Halo!

Maling Budiman Berpedang Perak Chapter 04

Memuat...

Demikianlah, malam itu kembali Tan Hong berhasil mendapatkan dua kantong penuh berisi uang perak dan langsung dibagi-bagikan secara diam-diam kepada orang- orang miskin yang tinggal di dalam gubuk tua, hingga untuk kesekian kalinya, pada malam hari itu terdapat satu orang yang merasa marah dan menyesal karena kehilangan banyak uang, tapi terdapat puluhan orang lain yang mengucap syukur kepada Tuhan oleh karena mereka mendapatkan uang perak secara tiba-tiba!

Setelah menyelesaikan pekerjaannya untuk malam itu, Tan Hong kembali ke kuil tempat persembunyiannya untuk beristirahat. Sama sekali ia tidak menduga bahwa tempat persembunyian ini telah diketahui oleh para penyelidik. Seperti biasa, setelah membuka kedoknya, ia lalu tidur dengan enak di atas lantai.

Matahari telah naik tinggi dan sinarnya memasiki ruang di mana Tan Hong tidur. Sinar matahari itu masuk dari jendela dan lambat laun bergerak naik hingga akhirnya sinar penuh itu menimpa muka Tan Hong. Panas matahari menyengat kulit muka Tan Hong hingga pemuda itu terjaga dari tidurnya. Ia membuka matanya perlahan-lahan dan alangkah kagetnya ketika melihat bahwa di dalam ruang itu terdapat orang-orang lain yang berdiri mengurungnya sambil menatap wajahnya dengan pandangan tajam. Mereka itu tidak lain ialah To Tek Hosiang, Lim-piauwsu dan pembesar-pembesar lain kota Wi-ciu!

Semenjak tadi mereka mengurung kuil rusak itu, akan tetapi, oleh karena tidak terlihat Tan Hong muncul, mereka diam-diam lalu menghampiri dan mendapatkan pemuda yang sedang tidur nyenyak itu diatas lantai!

Kawanan penjaga keamanan kota itu hendak maju menangkap, akan tetapi To Tek Hosiang dan Lim-piauwsu mencegah mereka. Baik To Tek Hosiang maupun Lim- piauwsu merasa heran dan juga terharu melihat keadaan pemuda yang menjadi maling itu. Sungguh di luar dugaan bahwa maling besar yang tiap malamnya menggondol pergi dua kantong uang perak yang beratnya lebih dari lima ratus tail itu kini menggeletak tidur di atas lantai begitu saja dalam keadaan sangat sederhana, bahkan menyedihkan. Sebuah bantalpun ia tidak punya! Pakaiannya yang berwarna hitam itu telah usang, bahkan telah banyak tambalan di sana-sini. Maling Budiman ini sama sekali tidak mempunyai bungkusan pakaian atau barang-barang lain kecuali pedangnya yang terselip di pinggangnya. Keadaannya tiada ubahnya dengan seorang pengemis atau orang terlantar. Tubuhnya kurus dan pada mukanya yang kurus dan tampan itu terdapat garis-garis yang hanya terdapat pada muka orang yang telah banyak menderita kesengsaraan hidup!

Keadaan ini meragukan hati To Tek Hosiang. Sebenarnya, mudah saja baginya dan bagi kawan-kawannya untuk menangkap dan mengikat maling yang sedang tidur itu, akan tetapi tiba-tiba timbul rasa kasihan di dalam hatinya dan ia merasa malu untuk menyerang seorang yang sedang tidur nyenyak!

Sebaliknya, ketika melihat betapa dirinya telah terkurung, Tan Hong tidak menjadi gugup atau bingung. Ia menggeliat dan menguap, lalu menatap wajah To Tek Hosiang dengan tajam dan bibirnya tersenyum, akan tetapi sebagaimana biasa, senyumnya tidak membayangkan kegembiraan hati.

“Hwesio, mengapa kau tidak lekas-lekas menangkapku selagi aku masih tidur tadi? Sekarang setelah aku bangun kalian belum tentu dapat menawanku, bukankah itu sayang sekali?” Tiba-tiba ia menyambar pedangnya dan melompat berdiri menghadapi mereka dengan muka tenang dan tabah.

“Anak muda, kau masih begini muda dan memiliki kepandaian lumayan, mengapa kau telah tersesat dan menjadi seorang siauw-jin (orang rendah)? Dan mengapa kau malam tadi begitu pengecut, hingga tidak sesuai dengan sikapmu sekarang yang pemberani?” “Hwesio, dengarlah. Aku tidak tahu apakah artinya siauw-jin dan apa artinya kuncu (orang budiman) pada jaman seburuk ini! Kalau kau dan semua orang mau menyebutku siauw-jin, biarlah, aku tidak merasa dirugikan. Dan kau anggap aku pengecut karena malam tadi aku tidak berani menghadapimu dan tidak melakukan perlawanan, bahkan terus melarikan diri? Inilah sebabnya ; pertama- tama aku memegang teguh dan memenuhi peraturan yang telah ada semenjak dunia berkembang, bahwa seorang maling atau pencuri adalah seorang pengambil barang orang lain tanpa diketahui oleh orang itu dan seorang pencuri bukanlah seorang perampok yang mempergunakan kekerasan. Pencuri hanya akan membela diri dan selalu mencari kesempatan pertama untuk melarikan diri, oleh karena keperluanku hanya untuk mengambil barang dan bukan untuk bertempur. Inilah sebab pertama, dan sebab ke dua ialah oleh karena kalian ini bukan musuh-musuhku dan tidak pernah bermusuhan dengan aku, maka aku tidak hendak bertempur dengan kalian!”

To Tek Hosiang menggeleng-gelengkan kepala. “Kau bicara seenakmu saja. Bukankah kau yang disebut Gin-kiam Gi-to?”

Tan Hong mengangguk. “Itulah hadlah yang diberikan orang kepadaku.”

“Nah, sekarang kaudengarlah nasehat dan turutlah demi kebaikanmu sendiri. Kami takkan mengganggumu dan akan melupakan segala perbuatanmu yang telah mengacau kota kami, asal saja kau suka berjanji bahwa mulai hari ini kau takkan melakukan pekerjaan mencuri lagi. “

Tiba-tiba sepasang mata Tan Hong yang biasanya mengeluarkan pandangan acuh tak acuh itu terkilatlah pandangan marah. “Hwesio! Kau ini siapakah, maka berani melarang dan menentukan jalan hidupku? Kau mempunyai hak apakah maka berani melarangku mencuri?”

“Pinceng bukan orang luar biasa, hanya seorang hwesio sederhana yang bernama To Tek Hosiang dan mengepalai kuil di Wi-ciu. Akan tetapi pinceng berhak memberi nasehat kepada setiap orang yang berjalan sesat, sesuai dengan kedudukan pinceng sebagai seorang pemeluk agama. Kau berjanjilah, dan kami semua akan mengampunimu. Kalau tidak, terpaksa kami akan menangkapmu dan menyerahkan kepada yang berwajib.”

“To Tek Hosiang berkata benar, dan sudah sepatutnya kalau kau mendengar nasehatnya,” kata Lim-piauwsu dengan suara halus. “Aku adalah seorang piauwsu yang telah banyak bertemu dan berkenalan dengan tokoh-tokoh liok-lim, maka aku merasa sayang sekali apabila seorang muda seperti kau ini menjadi seorang maling.”

Tan Hong mengeluarkan suara ejekan dari hidungnya, “Hm, hm, kata-kata usang membosankan! Kalian semua menaruh kasihan kepadaku, tanpa sebab tertentu menaruh perhatian besar akan nasibku, akan tetapi tengoklah!” Jari telunjuknya menuding ke arah jauh, “Lihatlah mereka itu, rakyat miskin yang mati kelaparan, yang telanjang kedinginan! Mengapa kalian tidak mempergunakan rasa kasihan yang kalian tujukan kepadaku itu kepada mereka? Kalian pura-pura menjadi baik dengan memberi nasehat- nasehat indah kepadaku, tapi pernahkah kalian memikirkan nasib mereka yang terlantar, nasib para jembel yang berkeliaran ke sana ke mari tanpa makan dan tanpa pakaian di luar kulit? Siapa sudi menerima nasehat-nasehatmu? Aku tetap hendak menjadi pencuri, kalian mau apa?”

Mendengar ucapan sombong ini semua penjaga keamanan itu menjadi marah. Tiga orang muda dengan pedang di tangan maju menubruk, akan tetapi sekali menggerakkan kedua tangan dan kaki kirinya saja, sudah cukup membuat ketiganya terjungkal!

“Mundur semua, biar aku menangkap Gin-kiam Gi-to!” teriak To Tek Hosiang.

“Nanti dulu, losuhu, biarlah aku mencoba kepandaiannya dulu,” kata Lim-piauwsu yang merasa kagum melihat gerakan Tan Hong dan timbul keinginan hatinya untuk menguji.

“Boleh, boleh, majulah!” Tan Hong menantang. “Siapa saja yang hendak menangkapku, majulah! Tapi ingat dan camkanlah bahwa bukan aku yang menghendaki permusuhan. Aku Tan Hong hanya bertempur melawan kalian! Ayoh, siapa hendak menonjolkan kepandaian, majulah!”

Melihat sikap dan ucapan anak muda yang gagah dan berani itu, semua orang merasa tertegun dan sangsi. Hanya Lim-piauwsu dan To Tek Hosiang saja yang mempunyai keinginan untuk mencoba kepandaian Maling Budiman ini dan kalau mungkin menangkapnya.

Lim-piauwsu lalu melangkah maju. Oleh karena ia mengingat akan pekerjaannya sebagai pengantar dan pengawal barang berharga yang dikirim dan dipercayakan di bawah penjagaannya, maka ia selalu berhati-hati dalam menghadapi seorang tokoh dari golongan perampok maupun pencuri dan tak ingin mananam bibit permusuhan yang hanya akan menimbulkan kesukaran dan rintangan bagi perusahaannya. Oleh karena itulah, dalam menghadapi Tan Hong, ia sengaja tidak mengeluarkan senjatanya.

Post a Comment