Halo!

Mutiara Hitam Chapter 09

Memuat...

Bi Li tersenyum pahit.

"Untuk merawat dan menyusui Kiat-ji."

"Anak kandungnya sendiri? Mengapa? Mengapa harus engkau yang menyusuinya, Bibi?"

Bi Li menggeleng-geleng kepalanya.

"Entahlah. Selamanya Bibimu Sian itu seorang aneh luar biasa. Kiat-ji memang anak kandungnya, akan tetapi ia menyuruh aku menyusui dan merawatnya. Ahhh, nasibku sama dengan si Belang.."

Kwi Lan makin heran. Si Belang adalah nama lembu betina yang dipelihara di bawah tanah dan sekarang sudah sangat tua.

"Apa maksudmu, Bibi Bi Li?"

Dengan senyum pahit di bibir, Bi Li menjawab,

"Aku dipaksa ke sini untuk menyusui Kiat-ji, sedangkan si Belang dipaksa ke sini untuk menyusui engkau, Kwi Lan. Setahun setelah aku berada di sini, si Belang didatangkan oleh Sian-kouwnio untuk diambil air susunya untukmu."

"Dan.. aku.. dari manakah aku, Bibi..?"

Wajah Kwi Lan pucat dan suaranya mengandung isak.

"Aku tidak tahu, Anakku. Aku tidak tahu apa-apa."

Tiba-tiba Kwi Lan menjatuhkan semua kembang yang dipegangnya. Kini wajahnya menjadi merah, matanya mengeluarkan kilat dan kedua tangannya yang kecil dikepal. Wajahnya yang cantik mungil itu kini nampak beringas mengancam.

"Kalau begitu Bibi Sian jahat sekali, Kau dipaksa berpisah dari suami dan anak, sedangkan aku dipaksa berpisah dari Ayah dan Ibu. Sekarang juga aku akan bertanya kepadanya, Bibi. Dia harus memberi keterangan sejelasnya"

"Ssttt, anak bodoh, apa yang hendak kau lakukan ini?"

Bi Lian memeluknya erat-erat dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Apakah engkau masih belum melihat betapa Bibimu Sian itu seorang yang amat luar biasa wataknya? Kau tidak boleh bertanya apa-apa kepadanya, tidak boleh membikin susah atau marah kepadanya."

"Mengapa tidak boleh, Bibi?"

Kwi Lan bertanya kecewa, akan tetapi mulai membayang pula di hatinya kini rasa takut dan jerih terhadap bibinya yang selalu bersembunyi di bawah tanah itu.

"Kwi Lan, apapun juga yang telah terjadi dengan kita, namun engkau sendiri tentu telah merasa betapa baiknya sikap Sian-kouwnio terhadap kita. Segala kebutuhan kita dicukupi, bahkan engkau dianggap seperti anak sendiri, dirawat dan di didik tiada bedanya dengan Kiat-ji, putera kandungnya. Aku pun telah mendapat perlakuan yang amat baik sehingga harus kuakui bahwa keadaan hidupku di sini jauh lebih baik daripada ketika masih tinggal di dusun yang kadang-kadang menderita kurang makan. Makan pakaian cukup, aku pun diberi kebebasan, dan bahkan dilatih ilmu silat. Karena kebaikannya yang ia limpahkan kepada kita inilah, maka sekali-kali kita tidak boleh membikin susah hatinya. Aku tahu, dibalik keadaannya yang serba aneh luar biasa itu, tersembunyi penderitaan batin yang amat hebat pada diri Sian-kouwnio. Ia patut dikasihani. Agaknya ia menculik kita berdua bukan karena jahat, melainkan terpaksa. Ia menculikku karena ia membutuhkan air susuku untuk memelihara puteranya. Kemudian ia menculikmu karena.. agaknya, dia ingin puteranya mendapatkan teman bermain-main."

"Tapi ia tidak peduli betapa anak kandungmu sendiri kehilangan Ibu, dan betapa Ayah-bundaku kehilangan anak"

Kwi Lan membantah.

"Benar, akan tetapi memang demikianlah watak sebagian besar manusia. Kepentingan sendiri selalu menutupi kepentingan lain orang."

Bi Li menarik napas panjang.

"Kita pun tidak boleh membikin marah kepadanya, karena dia seorang aneh luar biasa, kalau sekali ia marah, agaknya ia tidak akan segan-segan untuk sekali turun tangan membunuh kita berdua"

Bi Li bergidik ngeri. Akan tetapi Kwi Lan sama sekali tidak merasa takut, bahkan bertanya dengan suara menuntut.

"Bibi, kalau kau melarang aku membikin susah dan membikin marah Bibi Sian, habis apakah aku harus tinggal diam saja dipaksa berpisah dari Ayah Bunda kandungku?"

Kini Kwi Lan tidak menangis lagi karena kemarahan memenuhi hatinya. Bi Li memeluknya dan mengelus-elus rambutnya.

"Anakku yang baik, sama sekali bukan begitu maksudku. Kau harus bersabar, Anakku. Kau tahu bahwa yang tahu akan rahasia dirimu hanyalah Sian-kouwnio seorang. Hanya dari dialah engkau akan dapat mengetahui siapa Ayah Bundamu. Karena itu, engkau harus bersabar. Kalau sekarang kau tanyakan hal itu kepadanya dan dia tidak mau mengaku malah marah, engkau akan bisa berbuat apakah? Jangan-jangan engkau malah akan dibunuhnya. Lebih baik engkau tekun belajar, memperdalam kepandaianmu karena kepandaian silat itu merupakan bekalmu kelak kalau Sian-kouwnio tidak mau mengaku, untuk kau pakai mencari sendiri orang tuamu."

Terbukanya rahasia tentang keadaan dirinya inilah yang membuat Kwi Lan, makin tekun dan giat belajar. Dia seorang gadis yang keras hati, yang tahan menderita. Biarpun setiap saat pertanyaan tentang ayah ibunya sudah berada di ujung lidah, namun ia dapat selalu menekan dan menelannya kembali, tidak mau bertanya akan hal itu kepada Sian Eng yang makin lama menjadi makin kagum saja akan keadaan keponakan dan muridnya ini Semua kitab simpanan "dilalap"

Habis oleh Kwi Lan bahkan kitab-kitab yang oleh Sian Eng sendiri kurang dimengerti. oleh Kwi Lan dihafal di luar kepala. Memang seperti tidak ada gunanya baginya, karena tidak ada yang menerangkan artinya, juga Sian Eng tidak mengerti. namun Kwi Lan menghafalnya di luar kepala dengan keyakinan bahwa kelak tentu ada gunanya. Dalam hal kemajuan ilmu silat, Suma Kiat tertinggal jauh oleh Kwi Lan sehingga kadang-kadang Sian Eng merenung seorang diri.

"Tidak aneh"

Kwi Lan keturunan seorang sakti seperti Suling Emas, sedangkan Kiat-ji anak bajingan macam Suma Boan. Lalu ia menangis seorang diri, menangisi kematian Suma Boan, putera pangeran yang amat dikasihinya, juga amat dibencinya sehingga kedua tangannya sendirilah yang membunuh Suma Boan. Dua tahun kemudian ketika Kwi Lan telah berusia empat belas tahun pada suatu pagi gadis cilik ini bersama Phang Bi Li mencari kembang seperti dua tahun yang lalu di dalam hutan, tidak jauh dari pondok mereka.

"Bagaimana kalau sekarang aku bertanya kepada Bibi Sian tentang orang tuaku, Bibi Bi Li?"

Bi Li menggeleng kepala.

"Belum waktunya, Kwi Lan. Sedikitnya lima tahun lagi, kalau engkau sudah betul-betul kuat, baru kau boleh bertanya."

Selagi Kwi Lan hendak bicara lagi, tiba-tiba Bi Li memandangnya dan menaruh telunjuk di bibir.

"Ssshh, tidakkah kau mendengar sesuatu?"

Kwi Lan mendengarkan penuh perhatian.

"Ada orang bertempur.."

Akhirnya ia berkata. Bi Li mengangguk.

"Agaknya tidak jauh dari sini. Mari kita lihat, akan tetapi kita harus bersembunyi."

Berlari-larianlah mereka ke arah suara beradunya senjata tajam. Tak lama kemudian sampailah mereka ke tempat bertempur tadi, di pinggir hutan. Mereka bersembunyi di balik pohon-pohon sambil mengintai. Kiranya yang bertanding itu adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, berpakaian seperti seorang jembel miskin sekali, pakaiannya penuh tambalan dan amat butut, melawan pengeroyokan empat orang lain yang pakaiannya juga penuh tambalan. Hanya bedanya, kalau orang pertama yang dikeroyok itu pakaiannya butut dan kotor, adalah pakaian empat orang yang mengeroyok ini, biarpun penuh tambalan, amat bersih dan tambalannya juga berkembang-kembang.

Ilmu kepandaian pengemis butut itu lumayan demikian Kwi Lan yang menonton berpikir. Senjatanya hanya sebatang tongkat, akan tetapi gerakannya gesit dan tenaganya besar. Betapapun juga, menghadapi pengeroyokan empat orang pengemis bersih ia nampak repot. Empat orang lawannya itu memegang tongkat yang lebih besar dan panjang, dan biarpun gerakan mereka tidak secepat gerakan Si Pengemis butut, namun ilmu silat mereka lihai dan tenaga mereka tidak kalah besarnya. Selain ini, tempat pertandingan itu dikurung oleh belasan orang pengemis baju bersih yang bersorak menjagoi empat orang kawan mereka dan mengejek Si Pengemis baju butut. Agaknya pertandingan itu sudah berlangsung cukup lama dan tampak betapa pengemis berpakaian butut itu sudah payah. Tubuhnya penuh luka-luka dan napasnya sudah terengah-engah pucat. Namun masih terus melawan penuh semangat.

"Aiihhh.."

Seruan ini mengagetkan hati Kwi Lan. Ketika ia menoleh ke kiri, ia melihat betapa Bi Li memandang dengan mata, terbelalak dan muka pucat sekali ke arah pertempuran. Kemudian, nyonya itu meloncat ke depan bagaikan seekor harimau betina, langsung menerjang tempat pertandingan dan begitu kaki tangannya bergerak, empat orang pengeroyok itu terlempar ke empat jurusan Phang Bi Li cepat menghadapi pengemis baju butut itu sambil berseru suaranya gugup.

"Kau.. kau.. bukankah engkau Tang Sun..?"

Pengemis baju butut itu terhuyung-huyung saking lelahnya, mengeluh panjang ketika memandang Bi Li, kemudian berkata lemah.

"Bi Li.., Kau. Bi Li..? Ah, tidak mungkin.."

Sepasang mata Bi Li sudah bercucuran air mata.

"Aku betul Bi Li isterimu"

Pengemis itu terbelalak memandang, napasnya serasa terhenti.

"Bi Li..? Aduh.. Hauw Lam.. Hauw Lam.. di manakah engkau..? Ini Ibumu, Nak.."

Pengemis bernama Tang Sun itu terguling dan roboh pingsan.

Untung Bi Li cepat meloncat dan menubruknya sehingga ia tidak sampai terbanting, akan tetapi alangkah kaget hati Bi Li ketika melihat dia ternyata telah terluka hebat, bahkan tulang iganya ada yang patah-patah. Kiranya laki-laki yang ternyata adalah suaminya ini tadi melakukan perlawanan mati-matian dan nekat dalam keadaan terluka parah mendekati mati. Cepat ia merebahkan suaminya, memanggil-manggil namanya dan menangis. Sementara itu, sejenak para pengemis baju bersih yang belasan orang jumlahnya tercengang menyaksikan betapa sekali bergerak, wanita setengah tua itu telah membuat empat orang kawan mereka terlempar dan jatuh terbanting tidak mampu bangkit lagi, hanya mengaduh-aduh karena tulang lengan dan kaki mereka patah-patah. Kini melihat betapa pengemis baju butut roboh pingsan dan wanita itu berlutut menangis, timbul kegarangan mereka.

Post a Comment