Melihat piauwsu itu maju tanpa membawa senjata, Tan Hong juga tidak mau mengeluarkan senjatanya dan bersiap sedia sambil memasang kuda-kuda. “Awas kepalanku, anak muda!” Lim-piauwsu mulai menyerang dengan gerak tipu Cio-po-thian-keng atau Batu Meledak Langit Gempur, sebuah tipu pukulan yang dilakukan dengan tenaga sepenuhnya hingga merupakan serangan berbahaya. Tan Hong melihat gerakan ini maklum bahwa lawannya bukanlah orang sembarangan, maka ia tidak berani menangkis, hanya mengelak ke samping mempergunakan kelincahan tubuhnya, lalu membarengi dengan serangan balasan yang dilakukan dengan tangan miring, yakni dengan gerak tipu Puja Kwan Im Dengan Tangan Miring (Heng-pai Kwan-im). Serangannya ini tidak kalah hebatnya, akan tetapi oleh karena maksud dari Lim- piauwsu memang hendak menguji kekuatan dan kepandaian Tan Hong, piauwsu itu tidak mengelak, bahkan menggunakan tangannya menangkis. Dua buah tangan beradu dan bukan main terkejutnya Lim-piauwsu ketika pukulan yang tertangkis itu demikian berat dan kuatnya hingga pasangan kuda-kuda kakinya menjadi teranjak mundur sampai tiga langkah!
Lim-piauwsu yang telah banyak mengalami pertempuran-pertempuran dengan tokohtokoh berilmu tinggi, maklum bahwa tenaga lwekang anak muda ini lebih tinggi daripada tenaganya sendiri maka ia lalu mengeluarkan ilmu silat Ho-kun (Ilmu Silat Burung Ho) yang menjadi ilmu kebanggaannya. Gerakannya menjadi lincah, kedua tangannya berkembang merupakan umpan, akan tetapi kalau umpan ini dimasuki lawan, kedua kepalan tangan yang dipentang itu akan melancarkan serangan dari kanan kiri yang sukar ditangkis atau dihindari. Tan Hong telah mengalami gemblengan hebat dari Cin Cin Tojin, dan ilmu silatnya telah mencapai tingkat yang tinggi, maka pertunjukan ilmu silat Ho-kun yang dikeluarkan oleh Lim- piauwsu ini sama sekali tak membingungkannya. Dengan tiba-tiba pemuda ini merobah gerakannya dan kini ia memainkan ilmu Silat Rajawali Sakti yang mempunyai gerakan lebih cepat lagi, menyambar-nyambar dari atas sambil mempergunakan gerakan ginkang yang tinggi hingga dalam waktu yang singkat Lim-piauwsu telah terdesak sekali.
Belum ada empat puluh jurus, mereka bertempur Lim- piauwsu telah terdesak tanpa dapat membalas hingga diam- diam piauwsu ini heran dan kagum sekali karena belum pernah ia menghadapi lawan yang dapat membuatnya tidak berdaya dalam pertempuran sedemikian pendek! Ia lalu melompat ke belakang sambil berseru, “Hebat sekali!”
Tan Hong tidak mengejar, hanya berdiri menghadapi semua orang dengan sikap waspada. Ia tak hendak mendesak lawan, dan hanya akan melawan mati-matian apabila dia sendiri yang terdesak.
To Tek Hosiang maju sambil melintangkan toyanya. “Maling muda, benar-benar kau tidak mau menyerah dan menurut nasehatku?”
“Hwesio, kaumajulah. Aku Tan Hong sekali mengeluarkan ucapan, hanya akan dapat dirobah setelah aku menggeletak tak berdaya!”
“Anak sombong! Keluarkan senjatamu!”
Tan Hong maklum bahwa hwesio itu tentu memiliki kepandaian tinggi, maka tanpa ragu-ragu lagi, iapun lalu menghunus pedangnya dan semua orang terpesona melihat pedang yang putih berkilauan karena tajamnya. Inilah Gin- kiam atau Pedang Perak yang telah amat terkenal. Gagang pedang itu terbuat seluruhnya daripada perak putih berkilat dan di ujung gagangnya digantungi rambu-rambu merah. Setelah melihat pemuda itu mengeluarkan pedangnya, To Tek Hosiang lalu menyerang dengan toyanya sambil berseru keras, “Lihat toya!”
Tan Hong berlaku waspada dan tenang. Dari sambaran angin senjata toya itu, ia dapat menduga bahwa To Tek Hosiang memiliki tenaga lwekang yang tak boleh dipandang ringan, maka cepat ia mengelak sambil melompat ke kiri. Akan tetapi gerakan To Tek Hosiang benar-benar cepat. Biarpun serangannya yang ditujukan ke arah dada lawannya itu dapat dielakkan, namun toyanya diteruskan dari samping dan merupakan sapuan ke arah kaki Tan Hong dengan cepat dan kuat! Tan Hong juga memperlihatkan ketangkasan dan kecepatannya. Dengan satu gerakan ia berhasil melompat ke atas dan menghindarkan diri dari sambaran toya. Sebelum tubuhnya turun kembali, Tan Hong membarengi dengan tusukan pedangnya ke arah tenggorokan lawan dalam gerak tipu Elang Merah Meyambar Kelinci.
To Tek Hosiang juga cepat menangkis lalu menyerang kembali. Hwesio ini memiliki ilmu toya yang luar biasa sekali dan belum pernah ia dikalahkan orang selama ia menjagoi di daerah timur waktu mudanya. Maka bukan kepalang herannya ketika ia melihat betapa pemuda ini dapat menghadapinya dengan baik, bahkan dapat mengimbangi serangan-serangannya.
Orang-orang yang menonton pertempuran ini menahan napas. Tubuh Tan Hong yang berpakaian warna hitam telah lenyap dan hanya nampak bayangan hitam saja berpusing-pusing diliputi sinar pedang yang putih gemilang. Sebaliknya, sinar toya To Tek Hosiang memanjang dan menderu mengeluarkan angin bagaikan gelombang dahsyat menyambar-nyambar. Kalau hendak diukur kepandaian mereka, memang sukar dipastikan mana yang lebih unggul, karena cabang persilatan mereka memang berlainan. Masing-masing mempunyai gerak dan tipu tersendiri dan memiliki keistimewaan masing-masing pula. Tentu saja, Tan Hong kalah pengalaman dan kalah latihan. Sebaliknya, jelas nampak dari gerakan tubuh mereka bahwa Tan Hong masih menang dalam hal ginkang, sedangkan tenaga mereka agaknya berimbang.
Sudah diakui oleh seluruh kaum persilatan bahwa pedang yang baik adalah raja sekalian senjata, oleh karena pedang ini tidak berat dan cukup panjang sedangkan bagi seorang ahli apabila pedang telah berada di tangan, maka pedang itu seakan-akan telah berubah menjadi anggauta tubuh yang bergerak sekehendak hatinya.
Kini kedua orang ini bertempur mati-matian dan oleh karena kepandaian mereka berimbang, maka Tan Hong yang memegang pedang mendapat keuntungan dari perbedaan senjata ini. To Tek Hosiang memainkan sebuah toya yang besar dan berat, oleh karena itu ia memerlukan tenaga yang lebih besar. Ditambah pula usianya yang sudah lanjut, maka setelah bertempur seratus jurus lebih, hwesio itu mulai merasa lelah dan peluh mulai keluar dari keningnya. Sebaliknya Tan Hong masih segar bugar dan serangan-serangannya makin gencar dan rapat.
Karena merasa bahwa makin lama makin lemah, To Tek Hosiang lalu mengeluarkan kepandaiannya yang paling hebat. Ia menerjang sambil menggeram keras dan tiba-tiba diputarnya toyanya dari kanan ke kiri menerjang leher Tan Hong. Akan tetapi, sambaran toyanya ini diikuti oleh gerakan membalikkan toya dan kini dengan gagang toya, hwesio itu menotok ke arah ulu hati Tan Hong dengan kecepatan luar biasa! Inilah gerakan Bintang Api Jatuh dari Langit yang berbahaya sekali oleh karena sodokan ini sesungguhnya dilakukan di luar dugaan lawan yang hanya menjaga datangnya serangan pertama yang nampaknya lebih berbahaya.
Akan tetapi Tan Hong yang selalu berlaku hati-hati dan tidak mau memandang rendah setiap gerakan lawan, cepat menjaga dadanya dengan gerakan Seng-siok-hut-si atau Musim Panas Kebut Kipas. Pedangnya berputar-putar menjadi sinar bundar di depan dada dan ujung toya To Tek Hosiang terpukul ke samping. Saat itu digunakan oleh Tan Hong untuk mengirim pukulan kilat dengan tangan kiri ke arah dada lawannya! To Tek Hosiang masih sempat memiringkan tubuhnya, akan tetapi pukulan itu masih saja mengenai pundaknya. Tubuh hwesio itu mundur ke belakang untuk mempertahankan dirinya agar tidak sampai roboh dan melangkah cepat ke belakang lima langkah lebih!
Dengan wajah merah karena malu, To Tek Hosiang lalu berkata, “Gin-kiam Gi-to! Memang kau gagah perkasa dan hebat. Baiklah, kali ini pinceng mengaku telah berlaku kurang hati-hati, hingga dapat kaukalahkan. Akan tetapi, apabila benar-benar kau seorang pendekar sejati, pinceng undang kau datang pada tanggal lima belas bulan depan untuk minta pengajaran sekali lagi!”
“To Tek Hosiang, biarpun kau ini sudah tua, akan tetapi hatimu masih muda dan bersemangat!” jawab Tan Hong. “Baiklah, kalau kau masih ada keinginan untuk main-main lagi dengan aku, pada hari itu aku akan datang mengunjungi kelentengmu.”
Biarpun di luarnya tampak berseri, akan tetapi di dalam hatinya To Tek Hosiang merasa marah serta malu yang tiada terperikan. Dia adalah seorang tokoh Houw-san, yang sudah ulung dan sangat dikenal orang sebagai seorang ahli silat kalangan tinggi yang jarang mendapat tandingan, akan tetapi sekarang ternyata dia tidak berhasil menangkap seorang maling yang masih demikian muda, bahkan ia dapat dikalahkan! Kalau hal ini terjadi di luar setahu orang lain, masih belum apa-apa, akan tetapi di situ terdapat banyak saksi di antaranya Lim-piauwsu sendiri. Ini adalah suatu hal yang sungguh-sungguh memalukan.
Maka setelah mendengar jawaban Tan Hong, hwesio ini lalu melangkah lebar meninggalkan tempat itu. Juga Tan Hong lalu menjura kepada semua orang dan kemudian tubuhnya melayang ke atas genteng dan lenyap dari pandangan! Lim-piauwsu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Sungguh istimewa dan luar biasa! Jarang bisa menemukan seorang pemuda yang memiliki kepandaian sehebat itu. Mudah-mudahan saja dia pergi meninggalkan kota kita dan jangan mengganggu lagi di sini.”
Dan kata-katanya ini memang benar, oleh karena Tan Hong yang menganggap bahwa setelah dirinya dimusuhi oleh para pendekar di kota Wi-ciu, merasa bahwa sudah tiba waktunya untuk pindah ke kota lain. Ia tidak ingin menanam bibit permusuhan yang makin mendalam di hati para pendekar itu.
***
Ketika dalam perantauannya Tan Hong tiba di kota Biauw-men, ia mendengar betapa dalam sebuah dusun berjangkit penyakit menular yang berbahaya. Banyak penduduk mati karena penyakit ini dan masih banyak pula yang rebah tak berdaya, menanti datangnya maut.
Tan Hong yang biasanya hanya menolong orang dengan membagi-bagikan uang hasil curiannya, kini melihat malapetaka yang menimpa dusun itu, menjadi bingung. Apakah yang bisa ia lakukan untuk menolong mereka selain memberi uang seperti biasa? Orang kena penyakit tidak hanya membutuhkan uang, tapi juga membutuhkan pengobatan!
Oleh karena inilah, maka pada suatu malam, ketika ia sedang mencari-cari gedung mana yang hendak dijadikan korban, ia berdiri termangu di atas genteng sebuah rumah yang cukup tinggi dan besar. Di depan rumah ini terdapat merk yang ditulis dengan huruf besar dan menyatakan bahwa itu adalah sebuah toko obat. Melihat besarnya rumah itu, dapat diduga bahwa pemilik toko itu tentulah seorang yang kaya raya pula. Maka Tan Hong lalu mengambil keputusan untuk menjadikan rumah ini korbannya. Kali ini ia tidak hanya hendak mencuri uang, akan tetapi juga hendak mengambil obat-obatan sebanyak mungkin untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang dusun yang sedang ditimpa bencana itu!
Dengan mudah ia melompat turun ke dalam rumah itu. Ketika ia sedang menghampiri sebuah jendela kamar yang masih terang, tiba-tiba ia merasa pundaknya seperti ditepuk orang! Tan Hong cepat membalikkan tubuh dan bersiap sedia, akan tetapi aneh, ia tidak melihat apaapa! Boleh jadi hanya angina yang meniup dari belakang, pikirnya. Ia lalu menghampiri jendela itu dan pada saat itu ia mendengar suara orang berpantun dari dalam kamar. Hatinya merasa heran karena siapakah orangnya yang masih berpantun seorang diri pada tengah malam ini?
Ketika ia mengintai ke dalam kamar, terlihat olehnya seorang laki-laki tua berpakaian seperti seorang sasterawan atau yang juga biasa dipakai oleh ahli-ahli obat sedang duduk pada sebuah kursi yang dapat digoyang-goyangkan ke depan dan ke belakang. Orang itu duduk dengan enaknya, tangan kanannya memegang sebuah buku yang sedang dibacanya, dan tangan kirinya mengetuk-ngetuk meja untuk memberi irama pada ucapan pantunnya. Kemudian orang itu berhenti membaca kitab kuno itu dan menguap, lalu berkata seorang diri, cukup keras hingga terdengar juga oleh Tan Hong.