“Ha, ha, ha! Sungguh kita beruntung sekali mendapat warga kota yang begini gagah!” kata Ban Siauw sambil memandang ke sekitar tempat pertandingan itu, seakan- akan kata-katanya ini merupakan suatu lelucon. Kemudian ia menghadapi Gui San kembali dan sikapnya tiba-tiba menjadi angkuh, lalu ia berkata lagi, “Orang she Gui! Kaudengarlah baik-baik! Kami Seng-koan Sam-eng tidak biasa dihina orang, juga kami tidak suka berlaku curang! Oleh karena itu, maka akan janggal dan tidak adil apabila aku sendiri atau twako (kakak ketua) maju menghadapimu, maka biarlah adikku Ban Hui yang termuda dan terbodoh di antara kami bertiga, maju melayanimu. Kalau ia kalah, berarti kami sendiri yang kalah, dan kalau dia menang, kau harus menepati janji, membayar kekalahanmu dengan dua ratus kantong gandum!” “Seng-koan Sam-kwi! Sudahlah jangan banyak bicara seperti perempuan. Siapa yang hendak maju, aku tidak perduli, karena aku adalah seorang tamu yang diundang! Apa saja yang hendak dihidangkan oleh tuan rumah, akan kulayani dengan baik!”
Secara diam-diam Tan Hong merasa simpati kepada Gui San, sekalipun ia mudah marah, akan tetapi benar-benar pemberani yang jujur.
“Jiko, kau mundurlah! Tanganku sudah gatal-gatal!” kata Ban Hui tiba-tiba dengan angkuhnya dan segera naik ke atas panggung. Ban Siauw tertawa bangga, lalu mengundurkan diri.
“Nah, orang she Gui. Kemarin kita tidak mendapat kesempatan banyak. Sekarang kauperlihatkanlah kesombonganmu!” Sembari berkata demikian, Ban Hui melemparkan baju luarnya ke bawah panggung dan langsung menghadapi lawannya dengan dadanya yang bidang dan kuat dan lengannya yang besar bertolak pinggang.
“Baik, kau hati-hatilah!” kata Gui San yang lalu menyerang dengan kepalan kanannya. Ban Hui menangkis sambil mengerahkan tenaganya akan tetapi ketika lengan tangannya beradu dengan lengan tangan Gui San, ia mengetahui bahwa orang she Gui itupun memiliki tenaga besar. Mereka lalu bertempur dengan serunya, akan tetapi sebagaimana telah dapat diduga oleh Tan Hong, dan juga dapat diduga oleh Ban Siauw ketika melihat gerak lompatan Gui San tadi ke atas panggung ternyata bahwa pedagang muda itu masih kalah dalam hal kegesitan dan kepandaian ginkang. Sedangkan Ban Hui sebagai saudara termuda dari Seng-koan Sam-kwi yang terkenal, tentu saja memiliki kepandaian cukup tinggi hingga dalam saat yang pendek sekali ia dapat mendesak lawannya dengan pukulan bertubi- tubi dengan gerakannya yang cepat. Gui San kini hanya dapat bersilat sambil mundur dan menangkis atau mengelak, hingga tidak sempat membalas!
Melihat kelemahan lawannya, sambil menyerang dan mendesak, Ban Hui mengeluarkan lagaknya yang memuakkan. Ia tertawa terbahak-bahak sambil mengejek lawannya. “Hai, orang she Gui! Mana kepandaianmu yang amat kau sombongkan itu? Sudahlah, kau menyerah saja dan cepat serahkan dua ratus karung gandum itu daripada kepalamu nanti kena kupukul sampai picak!”
Gui San menjadi marah sekali hingga gerakannya makin kalut. Ia terus terdesak mundur sehingga akhirnya ketika ia mengelak dari sebuah pukulan ke arah dadanya, kakinya menginjak tempat kosong di pinggir panggung! Pukulan Ban Hui masih tetap mengenai pundaknya dan akhirnya tubuhnya terbanting ke bawah panggung!
Para pengurus pertandingan itu bersorak-sorak dan tertawa geli melihat hal ini yang mereka anggap lucu juga, sebaliknya para penonton yang terdiri dari penduduk kota Sengkoan merasa kecewa sekali. Kendatipun demikian mereka tentu tidak berani memperlihatkan sikap menentang kepada Seng-koan Sam-kwi, maka merekapun lalu bertepuk tangan memuji.
Dengan lagak sombong Ban Hui lalu menjura memberi hormat kepada orang sekelilingnya dengan lagak sebagai seorang jagoan besar yang baru saja menang berkelahi. Kemudian ia mendapat sebuah pikiran yang terbit dari adat sombongnya.
“Cu-wi (tuan-tuan sekalian) yang terhormat! Dengan jatuhnya orang she Gui itu, bukan berarti satu keuntungan bagiku, akan tetapi panitialah yang untung karena mendapat tambahan sumbangan sebanyak dua ratus karung gandum! Kami bertiga Seng-koan Sameng selalu berusaha untuk mengumpulkan barang sumbangan sebanyak mungkin, demi kepentingan para korban banjir yang menderita sengsara! Maka, pertunjukkan kali ini anggaplah sebagai hiburan dan apabila di antara saudara-saudara sekalian ada yang berminat hendak naik di atas panggung ini, kami silahkan! Akan tetapi syaratnya harus bertaruh, demi kepentingan panitia yang berusaha membantu para korban berdasarkan perikemanisiaan yang luhur!”
Mendengar kata-kata ini, panitia pertandingan bertepuk tangan menyatakan kegembiraannya. Penonton saling pandang dan saling berbisik. Tapi siapakah orangnya yang berani naik ke panggung untuk main-main dengan Tiga Setan dari Seng-koan itu?
Karena Ban Siauw mendapat firasat yang kurang baik, maka ia lalu naik ke panggung menggantikan adiknya. “Saudara-saudara sekalian, mungkin kata-kata adikku tadi kurang tepat dan juga kurang adil. Karena siapakah yang berani melawan dia yang tinggi besar itu? Bahkan Gui- congsu sendiripun tidak bisa melawannya! Aku mempunyai usul lain yang lebih bagus dan menarik. Lihat tubuhku yang kecil pendek ini. Nah, sekarang siapa saja yang berani naik ke panggung ini, diperbolehkan memukul aku dengan tangan kosong. Sekali pukul harus membayar sepuluh karung gandum! Ayoh, siapa mau ikut serta?”
Di antara penonton banyak yang mendongkol melihat kesombongan ini, akan tetapi biarpun ada yang ingin memukul juga, siapa orangnya yang berani mencoba-coba? Kalau yang dipukul tidak apa-apa, pemukulnya akan mendapat malu dan mengeluarkan sepuluh karung gandum tiap pukulan. Sedangkan andaikata pemukulnya dapat melukai dan membinasakan Ban Siauw, apakah hal ini tidak akan menimbulkan permusuhan hebat? Dan siapakah gerangan yang berani bermusuhan dengan mereka?
Semua orang dapat menduga bahwa tak seorangpun yang akan berani menantangnya. Tetapi tanpa dinyana tiba- tiba seorang dari penonton yang berdiri didepan, terdengar berteriak, “Aku hendak mencoba!”
Semua orang memandang dan mereka melihat seorang pemuda berpakaian serba hitam menaiki panggung. Ia tidak melompat sebagaimana biasanya seorang ahli silat menaiki panggung, akan tetapi mengambil jalan memutar dan menaiki panggung melalui anak tangga yang dipasang untuk para hartawan. Dengan demikian, pemuda itu menuju ke panggung sambil melewati tempat duduk para hartawan dan pembesar. Sikapnya sopan sekali, tampak ketika ia lewat di dekat para hartawan itu, ia menundukkan kepala memberi hormat ke kanan dan ke kiri dengan tubuh setengah membungkuk.
Pemuda itu adalah Tan Hong dan munculnya secara mendadak itu menimbulkan bermacam-macam tafsiran. Tak seorangpun yang berada di situ yang pernah melihat pemuda ini. Wajah Tan Hong yang kurus dan pakaiannya yang usang penuh tambalan itu tidak mendatangkan kesan yang mengagumkan, maka semua penonton hanya tertawa geli dan menganggap bahwa pemuda itu tentullah seorang pemuda terlantar yang telah berubah ingatannya karena menderita kelaparan!
Juga Ban Siauw merasa kurang senang melihat bahwa yang naik itu adalah seorang yang lebih tepat disebut jembel. “He, anak muda! Kau naik ke sini mau mengapa?” tanyanya dengan sombong sambil menahan amarahnya.
“Apalagi kalau bukan hendak memenuhi usulmu tadi!” Ban Siauw tertawa keras dan mengejek, “Jembel muda! Kau sendiri agaknya telah tiga hari tiga malam belum makan. Apakah orang seperti kau ini pula kelak dapat memberikan sumbangan sepuluh karung gandum sebagai taruhan, andaikata kau kalah?”
Semua orang tertawa mendengar kata-kata ini, lebih- lebih lagi di antara para hartawan yang bertubuh gemuk tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya yang gendut menahan tertawanya. Akan tetapi serta merta wajahnya menjadi pucat dan tertawanya lenyap berganti dengan kebingungan ketika ia merasa bahwa kantong uang emas yang tadi digantung di bawah bajunya telah lenyap! Ia meraba-raba di sekeliling tubuhnya, akan tetapi benar-benar kantong uangnya telah tak ada! Tak seorangpun melihat kebingungannya ini dan iapun tidak berani membuat ribut, karena merasa malu dan ragu-ragu karena kalau-kalau kantong uangnya itu ketinggalan di rumah. Maka ia lalu menonton lagi, akan tetapi kini tak sanggup tertawa seperti tadi, karena kegembiraannya telah ikut lenyap bersama dengan lenyapnya kantong berharga itu!
Sekalipun ia telah dihina dengan perkataan yang tak wajar oleh Ban Siauw di muka penonton banyak itu, namun Tan Hong tetap tersenyum dan dengan tenang ia mengeluarkan kantongnya yang berwarna kuning dari balik bajunya. Kantongnya itu kini telah berisi barangbarang yang berat dan ketika ia membuka tutupnya dan menumpahkan isinya ke atas panggung, Ban Siauw melongo. Ternyata isi kantong itu adalah uang emas dan perak yang banyak sekali jumlahnya!
“Kawan pendek! Aku tidak punya beras, akan tetapi agaknya uangku ini sudah cukup untuk membeli gandum sebanyak ribuan karung!” “Boleh, boleh, dibayar uang juga boleh!” kata Ban Siauw. Sementara itu, tidak hartawan gemuk itu saja yang kelihatan bingung, akan tetapi empat orang hartawan lainnya lebih bingung lagi, karena kehilangan uang bekalnya yang banyak jumlahnya itu yang telah dicuri orang dari kantong baju mereka! Kini melihat betapa pemuda jembel itu membawa uang demikian banyaknya, mereka sangat curiga, akan tetapi apakah buktinya untuk memperkuat kecurigaan mereka?
Tan Hong tersenyum. “Sabar, kawan! Segala taruhan harus jangan berat sebelah! Dengarlah, kalau kau dan dua orang saudaramu yang terkenal dengan sebutan Tiga Setan dari Seng-koan itu dapat merobohkanku di atas panggung ini, seperti yang telah dilakukan oleh adikmu terhadap orang gagah she Gui tadi, kau boleh ambil semua uangku ini!”
“Akan tetapi, bagaimana kalau kalian setan bertiga ini dapat kurobohkan? Apakah taruhanmu?”
Suara para penonton terdengar riuh rendah bagaikan lebah dibubarkan, mendengar tantangan pemuda aneh ini.
Ban Siauw tercengang, karena tak menyangka akan mendapat pertanyaan macam ini. Tapi ia sudah yakin pasti akan menang menghadapi pemuda jembel yang kurus ini, maka ia lalu tertawa terkekeh-kekeh. “Ha, ha, ha, memang kau ini orang aneh. Siapa menyangka kau mempunyai harta sebanyak ini? Tentu kau seorang begal! Akan tetap, tidak apalah! Uang ini dapat kami gunakan nanti untuk menolong korban banjir! Sekarang kau sebutkan sendiri, anak muda! Jika kau dapat mengalahkan kami, apakah yang kau hendaki?”
“Berapa banyak gandum yang dimiliki oleh panitia ini?” tanya Tan Hong. Ban Siauw memikir-mikir sebentar, lalu berkata, “Ada dua ribu karung lebih.”
“Nah, demikian saja, kawan pendek. Kalau kau dengan kedua orang saudaramu dapat kurobohkan, kalian harus memberikan gandum itu semuanya kepadaku.”
“Apa?” Ban Siauw terkejut dan heran. “Untuk apa dua ribu karung gandum itu bagimu?”