Pada saat itu, tiba-tiba menyambar angin yang dahsyat diiringi suara keras, To Tek Suhu mundurlah dan biarkan pinceng menghadapi pemuda maling ini!”
Ternyata yang datang melompat ke tengah lapangan pertandingan adalah seorang hwesio gemuk, yakni seorang di antara tiga tamu tadi. To Tek Hosiang terkejut sekali, karena sama sekali ia tak pernah menyangka bahwa ketiga tamunya yang datang dari barat ini memiliki ilmu silat yang tinggi. Ia hanya berdiri di pinggir dan memandang dengan heran. Ia bersyukur karena ia telah tertolong. Ia maklum bahwa kalau pertandingan tadi diteruskan, akhirnya dia pasti akan kalah dan roboh untuk kedua kalinya oleh pemuda itu.
Tangan kiri hwesio gemuk itu memegang sebatang hudtim (kebutan pertapa) dan ia berdiri menghadapi Tan Hong dengan mulut menyeringai. Lagak hwesio ini sungguh menyebalkan, karena mirip dengan lagak seorang pemuda tengik yang menganggap dirinya sendiri yang gagah dan tampan!
“Losuhu, kau siapa dan apa sebabnya maka kau datang- datang hendak mengajak aku bertempur?” tanya Tan Hong.
“Ha, ha, ha, Gin-kiam Gi-to! Sudah lama pinceng mendengar namamu yang besar, hingga suara itu bergema di empat penjuru membuat telingaku menjadi bising dan sakit. Pinceng adalah Beng Kong Hwesio, dan kedua suhengku yang duduk itu adalah Bhok Kong Hwesio dan Kim Kong Hwesio. Barangkali nama ini belum pernah kau dengar, maka akan lebih muda dikenal kiranya apabila pinceng sebutkan bahwa kami bertiga disebut orang Pekhoa Sam-sian atau Tiga Dewa dari Pek-hoa-san!” Kini bukan saja Tan Hong yang terkejut, bahkan To Tek Hosiang sendiripun sangat terkejut karena nama Tiga Dewa dari Pek-hoa-san ini amat terkenal sebagai tokoh-tokoh dan pendiri-pendiri cabang persilatan Pek-hoa-san-pai yang termasyur itu! Tadi ketika datang, ketiga tamu To Tek Hosiang itu hanya memperkenalkan nama-nama mereka, sama sekali tidak disangkanya bahwa ia mendapat kehormatan menerima tamu-tamu yang terdiri dari tokoh- tokoh persilatan yang telah masuk golongan tertinggi itu!
Biarpun Tan Hong maklum bahwa tokoh-tokoh Pek-hoa- san ini menurut suhunya dulu adalah orang-orang yang berilmu silat tinggi, akan tetapi suhunya pernah menyatakan bahwa mereka bertiga itu bukanlah orang baik- baik, maka pemuda ini sedikitpun tidak memperlihatkan rasa gentar. Ia bahkan tersenyum dan berkata dengan tenang.
“Ah, kiranya Pek-hoa Sam-sian yang kuhadapi! Lalu apakah kehendakmu?”
kembali Beng Kong Hwesio tertawa gelak-gelak. “Sudah pinceng katakan tadi bahwa telah lama pinceng mendengar nama Maling Budiman Berpedang Perak yang kesohor. Dan kebetulan sekali, kami bertiga paling benci dengan segala macam maling, baik yang besar maupun yang kecil. Maka sekarang, setelah pinceng berhadapan dengan seorang maling, biarlah pinceng mewakili To Tek Hosiang untuk menangkapnya dan menyerahkannya kepada yang berwajib!”
“Hwesio gundul jangan kau sombong!” Tan Hong berseru marah sambil menggerakkan pedangnya.
“Bagus, bagus! Mainkanlah pedangmu, hendak kulihat sampai di mana kehebatan ilmu pedang dari Bok-san-pai!” Tan Hong tercengang juga mendengar bahwa hwesio ini telah mengenal ilmu pedangnya, akan tetapi dengan hati- hati ia terus menyerang sambil mengerahkan tenaga serta kepandaiannya. Benar saja, ilmu silat Beng Kong Hwesio benar-benar luar biasa, kebutannya digerakkan dengan cepat dan bulu-bulu yang halus dari kebutan itu menyambar-nyambar dan tak boleh dipandang ringan karena bulu-bulu yang halus ini berkat tenaga lwekangnya yang tinggi, merupakan senjata yang sangat berbahaya. Sedangkan tangan kanan hwesio itu memainkan ujung lengan bajunya yang panjang, lebar dan berujung kecil pula. Ujung lengan baju ini tak kurang berbahayanya, karena digerakkan untuk menotok jalan darah lawan dengan gerakan tetap dan kuat sekali! Ketika serangannya yang bertubi-tubi itu dapat dihindarkan oleh lawannya yang masih muda, Beng Kong Hwesio merasa sangat kesal. Ia berseru keras dan kedua tangannya memainkan kebutan dengan ujung lengan baju dengan lebih hebat! Kedua senjata istimewa itu mengurung dan menyerang Tan Hong dari kiri kanan dan dari atas dan bawah dengan gencar, dan setiap sambarannya membawa hawa maut!
Akan tetapi, selain memiliki dasar ilmu silat tinggi, Tan Hong adalah seorang pemuda yang berhati tabah dan bersikap tenang serta waspada. Ia maklum bahwa ilmu silatnya masih kalah jika dibandingkan dengan kepandaian lawannya dan ia mungkin tidak mempunyai kesempatan untuk balas menyerang. Akan tetapi dengan keuletan yang mengagumkan, ia mempertahankan diri dengan seluruh tenaga dan kepandaiannya hingga setelah bertempur seratus jurus lebih, belum juga hwesio itu dapat merobohkannya! Hal ini tentu saja membuat Beng Kong Hwesio merasa gemas dan marah, tapi kagum juga. Belum pernah ia mendapat lawan semuda ini yang memiliki daya tahan selama itu! Pada saat itu, tiba-tiba dari atas genteng melayang turun tiga bayangan orang dan orang terdepan membentak dengan nyaring, “Pek-hoa Sam-sian! Bagus sekali, akhirnya kami dapat juga menemukan kalian!”
Tiga bayangan orang itu melayang turun dengan gerakan yang gesit dan ringan seperti tiga ekor burung. Serentak Bhok Kong Hwesio dan Kim Hong Hwesio bangun dari duduknya dan mencabut senjata mereka, masing-masing bersenjatakan sebatang kebutan yang berbulu merah!
Biarpun sedang bertanding dan didesak oleh lawannya, akan tetapi Beng Kong Hwesio dapat memperhatikan ketiga orang yang datang itu, Tan Hong dapat juga melirik sekejap dan alangkah terkejutnya ketika ia melihat dengan jelas, bahwa yang datang itu tidak lain ialah Lo Cin Ki atau yang dijuluki Jian-jiauw-sin-eng si Garuda Sakti Berkuku Seribu, yakni susioknya (paman gurunya) sendiri, nona Lo Siok Lan, dan si muka hitam Ong Kai yang sore tadi pernah bertempur dengannya!
Melihat bahwa yang bertempur melawan seorang di antara Pek-hoa Sam-sian adalah pemuda yang sore tadi bertempur dengannya, Ong Kai lalu maju menerjang dengan pedang di tangan dan berkata, “Eh, Maling Budiman, kau juga bertempur melawan mereka? Jangan takut, kini kita bersatu menghadapi mereka dan aku akan membantumu!”
Akan tetapi, serbuan si muka hitam ini lalu disambut oleh To Tek Hosiang, karena hwesio ini berpikir bahwa sudah selayaknya ia membela para tamunya, apalagi karena tamutamunya itu adalah tokoh-tokoh besar dari Pek-hoa- san! Ia berpikir bahwa orang-orang yang datang membantu Maling Budiman ini tentulah golongan maling atau perampok juga. Apalagi melihat Ong Kai yang tinggi besar, kasar dan bermuka hitam, tak salah lagi, orang ini tentulah kepala perampok yang buas dan ganas. Ia lalu memutar toyanya dan membentak, Bangsat pemaling dan perampok hina dina! Jangan kau kotorkan kelentengku yang suci ini!”
Ong Kai tercengang dan mengurungkan niatnya membantu Tan Hong. Ia pandang To Tek Hosiang dengan sepasang matanya yang bundar lebar, lalu bertanya, “Eh, eh, ini ada lagi kepala gundul yang berkedok agama! Baik, baik kau mampuslah di tanganku agar segera masuk ke neraka!” Maka ia lalu menyerang To Tek Hosiang kembali dengan sengit dan keduanya lalu bertempur seru!
Sementara itu, Lo Cin Ki melompat maju dan berhadapan dengan Bhok Kong Hwesio dan Kim Kong Hwesio, lalu menuding dengan pedangnya, “Hwesio gadungan! Serahkan nyawa kalian untuk menebus dosa yang telah kaulakukan terhadap keponakan Lie-sio-cia!”
“Ha, ha, ha! Jadi inikah si Garuda Sakti Berkuku Seribu? Kau mengantarkan jiwa tuamu! Apakah kau sudah bosan hidup?” Sambil berkata demikian, Kim Hong Hwesio lalu maju menyerbu, disambut dengan sengit oleh Lo Cin Ki.
Lo Cin Ki adalah seorang tokoh Bok-san-pai yang memiliki ilmu silat yang tinggi sekali serta bertenaga besar, maka begitu kebutan Kim Kong Hwesio bertemu dengan pedang si Garuda Sakti, hwesio itu terhuyung ke belakang! Bukan kepalang kagetnya, karena tak pernah diduganya bahwa tenaga orang tua itu melebihi tenaganya sendiri! Semetara itu, ketika Bhok Kong Hwesio melihat betapa suhengnya tak dapat merobohkan Lo Cin Ki, malah jelas sekali nampak olehnya bahwa suhengnya kalah tenaga. Ia lalu ikut maju menyerbu dan mengeroyok jago tua dari Bok-san itu! Sebetulnya, kalau saja Bok-san-pai tidak lebih mengutamakan ilmu pengobatan dan khusus memajukan ilmu silatnya, cabang persilatan ini akan memperoleh kemajuan besar, karena memang dasar-dasar persilatan Bok-san-pai kuat dan sempurna sekali. Akan tetapi Lo Cin Ki lebih suka mempelajari secara mendalam ilmu pengobatan, maka dalam hal silat, boleh dibilang ia hanya mencapai tingkat delapan bagian saja. Namun kepandaian ini agaknya cukup untuk mengimbangi kedua pengeroyoknya itu!