Tan Hong tercengang dan ia memandang penuh perhatian. Ternyata pakaian wanita itu compang-camping dan penuh tambalan, menandakan bahwa ia seorang miskin, sedangkan wajahnya yang kurus pucat menandakan pula bahwa wanita ini tentu terkena penyakit kelaparan! Tiba-tiba, Tan Hong merasa terharu.
“Toanio ... kau hanya ingin mendapat sedikit perak ini? Sampai demikian besar minat kau untuk memiliki perak?” pertanyaan ini dikeluarkan dengan perlahan dan ragu-ragu.
Wajah wanita itu memerah karena malu. “Bukan untukku sendiri taihiap, sungguh mati, bukan untukku sendiri, tapi untuk anak-anakku!”
Tan Hong makin tertarik dan kasihan. Melihat pandangan pemuda itu, wanita tadi lalu menuturkan keadaannya dengan suara pilu, “Aku adalah seorang janda she Yo dan ditinggal mati suamiku dengan tiga orang anak masih kecil-kecil. Rumah dan sawah kami habis dilanda air bah. Tidak ada orang yang suka menolong kami, karena mereka yang merasa kasihan kepada kami itu adalah para pengungsi yang senasib dengan kami, sedangkan untuk mengisi perut mereka sendiripun mereka tak mampu. Sebaliknya para kaum mampu, hanya mau menolong kami dengan syarat-syarat kejinya!”
Tan Hong mengangguk-angguk mengerti.
“Apakah yang bisa dilakukan oleh seorang janda seperti aku? Justeru karena anakanakku menderita kelaparan dan aku tidak bisa mencarikan makannya dengan cara yang wajar, maka terpaksalah aku mencoba merampok. Akan tetapi dasar nasibku malang dan nasib anak-anakku yang harus mati kelaparan, karena pertama-tama aku mencoba merampok, aku langsung berhadapan dengan kau, dengan orang yang jauh lebih tinggi ilmu silatnya dariku dan yang memiliki pedang perak ajaib, dengan gampang mengalahkanku! Taihiap, bunuh sajalah aku agar tamat riwayatku yang penuh derita ini. Aku tidak sanggup pulang ke rumah dengan tangan kosong dan melihat anak-anakku mati kelaparan!” Nyonya janda Yo itu lalu menangis terisak-isak.
Tan Hong menghela napas dalam-dalam. Lagi-lagi seorang korban bencana banjir! Tiba-tiba ia mendapat sebuah pikiran baik. Nyonya ini memiliki kepandaian yang cukup tinggi, apa sukarnya mencarikan pekerjaan untuknya?
“Toanio, jangan kau bersedih. Selama nyawa masih dikandung badan, tak boleh sekali-kali kita berputus asa. Aku mempunyai kenalan baik di kota Seng-koan, marilah kau dan anak-anakmu kuantarkan ke sana agar kau dapat tertolong.”
-oo0dw0oo-
Nyonya Yo hendak berlutut menghaturkan terima kasih, akan tetapi Tan Hong segera mencegahnya. Kemudian ia lalu ikut nyonya Yo mengambil ketiga orang anaknya yang kecilkecil dan kurus kering itu, lalu diantarkannya nyonya itu ke Seng-koan. Di kota ini Tan Hong menyerahkan nyonya Yo bersama ketiga orang anaknya kepada Panitia yang dipimpin oleh Seng-koan Sam-eng, dan setelah menuturkan keadaan nyonya janda itu serta menyatakan bahwa kepandaian silat nyonya ini cukup tinggi, akhirnya nyonya Yo diperbantukan kepada Panitia itu dan mendapat jaminan hidup yang lumayan.
Seselesainya pemuda yang menolong jiwanya dan ketiga orang anaknya menyerahkan kepada panitia korban banjir itu di Seng-koan ia segera berlalu meninggalkan kota itu untuk melanjutkan perjalanannya.
***
Tan Hong teringat akan janjinya kepada To Tek Hosiang, tokoh persilatan Houw-sanpai yang pernah dikalahkannya dulu dan yang menantangnya agar ia suka datang berpibu di kelentengnya, yakni kuil Kim-ci-tang di kota Wi-ciu. Kebetulan sekali hari itu adalah tepat pada hari perjanjiannya, maka ia lalu cepat-cepat menuju ke kota Wi-ciu.
Di dalam hati Tan Hong tidak suka sekali-kali mencari permusuhan dengan orangorang dari dunia kang-ouw, akan tetapi sebagai seorang ksatria, ia harus memegang teguh jamjinya. Ia maklum bahwa To Tek Hosiang masih belum mau mengalah, maka sebagai seorang pemuda yang menghargai orang tua, apalagi orang tua itu adalah seorang hwesio dan tokoh ternama di dunia persilatan, ia harus datang memenuhi janjinya. Ia dapat menduga pula bahwa kali ini hwesio itu tentu berusaha hendak menebus kekalahannya yang dulu, akan tetapi Tan Hong tidak perduli. Pemuda yatim piatu yang hidup seorang diri di dunia ini memang tidak khawatir akan dirinya terhadap segala macam bahaya yang bakal menimpa dirinya.
Kelenteng Kim-ci-tang adalah sebuah kelenteng yang besar dan mempunyai ruangan yang amat luas. Kebetulan sekali ketika Tan Hong tiba di kuil tersebut, hari itu banyak sekali tamu-tamu memenuhi ruang depan kelenteng dan para hwesio penyambut para tamu sibuk menyediakan segala macam keperluan sembahyang. Kepenuhan kelenteng ini ada hubungannya dengan bencana banjir yang mengamuk di mana-mana hingga orang-orang pada datang minta berkah dan bersembahyang di kelenteng itu. Orang- orang hartawan bersembahyang untuk minta perlindungan bagi keselamatan sekeluarganya. Ada pula yang minta supaya sanak keluarganya yang tinggal di daerah banjir mendapat perlindungan, dan banyak pula yang lainnya hanya datang umtuk minta jodoh, minta peruntungan baik dan sebagainya. Memang, di manapun juga, selalu dunia ini penuh dengan kebutuhan dan permintaan manusia yang tak ada batasnya dan tak pula puas-puasnya!
Melihat banyaknya para tamu yang datang, Tan Hong menjadi ragu-ragu. Ia merasa kurang baik kalau mengganggu ketenteraman mereka itu dengan maksudnya mengadu kepandaian, karena hal ini akan mendatangkan sangkaan, bahwa ia sengaja datang hendak mangacaukan suasana yang aman tenteram itu. Apakah To Tek Hosiang sudah lupa akan janjinya? Diam-diam ia merasa girang juga, karena iapun tidak ada nafsu untuk bertempur memperbesar rasa permusuhan.
Tan Hong lalu mengikuti orang-orang yang bersembahyang dan agar jangan menimbulkan curiga pada para hwesio penyambut tamu, iapun membeli hiosoa (dupa) dan bersembahyang pula, sungguhpun ia menyalakan hiosoa dan mengangkat-angkatnya itu hanya sekedar memberi hormat belaka.
Akan tetapi, setelah ia selesai bersembahyang dan keluar dari ruang sembahyang, tiba-tiba saja To Tek Hosiang telah berdiri di depannya dan berkata, “Ha, Gin-kiam Gi-to, ternyata kau benar-benar menepati janji!”
Tan Hong segera mengangkat tangannya sambil tersenyum, “Losuhu, apakah selama ini kau baik-baik saja? Kukira kau telah lupa akan janji kita.”
Berubah air muka To Tek Hosiang mendengar hal ini. “Tan-sicu (tuan she Tan yang gagah), seorang laki-laki, sekali mengeluarkan janji, selamanya takkan lupa. Sayang sekali hari ini tak kusangka-sangka tamu datang begini banyak, maka terpaksa pinceng tak dapat melayanimu. Kalau kau tidak berkeberatan, harap kau datang nanti malam dan pinceng tentu telah bersedia untuk menyambut dan melayanimu.”
Tan Hong tertawa. “Losuhu, benar-benarkah kau masih berhati muda dan masih suka berkelahi? Baiklah, aku hanya memenuhi keinginanmu saja.” Tiba-tiba pemuda ini tak mau berbicara lagi, karena ia melihat bahwa di situ ada beberapa orang yang memandang ke arah mereka dengan tajam. To Tek Hosiang lalu menjura memberi hormat kepada Tan Hong dan berkata, “Sahabatku yang baik. Pinceng menanti kedatanganmu nanti malam.” Setelah berkata demikian, To Tek Hosiang lalu mengundurkan diri ke ruang dalam, sedangkan Tan Hong-pun lalu menuju keluar. Tiba-tiba pemuda itu menyelinap di antara para pengunjung dan menyembunyikan dirinya di belakang tubuh orang-orang lain, karena pada saat itu ia melihat dua orang pengunjung yang membuat hatinya berdebar-debar. Mereka ini tidak lain ialah Siok Lan dan ayahnya! Tan Hong merasa heran kepada dirinya sendiri, mengapa ketika ia melihat nona itu beserta ayahnya, hatinya secara mendadak menjadi berdebar-debar dan ia menjadi malu, hingga tak berani memperlihatkan mukanya! Ia berbuat begitu, karena ia sadar bahwa pakaiannya sangat buruk dan memalukan, maka secara diam-diam ia mengintai dan memandang ke arah Siok Lan dengan mata berseri dari jauh. Alangkah cantiknya gadis itu, hingga ia serasa melihat seorang bidadari yang baru saja turun dari kahyangan. Ketika ia mengetahui betapa banyak mata laki-laki lain, pengunjung kuil itu, juga tertuju kepada Siok Lan dengan kagumnya, timbullah rasa kurang senang di hatinya!
“Haaa, apakah aku sudah gila?” bisiknya dalam hati dan ketika ia melihat Siok Lan dan ayahnya masuk ke ruang sembahyang, ia lalu melangkah keluar. Akan tetapi, ketika ia hendak meninggalkan kelenteng itu, kakinya terasa amat berat. Sebetulnya hatinyalah yang terasa berat, berat untuk meninggalkan gadis itu. Kemudian diam-diam Tan Hong lalu bersembunyi di belakang sebatang pohon yang tumbuh di kelenteng itu, pura-pura beristirahat dan duduk menyandar pada sebatang pohon. Tetapi sebenarnya ia memperhatikan pintu kelenteng dengan penuh perhatian, melihat kalau-kalau Siok Lan dan ayahnya keluar dari situ.
Sejurus lamanya ia menanti dengan sabar, dan akhirnya ia melihat nona itu keluar dari pintu kelenteng sambil berbisik-bisik dengan ayahnya, entah apa yang sedang dibicarakannya. Mereka berdua keluar dari kelenteng dan terus berjalan menuju ke utara, Tan Hong diamdiam mengikuti mereka dari belakang untuk mengetahui ke mana kedua orang itu hendak pergi. Ternyata bahwa Siok Lan dan ayahnya tinggal di sebuah rumah penginapan yang tak jauh dari kelenteng itu. Tan Hong benar-benar seperti orang yang tidak waras otaknya. Sehari itu, ia berdiri saja di satu tempat yang tak jauh dari rumah penginapan itu dan memandang ke arah hotel dengan penuh harap melihat gadis itu kalau-kalau keluar. Akan tetapi ia kecewa, karena Siok Lan dan ayahnya Lo Cin Ki si Garuda Sakti, sampai sore tidak muncul-muncul keluar dari hotel itu.