Akan tetapi ia tidak berdaya dalam pegangan Song-ciangkun yang kuat.
"Bodoh! Ayahmu sendiri yang menghendakiagar kau ikut dengan kami. Hayo dan jangan banyak ribut, kalau terdengar dan terlihat oleh musuh, kita celaka!" Setengah memaksa Song- ciangkun menyerat tangan Houw Sin yang masih berteriak-teriak memanggil nama ayah bundanya sambil menangis itu, bahkan pemuda itu saking sedihnya lalau jatuh pingsan!
Panglima Song tidak mau membuang waktu lagi, Ia lalu memanggul tubuh pemuda itu dan membawanya lari keluar kota dari pintu selatan, menyusul rombongan keluarganya yang sudah lari terlebih dahulu.
***
Marilah kita ikuti pengalaman Sui Lan. Ketika terdengar suara ribut2 diluar pintu rumah itu bersama bekas pelayan yang berada dirumah itu, ia lalu keluar dari pintu.
"Musuh telah menyerbu!! musuh telah memasuki kota ! Lari ! Penjahat2 Mancu
merampok dan membunuh!" Demikianlah teriakan2 orang yang berlari -lari itu. Sui Lan menjadi pucat, juga pelayan tua itu menjadi takut sekali.
"Hayo kita melarikan diri!" ajaknya kepada Sui Lan, akan tetapi gadis ini tidak mau. "Aku harus menanti kongcu ... aku tidak bisa meninggalkan dia !"
Saking takutnya, pelayan tua itu lalu melarikan diri lebih dulu, meninggalkan Sui Lan seorang diri dirumah itu. Gadis itu tidak pernah meninggalkan ambang pintu, dan a melihat betapa orang2 yang berlari makin banyak saja. Ia menanti - nanti datangnya Houw Sin, akan tetapi pemuda itu tidak kunjung datang! Bukan main gelisah tan takutnya. Apalagi ketika melihat betapa rumah-rumah didekat situ sudah mulai dibakar dan terdengar teriakan dan tangisan yang menyayat hati. Akhirnya ketika melihat betapa rumah2 tetangga disitu yang sudah ditinggalkan penghuninyapun dibakar oleh musuh, terpaksa Sui Lan melarikan diri dari pintu belakang. Ia berlari menuruh arah orang2 tadi melarikan diri, yakni ke pintu gerbang sebelah selatan.
Jalan-jalan telah menjadi sunyi dan Sui Lan berlari seorang diri secepat mungkin. Kedua kakinya telah terasa sakit sekali, akan tetapi rasa takut membuatnya bertahan dan berlari terus. Tiba-tiba ia mendengar suara berkata keras,
"Nona, cepat2 lari! penjahat2 sudah masuk kota!"
Sui Lan menengok dan melihat seorang setengah tua yang bertubuh tinggi besar melarikan diri dengan cepat sekali sambil memanggul seorang pemuda.
"Kongcu... ! Sui Lan menjerit ketika mengenal pemuda yang pingsan dan dipanggul itu sebagai Houw Sin! Akan tetapi, orang tua yang bukan lain adalah Song-ciangkun sendiri, telah berlari jauh dan tidak tahu bahwa jeritan itu ditujukan kepada calon mantunya.
"Kongcu... ! Kongcu ...! Kanda Houw Sin !! Sui Lan menjerit2 sambil berlari makin cepat, akan tetapi sia - sia belaka, karena Song-ciangkun telah mempergunakan ilmu lari cepat sehingga tak nampak bayangannya lagi.
Sui Lan masih memanggil-manggil dan berlari terhuyung-huyung ke depan. Beberapa kali ia jatuh, bangun lagi dan beralri terus ke selatan. Pintu gerbang selatan terbuka lebar dan kosong. Gadis itu berlari terus. Baiknya para tentara Mancu masuk kota sambil merampok dan membakar, kalu mereka terus mengejar ke selatan, tentu mereka akan dapat menyusul Sui Lan.
Sampai hari menjadi gelap, gadis itu masih saja berlari-lari masuk ke sebuah hutan. Larinya tidak kencang lagi karena kedua kakinya telah bengkak, tubuhnya lemas, dan sunguhpun masih terdengar tangisnya, akan tetapi air matanya tidak mengeluarkan air mata lagi. Sudah habis air matanya ditumpahkan dan akhirnya ia tidak kuat lagi, menjatuhkan diri diatas rumput dan rebah menelungkup sambil terisak-isak.
"Kongcu... ! Kongcu ...!" bibirnya masih bergerak memanggil kekasihnya dan tak lama kemudian dia tak sadarkan diri!
Ketika ia siuman kembali, gelap pekat menyelimuti sekelilingnya, Jangankan melihat benda lain disekililingnya, sedangkan tangannya sendiripun tak tampak. Ia menjadi ketakutan sekali dan meraba-raba kesekitarnya. Ketika tengannya meraba akar pohon ia lalu merangkak menuju batang pohon yang tumbuh tak jauh dari situ. Ia teringat akan buntalan pakaian dan sedikit makanan yang dibawanya dari rumah, akan tetapi ia tidak pedulikan hal ini dan menyandarkan tubuhnya pada batang pohon besar itu. Pikirannya melayang kembali ke peristiwa yang dialaminya.
Timbul rasa menyesal yang besar sekali. Kalau ia tidak melarikan diri, tentu ia masih berada di gedung besar Pangeran Liok dan dalam keadaan aman! Akan tetapi ia teringat akan Houw Sin yang dipondong dan dibawa lari oleh orang tinggi besar tadi. Kenapakah kekasihnya itu ? terlukakah ? atau ... atau sudah meninggalkah ? Ia bergidik ngeri dan kedukaan hebat meliputi hatinya.
Ia teringat kembali akan niatnya membunuh diri di malam hari itu di dalam kamarnya ketika Nyonya Liok memaksanya untuk menikah dengan orang lain. Pikiran ini kembali timbul dalam ingatannya. Kemana ia harus pergi ? Apa yang harus dilakukan selanjutnya ? Kembali ke rumah Pangeran Liok ? Tidak Mungkin! ia sudah melarikan diri dan lagi pula, kekeasihnya telah pula pergi meninggalkan kota raja. Apa yang harus dilakukan selanjutnya ? Jalan amat gelap baginya, disana sini buntu, tidak ada jalan keluar. Ia tidak mempunya kerabat, tidak ada handai taulan, tiada kawan, sebatang kara diatas dunia yang luas ini. Masa depannya gelap gulita, sama gelapnya dengan malam itu. Ketika ia menengok ke arah utara, ia melihat langit disebelah utara memerah dan bergidiklah dia. Tentu kota raja menjadi lautan api, pikirnya. Sudah terang ia tidak mungkin dapat kembali ke kota raja. Selain takut pada keluarga Liok, ia juga takut kepada perampok2 mancu itu.
Tiada jalan lain kecuali mengakhiri hidup sengsara ini! Pikiran ini membuatnya bertenaga kembali dan sambil merangkak-rangkak dicarinyalah bungkusannya. Didalam bungkusan itu ia akan bisa mendapatkan sehelai ikat pinggang yang panjang, dan pohon yang disandarinya itu akan merupakan tempat menghabiskan nyawa yang baik dan kuat.
Ia mendapatkan kembali bungkusannya dan ketika dibukanya, yang terpegang terlebih dahulu adalah sebungkus roti kering yang dibawanya dari rumah tadi. Tiba-tiba ia merasa betapa perutnya amat lapar dan perih dan ketika meraba perutnya dengan tangan kiri, terkejutlah dia. Terduduk kembali ia dan tak terasa pula ia menangis tersedu-sedu dambil mengelus-elus perutnya. Tidak mungkin ia membunuh diri. Ia tidak takut untuk menghabisi nyawanya sendiri, akan tetapi dengan jalan membunuh diri, sama juga dengan membunuh pula anak dalam kandungannya! Teringat akan hal ini lenyaplah niatnya membunuh diri.
Tidak... Pikirnya, tidak boleh.. Entah kelak kalua anak ini sudah terlahir selamat dan ada yang memeliharanya ... ! tak boleh aku membawa anak yang tak berdosa itu ke alam gelap! Aku harus hidup, harus hidup untuk memelihara anakku ini !
Dirabanya kembali bungkusan roti kering dan untuk menghilangkan rasa perih di perutnya ia memaksa makan sepotong roti, kemudian karena pikirannya ruwet dan hatinya berduka ia menjadi lelah lahir batin dan jatuh pulas di bawah pohon itu.
Pada keesokan harinya ia melanjutkan perjalanan tanpa tujuan dan tidak tahu kemana ia harus pergi, bahkan tidak tahu pula dimana ia berada dan kemana ia sedang menuju.
Berbulan-bulan ia melakukan perjalanan, dengan harapan kalau-kalau ia akan bertemu dengan Houw Sin kekasihnya. Setiap kali tiba di sebuah dusun atau kota, ia mencari-cari, bertanya- tanya kalau - kalau disitu terdapat pengungsi dari kota raja bernama Liok Houw Sin. Baiknya ia membawa perhiasan emas yang diterimanya dari Nyonya Liok ketika ia masih menjadi pelayan disana dan sedikit demi sedikit perhiasannya ini dijualnya untuk dimakan. Dan merupakan hal yang baik pula bahwa ia sedang dalam keadaan mengandung, oleh karena kalau sekiranya tidak demikian, tentu ia telah menjadi korban gangguan laki-laki jahat.
Akan tetapi, meskipun begitu, empat bulan kemudian semenjak ia merantau dan tiba di sebuah hutan dengan maksud pergi ke kota An-sin-kwan yang menurut kata orang berada di luar hutan itu, hampir saja ia mendapat gangguan perampok. Ketika ia sedang berjalan perlahan seorang diri, tiba-tiba dari belakang mendatangi sebuah gerobak kecil ditarik oleh seekor kuda yang ditunggangi oleh seorang laki-laki tinggi besar dan bermuka brewok.
Melihat seorang wanita berjalan seorang diri dan wanita itu ternyata sedang mengandung, laki-laki itu menghentikan kendaraannya dan bertanya dengan suaranya yang kasar dan keras.
"Eh, toanio, kau hendak kemanakah ? Mengapa seorang diri saja?"
Muka brewok dan kata-kata yang parau kasar itu mengejutkan hati Sui Lan, akan tetapi mata laki-laki yang usianya lebih kurang empat puluh tahun itu nampak jujur, maka ia lalu menjawab,
"Aku hendak menuju kekota An-Sin-kwan mencari seorang sanak keluarga disana." Laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata seorang diri, "Hmmm,
alangkah buruknya jaman ini. Baru sekarang aku melihat seorang wanita muda, dalam keadaan mengandung pula, jalan seorang diri dalam hutan dengan maksud pergi kekota yang jauhnya tidak kurang dari 30 li ! Benar2 buruk sekali!. Kemudian ia melompat turun dari kudanya, membereskan beberapa karung yang dimuat di gerobak kecil itu sehingga disitu terdapat tempat lowong, lalu berkata kepada Sui Lan,
"Toanio, Aku tidak mengenal engkau, dan aku tidak ingin tahu pula mengapa kau melakukan perjalanan seorang diri. Akan tetapi sebagai seorang laki-laki, aku tidak tega melihat kau melakukan perjalanan berat ini. Naiklah, akupun kebetulan hendak mengantar barang - barang ini ke kota An-Sin-kwan!" Sui Lan merasa ragu-ragu. Ia tidak mengenal orang ini, siapa tahu kalau ia bukan orang baik-baik?