Halo!

Maling Budiman Berpedang Perak Chapter 03

Memuat...

Setelah ikut merantau dan belajar silat selama tiga belas tahun, Cin Cin Tojin lalu menetap di puncak Bukit Kwihong-san, karena merasa tua dan bosan merantau. Ia lalu memberi izin kepada muridnya untuk merantau seorang diri dan kepada muridnya ini ia memberi banyak nasehat dan petuah, serta memberinya pula sebatang pedang bergagang perak dan berwarna putih berkilauan.

Semenjak itu, dalam usia delapan belas tahun, Tan Hong mulai dengan perantauannya seorang diri dan ia mulai mengerjakan maksud dan cita-cita yang selalu terkandung di dalam hatinya, yakni mencuri uang hartawan-hartawan untuk kemudian pada waktu itu juga dibagi-bagikan kepada para penduduk miskin di dusun-dusun! Tiap kali ia melakukan pencurian dalam sebuah gedung hartawan, ia selalu meninggalkan tanda gambar pedangnya hingga dalam waktu yang pendek ia sudah terkenal oleh karena tak pernah ia dapat ditangkap, berkat kepandaiannya yang amat tinggi. Ia lalu mendapat julukan Gin-kiam Gi-to, si Maling Budiman Berpedang Perak!

Demikianlah, dua tahun telah berlalu dengan cepatnya dan selama dua tahun itu, selain mendapatkan nama besar, ia dibenci oleh golongan yang dirugikan, dipuja-puja oleh golongan yang ditolongnya.

Dan sebagaimana telah dituturkan pada permulaan cerita ini, sebagaimana biasanya, setelah berhasil mencuri kantong besar uang perak dari gedung Thio Wan-gwe, seorang hartawan yang kaya raya, akan tetapi teramat kikirnya, Tan Hong lalu membagi-bagikan uang itu sampai habis kepada para penduduk dusun yang miskin. Kemudian, setelah “pekerjaannya” itu beres, baru ia mencari tempat peristirahatan di dalam sebuah kuil rusak yang tiada penghuninya lagi.

***

Kota Wi-ciu di mana Thio Wan-gwe yang dijadikan korban oleh Tan Hong itu tinggal, adalah sebuah kota besar yang cukup ramai, dan di kota itu banyak terdapat hartawan-hartawan besar.

Ketika Thio Wan-gwe mendapat giliran didatangi oleh si Maling Budiman, sebetulnya hartawan ini bukanlah merupakan korban pertama di kota itu. Sebelum Thio Wan- gwe, sudah ada dua orang hartawan lain yang disikat hartanya oleh Tan Hong, akan tetapi oleh karena kedua orang hartawan ini memang mempunyai hati dermawan dan dari tanda gambar di dinding itu mereka tahu bahwa sedikit uang mereka yang dicuri oleh Maling Budiman itu yang akan dibagikan kepada orang-orang miskin, maka mereka tidak mau membuat banyak ribut hingga orang- orang lain tidak mengetahuinya.

Akan tetapi, Thio Wan-gwe seorang hartawan yang sangat kikir. Maka, setelah orang mencuri dua kantong uang peraknya yang amat disayangi melebihi dari jiwanya sendiri, ia lalu melaporkan hal pencurian ini kepada pembesar setempat, bahkan lalu mengumpulkan kaki tangan dan jago-jagonya untuk menyelidiki dan mencari maling yang telah mencuri hartanya itu.

Pembesar setempat yang juga telah mendengar tentang sepak terjang Gin-kiam Gi-to, segera mengerahkan tenaga untuk berusaha menangkap maling terkenal ini, agar ia dapat berbuat jasa besar dan dipuji oleh atasannya. Dan pada keesokan harinya setelah terjadi pencurian itu, ia mengumpulkan seluruh kepala penjaga dan jagoan-jagoan yang ada di kota Wi-ciu untuk berunding. Pembesar itu tidak hanya mendatangkan para petugas, tapi juga mengundang para kauw-su (guru-guru silat), para piauwsu (pengantar-pengantar barang) yang memiliki kepandaian tinggi, bahkan To Tek Hosiang, ketua kuil Kim-ci-tang dipanggil juga, oleh karena semua orang tahu bahwa hwesio (pendeta Agama Buddha) ini memiliki kepandaian tinggi.

“Cu-wi (tuan-tuan sekalian),” kata pembesar itu setelah semua orang berkumpul dan arak telah dihidangkan. “Kami mengumpulkan cu-wi di sini untuk bersama-sama merundingkan soal pencurian-pencurian yang mulai merajalela di kota kita. Cu-wipun tentu maklum pula bahwa yang melakukan pencurian ini adalah Gin-kiam Gi-to yang terkenal itu. Oleh karena dia sekarang telah berani mengacau dan menganggu ketenteraman kota kita, maka sudah sewajarnya dan sudah menjadi kewajiban kita untuk menangkapnya!”

Beberapa saat semua yang hadir diam saja. Bermacam- macam pikiran timbul di hati masing-masing. Ada yang merasa sangsi dan takut menghadapi Maling Budiman yang terkenal itu. Ada yang setuju dan ada pula yang kurang setuju. Akhirnya To Tek Hosiang berkata sambil mengangguk-anggukkan kepalanya yang botak itu.

“Memang pendapat tai-jin ini benar. Dia harus dapat ditangkap untuk membersihkan Wi-ciu daripada kekacauan dan kejahatan.”

“Maafkan, tai-jin,” kata seorang tinggi kurus, yakni ketua piauw-kiok (perusahaan pengawal barang antaran) di kota itu yang cukup terkenal dan bernama Kwee Seng. “Menurut pendapatku, agaknya kurang sempurna kalau kita mengganggu maling luar biasa ini. Siauwte (hamba) telah kenyang merantau dan bertemu dengan orang-orang di dunia kangouw dan liok-lim (para perampok dan penjahat), dan karenanya siauwte mengerti bahwa di dunia liok-lim terdapat tiga macam atau tiga tingkat cara melakukan perampokan dan pencurian. Pertama, mencuri dan merampok bukan untuk diri pribadi dan hasilnya diberikan kepada fakir miskin yang membutuhkan pertolongan. Kedua, mencuri dan merampok semata-mata berdasarkan pekerjaannya oleh karena perbuatan itu mereka anggap sebagai tugas pekerjaan. Ke tiga, mencuri untuk mengumpulkan kekayaan dan mempersenang diri sendiri. Di antara ketiga tingkat ini, tingkat pertama dianggap sebagai sempurna dan bahkan dianggap sebagai perbuatan terpuji dan yang sudah selayaknya dilakukan oleh seorang pendekar! Demikianlah anggapan kalangan liok-lim. Maka oleh karena Gin-kiam Gi-to ini sepanjang yang siauwte dengar, selalu membagi-bagikan hasil pencuriannya kepada fakir miskin, dia termasuk golongan pertama yang dianggap oleh dunia kang-ouw sebagai seorang pendekar yang bijaksana! Inilah sebabnya maka ia disebut Maling Budiman. Kalau sekarang kita bertindak memusuhinya, apakah hal ini tidak akan mendatangkan musuh dari pihak liok-lim?”

Semua orang terdiam mendengar ucapan ini, akan tetapi To Tek Hosiang lalu berdiri dan berkata dengan suara nada tinggi, “Ucapan Lim-piauwsu memang ada betulnya, akan tetapi pandangan ini tidak adil. Mungkin oleh karena pekerjaan Lim-piauwsu, maka ia mengajukan alasan seperti itu. Menurut pendapat pinceng (aku) bahkan sebaliknya. Biarpun Gin-kiam Gi-to seorang pendekar, akan tetapi ia harus memakai aturan juga. Kalau memang ia membutuhkan uang untuk menolong orang-orang lain, mengapa ia harus mencuri di kota kita? Kalau dia memang mengerti aturan kang-ouw, mengapa ia memandang rendah kepada kita dan berbuat sesuka hatinya, seakan-akan di kota ini tidak ada orang yang berani menentangnya? Dia mempunyai kewajiban sebagai seorang Maling Budiman, akan tetapi kitapun mempunyai tugas sebagai penduduk Wi-ciu dan sebagai orang-orang yang diharapkan oleh penduduk untuk menolak datangnya bahaya kekacauan!”

Semua orang setuju dengan pendapat ini dan setelah mengadakan perdebatanperdebatan dan perundingan yang cukup hangat, akhirnya diputuskan untuk mengadakan penjagaan secara gotong-royong pada malam hari. Oleh karena di antara semua orang di situ yang memiliki kepandaian tertinggi adalah To Tek Hosiang dan Lim- piauwsu, maka kedua orang ini diangkat menjadi kepala penjaga.

Pada siang hari itu juga banyak penyelidik disebar di sekeliling kota Wi-ciu untuk mencari jejak Maling Budiman itu. Dan pada malam harinya, penjagaan diatur dengan diamdiam hingga tidak kentara bahwa di atas wuwungan rumah para hartawan telah diadakan penjagaan keras.

Menjelang tengah malam, Tan Hong kembali melakukan pekerjaannya. Tubuhnya bergerak ringan dan gesit melalui genteng-genteng rumah dan ia berhenti di atas genteng rumah Lie Wan-gwe yang tinggi. Setelah memandang ke sekeliling dan tak melihat sesuatu yang mencurigakan, si Maling Budiman ini lalu melompat turun dengan gerakan melayang yang indah dan cepat.

Para penjaga yang berada di atas genteng Lie Wan-gwe kebetulan sekali adalah To Tek Hosiang sendiri dan beberapa orang pembantunya. Mereka telah melihat kedatangan Maling Budiman, akan tetapi dari tempat persembunyiannya To Tek Hosiang memberi tanda agar kawan-kawannya jangan bergerak dulu. Ia hendak menanti sampai maling itu telah menyelesaikan pekerjaannya dan hendak dihadang ketika keluarnya dari rumah yang menjadi sasarannya, agar mereka dapat menangkap basah maling itu!

Tak lama kemudian, Tan Hong telah berhasil mengambil uang perak sebanyak dua kantong penuh dan dengan cepat ia melompat ke atas genteng kembali. Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika melihat betapa di atas genteng berdiri seorang hwesio gundul dan lima orang lain yang kesemuanya memegang sebatang pedang. Hwesio itu berdiri memegang sebatang toya yang panjang dan berat.

“Ha, maling sombong! Kau menyerahlah agar pinceng tak usah mengotorkan tangan. Dosamu telah bertumpuk- tumpuk dan sekarang sudah tiba waktunya bagimu untuk menebus dosa itu. “ Tan Hong tersenyum dan menjawab, “Hwesio, mengurus dosamu sendiripun kau tak sanggup, apapula mengurus dosa orang lain? Kalau kau memang hendak menangkapku, lakukanlah jika kau berani.”

Setelah berkata demikian, Tan Hong lalu melompat tinggi melewati kepala dua orang pembantu To Tek Hosiang dan langsung melompat ke wuwungan lain! Alangkah terkejut dan kagumnya To Tek Hosiang melihat kepandaian loncat yang hebat ini, maka iapun segera mengejar sambil membentak, “Maling rendah, kau hendak lari ke mana?”

To Tek Hosiang adalah seorang tokoh dari Houw-san dan memiliki ilmu silat yang tinggi, maka ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang dimilikinya sudah cukup sempurna. Sekali tubuhnya melayang, ia cepat dapat mengejar Tan Hong dan mengirim serangan dari belakang dengan toyanya!

Tan Hong mendengar desiran angin pukulan toya menyambar, akan tetapi ia tidak menjadi gugup. Dengan memiringkan tubuh, ia dapat mengelak serangan ini dan sebelum To Tek Hosiang dapat menyerang lagi, tubuh pemuda ini telah melayang lagi jauh sekali dan menghilang di dalam gelap.

To Tek Hosiang menghela napas dan memuji, “Sungguh hebat! Sayang orang sehebat dia menjadi maling!”

Post a Comment