Halo!

Maling Budiman Berpedang Perak Chapter 13

Memuat...

Tan Hong terpaksa meninggalkan tempat itu, karena ia harus pergi ke kelenteng Kimci-teng untuk memenuhi janjinya dengan To Tek Hosiang. Ia mengambil keputusan, apabila malam nanti urusannya dengan To Tek Hosiang telah beres, ia akan mengunjungi susioknya itu.

Hari telah mulai gelap dan ketika Tan Hong meninggalkan tempat itu hendak menuju ke kelenteng, tiba- tiba dari atas pohon di mana ia tadi berdiri terdengar suara laki-laki yang parau menegur, “Sahabat, berhenti dulu!”

Tan Hong terkejut dan bersiap sedia. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa di atas pohon itu ada orang. Orang itu melompat turun dan ternyata yang melompat turun dari atas pohon itu adalah seorang laki-laki tinggi besar yang bermuka hitam. Biarpun tubuhnya tinggi besar dan gerakannya lamban, akan tetapi sepasang matanya membayangkan kecerdikan dan ketika ia melompat turun tadi, Tan Hong dapat menduga bahwa orang itu memiliki kepandaian tinggi.

Tan Hong berhenti dan menghadapi orang tinggi besar itu. “Sahabat, bukankah kau Gin-kiam Gi-to?” tegur si muka hitam itu.

Tan Hong tercengang mendengar pertanyaan ini, akan tetapi ia tidak mau menyangkal. “Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Tan Hong.

Si muka hitam tertawa dan ketika ia tertawa, maka mukanya yang hitam itu nampak menarik dan gagah. “Mudah saja. Kau mempunyai gerakan yang menyatakan bahwa kau pandai ilmu silat, sedangkan pedang yang berada di punggungmu itu bergagang perak. Pakaianmu juga serba hitam seperti biasanya pakaian seorang ya-heng- jin (orang pejalan malam). Siapa lagi selain seorang pencuri berilmu tinggi yang memiliki pedang perak yang bernama Gin-kiam Gi-to?”

Tan Hong merasa kagum juga akan kejituan orang ini, maka ia lalu berseru, “Ah, kau benar-benar orang luar biasa, kawan. Apakah kau ini seorang penyelidik atau penjaga keamanan?” pertanyaan ini diucapkannya dengan tenang, menandakan bahwa ia sama sekali tidak takut.

“Bukan! Aku hanya merasa heran sekali, mengapa Gin- kiam Gi-to yang namanya tersohor sebagai seorang gagah, ternyata kini diam-diam mengintai seorang gadis cantik seperti lakunya seorang bangsat rendah! Ayoh kau ikut aku pergi kepada gadis itu untuk minta maaf!”

Merahlah muka Tan Hong mendengar celaan ini. Ia harus datang kepada Siok Lan untuk minta maaf?

“Kau ngigau! Siapa sudi menuruti permintaanmu yang bukan-bukan itu?”

Si muka hitam tertawa lagi dan tiba-tiba ia mencabut pedangnya. “Jangan kau banyak tingkah! Orang lain boleh takut kepadamu, akan tetapi aku Hek-bin-mo (Setan Muka Hitam) Ong Kai tidak nanti takut kepadamu! Apakah kau harus ikut aku pergi menemui gadis itu atau pedangku akan bicara?”

“Sudahlah, aku tidak mempunyai banyak waktu untuk bertengkar dengan segala iblis muka hitam!” kata Tan Hong, lalu ia membalikkan tubuhnya dan lari cepat. Akan tetapi Ong Kai juga melompat dan berseru, “Baik, pedangku akan bicara. Awas serangan!” teriaknya dan ia mengirim tusukan dengan pedangnya. Tan Hong berlaku waspada, dan iapun sudah mencabut gin-kiamnya dan segera menangkis. Terkejut juga ia ketika merasa betapa tenaga si muka hitam itu benar-benar kuat dan mengejutkan. Si muka hitam tertawa lagi dan terus menyerang dengan sengit. Ilmu pedangnya sungguh hebat, segalanya ini di luar dugaan Tan Hong. Diam-diam Tan Hong mengeluh, karena sebelum ia menghadapi To Tek Hosiang, ternyata sekarang bertemu dengan seorang lawan yang tangguh, kukwai (aneh), lihai dan mempunyai maksud yang bukanbukan! Terpaksa ia melayani dan mengerahkan tenaganya dengan maksud menjatuhkan pedang lawan. Akan tetapi, gerakan Ong Kai benar-benar di luar terkaannya dan untuk beberapa lama keduanya bertempur seru dalam keadaan seimbang.

Tiba-tiba dari jauh terdengar suara suitan nyaring yang terdengar jelas sampai ke tempat itu. Mendengar suara suitan yang tidak mempunyai arti apa-apa bagi Tan Hong ini, si muka hitam menghela napas dan berkata, “Sayang sekali! Baru saja enak-enak bertempur denga lawan yang menyenangkan, suhu telah memanggilku! Sudahlah, maling! Kali ini aku mengampunimu, akan tetapi lain kali kalau aku melihat kau mengintai gadis-gadis lain nanti, awas, aku takkan berhenti berusaha untuk dapat merobohkanmu!”

“Iblis Muka Hitam yang bodoh!” Tan Hong memaki gemas, akan tetapi si muka hitam sudah melompat jauh meninggalkannya. Tan Hong tidak mau mengejar, karena ia harus pergi ke tempat To Tek Hosiang. Diam-diam ia kagum juga melihat ketangkasan dan kehebatan si muka hitam itu, dan ingin sekali mengetahui siapakah suhunya yang tadi bersuit memberi tanda panggilan. Alangkah anehnya orang-orang di kalangan kang-ouw, dan alangkah banyaknya orang-orang pandai di dunia ini! Peristiwa tadi memberi pelajaran lagi bagi Tan Hong, bahwa orang-orang yang berkepandaian tinggi sungguh banyak jumlahnya di dunia ini.

Ketika Tan Hong tiba di kuil Kim-ci-tang, hari telah mulai gelap, akan tetapi di ruang depan kuil itu nampak terang karena dipasangi lampu beberapa buah. Agaknya di situ ada tamu, karena di meja besar duduk empat orang hwesio bercakap-cakap. Ternyata bahwa To Tek Hosiang sedang menghadapi tiga orang hwesio lain yang gemuk- gemuk dan berpakaian mewah, ternyata jubah yang dipakai hwesio terbuat daripada sutera halus! Dari luar Tan Hong dapat melihat betapa sikap To Tek Hosiang hormat sekali terhadap ketiga orang tamunya yang nampaknyapun lemah- lembut dan sikapnya seperrti hwesio-hwesio yang berilmu tinggi dan sopan-santun.

Oleh karena ini, tan Hong tidak mau mengganggu dan berdiri di tempat gelap. Akan tetapi, To Tek Hosiang yang mempunyai pandangan dan pendengaran tajam, telah dapat melihatnya, maka hwesio ini lalu menghadap ke arah Tan Hong dan berkata, “Selamat datang, Tan-sicu. Silahkan masuk!”

Tan Hong lalu masuk dan menjura kepada To Tek Hosiang sambil berkata, “Maafkan apabila aku mengganggu, agaknya losuhu masih sibuk melayani tamu.”

“Tidak apa, tidak apa! Tamu-tamu ini adalah orang- orang segolongan dengan pinceng.” Kemudian To Tek Hosiang berkata kepada ketiga tamunya, “Mohon dimaafkan, karena pinceng terpaksa meninggalkan sam-wi sebentar untuk melayani pemuda ini menyelesaikan perhitungannya dengan pinceng, dan malam ini juga kami hendak main-main sedikit guna menambah pengertian dalam ilmu silat.” Ketiga hwesio yang menjadi tamu itu sangat senang mendengar ini. “Kebetulan sekali, sudah lama pinceng tidak melihat pertunjukan silat. Silahkan, To Tek suhu, kami bertiga bahkan lebih senang melihat pertunjukan silat daripada pertunjukan lain.”

Setelah mendapat persetujuan ketiga orang tamunya To Tek Hosiang lalu menghadapi Tan Hong dan berkata, “Tan-sicu, marilah kita sekarang main-main sebentar untuk menentukan siapa yang lebih unggul. Harap kau berlaku murah kepada seorang hwesio tua!” katanya sambil tersenyum.

“Losuhu, aku yang muda minta pengajaran.”

To Tek Hosiang lalu mengambil toyanya yang telah disediakan di satu sudut, Tan Hong lalu mencabut pedangnya dan bersiap dengan waspada.

Sebelum mereka bertanding, seorang di antara ketiga tamu itu bertanya kepada To Tek Hosiang, “Siapakah sebenarnya anak muda yang gagah ini?”

To Tek Hosiang tertawa lalu memperkenalkan, “Inilah Gin-kiam Gi-to yang terkenal di mana-mana dan mempunyai ilmu pedang yang tinggi.”

Hwesio itu mengangguk-angguk dan dari mata ketiga orang tamu ini memancarlah cahaya berkilat yang ganjil dan bersinar-sinar akan tetapi Tan Hong tidak sempat memperhatikan karena pada saat itu To Tek Hosiang yang sudah siap dengan toyamya lalu berseru, “Tan-sicu, awaslah terhadap toyaku!” Hwesio itu lalu maju menggerakkan toyanya dalam sebuah serangan yang hebat. Mula-mula To Tek Hosiang menggunakan gerakan Ouwliong-cut-tong atau Naga Hitam Keluar Gua, yakni sebuah gerakan ilmu toya dari cabang Siauwlim, akan tetapi ketika Tan Hong dapat mengelak dengan cepat, ia lalu memutar toyanya dan menyerang dengan menyapu ke arah paha pemuda itu dalam tipu Hing-sau chian-kun atau Menyerampang Bersih Ribuan Prajurit. Tan Hong memperlihatkan kelincahannya dan untuk menghindarkan diri dari serampangan yang hebat ini ia melompat ke atas dengan cepat dan ringannya. Ketika tubuhnya melayang turun, ia balas menyerang dengan tipu Chong-eng-kim-touw atau Garuda Menyambar Kelinci. To Tek Hosiang menangkis cepat, akan tetapi Tan Hong lalu merobah serangannya, menarik kembali pedangnya dan maju menyerang lagi dengan gerak tipu Pek-hong-koan-jit atau Bianglala Putih Menutup Matahari. Akan tetapi To Tek Hosiang juga dapat menangkis dengan tepatnya.

Demikianlah, kedua lawan ini mengeluarkan ilmu silat masing-masing dan berusaha mengalahkan lawan secepat mungkin. To Tek Hosiang yang maklum akan kehebatan Tan Hong, hendak mendahuluinya dan segera memutar toyanya dan memainkan ilmu silat toya asli dari partai silatnya yakni Houw-san-pai. Tan Hong tidak kurang waspada, maka iapun lalu mengeluarkan ilmu pedang warisan suhunya, yakni ilmu pedang dari Bok-san-pai. Makin lama mereka bertempur, makin hebatlah gerakan senjata mereka hingga yang kelihatan hanya sinar pedang yang berkilauan bagaikan seekor burung garuda menyambar, sedangkan toya To Tek Hosiang-pun mengamuk bagaikan seekor naga yang ganas.

Berkali-kali ketiga orang hwesio gemuk yang menjadi tamu itu memuji, “Bagus, bagus!”

Namun betapapun hebat To Tek Hosiang yang telah bersiap sedia dan setiap hari melatih ilmu toyanya khusus untuk digunakan menghadapi Tan Hong, namun pemuda itu masih menang setingkat. Perlahan-lahan ia mulai mendesak dan sinar toya To Tek Hosiang makin lemah dan makin mengecil, sedangkan pedang peraknya makin menyambar dengan ganas dan garang.

Post a Comment