Di dalam hatinya ia menyumpahi diri sendiri. Lamunan-lamunan, kenangan-kenangan, dan pikiran macam itulah yang selalu mengejar dan menggodanya, kemanapun juga ia pergi, sehingga akhirnya timbul batuk yang menggeroti dadanya. Kalau sudah terganggu oleh kenang-kenangan seperti itu hatinya serasa diremas, terasa sakit dan perih, semangatnya melemah dan seluruh tubuhnya lelah, membuat ia malas dan satu-satunya keinginan hanya tidur, kalau mungkin tidur selamanya tanpa sadar lagi.
Sebuah kuil tua di pinggir jalan, di luar kota Tai-goan menarik hatinya karena ia melihat tempat mengaso yang enak dalam kuil tua itu, di mana ia dapat mengaso dan tidur memenuhi keinginan hatinya. Dibelokkannya kuda kurus itu ke kiri memasuki pekarangan kuil tua yang penuh rumput, seperti juga kuilnya sendiri yang sudah kosong dan tidak terpelihara, pekarangan itupun kotor penuh rumput. Akan tetapi hal ini menguntungkan bagi kuda kurus yang terus saja melahap rumput hijau di depan kuil. Kuda itu dilepas begitu saja oleh Suling Emas yang memasuki kuil dengan mata setengah tidur. Tanpa menoleh ke kanan kiri tanpa mempedulikan beberapa orang pengemis yang duduk di sudut ruangan depan, ia terus melangkah ke dalam, mengebut-ngebutkan ujung baju membersihkan lantai di sudut yang kosong, lalu duduk bersandar dinding, terus melenggut tidur"
Hanya dengan istirahat beginilah batuk yang menyerangnya menjadi berkurang.
Mengapa pendekar sakti seperti Suling Emas sampai menjadi begini? Padahal, kalau ia menghendaki kedudukan, Kerajaan Sung akan membuka kesempatan sebesarnya kepada Suling Emas, tokoh yang sudah banyak dikenal, bahkan Kaisar sendiri memberi penghargaan kepada Suling Emas, memberi izin istimewa kepada Suling Emas, untuk memasuki istana setiap saat sesuka hatinya. Selain ini, juga para pimpinan Beng-kauw yang menjadi orang-orang paling berpengaruh di samping Kaisar Nan-cao, juga akan menerimanya dengan tangan terbuka. Betapa tidak? Suling Emas adalah cucu keponakan dari ketua Beng-kauw"
Mengapa ia menolak semua kemuliaan ini dan memilih penghidupan miskin, terlantar, patah hati dan terserang penyakit?
Para pembaca cerita "SULING EMAS"
Dan cerita "CINTA BERNODA DARAH"
Tentu masih ingat betapa parah cinta kasih yang gagal merobek hati Suling Emas.
Cintanya yang terakhir lebih-lebih lagi menghancurkan hatinya. Ikatan cinta kasih antara dia dan Ratu Yalina, amatlah erat. Masing-masing telah saling mencinta, bahkan Ratu Yalina tadinya rela mengorbankan kedudukannya untuk menjadi isterinya. Namun, Suling Emas terpaksa menolaknya. Menolak karena pertama, Suling Emas sebagai seorang tokoh besar di dunia kang-ouw tentu saja dimusuhi banyak orang, apalagi karena mendiang ibunya sewaktu hidupnya telah mengakibatkan banyak permusuhan dengan orang-orang dunia persilatan. Ia tidak mau menyeret Yalina dalam hidup penuh bahaya dan permusuhan. Kedua, Yalina adalah puteri angkat ayahnya, jadi masih adik angkatnya sendiri, sehingga kalau mereka berdua berjodoh, tentu akan menjadi bahan ejekan dan cemoohan, mencemarkan nama baik keluarganya.
Ketiga, suku bangsa Khitan amat membutuhkan bimbingan Ratu Yalina untuk memperkuat kembali suku bangsa itu. Inilah sebabnya mengapa ia rela berpisah dari kekasihnya itu, rela hidup merana dan menderita tekanan batin. Hampir dua puluh tahun ia menyembunyikan diri semenjak berpisah dari Ratu Yalina. Musuh-musuh ibunya akhirnya merasa bosan mencari-carinya untuk dimintai pertanggungan jawab akan sepak terjang ibunya puluhan tahun yang lalu. Akhirnya ia, Suling Emas, dilupakan orang"
Benarkah itu? Benarkah Suling Emas dilupakan orang? Mudah-mudahan demikian, pikir Suling Emas sambil melenggut.
"Mudah-mudahan dunia sudah lupa kepada Suling Emas. Lebih dilupakan lebih baik. Siapa yang akan mengenal Suling Emas yang sekarang telah menjadi seorang jembel setengah tua? Gurunya dahulu pernah hidup sebagai seorang jembel. Malah jembel yang gila"
Berpikir sampai di sini, senyum pahit menghias mulutnya dan ia membuka sedikit matanya. Kebetulan sekali ia melihat dua orang pengemis tua yang tadi duduk melenggut di sudut luar, kini keduanya saling berbisik dan menoleh kepadanya. Kemudian, aneh sekali, dua orang pengemis tua itu menghampirinya dan keduanya membuat gerakan aneh, yaitu tangan kiri menekan dada kiri arah tempat jantung, dan tangan kanan diangkat ke atas membentuk lingkaran dengan ibu jari dan jari tengah.
Apa artinya itu? Mengapa mereka memberi salam seaneh itu? Suling Emas tidak mengenal siapa mereka, juga yakin bahwa tidak mungkin mereka mengenalnya. Akan tetapi mereka itu sudah menyalamnya, biarpun salam yang lucu dan aneh. Agaknya mereka itu memberi salam karena mengira dia pun seorang pengemis, jadi segolongan. Dan agaknya para pengemis di daerah ini sudah lajim menyalam seorang "rekan"
Secara itu. Untuk menjaga jangan sampai dua orang itu tersinggung Suling Emas lalu meniru gerakan mereka, membalas salam itu dengan gerakan yang sama, lalu ia meramkan mata dan melenggut pula, tidak memperhatikan lagi dua orang itu yang wajahnya sejenak berubah girang sekali ketika melihat balasan salamnya.
Agaknya seorang di antara dua pengemis tua itu hendak bicara dan Suling Emas diam-diam merasa geli hatinya, akan tetapi mendadak mereka berdua itu sudah meloncat dan di lain saat sudah mendengkur lagi sambil duduk bersandar tembok. Gerakan mereka begitu cepat sehingga diam-diam Suling Emas tercengang, maklum bahwa dua orang pengemis itu bukanlah pengemis sembarangan, melainkan pengemis kang-ouw yang berilmu tinggi. Selagi ia terheran mengapa mereka tidak jadi bicara dan bersikap seaneh itu, tiba-tiba di luar terdengar suara langkah kaki orang disusul suara dalam bahasa Khitan yang dimengerti pula oleh Suling Emas.
"Tidak salah lagi. Dia tentu berada di dalam kuil ini. Lihat itu kudanya, aku mengenal kuda kurus ini"
Demikian suara itu dan diam-diam Suling Emas terkejut. Ia teringat bahwa kemarin ia melihat tiga orang laki-laki bangsa Khitan yang berpakaian seperti perwira, menunggang kuda dengan membalap. Mereka itu ketika bersimpang jalan, memandang penuh perhatian kepadanya. Melihat perwira-perwira Khitan ini, Suling Emas teringat kepada kekasihnya, Ratu Yalina.
Akan tetapi karena pada masa itu Kerajaan Sung bersahabat dengan Kerajaan Khitan dan adanya orang-orang Khitan di wilayah Kerajaan Sung bukanlah hal aneh lagi, maka Suling Emas tidak menaruh perhatian lagi. Siapa kira, tiga orang itu agaknya menyusul dan mencarinya sampai di sini"
Sedikit pun Suling Emas tak dapat menduga mengapa ada perwira-perwira Khitan mencarinya dan mulai timbul dugaan bahwa tentu mereka itu salah lihat, mengira dia orang lain, maka ia tetap saja duduk dengan sikap tenang. Tiga orang Khitan itu segera muncul di ruangan dalam kuil itu. Seorang diantara mereka, yang menjadi pemimpin, bertubuh gemuk dengan kumis melintang tebal. Si Kumis Tebal inilah yang sekarang berdiri dan menjura kepadanya, memandang tajam, penuh selidik ke arah wajah di bawah topi sambil berkata,
"Taihiap (Pendekar Besar), kami menjalankan perintah Ratu kami yang minta dengan hormat agar Taihiap suka pergi berkunjung sekarang juga bersama kami ke Khitan."
Jantung Suling Emas berdebar keras. Baru sekali ini setelah belasan tahun ia mengalami ketegangan batin. Ratu Khitan Yalina mengundangnya? Apa yang dikehendaki oleh Lin Lin? Mengapa ingin bertemu? Pertemuan yang tentu hanya akan membuat luka di hatinya menjadi makin parah saja. Di saat itu juga, ia sudah mengambil keputusan untuk menolak undangan ini. Akan tetapi ia tidak ingin pula lain orang mengetahui bahwa dia Suling Emas. Bagaimana perwira Khitan ini dapat mengenalnya?
"Apa.. apa yang kau maksudkan? Aku tidak mengerti omonganmu"
Ia menjawab lirih, pura-pura tidak mengerti kata-kata tadi yang diucapkan dalam bahasa Khitan. Si Kumis Tebal itu saling lirik dengan dua orang temannya, pada wajahnya terbayang keheranan dan keraguan. Ia segera berkata dalam bahasa Han.
"Kami diutus junjungan kami untuk mengundang Taihiap berkunjung ke Khitan sekarang juga bersama kami."
Tentu saja Suling Emas maklum bahwa Lin Lin atau Sang Ratu Yalina yang mengundangnya, akan tetapi ia pura-pura tidak tahu. Diam-diam ia kagum dan heran sekali akan kecerdikan orang-orang Khitan sehingga berhasil mengenal dan mendapatkannya.
"Ah, apa artinya ini? Aku sama sekali bukan Taihiap, dan aku tidak mengenal siapa itu junjunganmu di Khitan."
Kembali wajah gemuk itu dibayangi keraguan.
"Harap Taihiap jangan berpura-pura lagi. Junjungan kami adalah Sang Ratu yang mulia di Khitan. Menurut petunjuk yang saya terima, tidak salah lagi Taihiap orangnya. Kuda kurus itu.. dan bentuk tubuh Taihiap. Perintah junjungan kami merupakan perintah besar yang harus dilaksanakan sampai berhasil, dan kami sudah bertahun-tahun dalam usaha mencari Taihiap"
Diam-diam Suling Emas merasa terharu. Kembali terbayang wajah Lin Lin, terbayang semua peristiwa yang lalu. Lin Lin adalah puteri angkat ayahnya yang ternyata kemudian sebagai Puteri Mahkota Khitan. Mereka saling mencinta, namun tak mungkin menjadi suami isteri. Ia telah memenuhi hasrat hatinya, memenuhi permohonan Lin Lin sebelum berpisah sampai kini dari wanita yang tercinta itu. Ia telah secara diam-diam dan rahasia berkunjung di istana Sang Ratu Yalina, berdiam sampai satu bulan di dalam kamar Sang Ratu, hidup sebagai suami isteri penuh cinta kasih, penuh kemesraan selama sebulan, suami isteri di luar pernikahan yang tak mungkin dilakukan"
Mereka berdua runtuh oleh gelora cinta dan nafsu. Namun hal itu tak dapat dipertahankan terus. Demi menjaga nama baik Yalina sebagai Ratu, dan demi untuk menjaga nama baik keluarga. Terpaksa Suling Emas harus meninggalkan Khitan meninggalkan dengan keputusan hati takkan kembali lagi, takkan bertemu lagi dengan wanita yang dikasihinya, hanya dengan hiburan bahwa wanita yang dicintanya itu juga mencintanya sepenuh jiwa raga. Mereka bersumpah takkan menikah dengan orang lain. Belasan tahun hal itu terjadi dan telah lalu. Hampir dua puluh tahun. Dan sekarang tiba-tiba Sang Ratu Yalina mengutus perwira-perwiranya untuk mencarinya sampai dapat, untuk mengundangnya ke Khitan. Apa perlunya? Bukankah kesemuanya itu sudah musnah habis?
"Aku yakin bahwa kalian tentu salah kira dan menganggap aku orang lain. Kalian mengira aku ini siapakah?"
Suling Emas masih berusaha mempertebal keraguan orang.
"Siapa lagi Taihiap ini kalau bukan Kim-siauw-eng?"