Halo!

Mestika Golok Naga Chapter 12

Memuat...

"Plak-plak . .. . !!" Dua kali tangan gadis itu menampar dan laki-laki itu jatuh terjengkang lalu mengaduh- aduh sambil memegangi kedua pipinya yang menjadi bengkak dan giginya rontok sehingga mulutnya berdarah.

Akan tetapi dasar orang tidak tahu diri. Dalam rasa sakitnya, dia malah marah

dan segera bangkit berdiri lalu menyerang gadis itu dengan pukulan kedua tangannya ! Karena dia memang tinggi besar dan kuat pukulannya itu gencar datang nya dan kuat sehi ngga membuat yang menontonnya menjadi khawatiг akan keselamatan gadis itu. Akan tetapi mereka kecelik karena tidak sekalipun pukulan itu mengenai tubuh si gadis, bahkan sebaliknya, begitu gadis itu menggerakkаn kaki nya menendang, untuk kedua kalinya laki-laki itu terjengkang. Akan tetapi sekali ini, dia bangkit dengan perut mulas, dia memegangi perutnya dan lari dari situ tanpa menoleh lagi entah ketakutan entah untuk mencari tempat mengeluarkan isi perutnya yang terguncang ! Melihat ini, semua orang bertepuk tangan dengan girang dan memuji. Pada masa itu, memang banyak sekali orang yang memaksakan kehendaknya, baik dengan bantuan kedudukannya, kekuasaannya, hartanya, maupun kekuatannya. Da n гakyat yang sudah ketakutan itu biasanya tidak ada yang berani melawan. Maka, kini melihat orang yang berti ndak sewenang- wenang mendapatkan hajaran, tentu saja mereka menjadi girang dan puas.

An Kiong mengenal orang pandai Dia lalu memberi hormat kepada gadis itu dengan ramah.

"Nona, engkau telah menolongku dan mengusir orang yang bertindak sewenang-wenang tadi. Kami mohon sudilah nona si nggah di rumah kami untuk berkenalan dan untuk memberi kesempatan kepada kami mengucapkan terima kasih kami."

Sikap hartawan itu amat hormatnya dan kata-katanya pun teratur ramah dan rapi. Mendengar ini, The Siang Hwi lalu menengok kepada gurunya.

"Subo, bagaimana kalau kita singgah sebentar?"

Mendengar gadis itu menyebut subo kepada wanita cantik jelita yang sejak tadi hanya berdiri acuh saja, An wangwie lalu menghampiri nya dan memberi hormat.

"Ah, kiranya toanio adalah guru nona ini? Maafkan kalau kami kurang hormat kaгёna tidak tahu. Toanio, kami mohon sudilah kiranya toanio dan nona singgah di rumah kami sejenak untuk berkenalan dan menghaturkan terima kasih. Kami adalah keluarga yang selalu mengagumi dan menghormati kaum pendekar seperti toanio berdua." Sikap An-wangwe memang baik sekali sehingga Ban- tok Sian-Ii yang biasanya acuh saja kini-menjadi tertarik juga. Orang ini selain dermawan, juga ramah dan sopan sekali.

"Baik, kita sebentar singgah disini, Siang Hwi." katanya sambil mengangguk dan hartawan itu merasa girang bukan main. Dia memberi isarat kepada orang- orangnya untuk melanjutkan dengan pembagian beras dan dia sendiri tergopoh-gopoh mengiringkan dua orang wanita cantik itu memasuki rumahnya.

Sementara itu apa yang terjadi di luar rumah sudah terdengar oleh isteri dan empat orang anak hartawan itu, dan meli hat. hartawan mengiringkan kedua orang masuk, merekapun menyambut dengan ramah dan hormat sehingga amat menyenangkan hati Ban-tok Sian-li.

Kedua orang tamu itu lalu dijamu oleh tuan rumah beserta semua keluarganya yang terdiri dari seorang isteri dan empat orang anak.

An Kiong mengangkat cawan araknya memberi hormat kepada mereka berdua "Kami hendak memperkenaIkan diri kepada ji-wi yang mulia . Nama saya An Kiong, ini isteri saya dan empat orang anak saya yang berusia dari lima tahun sampai lima belas tahun. Kalau ji-wi tidak keberatan, kami ingin sekali mengetahui nama ji-wi yang mulia."

Sikap amat rendah hati ini menggerakkan hati Ban-tok Sian-li. Biasanya ia tidak pernah memperkenaIkan nama aslinya, hanya memperkenalkan nama julukannya saja. Akan tetapi karena hartawan An bukan orang kangouw, dan tidak perlu ia menyembunyikan namanya, maka ia kini memperkenaIkan nama aslinya, bahkan tidak menyebut nama julukannya. "Aku bernama Souw Hian Li dan muridku ini bernama The Siang Hwi. Kami berdua adalah perantau yang datang dari Lembah Maut di tepi sungai Yang- ce."

"Aih, sudah kami duga bahwa ji-wi tentulah tokoh- tokoh kangouw yang perkasa dan budiman. Puteri kami yang sulung telah berusia limabelas tahun dan ia selalu ingin sekali belajar i Imu silat, akan tetapi tidak pernah mendapatkan guru yang pandai. la selalu tertarik kepada mendiang pek-hua-nya (uwa-nya) yaitu Panglima Gak Hui, maka ingi n sekali mempelajari ilmu silat tinggi. Kalau saja toa-nio sudi memberi petunjuk kepadanya, alangkah akan bahagianya hati kami ."

Diam-diam Ban-tok Sian-li Souw Hian Li terkejut. "Ah, kiranya An-wangwe masih terhitung keluarga mendiang Panglima Gak Hui? Sungguh mengherankan, mengapa engkau masi h enak-enak tinggal di kota raja?"

An-wangwe tersenyum. "Ah, kami hanya keluarga jauh. Isteri mendiang Panglima Gak adalah kakak misanku, maka kami terhitung keluarga jauh. Pula, kami tidak pernah ik ut urusan perjuangan, mengapa takut tinggal di kota raja? Kamipun tidak pernah melakukan kejahatan dalam bentuk apapun "

Tiba-tiba terdengar ribut-ribut di luar. Serentak mereka keluar. Ternyata yang ribut-rlbut itu adalah selosin orang pasukan yang menyuruh para pembantu dan petugas yang membagi beras tadi menghentikan pekerjaannya dan mereka menyuruh semua orang pergi. Itulah selosin pasukan yang dipimpin oleh Jin Kiat dan Hak Bu Cu. Ketika Jin Kiat melihat An-wangwe muncul, dia lalu menudingkan telunjuknya dan berteriak lantang.. "An Kiong engkau mengumpulkan orang apakah hendak memberontak?" Anwangwe mengenai pemuda itu dan diapun cepat memberi hormat.

"Jin-kongcu, mengapa berkata demikian? Mereka ini adalah fakir miskin yang mengambil bagian beras yang kubagi-bagikan untuk mereka kongcu."

"Ahhh, jangan membantah. Lihat aku membawa surat perintah Yang Mulia Kaisar untuk menangkapi sejuruh keluarga pemberontak Gak Menyerahlah engkau sekeluargamu untuk kutangkap, An Kiong!"

Seketika wajah An Kiong berubah pucat mendengar ini. "Akan tetapi, kongcu .... kami ... kami bukan keluarga Gak! Kami keluarga An "

"Cukup Siapa tidak tahu bahwa engkau masih saudara misan ibu pemberontak Gak Liu?"

"Ampun, kongcu. Kongcu sendiri cukup lama mengenal keluarga kami yang tidak pernah berbuat salah apapun "

"Jangan banyak cakap! Perajurit, tangkap mereka semua!" perintah Jin Kiat .

"Kami tidak bersalah ! Kami tidak mau ditangkap!" terdengar bentakan dan An Siu Hwa, puteri sulung hartawan An itu. sudah mencabut pedangnya.

"Ha-ha-ha, puterimu ini gagah juga, An Kiong! Biar yang ini bagianku!" kata Ji n Kiat dan diapun menubruk kearah gadis itu. Siu Hwa menyambutnya dengan tusukan pedang, akan tetapi ilmu silatnya masih terlampau rendah kalau dibandingkan Jin Kiat yang menjadi murid para jagoan istana.

Jin Kiat mengelak dan dari samping dia sudah menotok tubuh gadis itu sehi ngga Siu Hwa merasa tubuhnya lemas, pedangnya terlepas dan ia jatuh ke dalam rangkulan Jin Kiat yang tertawa-tawa.

Para perajurit lalu menangkapi An Kiong, isterinya dan tiga orang anaknya yang lai n, yang masih kecil-kecil. Melihat ini Ban-tok Sian-li menjadi marah sekali.

"Jahanam busuk, lepaskan mereka!" la menampar dua kali dan dua orang perajurit terjungkal dan tewas seketika. melihat ini, Hak Bu Cu terkejut dan maklum bahwa wanita cantik itu lihai sekali dan memiliki pukulan beracun.

Maka diapun segera menerjang maju dan segera terjadi pertandingan yang seru antara Hak Bu Cu melawan Ban-tok Sian-li yang juga terkejut karena di situ muncul raksasa hitam yang demikian dahsyat tenaga dan tinggi llmu silat nya.

Sementara itu, meli hat betapa Siu Hwa telah dirangkul secara kurang ajar sekali oleh Ji n Kiat, The Siang Hwi mengeluarkan suara melengking nyaring dan ia sudah menyerang pemuda itu dari samping. "lepaskan gadis itu!"

Jin Kiat yang masih merangkul dan tadi menci umi Siu Hwa, menggunakan tangan kiri menangkis pukulan Siang Hwi. Dia terlalu memandang rendah, maka ketika Tangan mereka beradu, hampir saja Jin Kiat terpelanting .

Dia melepaskan Siu Hwa dan terkejut bukan main karena ternyata gadis cantik manis itu memiliki tenaga sinkang yang membuat dia hampir roboh! Dia lalu mencabut pedangnya dan menyerang Siang Hwi. Akan tetapi gadis inipun mencabut sebatang pedang tipis dari punggungnya dan mereka sudah saling serang dengan hebatnya. Para perajurit juga membantu Ji n Kiat sehingga Siang Hwi dikeroyok banyak оrang. Para perajurit itu tidak berani membantu Hak Bu Cu karena pertandi ngan antara Hak Bu Cu dengan wanita cantik itu hebat bukan main, Angin yang dahsyat menyambar-nyambar dari kaki tangan mereka sehi ngga tidak ada perajurit berani mendekat.

Seorang perajurit lari mencari bala bantuan dan tak lama kemudian berdatangan berpuluh-puluh perajurit kerajaan. Meli hat ini, mau tidak mau Bantok Sianli lalu melompat jauh dan bersama muridnya ia terpaksa melarikan diri.

Tidak mungkin menghadapi pengeroyokan puluhan orang perajurit, apalagi,mereka berada di kota raja yang dapat mengerahkan ratusan bahkan ribuan orang perajurit yang tentu akan membahayakan sekali kepada mereka .

Теrpaksa walaupun dengan hati mendongkol sekali, Ban-tok Sian-li dan The Siang Hwi membiarkan An Kiong sekeluarga ditangkap dan dibawa ke penjara.

Mereka berdua juga tidak lepas dari pengejaran para perajurit. Ke manapun mereka pergi, tentu bertemu dengan seregu perajurit dan beberapa kali mereka harus melakukan perlawanan merobohkan beberapa orang perajurit dan lari lagi .

Akhirnya mereka terjebak ke dalam sebuah lorong, pada hal kedua ujung lorong itu telah terjaga oleh ratusan orang perajurit. Pada saat mereka kebingungan itu, muncullah seorang pemuda berpakaian pengemis, pakaiannya tambal tambalan namun bersih.

"Toa-nio, sio-cia, mari ke sini. Tidak ada jalan keluar lain. Mari cepat!-" katanya kepada dua orang wanita itu. Karena memang sudah tersudut, Ban tok Sian-li memberi isyarat kepada muridnya untuk mengikuti pemuda itu. Mereka memasuki sebuah rumah kecil dan dari rumah ini mereka dapat menyusup melalui lorong- lorong kecil, keluar dari lorong yang terkepung itu. Mereka lalu memasuki sebuah kuil. Kuil itu adalah sebuah kuil para pendeta wanita. Seorang ni-kouw tua menyambut kedatangan pemuda pengemis itu.

"Ceng-niko uw, tolonglah kedua orang sahabat ini.

Mereka adalah buruan tentara. Cepat!"

"Baik, masuklah ke sini, ji-wi sio-cia!" kata ni-kouw tua itu kepada Ban-tok Sian-ii dan Siang Hwi. Pengemis itu lalu memberi hormat dan berkata kepada mereka.

"Untuk sementara ji-wi di sini aman. Aku akan mencari jalan untuk ji-wi dapat keluar dari kota raja. Sampai jumpa!"

Post a Comment