Halo!

Naga Merah Bangau Putih Chapter 03

Memuat...

kemarahan karena nyonya ini dapat menduga bahwa tangis gadis ini tentulah karena puteranya!

"Ampunkan saya, Nyonya besar, saya ... saya tidak ingin menikah tidak ingin

meninggalkan Nyonya besar yang telah melepas budi kepada saya, saya ingin melayani

nyonya sampai napas terakhir "

Sungguh ucapan ini bermaksud bahwa Sui Lan ingin menghambakan diri sebagai pelayan selamanya. akan tetapi dapat juga dimaksudkan bahwa ia ingin melayani nyonya itu selama hidupnya, yang berarti tentu saja sebagai seorang mantu! Karena hanya seorang mantu perempuanlah yang akan melayani mertuanya sampai kematian memisahkan mereka! Marahlah Nyonya Liok mendengar ini, "Apa ?!? Kau hendak membantah ? Ingat, Sui

Lan jangan kau menjadi seorang kurang penerima, seorang yang tak mengenal budi. Aku berusaha sedapatku untuk kebaikan dan kebahagiaanmu, kau tidak menerima dengan girang dan berterima kasih, sebaliknya malah menjengkelkan aku dengan tangismu!"

"Ampun .... saya. .... Saya "

"Sudah, pergilah kekamarmu dan hentikan tangismu! Kau tidak boleh membantah. Aku masih bersabar, akan tetapi kalau taijin mendengar akan penolakanmu ini, ia tentu akan marah sekali kepadamu!"

Bagaikan seekor anjing kena pukul, Sui Lan mengundurkan diri dengan menundukan kepalanya. Setibanya didalam kamarnya, ia lalu membantng diri diatas pembaringan dan menangis sepuas hatinya. Sampai hari menjadi malam ia tidak meninggalkan kamarnya.

Cinta dapat membuat seorang pemuda melakukan hal yang aneh-aneh, Houw Sin, putera tunggal, seorang pangeran agung melam hari itu jalan sembunyi2 bagaikan seorang maling! Seorang maling dalam rumah gedungnya sendiri, ia merasa gelisah karena tidak melihat Sui Lan sehari itu, dan ketika ia mendengar dari seorang oelayan lain bahwa Sui Lan habis mendapat marah dari ibunya, ia menyesal sekali. Malam hati itu, menjelang tengah malam, ia pergi ke kamar Sui Lan bagaikan seorang maling.

Setibanya diluar kamar Sui Lan tiba2 mendengar suara isak tangis tertahan, lalu mendengar suara perlahan dari dalam kamar itu.

"Kongcu...kongcu... hanya dengan kau seorang aku mau hodup sebagai istri kalau orang

memaksaku ... ah... kongcu... kanda Houw Sin .... suamiku selamat tinggal!"

Mendengar kata2 terakhir ini, Houw Sin terkejut sekali dan bagaikan seorang gila ia lalu melompat dan mendorong pintu kamar Sui Lan. Sambil menahan seruannya ia melompat ke arah Sui Lan dan dengan cepat merenggutkan tali pengikat pinggang yang telah dipasang pada gantungan kelambu dan ujungnya telah merupakan tali gantungan!

"Sui Lan.... kau...kau gilakah ?"

"Kongcu. " Sui Lan terhuyung-huyung ke depan dan ia roboh dalam pelukan Houw Sin

dalam keadaan pingsan!.

Setelah siuman kembali, sambil menangis Sui Lan menceritakan kekasaihnya betapa dia dipaksa hendak dikawainkan dengan seorang pemuda lain.

"Bagaimana aku dapat menjalaninya ?" terdengar suaranya diantara isak tangis. "Aku

telah bersumpah takkan mau menjadi istri orang lain ... aku telah menjadi istrimu... bahkan ...

aku telah menjadi calon ibu dari anakmu ... ah kongcu ... kau bunuhlah saja aku orang

hinadina ini "

Hancur hati Houw Sin mendengar ini. Ia maklum bahwa Sui Lan telah mengandung, dan ia sedang memikirkan bagaimana caranya untuk minta perkenanan orang tuanya agar ia dinikahkan dengan gadis ini. Sekarang timbul hal yang lebih memusingkan ini!

"Sudah, jangan menangis kekasihku," ia menghibur. "Jangan kau khawatir bagaimanapun juga aku akan tetap membelamu. Kita harus mencari jalan!"

Demikian, malam hari itu mereka berunding dan akhirnya diambil keputusan bahwa Sui Lan akan ditolong oleh Houw Sin minggat dari gedung itu. Untuk sementara Sui Lan akan disembunyikan dalam rumah bekas pelayan yang menjadi orang kepercayaan Houw Sin. hal ini hanya untuk menghindarkan pernikahan paksaan itu. Kemudian, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya akan diatur kelak.

Dan pada tiga hari berikutnya pada suatu malam, lenyaplah Sui Lan dari rumah gedung pangeran Liok, dimana ia telah dibesarkan selama delapan tahun! Tak seorangpun dapat menduga bahwa ini adalah perbuatan Houw Sin sungguhpun kedua orang tua pemuda itu merasa curiga. ***

Sementara itu, kota raja telah mendapat ancaman hebat dari musuh, yakni balatentara Mancu yang dipimpin oleh kaisar Hong-taichi!

Setelah dapat merebut Peking dan menumbangkan kekuasaan kaisa, Lie Cu Seng lalau mengirim utusan untuk menghubungi dan membujuk Jenderal Gouw Sam Kwi yakni seorang jendral barisan kerajaan Beng-tiauw yang telah runtuh, yang pada waktu itu berkedudukan di Pegunungan San-hai-kuan, untuk bersama-sama menghadapi serangan tentara mancu dari utara. Akan tetapi jendral Gouw Sam Kwi menolak ajakan ini, bahkan menyatakan lebih suka bergabung dengan tentara Mancu untuk merebut kembali kota raja.

Tentu saja Lie Cu Seng marah sekali, lalu memimpin 20 laksa tentara untuk menyerang barisan jendral itu di pegunungan San-hai-kuan. Akan tetapi tiba-tiba tentara mancu yang sudah tiba disitu muncul dengan jumlah yang amat besar menyerang dari sayap kiri. Barisan petani dibawah pimpinan Lie Cu Seng terjebak dan akhirnya terpukul mundur. Barisan Mancu terus mengejar dan akhirnya mereka berhasil menyerbu dan memasuki Peking!!

Betapapun hebat pertahanan dan perlawanan yang dilakukan oleh Lie Cu Seng, namun ternyata kekuatan musuh lebih besar dan tidak dapat dicegah lagi, kota raja direbut oleh barisan musuh. Lie Cu Seng terpaksa melarikan diri keselatan untuk membentuk barisannya kembali. Hal ini terjadi dalam tahun 1644 pada bulan mei.

Dan penyerbuan tentara Mancu didalam kota Peking ini terjadi tepat sehari setelah Sui Lan melarikan diri dari gedung Pangeran Liok. Keadaan kota raja menjadi kacau balau. Tentara Mancu seperti biasanya melakukan perampokan dan pembunuhan secara kejam sekali. Harta benda penduduk dijadikan perebutan, orang2 lelaki muda dibunuh dengan kejam, orang2 tua dipukuli, anak2 ditendangi, dan perempuan2 muda diculik.

Para pembesar kerajaan Beng-tiauw yang dulunya tidak berani berkutik ketika Lie Cu Seng masih berkuasa di Peking, kini muncul dan mulai menjilat-jilat ujung sepatu orang Mancu. Demikian pula, para tuan tanah yang melihat bahwa orang-orang Mancu mendapat kemenangan, segera merangkak-rangkak dan membungkuk-bungkuk membawa bingkisan untuk mengambil hati. Pada wakti Lie Cu Seng dan barisan petani yang berkuasa, mereka ini sama sekali tidak berdaya.

Akan tetapi, bukan semua bangsawan menjilat-jilat ujung sepatu orang2 mancu, karena adapula beberapa orang bangsawan yang berjiwa gagah dan tidak mau tunduk terhadap orang2 asing yang datang menjajah ini!. Diantara mereka ini termasuk juga Pangeran Liok Han Swee.

Sebelum tentara Mancu masuk ke kota, yakni pada pagi harinya, Pangeran Liok sekeluarga telah ribut mulut. Antara Pangeran Liok, isterinya, dan putera mereka Houw Sin terdapat pertentangan kehendak masing-masing. Pangeran Liok menghendaki agar Houw Sin cepat meninggalkan kota raja menggabung dengan rombongan Panglima calon mertuanya yang akan mengungsi ke selatan, akan tetapi Houw Sin tidak mau karena pemuda ini teringat akan kekasihnya yang masih tinggal bersama bekas pelayannya. Nyonya Liok mengajak suaminya mengungsi akan tetapi Pangeran Liok tidak mau meninggalkan gedungnya. Akhirnya Pangeran Liok marah sekali dan berkata kepada puteranya.

"Houw Sin, kau adalah putera tunggalku. Kau masih muda dan kau tidak boleh tinggal disini karena kalau kau sampai tewas, siapakah kelak yang akan menyambung keturunan keluarga kita? Aku sudah tua dan aku tidak sudi lari hanya karena datangnya penjaha2 mancu! Aku tidak takut, kalau mereka mau bunuh biar bunuh ! Aku tidak mau bertrkuk lutut dan juga tidak sudi melarikan diri. Akan tetapi, kau harus pergi ke rumah calon mertuamu dan ikut pergi ke selatan dengan mereka. Kemudian kau boleh melangsungkan pernikahan dengan tunanganmu. hal ini sudah kubicarakan dengan Song-ciangkun (Panglima Song)"

Karena ayahnya berkeras, akhirnya Houw Sin meninggalkan rumahnya akan tetapi ia tidak pergi ke rumah calon mertuanya, melainkan pergi ke rumah bekas pelayannya untuk menemui Sui Lan ! Baru saja ia sampai ditengah jalan, keadaan sudah menjadi kacau balau karena tentara petani yang memepertahankan kota itu sudah terpukul hancur dan tentara musuh telah ada sebagian yang masuk ke kota! Diantara gelombang manusia yang mengungsi, Houw Sin mencari kekasihnya akan tetapi ternyata rumah bekas pelayannya itu telah terbakar habis dan dia tidak menemukan kekasihnya ditempat itu. Tidak seorangpun yang dapat ia tanyai. karena para tetangga dijalan itupun sudah pada melarikan diri. dengan bingung dan gelisah, Houw Sin mencari-cari akan tetapi mencari seorang gadis seperti Sui Lan diantara ribuan orang yang berlari kacau balau tentu saja tidak mungkin!

Sementara itu, kekacauan telah terjadi disana-sini. rumah-rumah dibakar, tangis dan pekik terdengar dimana-mana. Houw Sin akhirnya putus asa dan berlari kembali ke gedung orang tuanya, akan tetapi apa yang dilihatnya ? Gedung itu sudah dirampok habis-habisan dan bahkan kini telah berkobar-kobar dimakan api! Ternyata bahwa sebagai seorang bangsawan yang tidak ikut dalam rombongan bangsawan penjilat yang menyambut kedatangan musuh dengan baik. Pangeran Liok lalu didatangi sepasukan orang Mancu dan seluruh penghuni rumah itu di bunuh, harta bendanya dirampok dan rumahnya dibakar!

Hampir saja Houw Sin jatuh pingsan melihat betapa rumahnya terbakar hebat, karena ia khawatir akan nasib ayah-bundanya. kemudia ia menjadi nekad dan hendak lari memasuki pintu rumah yang sedang berkobar hebat itu. Akan tetapi tiba-tiba dua buah lengan yang kuat memegang pundaknya dan ketika ia menengok, ternyata yang memegannya adalah Panglima Song Liong, ayah tunangannya.

"Houw Sin, jangan berlaku bodoh! kau mau berbuat apa ?"

"Lepaskan....! Gakhu (ayah mertua), lepaskan aku... aku hendak menolong ayah dan ibu

....!"

Akan tetapi pegangan panglima yang berpakaian seperti orang biasa itu makin menguat. "Tiada gunanya lagi, Akupun datang terlambat. Ayah bunda mu, seluruh isi rumah telah dibunuh, tiada gunanya lagi. Hayo kau ikut aku menyusul rombongan keluargaku!"

"Tidak.... tidak. "

Post a Comment