Halo!

Naga Merah Bangau Putih Chapter 05

Memuat...

"Terima Kasih, Lopek (sebutan berarti paman atau uwak). Sudah berbulan - bulan aku melakukan perjalanan seorang diri, aku tidak mau mengganggu orang lain."

Jawaban ini membuat laki-laki itu melenggong. "Eh, kau agaknya bercuriga padaku, toanio

? hm, ketahuilah aku adalah seorang yang tidak biasa mengganggu wanita ! Namaku Lie Kai danorang menyebutku Tiat-thouw-gu (Kerbau berkepala besi) Aku pernah menjadi pemimpin sepasukan tentara petani dan perampok - perampok sudah mengenalku baik-baik. Tidak seorangpun berani memandang rendah Tiat-thouw-gu dan biarpun semua pekerjaan buruk dan jahat telah kulakukan, namun mengganggu wanita adalah sebuah pantangan besar begaiku!"

Sui Lan merasa tidak enak sekali karena orang itu telah dapat menduga bahwa ia mencurigai laki-laki itu, akan tetapi mendengar nama julukan ini, ia makin merasa takut,

"Tidak, lopek, aku tidak bercuriga .... akan tetapi ... kakiku kini sudah kuat, aku telah melakukan perjalanan ratusan li jauhnya dan tak pernah aku mendapat gangguan orang ..."

"Hmm, kau seorang wanita yang tabah dan berani, juga keras hati! Ah, toanio (nyonya) ... melihat kau berjalan seorang diri dengan perut besar itu ... hatiku tidak tega. Apalagi kalau sampai nanti kau di hadang gerombolan perampok yang menunggumu ... ah.. aku merasa seperti anak perempuanku sendiri saja yang menderita kesengsaraan itu!"\

Mendengar betapa suara laki-laki itu tiba-tiba menjadi halus dan seperti orang terharu, Sui Lan tidak dapat menahan keinginan tahunya dan bertanya,

"Kau juga mempunyai seorang anak perempuan, lopek?"

Tak disangkanya sama sekali bahwa pertanyaan ini merupakan pisau tajam yang menusuk dada laki-laki brewok itu. Ia melompat turun, menghampiri sebatang pohon dan meninju pohon itu sekuatnya,

"Krak !!!" Batang pohon sebesar paha orang itu terkena pukulannya menjadi patah dan

roboh seketika itu juga. Sui Lan menjadi heran dan juga takut, dan mengira bahwa mungkin sekali laki-laki brewok ini miring otaknya.

"Jangan tanyakan itu .... jangan tanyakan itu..." kata kata laki laki brewok ini. "anakku ...

dia telah meninggal dunia " ketika Sui Lan mendengar ini dan melihat betapa dua butir

airmata melompat keluar dari mata orang brewok itu, ia menjadi terharu sekali. Perasaannya yang halus membuat dia menghampiri laki-laki itu dan memegang lengannya lalu berkata perlahan,

"Maafkan aku lopek, aku tidak tahu akan hal itu. " dan ketika melihat orang itu masih saja

berdiri dengan pandang mata jauh seperti orang melamun sedangkan wajahnya muram sekali tanda akan kesedihan hatinya yang hebat, Sui Lan lalu berkata lagi dengan nada gembira. "Lopek, aku turut kau! Mari kita berangkat dan kita dapat bercakap-cakap di jalan. Akan lenyap kesunyian hutan yang amat menggangguku. Hayo Lopek!" Ia menarik tangan orang tua itu yang menengok kepadanya dan agaknya sudah sadar kembali dari keadaan yang menekan hatinya dan yang mengingatkannya akan hal-hal yang sedih itu.

"Baik, marilah, anak yang baik! Jangan kau khawatir, kalau ada serigala-serigala hutan berani mengganggumu, akan kupecahkan kepalanya!"

"Serigala? apakah di hutan ini ada serigalanya, lopek ?"

Tiba-tiba Lie Kai si Kerbau berkepala besi itu tertawa terbahak-bahak.

"Ah, anak bodoh! mana ada serigala disini ? yang kumaksudkan adalah serigala-serigala kaki dua." Sambil berkata demikian, ia melompat keatas kuda setelah melihat bahwa Sui Lan telah duduk dengan baik didalam gerobak, lalu ia melarikan kudanya. Sui Lan menarik nafas senang. Memang lebih enak naik gerobak daripada berjalan kaki. Selain kakinya tidak lelah juga perjalanan ini juga akan lebih cepat. Sayang sekali jalan yang dilalui gerobak itu banyak kerikilnya dan tidak rata sehingga gerobak itu terhuyung-huyung ke kana kiri, depan belakang, dan ia seakan-akan dikocok-kocok di dalam gerobak. "Lopek, jangan terlalu cepat ... " katanya.

Lie Kai menengok dan tiba-tiba ia teringat bahwa wanita yang dibawanya itu sedang mengandun, maka ia cepatmenahan kendali kudanya dan kini kudanya itu berjalan biasa sehingga Sui Lan tidak terlalu banyak menderita.

Tiba-tiba Lie Kai se Kerbau Berkepala besi yang duduk diatas kudanya, berdongak keatas dan terdengarlah ia bernyanyi dengan suara yang parau dan keras sekali. Suara nyanyiannya terdengar gembira dan bersemangat, akan tetapi kata-katanya sungguh tidak sesuai dengan irama yang gembira dan bersemangat itu, karena kata-katanya merupakan sebuah keluhan :

"Tuan tanah kejam merampas sawah ladang Bini dan anak oleh Thian dipanggil pulang Kini tanah air dirampas oleh musuh pula

Aah! pegang golok seorang diri, apakah gunanya ?" "He, lopek ! Kau agaknya gembira sekali!"

"Gembira katamu ?" Si brewok itu menengok sebentar. "Aku sedang mengeluh!" "Habis, apakah kau suruh aku menangis ? apa gunanya tangis dan duka ?

Tiada gunanya, bukan ? Lebih baik hadapi segala kepahitan hidup dengan senyum dan tawa!" Kata-kata yang kasar dan bersahaja ini berkesan di dalam hati Sui Lan.

"Lopek, apakah kau bahagia ?"

"Bahagia ? Apakah itu bahagia ? aku gembira, itu sudah pasti. betapapun juga rahasia hatiku, aku memaksakan diri supaya bergembira. Kalau kebahagiaan diukur dari senyum atau tawa atau dari wajah berseri, atau dari kesehatan tubuh, ataupun dan makan dan pakaian cukup, nah, kau boleh sebut aku berbahagia!"

"Lopek, hidupmu tentu penuh dengan pengalaman-pengalaman hebat. alangkah menariknya kalau kau mau menceritakannya kepadaku."

Akan tetapi sebelum Lie Kai menjawab, tiba-tiba terdengar suara keras berseru. "Hai !

Tukang gerobak, berhenti !" Suara ini muncul dari arah kiri dan tak lama kemudian muncullah berlompatan tujuh orang tinggi besar dari belakang pohon-pohon besar! Tujuh orang itu kesemuanya berwajah galak menyeramkan sedangkan ditangan mereka nampak golok mengkilap!

"Aduh, lopek. lekas larikan kuda! mereka itu tentu perampok jahat!" kata Sui Lan

perlahan dengan tubuh gemetar saking takutnya.

Lie Kai menengok kepadanya dan berkata sambil tertawa,

"Jangan takut, mereka itu hanya serigala-serigala kaki dua yang kukatakan tadi." kemudian ia memajukan kudanya, bahkan menghampiri tujuh irang tadi yang memandang ke arah gerobak dengan penuh perhatian.

"He, tukang gerobak!" membentak seorang diantara mereka yang memakai ikaat kepala merah dan agaknya menjadi pemimpin mereka.

"Lekas kau turun dari kuda, tinggalkan kuda, gerobak dan semua isinya!"

Seorang diantara mereka yang semenjak tadi meman dang kearah Sui Lan sehingga yang dipandanginya menjadi semaki ketakutan, berkata sambil tertawa.

"Ha..ha..ha..! Tukang gerobak, macammu buruk, usiamu sudah setengah tua, akan tetapi isterimu cantik sekali, ha..ha..ha!"

Tadinya Lie Kai hendak menjawab ucapan si kepala perampok, akan tetapi ketika mendengar ucapan orang ini, ia lalu balas memandang dan menjawab sambil tersenyum. "Tolol! Dia bukan isteriku, melainkan anakku. Butakah matamu bahwa aku adalah ayahnya ?"

"Aha, kalau begitu kebetulan sekali!" kata perampok yang mata keranjang itu. "Kau boleh tinggalkan semua ini, termasuk juga anak perempuanmu itu!"

"Sam-te (adik ketiga), jangan banyak bicara saja!" mencela kepala rampok tadi. "Seret saja si tua itu dari atas kuda!"

Anggota perampok yang mata keranjang itu lalu maju dan membentak, "Turun Kau!" sambil berkata demikian ia lalu menangkap lengan kanan Lie Kai lalu dibetotnya dengan keras dengan maksud agar supaya si brewok itu jatuh terjungkal dari kudanya. Akan tetapi akibat perbuatannya ini sungguh ajaib dan hebat. Bukan Lie Kai yang terjungkal dari atas kuda, sebaliknya perampok itu yang terbetot keatas dan sekali Lie Kai menggerakan tangannya, perampok itu mencelat keatas tinggi sekali! Perampok itu menjerit ngeri dan ketika tubuhnya jauh kembali ke atas tanah, debu mengepul tinggi dan terdengar ia bersuara "Ngekk!!" lalu rebah tak berkutik lagi!

Tentu saja keenam orang perampok yang lain merasa terkejut setengah mati, juga marah sekali. Serentak lalu mereka maju dengan golok terangkat ditangannya, akan tetapi tahu-tahu tubuh Lie Kai telah melompat turun dan menghadapi mereka. Amat mengagumkan gerakan Lie Kai ini. Agaknya sukar dapat dipercaya tubuh yang tinggi besar dan kaku itu dapat melompat selincah dan seringan itu, bagaikan daun kering tertiup angin saja, tanpa bersuara kakinya menginjak bumi. Kemudian, sebelum ada golok yang sempat menyambarnya, tubuh Lie Kai berkelebat menyerang dengan gerakan yang tak terduga cepatnya.

Terdengarlah suara "Duk! Plak ! Ngeek!" ketika kedua tangannya membagi pukulan tamparan dan tendangan yang mengenai kepala, pipi, atau perut perampok itu, disusul terikan-teriakan "aduh... ! ampun ...!" dan disusul pula dengan robohnya tiga orang perampok!

Kepala perampok itu menjadi marah sekali dan secepat kilat goloknya menyambar, disusul dengan dua orang kawannya yang juga menusuk dada dan pinggang Lie Kai. Si brewok ini sambil tertawa bergwlak mengelak sambaran golok kepala rampok yang mengarah ke lehernya dengan merendahkan tubuh. Golok yang menusuk dadanya dia sambut dengan pukulan tangan dengan jari-jari terbuka yang dihantamkan dari pinggir mengenai permukaan golok.

"Krak!" Golok itu terkena pukulan tangannya oenjadi patah tengahnya. Sedangkan golok yang membabat pinggangnya itu disambut dengan tendangan kakinya ke arah pergelangan lawan.

"Blek!" Lengan yang kena tendang itu patah tulangnya dan goloknya mencelat jauh entah kemana!.

Sebelum ketiga orang perampok itu hilang rasa kagetnya, Lie Kai sudah bergerak maju cepat sekali, tangan kanan menangkap baju kepala perampok itu pada dadanya, tangan kiri memukul ke kiri dan sebuak tendangan merobohkan ke dua penjahat yang lain!

Kepala rampok yang terpegang bajunya itu mencoba untuk menyerang dengan golok, akan tetapi sebuah ketokan pada sambungan sikunya membuat ia memekik kesakitan karena sambungan tulang pada sikunya terlepas dan tangannya menjadi lumpuh. Dengan sendirinya golok terlepas dari pegangan.

Lie Kai melanjutkan gerakannya dan ketika dua ujung jari tangannya menotok iga, kepala rampok itu memekik kesakitan dan ketika Lie Kai melepaskan pegangannya, kepala rampok itu lalu berputar-putar bagaikan ayam terpukul batok kepalanya! Kemudian, sambil menahan rasa sakit yang hebat pada iganya, ia lalu mejatuhkan diri berlutut di hadapan Lie Kai yang tertawa bergelak.

"Ha..ha..ha..! Segala macam rampok kecil bermata buta! Kau berani mencoba-coba bermain gila di depan Tiat-thouw-du Lie Kai ?"

Post a Comment