Amukan alam yang memperlihatkan kekuasaannya ini terasa sekali oleh penduduk dusun Giam-hok-ceng. Biarpun dusun itu agak tinggi letaknya hingga rumah-rumah mereka tidak sampai terbawa hanyut, namun semua sawah lading telah habis digenangi merupakan danau yang lebar dan luas mengerikan. Persediaan makanan telah habis dan tiap hari pasti ada orang mati kelaparan. Jerit tangis terdengar dimana-mana dan keluh kesah menjulang setinggi langit, membawa rasa kecewa, manusia-manusia yang mulai menuduh bahwa Tuhan tidak adil!
Di dalam sebuah rumah yang tak patut disebut rumah lagi, lebih pantas disebut kandang manusia miskin, dua tubuh manusia laki-laki dan wanita yang hanya merupakan kerangka-kerangka terbungkus kulit belaka, rebah bersanding di atas tikar buruk. Keduanya adalah suami isteri she Tan yang sudah menjadi mayat, korban kelaparan! Di dekat dua mayat itu, seorang anak laki-laki berusia lima tahun menangis terisak-isak, karena suara tangisnya sudah hampir habis, tenggorokkannya kering dan sakit karena semenjak pagi ia menangis tiada hentinya. Berkali-kali anak itu memanggil-manggil ayah dan ibunya, akan tetapi ayah- bundanya diam tak bergerak seakan-akan sama sekali tidak mau memperdulikan nasib putera tunggal mereka yang bernama Tan Hong.
“Ayah ... ibu ... bangunlah ... aku lapar, minta makan. Ibuuu ... !” suara Tan Hong parau dan hanya keluar sebagai bisikan belaka, sedangkan matanya tak dapat mengeluarkan air mata lagi. Ia masih terlampau kecil hingga kematian baginya masih merupakan teka-teki.
Telah berhari-hari ia hanya mengisi perutnya dengan sedikit gandum kering, dan ayah ibunya bahkan sama sekali tidak makan karena makanan yang sedikit mereka dapatkan, selalu diberikan kepadanya. Akhirnya kedua orang tuanya tertidur dan tidak mau bangun lagi, sedangkan di dalam gubuk itu tak terdapat sedikitpun makanan lagi dan semenjak kemarin perutnya belum diisi apa-apa! Oleh karena rasa lapar yang membuat perutnya terasa perih dan tubuhnya lemas itu tak tertahankan lagi, Tan Hong lalu bangun berdiri dan mencari-cari di dalam gubuk, kalau-kalau masih ada sisa-sisa makanan yang dapat dimakannya. Segala kaleng dan kertas dibuka dan dibolak- balikkan, akan tetapi usahanya sia-sia. Tan Hong menjadi bingung, ia mulai mengeluh dan menangis lagi sambil memeluki tubuh ibunya.
Kemudian timbul pikirannya untuk minta makanan kepada tetangga, seperti yang telah dilakukan beberapa kali oleh ibunya. Ia bangun dan berdiri lagi, dan tiba-tiba kepalanya terasa pening, tanah yang dipijaknya seolah-olah berputar-putar dan bergoyang-goyang.
“Aduh ... ibu ... aduh ... !” Ia terhuyung-huyung, rasa perih di perutnya ditahan dengan tangan kiri yang ditekankannya ke perutnya yang kempis itu, tangan kanan meraba-raba ke depan agar ia jangan menabrak sesuatu, kedua kakinya terhuyung-huyung maju dan dengan mata kabur ia mencari pintu untuk keluar.
Ketika ia tiba di pintu gubuk tetangganya yang terdekat, ia disambut dengan suara tangis riuh rendah yang keluar dari pintu itu. Ia membelalakkan kedua matanya dan menjenguk ke dalam. Ternyata seluruh keluarga tetangga itu sedang menangisi mayat-mayat yang membujur di atas balai-balai. Mati karena kelaparan pula!
Tan Hong mundur ketakutan. Tubuhnya yang hanya tulang terbungkus kulit dan dibalut oleh sisa-sisa kain lapuk yang menutupi sebagian badannya, terseok-seok bergerak maju lagi dengan segala daya upayanya. Kini ia menuju ke sebuah rumah besar. Ia tahu bahwa rumah itu adalah milik Thio-chungcu (Pak Lurah Thio) yang mempunyai banyak beras dan gandum. Sebetulnya semenjak kecil ia sangat takutnya kepada kepala kampung ini, bahkan baru mendengar namanya saja ia sudah menggigil. Dulu tiap kali ia menangis, asal ibunya menyebut nama Thio-chungcu, ia menjadi ketakutan dan tak berani menangis lagi!
Akan tetapi, rasa lapar melenyapkan takutnya. Ia pernah mendengarkan ibunya bercerita bahwa Thio-chungcu adalah seorang yang mempunyai gandum terbanyak di dalam dusun itu. Maka, selain minta kepada Thio-chungcu, kepada siapa lagi ia dapat minta makanan? Tubuh kecil kurus itu terhuyung-huyung di atas jalan yang sunyi mati itu dan di sepanjang perjalanan menuju ke rumah Thio- chungcu, ia mendengar suara tangis di kanan kiri jalan, tangis anak-anak yang sebayanya keluar dari dalam rumah- rumah gubuk. Jelas terdengar olehnya suara mereka itu mengeluh dan merengek-rengek, “Ayah ... perutku lapar ... “ “Ibu ... makan, perutku perih sekali ... “
Suara-suara ini menusuk-nusuk hati dan telinga Tan Hong, menikam ulu hatinya dan terukir dalam-dalam di sanubarinya. Suara-suara itu merupakan suara maut yang mengejar-ngejarnya, maka tiba-tiba Tan Hong memaksa kedua kakinya yang lemas untuk berlari. Berlari pergi dari suara-suara itu, menuju ke rumah gedung Thio-chungcu!
Rumah gedung Thio-chungcu itu dikelilingi dinding tebal dan tinggi, dan di depannya terdapat pintu gerbang dari jeruji besi. Tan Hong mendorong-dorong pintu yang berat itu dan akhirnya ia berhasil juga membukanya setelah menggeser dan melepaskan palangnya dari luar dengan jalan memasukkan lengannya yang kecil kurus di sela-sela jari-jari besi itu.
Akan tetapi, baru saja ia melangkahkan kaki memasuki ambang pintu, tiba-tiba dari dalam terdengar salak anjing yang menyeramkan dan tak lama kemudian, dua ekor anjing yang gemuk-gemuk dan tinggi besar berlari keluar sambil menggonggong keras. Tan Hong menjadi pucat sekali dan tubuhnya menggigil. Cepat-cepat ia mundur dan berlari keluar kembali dari pintu gerbang itu. Kedua anjing yang galak itu masih tetap menggonggong dan memperlihatkan gigi, akan tetapi setelah mereka melihat bahwa Tan Hong telah keluar dari pintu gerbang, mereka tak menggonggong lagi dan lari kembali sambil menggoyang-goyangkan ekornya.
Thio-chungcu yang bertubuh gemuk seperti anjing- anjingnya itu keluar dari dalam gedungnya, mendengar suara gong-gongan anjing dan sambil tertawa senang ia berkata, “Bagus, bagus! Kalau ada maling masuk, serbu dan gigitlah sampai mampus! Hah, menyebalkan benar! Begitu kecil sudah belajar menjadi pencuri!” Kepala kampung itu lalu masuk kembali ke dalam rumahnya, diikuti oleh dua anjingnya yang menggerak-gerakkan ekornya.
Tan Hong memperhatikan kepala kampung itu dengan mata terbelalak dan dada berdebar. Entah bagaimana, ketika mendengar kata-kata kepala kampung itu, timbullah hawa panas yang membuat seluruh tubuhnya serasa terbakar! Kepalanya berdenyut-denyut dan kedua tangannya dikepalkan.
Baru setelah kepala kampung dan kedua ekor anjingnya masuk kembali ke dalam rumah, Tan Hong merasakan kembali keletihan dan keperihan perutnya. Ia berjalan terhuyung-huyung pergi dari tempat itu dan kepalanya mulai terasa pening lagi. Pandangan matanya kabur hingga terpaksa ia memejamkan matanya sambil berjalan terus sedapat mungkin. Akhirnya, tubuh yang kecil itu tidak kuat lagi berjalan dan ia terguling roboh di pinggir jalan. Ia menahan keperihan perutnya dengan mengangkat kedua lutut ke dada hingga perutnya seperti dilipat dan ditekan oleh lutut. Ia meringkuk dalam keadaan demikian di pinggir jalan, dan merasa betapa enaknya rebah di situ seperti ini! Lenyap rasa pusing di kepalanya, bahkan rasa lapar yang tadinya mendatangkan rasa sakit dan perih di perutnya, kini lenyap dan yang terasa hanyalah kekosongan belaka. Kosong dan lemah ...
Dan ketika nyawa anak kecil itu telah mulai menjadi bosan tinggal di tubuh yang tidak mendapat perawatan sebagaimana mestinya ini, nyawa yang telah siap untuk meninggalkan tubuh kurus kering yang menggeletak melingkar di pinggir jalan, tiba-tiba nampak seorang kakek yang memegang tongkat berdiri di dekatnya sambil menggeleng-gelengkan kepala, “Ya Tuhan, kesenangan apakah yang pernah kauberikan kepada anak ini hingga sekarang dia harus menderita sehebat ini?”
Kemudian, kakek tua yang berambut panjang dan yang diikat ke atas kepala dengan sehelai pita putih, membungkuk dan mengangkat tubuh Tan Hong ke pundaknya. Setelah itu, ia lalu berjalan cepat meninggalkan dusun Giam-hok-ceng.
Kemudian ternyata bahwa kakek ini adalah Cin Cin Tojin, seorang tosu pengembara yang tidak tertentu tempat tinggalnya. Seorang tosu yang amat terkenal karena ketinggian ilmu silatnya, hingga di dunia kang-ouw ia mendapat julukan Sin-kiam atau Pedang Sakti.
Cin Cin Tojin belum pernah mempunyai murid, akan tetapi ketika melihat keadaan Tan Hong yang amat menyedihkan ini, ia menjadi kasihan dan menolongnya. Kemudian ia melihat bahwa sebenarnya anak itu mempunyai bakat yang baik sekali, maka ia lalu mengambil anak itu sebagai murid tunggalnya.
Bertahun-tahun lamanya Tan Hong ikut suhunya berkelana. Ia mempelajari ilmu silat dari suhunya itu hingga setelah dewasa, delapan bagian kepandaian Cin Cin Tojin telah dapat diwarisinya. Di sepanjang perantauannya, Tan Hong melihat kesengsaraan rakyat jelata, hingga timbul perasaan kasihan di dalam hatinya. Pengalaman dan penderitaannya ketika masih kecil menggores dalam-dalam di kalbunya, terutama peristiwa ketika ia berdiri di depan pintu gerbang rumah Thio-chungcu, tak dapat ia lupakan. Kini setelah ia dewasa dan merantau bersama suhunya, dimana-mana ia banyak melihat hartawan-hartawan dan pembesar-pembesar model Thio-chungcu ini. Orang yang menumpuk harta benda sampai berlebih-lebihan di dalam gudang mereka, tanpa memperdulikan sedikitpun kepada rakyat kecil yang mati kelaparan. Ia merasa marah dan gemas sekali kepada mereka ini. Memang benar bahwa banyak pula terdapat hartawan-hartawan yang berhati dermawan dan mengenal perikemanusiaan hingga seringkali mengulurkan tangan menolong dan memberi sumbangan kepada orang-orang yang menderita kesengsaraan, akan tetapi dibandingkan dengan jumlah mereka yang kikir dan kedekut, maka hanya beberapa orang dermawan saja yang tidak ada artinya.