Halo!

Mestika Golok Naga Chapter 11

Memuat...

"Hemm, Gak Liu itu memang putera mendiang Gak Hui yang paling berani dan berkepandaian tinggi. Dahulupun ketika ayahnya dipenjara, dia bersama teman-temannya sudah berani penyerbu penjara dan hampir saja dapat membebaska n ayahnya. Hanya Panglima Gak Hui yang tidak mau dibebaskan. Jadi sekarang dia memimpin pemberontak untuk mengacau di perbatasan? Sungguh kurang ajar ! " Perdana Menteri itu berkata.

Pada saat itu, muncul seorang pemuda berusia kurang lebih duapuluh lima tahun, berwajah tampan dan berpakaian mewah. Dia ini adalah Jin Kiat, putera Perdana Menteri. Jin Kui, seorang pemuda yang sombong, akan tetapi telah mempelajari ilmu silat yang cukup tinggi di samping ilmu sastra.

"Aha, kiranya Paman Hak yang datang!" serunya sambil memberi hormat dan dibalas oleh raksaša hitam itu "Pantas di sini sepi-sepi saja tidak terdengar suara musik, kiranya ayah sedang menjamu seorang tamu terhormat."

"Jin Kiat, duduklah, kami sedang membicarakan urusan penting sekali. Hak sicu ini disuruh oleh Wu- ciangkun menyampaikan berita penting tentang para pemberontak. "

"Ada apa lagikah, ayah?"

"Ada sepasukan pejuang yang amat mengganggu di perbatasan, dan pasukan itu dipimpin oleh Gak Liu, puteri mendiang Panglima Gak Hui."

"Hemm, dia itukah? Yang dahulu menyerbu penjara?" Jin Kiat lalu ikut duduk menghadapi meja mendengarkan percakapan itu.

"Lalu apa yang dikehendaki oleh Wu-ciangkun?" tanya Jin Kui.

"Wu-ciangkun minta bantuan taijin untuk dapat menangkap Gak Liu dan menghukumnya, taijin," kata si raksasa hitam.

"Hemm, kalau begitu aku akan melapor kepada kaisar, akan kukatakan bahwa Gak Li u memberontak dan memimpin pasukan pemberontak. Setelah itu, maka dia akan menjadi buronan, dan kita tangkapi seluruh keluarganya, baik keluarga dekat maupun jauh, maka pernbersihan itu tentu akan memancing munculnya Gak Liu."

"Aku akan memimpin pembersihan itu, ayah! Keluarga Gak semua sudah menyingkir entah ke mana sejak matinya Gak Hui, dan kurasa di kota raja sudah tidak terdapat seorangpun yang she Gak Bahkan orang-orang Gak sudah ketakutan sendiri dan minggat. Akan tetapi kalau diusut, tentu masih ada keluarga jauh dari pihak ibunya yang bukan she Gak Aku akan menyelidiki, ayah."

"Bagus, kalau engkau sendiri yang memimpi n pembersihan, tentu akan berhasil. Akan tetapi aku akan minta bantuanmu, Hak-sicu, untuk membantu Ji n Kiat karena siapa tahu, di antara keluarga mendiang Gak Hui itu akan terdapat orang-orang pandai yang tentu akan menyusahkan puteraku."

"Tentu saja saya selalu siap untuk membantu, tai-ji n." "Bagus, kalau begitu tinggallah di sini sampai aku

melapor kepada Kaisar. Karena setelah melapor tentu aku dapat minta surat kuasa untuk melakukan penangkapan kepada seluruh keluarga Gak yang berada di sini. Setelah ada yang tertangkap, kita dapat memaksa keterangan darinya di mana kita dapat menemukan Gak Liu si pemberontak itu."

Demikianlah, dengan gembira mereka lalu melanjutkan makan minum sampai jauh malam dan Hak Bu Cu tinggal di rumah besar itu sebagai seorang tamu yang dihormati. Jin Kiat tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk minta petunjuk tentang ilmu silat kepada tamunya, dan sambil menanti ayahnya membuat laporan, diapun mempelajari beberapa jurus i lmu silat dari si raksasa hitam yang lihai.

Pada keesokan harinya, dalam persidangan, Perdana Menteri Jin Kui melaporkan kepada Kaisar.

"Yang Mulia, hamba mendengar berita yang tidak enak sekali bahwa terdapat pasukan pemberontak yang membikin kacau di perbatasan, memanci ng-manci ng pertempuran dengan pasukan Kin. Perbuatannya ini berbahaya sekali karena setiap saat mereka dapat membalik dan berbalik menyerang pasukan kita sendiri. Dan yang memimpih pasukan itu adalah putera si pemberontak Gak Hui yang bernama Gak Liu."

Tentu saja Kaisar marah sekali! mendengar laporan ini. "Apa Putera pemberontak itu berani membikin kacau? tangkap dia!" bentaknya.

"Hamba akan melaksanakan perintah itu, Yang Mulia. Mohon Yang Mulia mengeluarkan surat per intah penangkapan bukan hanya untuk Gak Li u, melai nkan untuk seluruh keluarga pemberontak itu agar hamba dapat membasminya sampai bersi h!"

Kaisar lalu membuat surat perintah itu dan dengan bekal surat perintah ini, dengan girang Jin Kui lalu pulang ke rumah gedungnya.

"Nah, dengan bekal surat perintah, engkau dapat melakukan penangkapan kepada siapapun tanpa khawatir lagi , Jin Kiat," kata ayah ini dengan bangga .

Sementara itu, Ji n Kiat tidak tinggal diam dan dia sudah mengutus orangnya menyelidiki siapa yang masih terhitung sanak keluarga Gak. Dia mendengar bahwa ada seorang hartawan di kota raja bernama An Kiong. An Kiong ini kabarnya masih sanak keluarga Gak, dan masih terhitung paman dari Gak Li u dari pihak ib unya. Dan masih saudara misan ibunya.

"Ha-ha, aku tahu siapa yang harus kutangkap terlebi h dahulu, ayah. Dia bernama An Kiong dan menjadi seorang hartawan yang terkenal di kota raja. Mari, Paman Hak, kita siapkan pasukan untuk mulai melakukan penangkapan."

Pemuda itu sambil membawa surat perintah lalu mengajak tamunya untuk mempersiapkan selosin perajurit pilihan yang di-ambil dari pasukan keamanan. Dengan adanya Hak Bu Cu disampingnya, selosin orang perajuritpun sudah lebih dari cukup. Perajurit itu hanya untuk menambah keangkeran saja, karena kalau Hak Bu Cu membantunya, tanpa perajuritpun dia berani rnelakukan penangkapan terhadap siapapun juga. Setelah pasukan itu siap, berangkatlah Ji n Kiat dalam pakaian panglima yang mewah, disertai Hak Bu Cu, dengan gagahnya keluar dari gedung ayahnya menuju ke rumah sang korban.

0odwo0

Sejak pagi sekali, banyak orang berdiri antri di depan rumah An-wangwi (hartawan An). Hampir setiap hari hartawan An ini membagi-bagi beras dan kadang juga uang kepada fakir miskin. Pada waktu itu, akibat terjadi nya perang, banyak terdapat orang-orang miskin yang hidupnya terlantar.

Karena itulah, setiap kali hartawan An membagi bagi beras atau gandum, banyak yang antri minta bagian. Baik yang berpakaian seperti pengemis atau penduduk biasa, banyak yang antri.

Hartawan An Kiong memang terkenal sekali di kota raja sebagai seorang yang dermawan. Tangannya terlepas dan terbuka menolong siapa saja yang membutuhkan bantuan.

Pada pagi hari itu, selagi orang ramai antri dan menerima pembagian beras, lima kati setiap orang, tiba- tiba terjadi keributan. Seorang pengantri yang bertubuh tinggi besar, mendesak ke depan minta didahulukan. Pada hal, dia datang belakangan. Orang itu masih muda, berusia kurang lebih tigapuluh tahun dan sikapnya kasar sekali. Dia mendorong begitu saja orang-orang yang antri di depan, tidak perduli yang didorongnya itu wanita, kakek-kakek atau kanak-kanak dan dia menuntut kepada petugas yang membagi beras untuk mengisi kantungnya dengan beras.

Si petugas melihat orang itu dan mengenalnya sebagai orang yang pagi tadi sudah mendapatkan jatahnya, "E h, bukankah engkau tadi sudah mendapatkan lima kati?"

"Itu kan tadi. Akan tetapi aku sudah antri lagi dan setiap pengantri harus mendapatkan lima kati," katanya kukuh .

"Hem aturan siapa itu?"

"Aturanku!" kata laki-laki itu sambil melotot marah. "Cepat berikan bagianku, ataukah aku harus ambil sendiri?"

"Heii, engkau ini minta atau merampok?" bentak petugas yang membagi beras.

"Kalau merampok, engkau mau apa' balas si laki-laki tinggi besar itu Terjadilah perkelahian, akan tetapi lima petugas itu bukan lawan si laki-laki tinggi besar yang memukul dan menendang mereka sampai jatuh bangun.

Mendadak di tempat itu muncul seorang Wanita cantik bersama seorang gadis manis lai n yang lebih muda. Gadi itu berusia kurang lebih sembilanbelas tahun, wajahnya manis sekali dan dia memandang kepada laki-laki itu denga alis berkerut. Gadis ini bukan lain adalah Siang Hwi, murid Ban-tok Sian li yang juga hadir di situ.

Guru dan murid ini berada di kota raja, baru tadi mereka datang dan mereka tertaril sekali melihat kerumunan banyak orang itu maka mereka mendekat dan melihat bahwa kerumunan orang itu adalah orang orang yang menerima bagian beras dari seorang hartawan yang dermawan. Mereka merasa kagum sekali kepada hartawan itu. Pada masa itu, jaranglah terdapat hartawan yang demikian dermawan, yang membagi-bagi beras kepada fakir miskin dan siapa saja yang membutuhkannya.

An Kiong yang diberitahu cepat ke luar. Dia dengan wajah ramah lalu memberi hormat kepada laki-laki tinggi besar yang baru saja menghajar orang-orangnya itu. "Sobat, harap jangan marah. Kalau engkau menghendaki beras, marilah kuambilkan."

"Bagus, begitu baru baik. Nah, isilah kantung ini sampai penuh!' katanya.

An Kiong mengerutkan alisnya. "So bat, biasanya untuk setiap orang diberi lima kati. Yang minta banyak, kami khawatir kalau sampai persediannya kurang."

"Tidak perduli. Orang-orangmu bersikap kasar kepadaku. Harus dipenuhi kantung ini atau aku akan mengambil sendiri !"

"Perampok busuk!!"

0odwo0

Laki-laki itu menengok untuk melihat siapa yang berani memaki dia perampok busuk. Dan dia tercengang melihat bahwa yang memakinya adalah seorang gadis berusia belasan tahun yang amat cantik manis. Dia lalu melangkah maju menghampiri.

"Apa kau bilang, nona?" "Aku bilang engkau perampok busuk, orang tidak tahu malu yang paling rendah budi di dunia ini!" gadis itu kembali memaki, sekali ini lebih ketus lagi.

"Hei , jaga mulutmu!" bentak laki- laki itu. "Engkau sudah memaki aku, hayo cepat beri ciuman atau kalau engkau tidak mau, mulutmu akan kurobek sebagai hukuman!" laki-laki itu menghampiri semakin dekat dan hendak merangkul .

Post a Comment