Halo!

Maling Budiman Berpedang Perak Chapter 10

Memuat...

“Tak perlu kauketahui! Pokoknya begini, uang ini jumlahnya menurut perkiraanku cukup untuk membeli semua gandum itu, maka sudah adil apabila aku minta kau pertaruhkan semua gandum itu. Dan apabila aku menang, tidak saja gandum itu harus diberikan kepadaku, akan tetapi kau harus menyediakan kereta dan tenaga untuk mengangkut gandumgandum itu ke dusun-dusun yang menderita akibat banjir itu dan di bawah pengawasanku membagi-bagikan semua bahan makanan itu kepada penduduk dengan adil!”

Mendengar ini tidak saja Ban Siauw dengan kedua orang saudaranya yang masih berada di atas panggung itu saja yang memandang dengan mata terbelalak, tetapi semua penonton demikian pula.

“Orang ajaib! Apakah kau tidak main-main? Apakah kau gila? Memang semua gandum itu akan disumbangkan kepada para korban banjir!” kata Ban Kok, saudara tertua dari Seng-koan Sam-eng.

Tan Hong mengeluarkan ejekan dari hidungnya. “Hah! Apakah kaukira aku tidak tahu kwalitet orang-orang yang kau sebut panitia penolong ini? Sudahlah, tak perlu aku membongkar rahasia busuk yang kalian jalankan, pendeknya, kau sanggup atau tidak menerima tantangan dan syarat-syaratku?” “Bolehlah! Sebagai manusia sombong kau memang harus diberi pelajaran!” kata Ban Hui dari tadi menahan rasa gemasnya. Kemudian ia berkata kepada kedua saudaranya. “Biarlah aku menghajar jembel muda yang kurang ajar ini. Twako, simpanlah dulu uangnya itu agar nanti ia tidak lari pergi!”

Akan tetapi Tang Hong cepat mengambil semua uangnya dan dimasukkannya ke dalam kantongnya kembali dan berkata, “Sabar dulu kawan. Aku belum kalah! Dan uang ini belum menjadi hakmu!” Ia lalu membawa kantong kuning itu ke pinggir panggung dan menggantungkan kantongnya pada sebuah tiang. Kemudian ia berkata kepada semua penonton, “Saudara-saudara sekalian menjadi saksi. Kalau aku kalah, aku takkan banyak bicara lagi. Uang ini akan kuberikan kepada pengurus-pengurus curang ini. Akan tetapi, kalau aku menang, uang inipun akan kubagi-bagikan kepada para korban banjir!”

Para penonton bersorak-sorai dengan riuhnya. Mereka memuji dan kagum kepada pemuda yang aneh ini.

Tiba-tiba Gui San lalu menghampiri panggung, lalu berkata dengan kerasnya, “Bagus, kalau kau menang, akupun akan menyumbangkan lima ratus karung gandum yang terbaik!”

“Akupun menyumbang dua ratus karung!” kata salah seorang penonton yakni seorang hartawan yang telah tahu akan kecurangan panitia tersebut, tetapi tidak berani berkata apa-apa karena takut menghadapi Seng-koan Sam-eng yang selalu mendapat perlindungan para pembesar dari segala macam kecurangan yang pernah mereka perbuat.

“Akupun dua ratus karung!” “Dan aku seratus!” Masih banyak terdengar suara orang berkumandang meyambut yang diikuti suara riuh dari penonton lainnya yang tak ikut menyumban, tapi ikut merasa gembira.

“Ha, ha, ha! Jangan ribut dulu. Apakah kaukira jembel kurus ini akan dapat mengalahkan Seng-koan Sam-eng?” tiba-tiba terdengar salah seorang dari rombongan para pembesar dan hartawan itu berkata keras.

Kata-katanya ini terdengar oleh semua penonton dan mereka menjadi terdiam, karena mereka baru ingat bahwa pemuda itu akan berhadapan dengan tiga jago terkuat dari Sengkoan! Kini mereka merasa khawatir dan memandang ke arah Tan Hong dengan ragu-ragu.

Tan Hong berlaku tenang, lalu ia menghampiri Ban Hui yang berdiri bertolak pinggang dengan gagahnya. Kedua kakaknya sudah turun dari panggung untuk memberi kesempatan kepadanya untuk menghadapi pemuda jembel itu.

“Kaukah yang hendak melawanku?” tanya Tan Hong. “Ya, bersiaplah untuk menerima pukulanlu yang akan

membuat kau berguling-guling ke bawah panggung!” kata

Ban Hui sambil memasang kuda-kuda.

“Majulah, dan lebih baik kauajak kedua kakakmu maju bersama, karena kalau kau maju sendiri, dalam lima jurus kau pasti akan terlempar ke luar panggung!”

Semua penonton menjadi heran dan menganggap pemuda itu berlaku berani dan sombong. Mendengar ini Ban Hui menjadi marah tiada terhingga.

“Bangsat sombong! Untuk kesombonganmu ini, aku takkan membuat kau menggelinding ke bawah panggung, tetapi aku akan membuat kauroboh untuk selamanya!” serunya dan ia lalu menyerang dengan hebat. Tan Hong cepat mengelak dengan gerakan lemas sambil menghitung, “Jurus ke satu!” Penonton mulai bersorak dan Ban Hui segera mengirim serangan kedua.

“Jurus ke dua!” kata Tan Hong sambil melompat ke pinggir, hingga kembali serangan Ban Hui mengenai tempat kosong.

Melihat gerakan Tan Hong yang sangat cepat itu, hingga tak terlihat olehnya, Ban Hui mulai terkejut dan ia tak berani memandang ringan lagi. Ia lalu menyerang lagi dan kini sekali

serang kedua tangannya bergerak maju, karena ia telah menggunakan gerak tipu Siluman Membawa Mustika Biru. Akan tetapi, Tan Hong menganggap serangan ini sebagai permainan anak-anak saja. Dengan kedua tangannya ia menangkis serangan kedua kepalan lawannya itu sambil menghitung “jurus ke tiga!”

Ban Hui terkejut bukan main karena ketika tangannya beradu dengan tangan pemuda itu, ia merasa terdorong sangat kerasnya hingga hampir saja jatuh ke bawah panggung. Untung di dalam terhuyung-huyung ia dapat menangkap tiang, menyebabkan ia tidak sampai jatuh ke bawah!

“Eh, hati-hati! Baru tiga jurus! Jangan tergesa-gesa turun ke bawah!” kata Tan Hong. Dengan perasaan kagum, semua penonton bertepuk tangan dan bersorak-sorak.

Tak terkatakan marahnya Ban Hui mendengar ejekan ini. Mukanya menjadi merah, matanya menyinarkan pandangan mengandung ancaman maut dan giginya digertakkannya sedangkan hidungnya kembang-kempis. Ia lalu berseru keras dan menubruk maju dalam serangan maut. Dengan sepenuh tenaga ia menggunakan tangan kanannya memukul kepala Tan Hong dari atas dan tangan kirinya menyodok ke arah lambung pemuda itu! Baik serangan tangan kanan, maupun sodokan tangan kiri ini kalau mengenai sasaran, pasti akan mendatangkan maut! Sambil menghitung “jurus ke empat!” Tan Hong memiringkan kepala mengelak dari pukulan tangan kanan lawan, sedangkan sodokan tangan kiri Ban Hui tidak ditangkis atau dielakkannya, tapi secepat kilat ditangkapnya tangan itu lalu ditariknya ke belakang! Tanpa ampun lagi, tubuh Ban Hui terdorong ke belakang dan roboh telungkup mencium lantai panggung!

“Nah, nah ... dalam jurus ini kau mencium lantai panggung, tapi dalam jurus ke lima kau akan mencium tanah di bawah panggung!” Tan Hong mengejek lagi sedangkan para penonton karena girangnya tertawa geli dan bertepuk tangan dengan riuhnya!

Pada saat itu, Ban Kok dan Ban Siauw yang melihat betapa adik mereka dipermainkan lawannya, lalu melompat ke atas panggung dengan sikap mengancam.

“Aah, dua iblis tua ini sungguh cerdik! Rupanya kau tahu bahwa adikmu akan benar-benar terlempar ke luar panggung!” kata Tan Hong sambil bergurau, tapi ia tetap waspada.

“Bangsat hina dina! Bersedialah untuk mampus!” teriak Ban Siauw dengan geramnya dan ia segera maju menyerang bersama dengan kakaknya. Sedangkan Ban Hui juga melompat bangun dan ikut menyerang.

“Ah, ha, bagus! Tiga iblis sekarang kemasukan setan dan mengamuk. Bagus!” Tan Hong mempergunakan kegesitannya yang luar biasa dan tubuhnya seakan-akan dapat menyusup di antara sekian banyak kepalan dan tendangan yang dilancarkan dengan hebat dan bertubi-tubi ke arahnya. Semua penonton kini tidak berani bersorak lagi karena mereka merasa sangat khawatir sekali melihat keadaan Tan Hong. Siapa orangnya yang dapat bertahan menghadapi keroyokan ketiga iblis itu? Mereka menonton pertempuran itu sambil menahan napas.

Tan Hong yang sedari tadi merasa sangat benci dan gemas kepada Seng-koan Samkwi ini lalu memperlihatkan kepandaiannya. Ketika tubuhnya melayang berputar-putar melakukan serangan pembalasan dengan gerak tipu terhebat dari ilmu silat Ngo-heng Lianhwat, maka terdengar pekik kesakitan. Ternyata Ban Hui serta Ban Siauw kena terdorong roboh! Masih untung bagi kedua orang itu, karena Tan Hong tak bermaksud mencelakakan mereka, maka serangan yang seharusnya dilakukan dengan kepalan kedua tangannya itu dirobah menjadi dorongan dengan tangan terbuka, hingga kedua orang itu walaupun berguling-guling di atas panggung, namun tidak menderita luka-luka, hanya kepala mereka saja bengkak-bengkak karena beradu dengan papan yang keras!

Kini riuh rendahlah sambutan penonton! Ketiga saudara Ban itu bertambah marah dan bersamaan dengan itu mereka mencabut pedang mereka.

“Bangsat rendah! Kalau hari ini kami tidak dapat membunuh kau, jangan panggil kami Seng-koan Sam-eng lagi!” teriak Ban Kok.

“Baik! Mulai hari ini kalian akan kusebut Seng-koan Sam-ti (Tiga Babi dari Sengkoan).” Tentu saja hinaan ini menimbulkan suara tertawaan dari penonton. Mendengar hinaan ini ketiga saudara Ban itu makin bertambah marah. Pedang mereka bergerak seperti kilat menyambar ke arah tubuh Tan Hong. Dalam kemarahannya itu, ketiga orang ini lupa akan kesopanan berpibu. Seharusnya mereka tidak boleh menyerang lawan yang belum mengeluarkan senjata, akan tetapi oleh karena mereka sedang marah dan juga oleh karena mereka maklum bahwa Tan Hong adalah seorang lawan yang tangguh, maka mereka sengaja mendahuluinya tanpa mengenal malu!

Post a Comment