Halo!

Naga Merah Bangau Putih Chapter 06

Memuat...

Bukan main terkejutnya kepala rampok itu mendengar nama ini.

"Ampunkan mataku yang telah buta, tidak melihat gunung Thai San menjulang tinggi di depan mata! Tai Ong (raja besar, sebutan yang lazim untuk kepala rampok besar) ampunkanlah siauwte (sebutan untuk diri sendiri untuk merendah)!"

Akan tetapi, Lie Kai menjadi marah dan sekali kaki kirinya bergerak, ia telah menendang kepala rampok itu sehingga berguling-guling beberapa kali jauhnya!

"Anjing busuk! Siapa sudi kau sebut Tai Ong ? Sudahkan kah mendengar bahwa telah sepuluh tahun lebih aku mencuci tangan ? pernahkah kau mendengar selama ini bahwa Lie Kai melakukan perampokan? Buka matamu dan pasang telingamu baik-baik, bangsat!"

Kepala rampok itu menjadi girang sekali oleh biarpun dia ditendang, namun tendangan itu ternyata membebaskannya dari totokan yang amat menyakitkan iganya itu. Ia berlutut lagi sambil mengangguk-anggukan kepalanya seperti ayam makan gabah.

"Ampun, sekali lagi ampunkan hamba, tai-hiap (pendekar besar). Hamba sekali-kali tidak sengaja menyinggung perasaan tai-hiap!"

"Hush, tutup mulutmu dan jangan banyak cakap pula. Siapa sudi kau sebut tai-hiap ? aku bukan seorang pendekar. Tanah air dijajah musuh aku tidak dapat mencegah, mana patut aku disebut pendekar ? Sudahlah, aku ampunkan kalian dan ini obaaat untuk penyambung tulang dan untuk mengobati luka-luka!" Ia melemparkan bungkusan kepada kepala perampok itu, kemudian berkata pula "Akan tetapi awas kau kalau sampai lain kali aku mendengar kalian mengganggu para pelancong atau penduduk yang tidak berdosa. Contohlah aku ketika masih menjadi tokoh liok-lim (lembah hijau) dulu! yang kuganggu hanyalah hartawan-hartawan pelit, tuan tanah-tuan tanah penghisap rakyat, dan pembesar-pembesar yang kejam! Sekarang korbaon-korbanmu lebih banyak pula. Tanah air telah dijajah oleh musuh dan semua pembesar negeri boleh kau ganggu, merekalah musuh-musuhmu!"

Setelah berkata demikian, Lie Kai lalu melompat keatas kudanya lagi, akan tetapi sebelum menjalankan gerobaknya, ia menengok kearah Sui Lan yang memandangnya dengan penuh kekaguman, maka berkatanya ia kepada kepala rampok itu sambil menunjuk kepala perampok mata keranjang yang masih pingsan karena bantingannya tadi.

"Dan Kau jagalah baik-baik orang itu! Kalau ia masih melanjutkan wataknya yanh suka mengganggu wanita, lain kali akan kuhabisi nyawanya!"

Lie Kai lalu melanjutkan perjalanannya dengan hati puas. Terdengar ia bernyanyi-nyanyi lagi dan lagunya masih seperti tadi, riang gembira dan bersemangat, akan tetapi kata-katanya juga masih syair yang merupakan keluh-kesah tadi!

Kini lenyaplah keraguan dalam hati Sui Lan terhadap orang tua ini. Ia menjadi amat kagum akan kegagahan Lie Kai dan sepak terjangnya terhadap para perampok itu benar-benar membuat ia memandang orang tua itu dengan penuh penghormatan. Pernah Sui Lan mendengar tentang pendekar-pendekar gagah perkasa, dan kalau pendekar-pendekar itu tadinya hanya menjadi semacam dongeng saja baginya, kini, ia merasa yakin bahwa pendekar-pendekar itu memang ada dan Lie Kai adalah seorang diantaranya. Hidupku sebatang kara, aku seorang lemah, miskin, dan tak seorangpun mau melindungiku. Alangkah baiknya kalau ia mendapat pelindung seperti orang orang ini, demikian Sui Lan berpikir ia teringat betapa orang tua itu tadi mengaku dia sebagai anaknya dan hatinya terasa hangat mengenang hal ini. Tidak terasa pula, ia segera memanggilnya.

"Lie-lopek (Uwak Lie)!"

Lie Kai menghentikan kudanya dan menengok. "Apakah aku menjalankan gerobak terlalu cepat ?" tanyanya sambil tersenyum. Senyum itu membuat hati Sui Lan terhatu, karena hanya bibirnya yang tersenyum, sedangkan pandangan mata orang tua itu membayangkan kedukaan besar yang ditekan-tekannya.

Sui Lan menggelengkan kepalanya dab berkata "Tidak, tidak terlalu cepat, aku hanya ingin menyatakan terima kasih kepadamu, Lie-lopek. Kalu tidak ada kau yang menolongku, entah bagaimana jadinya dengan diriku. Kalau aku berjalan seorang diri lalu bertemu dengan orang- orang tadi ah tentu aku telah mati mereka bunuh atau bunuh diri!"

Lie Kai maklum akan maksud kata-kata Sui Lan, akan tetapi ia hanya tertawa dan berkata "Hanya ini saja? Ha..ha..kau lucu! bertemu dengan kau ataupun tidak, aku pasti akan membasmi perampok-perampok itu apabila berjumpa dengan mereka. Untuk apa terima kasih ? Tak perlu kata-kata kosong itu!"

Setelah berkata demikian, LIe Kai menjalankan kudanya lagi. "Lie-lopek ...!"

Lie Kai menghentikan kudanya lagi dan menengok. "Ada apa lagi ? Kau membutuhkan sesuatu?"

Kembali Sui Lan menggeleng kepala "Tidak, Lie-lopek, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku senang sekali mendengar kau tadi mengakui kepada perampok itu bahwa aku adalah anakmu! Ah ... kalau saja hal itu benar-benar, aku ,... akan suka sekali menjadi anakmu!"

Merahlah wajah Lie Kai mendengar ini. "Ah, maafkan aku toanio. TAdi aku hanya biacara untuk menjawab perampok yang kuran ajar itu. Mana patut aku menjadi ayahmu ? Dan pula, kau tentu mempunyai ayah-ibu yang berbahagia serta suami yang bijaksana "

Kata-kata ini serasa menusuk ulu hati Sui Lan dan sambil meramkan mata, Sui Lan mencoba untuk menahan air matanya, akan tetapi tetap saja air matanya mengalir turun membasahi pipinya.

"Eh..eh. kau kenapakah ?" tanya Lie Kai terheran-heran.

Sambil menghapus air matanya dengan saputangan, Sui Lan berkata, "Aku. aku telah

yatim piatu. "

Lie Kai terkejut dan memandang dengan melongo, "Aduh kasihan ! dan ... suamimu ?

dimanakah dia ? Mengapa membiarkan kau pergi seorang diri ?"

Ditanya demikian, makin deraslah keluarnya air mata Sui Lan. Sambil menutupi mukanya dengan kedua tangan, ia menjawab terisak-isak, "Aku... aku tidak mempunyai suami "

Tiba-tiba Lie Kai menggerakan tubuhnya dan dari aas kuda ia melompat dan tahu-tahu telah berdiri di depan Sui Lan, didalam gerobak.

"Apa kau bilang ? Sudah .. meninggal duniakah dia ?"

Sui Lan tidak dapat menjawab, hanya menggelengkan kepalanya sambil menangis makin sedih.

"Kalau begitu apakah dia telah menceraikanmu ? telah meninggalkanmu ?" Kembali Sui Lan menggelengkan kepalanya beberapa kali.

Lie Kai menjadi hilang sabar. Dipegangnya kedua pundaj Sui Lan dan berkatalah dia keras-keras.

"Anak, dengarlah! lihat mukaku dan percayalah kepadaku! Kalau dia meninggalkanmu, akulah yang akan mencarinya dan menyeretnya kembali serta memaksanya minta ampun kepadamu!"

Makin sedih Sui Lan menangis dan Lie Kai lalau memegang dagunya dan mengangkap muka itu, memaksa Sui Lan memandangnya melalui air mata yang masih menderas keluar.

"Katakanlah! Dimana suamimu dan mengapa kau seorang diri saja> Bukankah kau hendak pergi ke An-Sin-Kwan untuk mencaari keluargamu seperti yang kaukatakan tadi ?"

"Tidak... aku... aku tiada keluarga, aku tidak mempunyai siapapun juga didunia ini aku

sebatang kara, tiada tempat tinggal, tanpa tujuan. merantau kemana saja, kakiku

membawaku... aku ... aku. " tidak melanjutkan kata-katanya dan menangis lagi.

"Dengar!" Lie Kai dan matanya menjadi merah karena menahan keharuan hatinya. "Aku ayahmu, bukan?" Kau tadi ingin menjadi anakku, bukan ? Nah sekarang kau menjadi anakku! Hayo kau ceritakan terus terang kepada ayahmu mengapa keadaanmu menjadi begini!" Bukan main terhatunya rasa hati SUi Lan dan sambil menjerit dia lalu menjatuhkan kepalanya di dada orang tua itu lalu menangis tersedu-sedu. Lie Kai menggeleng-gelengkan kepalanya dan diam-diam ia meramkan kedua matanya untuk menahan jatuhnya air matanya,.

"Mari kita turun" katanya sambil menuntun Sui Lan turun, "Kita beristirahat sebentar melepas lelah. Kau ceritakanlah keadaanmu kepadaku, dan siapa pula namamu, karena sungguh amat lucu kalau seorang ayah sepertia kau tidak mengenal nama anaknya sendiri!" Keduanya lalu duduk di bawah pohon yang teduh dan setelah dapat meredakan keharuan hatinya, Sui Lan menceritakan riwayatnya mengaku bahwa namanya Ma Sui Lan dan bahwa semenjak berusia delapan tahun ia telah dijual oleh ayahnya untuk membayar hutang, betapa

kemudia ia menjadi pelayan di rumah gedung Pangeran Liok Han Swee samapi mejadi dewasa. Dengan terus terang dia menceritakan perhubungannya dengan Houw Sin, dengan panjang lebar ia menceritakan tentang segala peristiwa itu sehingga pengalamannya yang penuh derita semenjak berpisah dari Houw Sin.

Mendengar penuturan Sui Lan, Lie Kai mengeleng-gelengkan kepalanya dan berkata menghela nafas berkali-kali. "Ah anak bernasib buruk, yang semenjak kecil sudah harus menelan segala kepahitgeetiran hidup! Anak bodoh, yang menurutkan perasaan hati dan mudah tergoda oleh cinta dan nafsu! KAsihan sekali ... kasihan sekali...!"

Dengan Sedih Sui Lan berkata, " Lopek.. kau telah mendengar semua riwayatku yang penuh kecemaran ... yang buruk... memang aku telah lemah, tak berpikir panjang, mabok oleh cinta, runtuh oleh godaan iblis... akan tetapi aku tidak menyesal lopek. Aku cinta kepadanya Lopek, kau tentu jijik melihaatku, apakah kau masih mau mengaku anak kepada

seorang wanita yang. yang mengandung diluar pernikahan yang sah ?"

"Mengapa tidak?" Lie Kai membelakakkan matanya , "aku kasihan kepadamu, dan aku akan senang sekali menjadi ayah angkatmu."

Bukan main besar dan girangnya hati Sui Lan mendengar ini. Seketika itu juga lenyaplah segala perasaan berat yang selama ini menekan hatinya, timbul pula pengharapannya. Ia segera berlutut dan berkata sambil mengucurkan ait mata.

"Terima kasih... terima kasih ayah. aku berjanji hendak menjadi seorang anak yang

berbakti. Aku selalu rindu kepada seorang ayah. dan tentang ayah anak yang kukandung ini,,

Post a Comment