"Tranggg.."
Pedang itu terpental dan hampir terlepas dari pegangan Bi Li ketika tertangkis sebatang tongkat butut yang dipegang oleh kakek pengemis yang bertahi lalat besar di bawah hidungnya.
Bi Li makin marah. Kakek pengemis ini kiranya lihai sekali, tidak boleh disamakan dengan para pengemis yang tadi mengeroyok suaminya. Maka ia lalu mengeluarkan seruan keras sambil memutar pedangnya dan mengerahkan tenaga, menerjang dengan cepat sekali. Menghadapi serangan yang begitu dahsyat, kakek pengemis itu terkejut dan cepat memutar tongkat melindungi tubuhnya. Kemudian terjadilah pertandingan hebat di antara Bi Li dan kakek pengemis. Dua orang kakek pengemis lain segera melangkah maju mendekati mayat Tang Sun. Melihat ini, Kwi Lan menjadi curiga dan membentak,
"Jembel-jembel busuk, mundurlah kalian"
Gadis cilik ini menerjang maju dengan pukulan kedua tangannya yang mendorong.
Karena melihat bahwa yang menerjang mereka hanyalah seorang gadis cilik berusia empat belas tahun, dua orang kakek jembel itu tersenyum tenang, bahkan mengulur tangan untuk menangkap pundak Kwi Lan. Akan tetapi alangkah kaget hati mereka ketika tangan mereka bertemu dengan tangan Kwi Lan, tubuh mereka terdorong mundur dan hampir saja mereka terbanting roboh. Baiknya keduanya adalah tokoh-tokoh lihai, cepat dapat menekan tanah dengan ujung tongkat sehingga dapat menguasai keseimbangan tubuh lagi. Sejenak mereka saling pandang dengan muka merah, lalu menatap wajah Kwi Lan dengan sikap terheran-heran. Namun mereka merasa penasaran. Mungkinkah bocah perempuan ini memiliki tenaga yang sedemikian dahsyatnya? Karena merasa malu untuk menghadapi seorang anak-anak dengan senjata tongkat mereka, keduanya lalu menyelipkan tongkat di ikat pinggang lalu melangkah maju mengulur tangan.
"Bocah setan, mau lari kemana kau?"
Melihat dirinya diserang dengan jangkauan tangan hendak menangkap, Kwi Lan tertawa mengejek,
"Lari ke mana? Untuk apa lari menghadapi dua ekor babi tua macam kalian?"
Dan dengan gerakan yang indah namun gesit bukan main, Kwi Lan sudah dapat mengelak, lolos dari tubrukan mereka, kemudian cepat ia membalik dan mengirim pukulan ke arah punggung mereka"
"Wuuuttt"
Dua orang pengemis tua itu berseru kaget dan cepat melompat jauh ke depan sehingga terhindar daripada pukulan maut tadi. Wajah mereka menjadi pucat dan keringat dingin memenuhi jidat. Sebagai orang-orang yang ahli, mereka cukup maklum betapa pukulan kedua tangan bocah ini tadi mengandung tenaga Iweekang yang hebat dan dapat mematikan. Berubahlah pandangan mereka. Kiranya bocah ini gerakannya jauh lebih hebat daripada wanita yang bertanding melawan saudara mereka. Tanpa malu-malu lagi keduanya lalu mencabut tongkat.
"Hi-hik, kalian mau lari ke mana?"
Kwi Lan mengejek. Akan tetapi cepat gadis cilik ini menggerakkan kaki untuk berkelit karena melihat dua sinar tongkat sudah meluncur dengan hebat. Selanjutnya, Kwi Lan harus mempergunakan kelincahannya untuk menghindarkan diri daripada kurungan sinar kedua tongkat itu. Diam-diam anak ini kaget juga. Kiranya dua orang pengeroyoknya inibenar-benar amat tangguh sehingga tekanan kedua tongkat itu mengurung dirinya, membuat ia tidak mampu balas menyerang.
Dia tidak tahu bahwa dua orang kakek itu jauh lebih kaget dan heran dari padanya. Selama mereka hidup, sudah hampir enam puluh tahun, baru kali ini mereka menghadapi peristiwa yang begini aneh dan memalukan. Mereka terkenal sebagai ahli-ahli silat kelas tinggi, hanya orang-orang pilihan saja di dunia kang-ouw yang setanding dengan mereka. Akan tetapi kini, dengan maju berdua dan memegang tongkat pula, mereka tidak mampu mengalahkan seorang gadis cilik yang bertangan kosong. Sebetulnya tingkat ilmu silat anak itu belumlah matang dan tidaklah seberapa tinggi, akan tetapi gerakannya amat aneh luar biasa sekali dan sukar diduga karena jauh berbeda dengan dasar-dasar ilmu silat yang lazim.
Tiba-tiba terdengar suara yang nyaring sekali, datangnya dari jauh akan tetapi amat jelas seakan-akan yang berkata berada di belakang mereka,
"Enci Bi Li, Kwi Lan. Mundur.."
Tentu saja Bi Li dan Kwi Lan mengenal baik suara ini dan mereka cepat meloncat mundur tanpa menoleh. Tiga orang pengemis yang tidak mendengar seruan tadi, mendesak maju. Akan tetapi tiba-tiba tampak bayangan putih berkelebat dan.. tiga orang kakek itu berhenti bergerak dan telah menjadi kaku seolah-olah mereka berubah menjadi arca batu. Tanpa dapat mereka lihat, jalan darah mereka telah ditotok oleh ujung lengan baju Sian Eng yang kini sudah berdiri didepan mereka dengan sikap bengis.
Pada saat itu, terdengar bunyi angin menyambar. Belasan buah senjata rahasia berbentuk piauw (pisau) dan besi bintang menyambar ke arah Bi Li, Kwi Lan, Sian Eng, dan juga ke arah tiga orang pengemis yang berdiri kaku. Bi Li dan KwiLan melihat datangnya senjata rahasiayang membawa angin ini, maklum bahwa senjata itu digerakkan oleh tangan yang lihai, maka tidak berani menyambut danc epat mengelak. Akan tetapi Sian Englalu mengebutkan kedua tangannya kedepan dan.. belasan batang senjata rahasia yang menyambar ke arahnya dan ke arah tiga orang pengemis tua runtuh terpukul oleh hawa pukulan kedua tangannya.
Dari balik pohon meloncat keluar lima orang kakek pengemis pula, akan tetapi mereka ini berbeda dengan yang tiga tadi. Kalau tiga orang kakek pertama berpakaian butut kotor, adalah lima orang ini berpakaian bersih, sungguhpun bertambal-tambalan seperti halnya para pengemis yang mengeroyok Tang Sun.
"Wanita iblis, berani kau.."
Hanya sampai sekian saja bentakan seorang diantara mereka karena tiba-tiba tubuh Sian Eng lenyap berkelebat ke depan dan lima orang itu menggerakkan kaki tangan hendak melawan bayangan yang tiba-tiba menyambar, namun sia-sia belaka karena tahu-tahu mereka inipun sudah berdiri kaku seperti patung, persis seperti keadaan tiga orangkakek baju butut.
Melihat munculnya lima orang pengemis baju bersih ini, baru Bi Li sadar akan perbedaan antara lima orang pengemis ini dan tiga orang pengemis yang tadi datang lebih dulu. Pakaian mereka. Pakaian lima orang pengemis yang datang belakangan ini serupa dengan pakaian para pengemis yang mengeroyoknya, yang membunuh suaminya. Adapun pakaian tiga orang pengemis yang mengeroyoknya, sama butut dengan pakaian suaminya. Teringatlah ia akan cerita suaminya tentang golongan putih yang berpakaian butut dan golongan hitam yang berpakaian bersih. Kini melihat Kam Sian Eng memandang kepada tiga orang pengemis baju butut dengan mata beringas, ia cepat meloncat maju dan berkata.
"Sian-kouwnio.., Jangan.. jangan bunuh mereka ini.."
Kam Sian Eng tanpa menoleh bertanya, suaranya dingin dan ketus,
"Apa yang terjadi di sini?"
Bi Li yang teringat kembali kepada suaminya, tidak menjawab melainkan berlutut lagi didepan mayat suaminya sambil menangis. Kwi Lan maklum bahwa bibinya dan juga gurunya itu sedang marah, maka ia cepat maju mewakili Bi Li dan bercerita singkat.
"Bibi Bi Li dan aku sedang memetik bunga ketika kami mendengar suara orang bertempur disini. Ternyata yang bertempur adalah.. suami Bibi Bi Li dikeroyok pengemis-pengemis baju bersih sampai terluka dan tewas. Bibi Bi Li dan aku berhasil mengusir dan membunuh beberapa orang pengemis baju bersih, dan sebelum mati suami Bibi Bi Li sempat bercerita bahwa dia adalah anggauta pengemis baju butut. Kemudian muncul tiga orang kakek pengemis baju butut ini yang lancang menyerang Bibi Bi Li dan aku. Agaknya mereka bertiga ini masih segolongan dengan suami Bibi Bi Li. Dan lima orang kakek yang datang belakangan ini agaknya hendak membalaskan kematian anak buah mereka."
Sian Eng mendengar ini, melirik kearah Bi Li dengan wajah yang tertutup tirai sutera itu sedikitpun tidak berubah, tetap dingin dan keras. Tiba-tiba tangannya bergerak kepunggung, sinar terang berkelebatan disusul jerit-jerit kesakitan dan.. delapan orang pengemis yang masih berdiri kaku itu kini telah buntun gsemua tangan kanannya. Entah kapan Sian Eng menggunakan pedang, entah kapan mencabutnya, dan menyarungkannya kembali, tak dapat diikuti pandang matapara pengemis itu sehingga biarpun mereka menanggung luka hebat dan nyeri, mereka masih terbelalak kaget dan gentar. Tiga orang pengemis tua baju butut itu adalah tokoh-tokoh Khong-sim Kai-pang sedangkan lima orang pengemis baju bersih itu adalah tokoh- tokoh terkemuka pula dari perkumpulan golongan hitam. Didalam dunia kang-ouw, terutama dunia para pengemis kang-ouw, mereka delapan orang ini merupakan orang-orang terkenal dengan ilmu silat mereka yang tinggi. Akan tetapi kini, dalam tangan wanita berkerudung yang cantik dan aneh itu, mereka sama sekali tidak berdaya, dipermainkan seperti tikus-tikus dipermainkan kucing.
"Ohh, Kouwnio, jangan.."
Bi Li yangmendengar jerit mereka dan mengangkat muka, segera meloncat bangun.
"Tiga orang Lo-kai ini adalah orang-orang segolongan mendiang suami saya.."
Sian Eng mendenguskan suara dari hidung.
"Hemmm.."
Kwi Lan segera berkata,
"Bibi Bi Li, tiga orang jembel tua ini biarpun segolongan dengan suamimu, namun mereka datang-datang menyerang kita. Pasti bukan orang baik-baik. Sudah sepatutnya Bibi Sian memberi hukuman."