Halo!

Mutiara Hitam Chapter 03

Memuat...

"Aiiihhh..!!"

Teriakan tertahan ini terdengar dari sudut ruangan di mana dua orang kakek pengemis tadi duduk bersandar. Berdebar keras jantung Suling Emas. Celaka, benar-benar orang-orang Khitan ini bermata tajam.

"Ah, apa-apaan ini?"

Teriaknya.

"Kalian benar-benar salah melihat orang. Aku bukan Taihiap, bukan pula Kim-siauw-eng, kalian lekas pergi saja jangan menggangguku."

"Taihiap, salah atau tidak, kami harus melakukan kewajiban kami. Petunjuk yang baru kami terima kemarin dari atasan kami tak salah lagi. Berpakaian sebagai pengemis, bertopi lebar butut, menunggang kuda kurus. Tidak salah lagi, Harap Taihiap tidak membikin repot kami dan suka kami antar ke Khitan sekarang juga."

"Hemmm.. kalau aku tidak mau?"

"Kami mendapat perintah untuk mengawal Taihiap ke Khitan, mau atau tidak, karena kami sudah mendapat wewenang, kalau perlu kami akan memaksa Taihiap."

Sambil berkata demikian, Si Kumis Tebal itu mengepal tinju dan melangkah dekat. Akan tetapi jelas bahwa ia gelisah sehingga dahinya penuh keringat.

"Waahh.., jangan menghina kaum jembel.."

Kiranya dua orang pengemis tua itu sudah berdiri menghadang di depan tiga orang perwira Khitan dengan sikap melindungi Suling Emas. Di tangan kanan mereka tampak tongkat pengemis. Perwira Khitan yang gemuk itu memandang dengan mata melotot, lalu membentak.

"Jembel-jembel tua bangka, kalian mau apa mencampuri urusan kami?"

Kakek pengemis yang punggungnya bongkok tersenyum lebar, lalu berkata.

"Melihat sekaum dihina orang, bagaimana kami dapat tinggal diam? Apalagi kalau yang kalian hina adalah saudara tua kami yang terhormat."

Kemudian kakek bongkok itu menoleh ke arah Suling Emas lalu menjura.

"Tianglo yang mulia silakan beristirahat yang enak, biarlah kami berdua mewakili Tianglo memberi hajaran kepada anjing-anjing Khitan ini"

Setelah berkata demikian, kembali ia menghadapi para perwita Khitan dan berkata mengejek.

"Saudara tua kami tidak suka menerima undangan Ratu Khitan, mengapa memaksa? Sungguh Ratu kalian tak tahu malu"

"Keparat, berani menghina..?"

Perwira gemuk itu segera menghantam ke arah dada pengemis bongkok. Hantaman yang amat kuat sehingga mengeluarkan hawa pukulan yang menyambar keras. Si Pengemis Bongkok maklum akan kekuatan lawan, maka ia cepat mengelak. Dua orang perwira lain yang memegang toya juga segera menyerbu dan terjadilah perkelahian seru di dalam kuil tua ini. Ketika Suling Emas menyaksikan sikap kedua orang pengemis tua itu terhadapnya, menjadi makin terheran-heran. Kalau para perwira Khitan itu dengan tepat dapat mengenal atau setidaknya menyangkanya Suling Emas, adalah para pengemis ini mengira dia orang lain dan menyebutnya Tianglo. Tentu dia dianggap seorang tokoh pengemis yang mereka hormati. Tidak beres kalau begini, pikirnya.

Namun, masih mending dianggap seorang tokoh pengemis daripada dikenal sebagai Suling Emas. Ia merasa kesal melihat dirinya dijadikan sebab perkelahian, maka melihat lima orang itu bertanding seru, ia lalu menggunakan kepandaiannya, sekali berkelebat ia sudah lenyap dari tempat itu, meloncat keluar kuil dan di lain saat ia sudah menunggang kudanya yang kurus. Akan tetapi sekali ini, kuda kurus itu memperlihatkan keasliannya ketika Suling Emas menarik kendali dan menendang perutnya, karena kuda kurus itu berlari amat cepatnya dan melihat gerakan kakinya jelas bahwa kuda kurus itu adalah seekor kuda pilihan. Biarpun para perwira Khitan itu tiga orang mengeroyok dua orang pengemis tua yang tubuhnya kurus kering malah seorang diantaranya bongkok, namun mereka itu segera mendapat kenyataan bahwa dua orang jembel tua itu benar-benar amat lihai.

Untung bagi orang-orang Khitan itu bahwa dua orang jembel tua itu agaknya memang hanya ingin mempermainkan mereka. Seperti telah disebutkan tadi, pada masa itu, diantara Kerajaan Sung dan Kerajaan Khitan terdapat persahabatan. Orang-orang Khitan tentu saja masih dianggap bangsa yang "liar"

Akan tetapi karena orang-orang Khitan itu selalu membuktikan disiplin yang baik dan tidak pernah melakukan kejahatan di wilayah Sung, maka rakyat pun tidak membenci mereka. Hal ini terjadi setelah suku bangsa Khitan dipimpin oleh Ratu Yalina yang mengeluarkan peraturan-peraturan keras untuk rakyatnya. Karena inilah, agaknya dua orang pengemis yang terang bukan orang-orang sembarangan itu juga enggan untuk mencelakai tiga orang perwira Khitan itu, melainkan hanya ingin mencegah mereka memaksa pengemis aneh yang mereka sangka seorang "saudara tua"

Tadi.

"Eh, ke mana perginya Tianglo..?"

Tiba-tiba Si Bongkok berseru kaget dan keduanya segera menghentikan pertempuran, bahkan tanpa berkata sesuatu dua orang pengemis itu sudah meloncat keluar dan sebentar saja lenyap dari situ. Perwira gemuk itu mengejar bersama dua orang temannya, namun setiba mereka di luar kuil, keadaan sepi saja. Tak nampak seorang pun manusia. Juga kuda kurus tidak berada pula di depan kuil. Perwira gemuk berkumis tebal itu mengerutkan keningnya, meraba-raba dagu lalu berkata,

"Sungguh meragukan apakah benar dia tadi Suling Emas. Terang dia menolak, dan dua orang jembel tua bangka tadi sungguh menjemukan, membikin sukar pelaksanaan tugas kita yang tidak mudah. Kalian lekas beri laporan kepada pusat markas penyelidik di Tai-goan, katakan betapa lihainya dua orang pengemis tua bangka tadi. Kalau dia tadi betul Suling Emas dan sampai lolos, tentu kita semua akan menerima hukuman berat. Lekas berangkat, aku akan mencoba mengikuti jejaknya.."

Dua orang perwira bawahan itu cepat pergi menunggang kuda mereka menuju ke Tai-goan, sedangkan Si Perwira Gemuk juga membalapkan kuda melakukan pengejaran ke arah timur setelah meneliti jejak kaki kuda yang ditunggangi Suling Emas.

Betapa heran hatinya ketika melihat jejak kaki kuda itu tak pernah berhenti biarpun ia mengikutinya sampai matahari condong ke barat. Mungkinkah kuda kurus kering mau mati itu dapat melakukan perjalanan sebegitu jauhnya dan melihat jejaknya selalu berlari cepat? Diam-diam Si Perwira Gemuk mengeluh dan mengomel. Sudah lebih dari lima tahun ia ditugaskan mencari seorang yang bernama Suling Emas. Membawa pasukan, bahkan kemudian akhir-akhir ini pencaharian dan penyelidikan diperhebat dengan datangnya para pengawal jagoan dari Khitan yang berpusat di Tai-goan. Namun selama ini, penyelidikannya selalu sia-sia belaka. Suling Emas yang dimaksudkan ratunya itu seakan-akan lenyap ditelan bumi, atau memang orang itu tidak pernah ada.

Kemarin, dia menerima berita dari seorang di antara penyelidik yang disebar di mana-mana, bahwa seorang penunggang kuda kurus yang perawakannya sama dengan orang yang selama ini dicari-cari. Dengan penuh semangat dia bersama dua orang pembantunya melakukan penyelidikan dan akhirnya bertemu dengan Suling Emas di dalam kuil itu. Aneh sekali caranya orang itu melenyapkan diri, pikir Si Perwira Gemuk sambil mengepal tinju. Mengapa tidak seorang pun di antara mereka ada yang tahu? Padahal, dua orang pengemis tua itu jelas memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Namun mereka pun tidak melihat perginya orang yang disangka Suling Emas itu. Hal ini hanya berarti bahwa orang itu memiliki ilmu kepandaian hebat. Cocok dengan gambaran tentang diri Suling Emas yang oleh para pengawal istana disohorkan memiliki kepandaian seperti dewa. Sekali ini harus berhasil, pikirnya. Harus berakhir pengejaran dan penyelidikan yang bertahun-tahun ini.

Suling Emas membalapkan kudanya dan baru ia membiarkan kudanya mengaso dan berjalan perlahan setelah lewat tengah hari. Ia tidak jadi pergi ke Tai-goan. Ia harus melarikan diri, tak peduli ke mana, asal jangan sampai bertemu dengan orang-orang Khitan itu. Kembali jatuh hujan rintik-rintik, akan tetapi ia tidak peduli.

"Mengapa, Lin Lin berusaha keras untuk mengundangnya ke Khitan? Apakah selama ini Lin Lin juga hidup menderita batin seperti dia? Kasihan Lin Lin"

Ia tahu betapa mendalam cinta kasih Lin Lin kepadanya dan betapa perpisahan itu akan membuat Lin Lin hidup sebagai Ratu Yalina, terkurung dalam istana, yang keras dan sunyi.

"Oughhh.."

Kembali serangkaian batuk menyerang Suling Fmas. Selalu ia terserang batuk kalau pikirannya mengenang masa lalu yang menimbulkan duka. Agaknya serangan batuk kali ini hebat sehingga ia terbatuk-batuk dan tubuhnya berguncang-guncang di atas kuda, wajahnya menjadi pucat, napasnya terengah-engah. Sudah lama ia terserang penyakit, bertahun-tahun sudah, akan tetapi ia tidak pernah mempedulikannya, tidak mau mencari obat. Biarlah demikian pikirnya setiap kali timbul keinginan mengobati penyakitnya, kalau penyakit ini mengakibatkan kematian alangkah baiknya. Bebas daripada duka nestapa dan derita batin.

Betapa besar kekuasaan asmara. Kuasa menciptakan sorga maupun neraka dalam penghidupan manusia. Suling Emas yang dahulu terkenal gagah perkasa, tahu akan segala filsafat hidup, menguasai berbagai ilmu yang tinggi dan pelik-pelik, namun sekali tercengkeram asmara, menjadi lemah seperti seorang yang bodoh dan tidak mengerti apa-apa, menjadi begitu lemah sehingga tidak mampu menguasai dirinya sendiri. Betapa ingin hatinya bertemu kembali dengan Ratu Yalina. Betapa ingin hatinya dapat memandang wajah wanita yang dikasihinya itu, dapat memegang tangannya. Ah, akan tetapi bagaimana mungkin? Dia sudah tua, juga Lin Lin bukanlah orang muda lagi. Dahulupun di waktu mereka masih muda, hal ini tak mungkin dilakukan tanpa mengakibatkan noda nama. Apalagi sekarang, Lin Lin adalah seorang ratu yang disembah rakyatnya, sedangkan dia.. dia seorang sebatang kara dan miskin. Betapa mungkin ia menjerat Lin Lin ke dalam kehinaan?

"Tidak"

Suara hati terucapkan bibirnya.

"Aku harus bertahan. Dia tidak boleh merendahkan diri, tidak boleh bertemu denganku"

Keputusan ini membuat Suling Emas seketika mengeluarkan sebuah saputangan lebar dan ditutupnyalah sebagian mukanya dengan saputangan.

"Jangan sampai orang-orang Khitan itu mengenalku"

Post a Comment