kalau saja aku dapaat bertemu dengan dia, tentu dia akan menerimaku sebagai isterinya. Aku yakin akan hal itu, karena dia dia menyintaiku!"
"Mudah-mudahan begitu SUi Lan, Hal ini kuharapkan benar, sungguhpun akau merasa ragu-ragu, karena aku telah mengenal hati laki-lak, yang mudah menyatakan cinta dan mudah pula melupakannya. Aku maklum benar bahwa diantara seratus orang wanita di dunia ini hanya seorang dua orang saja yang dapat berlaku curang dan tidak setia, akan tetapi sebaliknya diantara seratus orang pria, hanya seorang atau dua orang saja yang dapat berlaku jujur dan setia!"
"Ayah, kau sungguh mulia! Kau sudah mendengar riwayatku yang penuh noda, namun kau tetap sudi menjadi ayahku. Alangkah bahagianya rasa hatiku, kau seakan-akan memberi api kehidupan baru dalam dadaku."
Lie Kai tersenyum, sungguhpun matanya makin muram ketika ia menjawab, " jangan menganggap demikian anakku. Kau belum mendengar riwayatku, dan kalau kau sudah mengetahui keadaan riwayatku dimasa lalu, mungkin kau takkan memandangku demikian tinggi. Akupun hanya seorang yang telah penuh dengan dosa." Kemudian dengan singkat Lie Kai si Kerbau berkepala besi menceritakan riwayat hidupnya.
***
Lie Kai adalah seorang putra seorang petani yang tinggal disebuah dusun kecil di propinci Hok-kiau. Semenjak kecil ia hidup sengsara karena ayahnya memiliki sebidang sawah yang tidak berapa besarnya. Kepala daerah mengadakan peraturan pajak sawah luar biasa beratnya, ditambah pula oleh kepala dusun yang dengan cerdiknya menambahkan biaya-biaya penjagaan keamanan kampung dan lain-lain sehingga hasil sawah itu hampir habis dibayarkan pajak-pajak ini!
Ini kalau tidak terjadi bencana alam menimpa. Pada musim kering, atau dikala hujan turun terus menerus sehingga ait sungai membuat sawahladang menjadi telaga, keluarga-keluarga tani miskin seperti keluarga Lie ini terpaksa mengikat diri dengan uang pinjaman dengan bunga yang mengikat dan mencekik leher. Tentu saja keadaan ini membuat mereka makin lama makin dalam tenggelam di lautan hutang, Jangankan untuk membayar induk hutang, sedangkan untuk membayar anakannya saja sudah setengah mati. Tak mengherankan apabila hutang yang mulu-mula tak berapa besar itu lama-kelamaan menjadi berlipat ganda dan akhirnya mencapai jumlah yang tidak mungkin di bayar lagi. Kalau sudah demikian halnya, maka boleh dikatanya kehidupan sekeluarga berada dalam cengkraman kuku para pelepas uang panas itu.
Demikian pula keadaan ayah Lie Kai yang bertambah tahun tambah tenggelam dan terpendam dalam lumpur hutang sampai lehernya. Akan tetapi keadaan yang buruk ini belum diketahui oleh Lie Kai yang semenjak usia duabelas tahun telah pergi berguru ilmu silat dari seorang hwe sio berilmu tinggi.
Ayah Lie Kai yang bernama Lie Cit amat menyina putera tunggalnya itu dan ketika Lie Kai pulang enam tahun kemudian, ia segera menikahkan puteranya itu dengan seorang gadis dusun yang amaat sederhana. Perayaan pernikahan ini, sesungguhnya amat sederhana, tapi tetap saja membutuhkan biaya yang lumayan dan kembali Lie Cit yang tak berdaya diam- diam lari kepada tuan tanah yang memberi hutang kepadanya dan meminjam uang baru dengan bunga yang lebih besar.
Tiga tahun kemudian, keadaan Lie Cit tak dapat dipertahankan lagi. Hutangnya telah terlampau banyak dan bunga-bunga uang itu makin memperbesar jumlah utang. Akhirnya tuan tanah merangkap lindah darat pelepas uang panas itu menagih dan lalu meminta pertolongan pembesar setempat. Karena surat hutang menjadi bukti, akhirnya sawah Lie Cit yang tak berapa besar itu dirampas untuk membayar hutang, itupun masih belum dapat melunasi hutangnya.
Lie Kai menjadi marah sekali. Ia segera memdatangi tuan tanah itu dan memuncaklah amarahnya ketika ia melihat dari surat hutang bahwa hutang ayahnya sesungguhnya tidak begitu besar jumlahnya. Akan tetapi waktu yang belasa tahun lamanya itu yang telah membuat jumlah hutang menjadi puluhan kali banyaknya!
Lie Kai yang berkepandaian tinggi hendak mengamuk dan menghajar tuan tanah itu, akan tetapi isterinya menangis melarangnya, sambil menggendong seorang anak perempuan yang masih kecil. Melihat isteri dan anaknya, lemah kembali hati Lie Kai dan ia hanya menekan kebenciannya terhadap tuan tanah itu.
Akan tetapi, tuan tanah itu ketika mendengar Lie Kai marah-marah dan hendak menyerbu rumahnya, menjadi khawatir dan segera ia meminta pertolongan pembesar setempat mengajukan tuntutan agar Lie Kai ditangkap dengan tuduhan mengancam jiwanya dan disamping itu ia menuntut pula dibayarnya sisa hutang yang belum lunas.
Kejadian ini amat menyusahkan hati Lie Cit yang sudah tua sehingga ia jatuh sakit dan meninggal dunia beberapa lama kemudian. Dan diwaktu Lie Kai masih berkabung, datanglah pengawal pengawal oembesar setempat untuk menangkapnya!
Tentu saja hal ini membuat Lie Kai naik darah dan ia tidak dapat mengendalikan hatinya lagi.
"Jahanam busuk, manusia-manusia terkutuk!" teriaknya marah. "Sudah merampas sawah menghancurkan hati ayah sehingga ayah meninggal, kini datang hendak menangkap dan menghina kami sekeluarga! Benar-benar kalian ini iblis-iblis bermuka manusia! Apakah kau kira tidak ada pengadilan lagi di dunia ini ? Kalau pengadilan pemerintah diselewengkan untuk menjadi kepentingan si kaya menindas si miskin, kalao Thian tidak menoleh lagi pada manusia miskin yang tertindas, masih ada pengadilan lain yang akan menghukum kalian. Dan inilah hakimnya!" Sambil berkata demikian Lie Kai mencabut dan mengacungkan goloknya, lalu mengamuklah Lie Kai dengan hebat!
Para pengawal dan penjaga yang berjumlah puluhan orang lalu datang menyerbu dan mengepungnya bahkan ada penjaga yang menyerang ibu dan isterinya sehingga kedua wanita itu menjerit dan roboh mandi darah tak bernyawa lagi! Anak perempuannya yang baru berusia dua tahun terlempaar dari gendongan ibunya dan menangis keras.
Bukan main marahnya hati Lie Kai melihat ini. Matanya menjadi beringas bagaikan mata seekor harimau dan ia mengamuk makin hebat setelah berhasil menolong dan mengendong anaknya. Goloknya yang putih sampai menjadi merah karena darah manusia dan lebih dari setenagh jumlah pengeroyoknya roboh tak bernyawa lagi. Sebagian lagi merasa jerih dan ngeri melihat amukan Lie Kai yang amat tangguh itu dan mereka melarikan diri cerai berai.
Dengan nafsu amarah masih meluap-luap dan kesedihan yang luar biasa melihat ibunya dan isterinya menggeletak mandi darah dan tidak bernyawa lagi, Lie Kai sambil menggendong anaknya dengan tangan kiri lalu berlari cepat mendatangi rumah tuan tanah, membunuh tuan tanah itu yang menimbulkan malapetaka pada keluarganya. Kemudian iapun pergi kepada pembesar yang diperalat oleh tuan tanah itu dengan maksud untuk membunuhnya pula. Akan tetapi ia telah terlampau lelah dan juga pembesar itu mempunyai banyak pengawal sehingga usahanya ini tidak berhasil bahkan hampir saja ia tertawan.
Lie Kai melarikan diri sambil membawa anaknya yang menangis disepanjang jalan.
Demikianlah anak perempuannya yang bernama Lie Eng yang semenjak kecil dididiknya menjadi seorang alhi silat yang pandai. Lie Kai hidup sebagai seorang perampok yang sebentar saja amat terkenal karena kegagahannya. Juga Lie Eng semenjak kecil hidup di hutan-hutan digunung-gunung bersama ayahnya, menjadi seorang gadis yang cantik akan tetapi liar.
Karena diatas dunia ini, ia hanya mempunyai Lie Eng seorang, maka tidak mengherankan apabila Lie Kai amat kasih kepada puterinya itu, amat memanjakannya. Hanya satu saja cita- citanya yakni mencarikan suami yang baik bagi Lie Eng.
Tamat