"Pang-cu, tidak ada orang yang boleh memaksaku untuk berjuang dan tidak ada orang pula yang boleh melarangku untuk berjuang. Karena itu, engkau tidak perlu heran," jawab Ban-tok Sian- li dengan ketus.
Wanita itu memang aneh wataknya. Kalau ia ditentang, ia akan bangkit melawan dengan keras. Dan kiranya ini sudah menjadi watak para datuk persilatan pada umumnya.
"Tidak, Sian-li, siapa berani mёlarangmu? Silakan tinggal di sin!, dan selama di sini, engkau akan aman dari pengejaran pasukan. Maaf, saya ada keperluan lain, terpaksa harus meni nggal kan ji-wi."
Dia lalu keluar dari ruangan itu dan tinggal Kok Bu yang sikapnya jauh berbeda dengan ayahnya. Dia melayani dua orang tamunya dengan baik dan penuh penghormatan, lalu menunjukkan sebuah kamar untuk mereka. Juga dia menyediakan makanan untuk kedua orang tamunya itu.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Siang Hwi sudah mandi dan keluar dari kamarnya. Gurunya masih beristirahat karena semalam gurunya itu hampir tidak tidur melainkan menghimpun tenaga murni untuk mengobati luka di pahanya yang memar.
Rumah pejabat itu cukup besar dengan pekarangan yang luas, dan di bela kang terdapat seb.uah taman bunga yang cukup indah dan luas pula. Siang Hwi memasuki taman itu. Udara pagi itu amat сеrah, burung- burung masih banyak yang berkicau di taman itu, belum berangkat pergi mencari makan, Sinar matahari pagi mulai menghangatkan taman. Siang Hwi menghampiri serumpun kembang merah dan dipetiknya setangkai lalu di pasangnya di rambutnya.
"Nona !"
la terkejut dan memutar tubuhnya. Ternyata Kok Bu yang memanggilnya tadi dan pemuda itu berdiri di depannya„ terbelalak dan memandangnya dengan mata terpesona. Bagi Kok Bu, gadis itu nampak cantik jelita pagi itu, apa lagi dengan bunga merah di rambutnya, nampak
seperti seorang bidadari dari kahyangan yang turun ke taman Itu bersama cahaya matahari pagi.
"Eh, Bu toako kiranya. Selamat pagi. Eh, toako engkau kenapakah?"
"Kenapa ?" "Engkau memandangku seperti belum pernah melihat aku saja!"
Kok Bu tersenyum salah tingkah dan menjawab gugup, "Aku.... ah, kembang di rambutmu itu membuatmu nampak cantik jellta seperti bidadari saja, nona "
"Hemm, engkau terlalu memujiku, toako.!'
"Sungguh mati, aku bukan merayu atau memuji kosong, nona Siang Hwi. Engkau adalah gadis yang paling cantik yang pernah kutemui selama hidupku."
"Omong kosong! Engkau tinggal di kota raja, bahkan engkau banyak mengenal para bangsawan. Banyak putri bangsawan cantik jelita di kota raja, apa lagi puteri istana."
"Sudah banyak aku bertemu puteri bangsawan, akan tetapi tidak ada yang dapat menandingi engkau dalam hal kecantikan dan kegaga han, nona. Aku sungguh terpesona dan begitu bertemu denganmu, seketika aku jatuh hati. Maafkan keIancanganku "
Wajah Siang Hwi menjadi kemerahan akan tetapi ia tidak marah. Sikap pemuda ini terlalu jujur dan ucapannya itu bukan rayuan, hal ini ia dapat merasakan benar. Akan tetapi, sedikitpun ia tidak mempunyai perasaan cinta kepada pemuda yang baru dikenalnya itu, walau pun ia merasa berterima kasih dan juga kagum atas pertolongan pemuda ini kepada nya dan kepada gurunya.
"Sudahlah, toako, jangan bicara soal itu. Aku tidak senang mendengarnya. Sama sekali belum ada dalam pikiranku persoalan yang kau kemukakan itu. Maafkan aku." Dan iapun pergi meninggalkan,pemuda itu menuju ke rumah untuk masuk ke kamarnya di mana gurunya masih tidur.
Akan tetapi ia melihat sesosok bayangan berkelebat dan tahulah ia bahwa bayangan itu adalah Gan-pangcu, ayah dari Kok Bu. Karena ingin tahu apa yang akan terjadi, ia menyelinap ke balik sebatang pohon dan mengi ntai.
Gan Liang klni bicarara keras kepada anaknya sehingga Slang Hwi tidak perlu mengerahkan pendengarannya untuk dapat mendengar apa yang dikatakan ketua Hek-tung Kai-pang itu.
"Apa? Engkau mencinta gadis itu? Tidak tahukah engkau murid siapa ia? Gurunya adalah Ban-tok Sian-li, datuk sesat yang tinggal di Lembah Iblis! Tidak, aku tidak suka kalau engkau mencinta gadis itu. Apa lagi menikah dengannya! Aku tidak suka berbesan dengan datuk sesat!"
Mendengar ini, Siang Hwi mengerutkan alisnya dan diam-diam ia pergi meninggalkan tempat itu, kembali ke dalam gedung. la mendapatkan gurunya sudah bangun dan sudah mandi.
"Subo, sebaiknya kita cepat pergi dari tempat ini dan keluar kota raja," kata Siang Hwi.
Melihat wajah muridnya seperti orang yang marah, Ban-tok Siап-li memandang penuh selidik,
"Ada apakah, Siang Hwi ?"
"Su-bo, aku mendengar Gan-pangcu berkata kepada puteranya bahwa dia merasa khawatir dan tidak senang kalau kita tinggal di sini lebih lama lagi karena dapat membahayakan dirinya dan perkumpulannya. Kаrеna itu, sebaiknyi kita pergi sekarang juga, subo. Mereka sudah menolong kita, tidak enak kalau harus menyusahkan mereka lebi h lanjut."
Gurunya mengangguk. "Engkau benar, Siang Hwi. Kalau begitu mari kita berkemas dan pergi dari sini sekarang juga."
Siang Hwi menjadi girang dan cepat ia berkemas bersama gurunya.
Selagi keduanya berkemas, muncul Kok Bu di depan kamar mereka. Meli hat kesibukan guru dan murid yang berkemas dan menggendong buntalan pakaian di punggung, dia terkejut sekali.
"Eh, toanio, dan nona.ji wi hendak pergi ke manakah?" Ban-tok Sian-li yang menjawab tegas.
"Kami akan berpamit dan pergi dari sini sekarang juga."
"Akan tetapi, itu berbahaya sekali Ji-wi akan diketahui oleh para pengawal dan perajurit dan tentu akan di tangkap! Pula, di kota raja ini, ji-wi hendak bersembunyi di mana? Di sini merupakan tempat terbaik bagi ji-wi untuk bersembunyi."
"Kami hendak keluar dari kota.raja!" kata Siang Hwi yang bicara dan suaranya terdengar dingin.
"Tapi. tapi itu lebih berbahya!" kata Kok Bu. "Semua
pintu gerbang dijaga ketat oleh pasukan dan tidak mungki n Ji-wi dapat melewati pintu gerbang dengan selamat."
"Kami tidak takut! Akan kami lawan mati-matian!" kata pula Ban-tok Sian-Li . "Aihh, kenapa ji-wi memaksakan diri? Kalau ji-wi memaksa, baiklah, akan kami atur agar ji-wi dapat melewati pintu gerbang dengan aman. Jalan satu- satunya hanyalah menyamar sebagai anggauta Hek-tung Kai-pang."
" Menyamar?" tanya Ban-tok Sian li .
"Jangan ji-wi khawatir. Di antar anak buah kami terdapat seorang yang ahli dalam hal mendandani orang dalam penyamaran. Dalam waktu singkat saja ji-wi sudah akan menjadi orang lai n yang tidak akan dikenal bahkan oleh orang-orang terdekat. Bagaimana pendapat ji-wi? Kiranya itulah jalan satu-satunya untuk dapat menyusup keluar dari pintu gerbang dengan selamat."
Tentu saja guru dan murid itu tidak dapat menolak tawaran yang menarik dan juga menguntungkan itu. Anggauta Hek-tung Kai-pang yang ahli merias itu dipanggil dan segera dia mendandani Ban-tok Sian-li dan The Siang Hwi. Dalam waktu kurang dari satu jam, kedua guru dan murid ini benar-benar telah berubah, menjadi dua orang anggauta pengemis yang berjalan terbongkok- bongkok membawa tongkat .
Тak lama kemudian, di pintu gerbang utara, ada serombongan pengemis terdiri tujuh orang melewati pintu gerbang itu, para petugas jaga tentu saja tidak mau didekati para pengemis yang berpakaian kotor dan berbau. Maka merekapun membiarkan para pengemis itu lewat.
Setelah melewati pintu gerbang, para pengemis itu segera pergi berpencar. Dua di antara mereka yang berjalan terbongkok-bongkok melanjutkan perjalanann dengan cepat menuju ke barat. Akan tetapi belum lama para pengemis itu melewati pintu gerbang, tampak belasan orang penunggang kuda tiba di tempat itu, yaitu rombongan pengawal rumah gedung Perdana Menteri, dipimpin oleh seorang raksasa hitam yang bukan lain adalah Hak Bu Cu.
"Apakah ada serombongan pengemis lewat di sini?" tanya Hak Bu Cu yang berpakaian perwira.
Para petugas jaga di pintu gerbang itu tidak mengenal Hak Bu Cu, akan tetapi melihat pakaiannya, mereka memberi hormat dan seorang di antara mereka menjawab bahwa baru saja ada serombongan tujuh orang pengemis lewat di situ dan keluar kota.
"Hayo cepat kejar!" bentak Hak Bu Cu dan anak buahnya lalu membedal kuda melakukan pengejaran keluar kota melalui pintu gerbang utara.
Bagaimana sampai para pengawal mencurigai serombongan pengemis itu? Semua ini adalah ulah ketua Hek-tung Kai-pang sendiri. Setelah dia membiarkan puteranya menolong dua orang wanita itu melarikan diri dengan mendandani mereka seperti dua orang pengemis, Gan Liang lalu mengutus seorang anak buahnya untuk memberitahu kepada Perdana Menteri Jin Kui bahwa ada serombongan penjahat yang menyamar pengemis melarikan diri keluar kota raja melalui pintu gerbang utara!
Tentu saja Perdana Menteri Jin lalu mengutus Hak Bu Cu untuk melakukan pengejaran. Sementara itu, mendengariakan perbuatan ayahnya ini, Gan Kok Bu marah sekali kepada ayahnya.
"Ayah, apa yang telah ayah takukan ini? Kenapa ayah mengkhianati mereka yang jelas membantu para pejuang?" "Tadinya aku memang setuju engkau membantu mereka karena mereka membantu para pejuang. Akan tetapi setelah aku tahu siapa wanita yang kau bantu, aku lebih senang meli hat mereka tertangkap. dan terhukum! Engkau tidak tahu siapa itu Ban-tok Sian-li ! Ketika ia masih gadis dahulu, telah banyak orang menjadi korban karena kecantikannya! Banyak pemuda tergila-gila kepadanya dan mengajukan pinangan. Akan. tetapi apa yang diiakukan? la menghi na semua yang memi nangnya dan menghajar setiap orang pria yang berani meminangnya, bahkan ada yang terbunuh olehnya! Wanita macam apa itu? Biarlah ia ditangkap dan menerima hukuman mati, baru puas hatiku ... "
Melihat betapa ayahnya nampak mendendam sekali kepada Ban-tok Sian-li, Kok Bu bertanya dengan alis berkerut,
"Hemm, agaknya ayah termasuk seorang yang telah ditolak pinangannya?"
Wajah ayahnya berubah kemerahan.
"Benar , dan ia telah merobohkanku, hampir saja membunuhku. Тak pernah aku dapat melupakan penghinaan itu!"