapi tak seorangpun berani mengeluarkan suara.
Wang Sin melihat dua mayat ini terikat pada pohon ketika ia menggiring domba- domba ke dalam kandang. Ia terkejut sekali dan sebuah makian tergumam di dalam mulutnya. Tanpa menghiraukan perutnya yang sudah lapar karena sehari belum diisi, setelah mengunci pintu kandang, ia lalu menghampiri pohon itu dan melepaskan ikatan pada dua mayat. Seorang anjing penjaga tuan tanah menghampirinya.
“Budak Sin, kau mau apa?” tanya tukang pukul itu.