Melihat kenekatan mereka ini, timbul marah dalam hati Tan Hong. “Baik, kalian mencari celaka sendiri!”
Tiba-tiba terlihat sinar berkilauan ketika pemuda itu tahu-tahu telah memegang sebatang pedang berwarna putih seluruhnya dan sekali putar saja pedangnya, maka ketiga senjata musuhnya dapat ditangkis semua.
“Kau ... kau Gin-kiam Gi-to?” ujar Ban Kok setelah ia melihat pedang ini.
“Matamu awas juga, orang she Ban!” jawab Tan Hong sambil memutar pedangnya balas menyerang. Mendengar nama ini ketiga Seng-koan Sam-eng tiba-tiba menjadi sangat gentar, maka permainan pedang mereka menjadi kacau- balau. Apalagi ketika Tan Hong mengubah gerakan pedangnya yang semula hanya mempertahankan diri saja, kini menjadi ganas menyerang dengan tipu-tipu berbahaya, ketiga pengeroyok itu menjadi terdesak dan terkurung oleh sinar pedang Tan Hong.
Pada saat yang tepat, Tan Hong berseru keras, “Lepaskan pedangmu!” Dan terdengar jerit kesakitan dari ketiga orang pengeroyok ini, disusul dengan terlepasnya pedang mereka dari tangan masing-masing. Lengan kanan mereka telah terluka oleh guratan pedang yang memanjang dari siku sampai ke tangan. Luka ini biarpun tidak berbahaya, namun karena telah mengiris kulit, darah keluar banyak juga.
“Seng-koan Sam-eng, biarlah ini menjadi pelajaran bagi kalian bertiga! Lain kali kalau kau bertiga masih menggunakan kepandaian untuk melakukan pemerasan dan korupsi berkedok sebagai panitia, akan kutujukan pedangku ini ke arah lehermu!” Setelah memberi peringatan ini kepada ketiga jagoan yang kini telah mati kutunya itu, Tan Hong lalu menghadapi para hartawan yang duduk dengan mata terbelalak heran dan tercengang itu, ia lalu menujukan kata-katanya kepada semua penonton, “Cu-wi sekalian! Daerahmu ini sedang terserang bahaya banjir hingga timbul bahaya kelaparan di kalangan penduduk miskin. Sudah sepatutnyalah apabila saudarasaudara sekalian mengulurkan tangan membantu meringankan beban penderitaan mereka. Saudara sekalian harus sadar dan ingat sekalian gandum dan beras yang tiap hari memasuki perut kita dan membuat tetap tinggal hidup, adalah hasil jerih payah dan tetesan peluh para kaum tani yang justeru pada waktu ini menjadi korban banjir! Bayangkan saja, kita di sini makan enak sekenyang-kenyangnya dan gandum serta beras kita bertumpuk-tumpuk di gudang sampai membusuk, sedangkan mereka yang dulu menanam dan menghasilkan semua gandum dan beras itu, kini menderita kelaparan! Apakah ini adil? Memang kalian berhak atas segala bahan makanan itu yang telah kalian beli, akan tetapi ingatlah lagi, andaikata kaum tani itu semua mati kelaparan karena tak makan, hingga tak ada seorang jua yang akan mengerjakan sawah ladang, apakah yang harus kita lakukan kelak? Apakah saudara sekalian terutama para hartawan, bisa mengerjakan sawah ladang itu? Maka, pergunakanlah kesempatan ini untuk membalas jasa para petani. Ayoh, siapa yang hendak menyumbang lagi?”
Orang-orang menyambut ucapan ini dengan riuh gembira dan banyak lagi lainnya yang menyumbang dengan suka rela. Maka Tan Hong lalu mengumpulkan semua sumbangan itu, dan setelah semua dikumpulkan, maka jumlah gandum yang sudah terkumpul menjadi tiga ribu karung lebih! Semua bahan makanan dan uang yang ada lalu diangkut dengan gerobak yang ada di kota itu dan yang sengaja dikerahkan untuk pengangkutan istimewa ini.
Maka berangkatlah gerobak-gerobak itu menuju ke daerah banjir, diikuti oleh Tan Hong dan orang-orang yang menaruh minat, yang kebanyakan terdiri dari mereka yang telah menyumbang. Juga Seng-koan Sam-eng dengan lengan terbalut ikut pula mengantar.
Para korban banjir yang tinggal berkelompok-kelompok dalam gubuk-gubuk kecil di pinggir sawah, menerima kedatangan para penolong ini dengan sangat girangnya. Gandum lalu dibagi rata dan semua penderita banjir menerima sumbangan gandum dan uang. Orangorang menjadi terharu ketika melihat betapa wajah para korban banjir itu menerima sumbangan ini dengan air mata berlinang, karena bahan makanan yang mereka terima hari ini benar-benar merupakan penyambung nyawa keluarga mereka, dan mereka menjadi sangat heran, karena sumbangan yang diberikan pada mereka yang menderita dengan suka rela, tanpa minta syarat seperti yang biasa berlaku dari si kaya pada mereka! Akhirnya para korban banjir mengetahui ketika mendengar bahwa semua ini adalah berkat sepak terjang Gin-kiam Gi-to. Kemudian bersama-sama mereka lalu maju berlutut di depan Tan Hong!
Akan tetapi Tan Hong tidak mau menerima kehormatan ini, bahkan ia lalu berkata, “Saudara-saudara sekalian! Jangan berterima kasih kepadaku, karena aku tidak memberi apa-apa kepada kalian. Berterima kasihlah kepada para dermawan dari Seng-koan, dan juga kepada Seng-koan Sam-eng, karena semenjak hari ini ketiga orang ini akan benar-benar menolong saudara sekalian dengan jujur dan adil!” Mendengar ucapan pemuda yang tahu membawa diri ini, semua orang dari Seng-koan menjadi terharu, bahkan Seng- koan Sam-eng sendiri merasa seakan-akan muka mereka mendapat tamparan hebat dan mereka lalu insyaf akan kekeliruan mereka yang sudah-sudah. Mereka telah menyombongkan diri sebagai jagoan-jagoan yang tak terkalahkan, sama sekali tidak ingat bahwa di dunia ini tidak ada orang yang terpandai dan segala kepandaian pasti ada yang melebihi. Maka diam-diam mereka berjanji dalam hati hendak merobah tabiat mereka.
Pembagian gandum dan uang itu berlangsung sehari penuh, karena daerah yang dilanda banjir itu banyak jumlahnya. Setelah semua tempat dikelilingi dan gandum serta uang telah habis dibagikan sama sekali, Tan Hong lalu berkata kepada semua orang, “Saudara sekalian. Sekarang, setelah kalian melihat sendiri cara pembagian yang adil, jujur dan tanpa syarat, saya percaya bahwa lain kali Panitia Penolong Korban Banjir akan dapat bekerja lebih aktif dan jujur. Apabila terdapat kecurangan-kecurangan, aku akan kembali dan akan memberi pelajaran kepada mereka yang bersalah itu! Akan tetapi aku percaya penuh kepada Seng- koan Sam-eng yang tentu akan menjaga jangan sampai terjadi kembali hal demikian, bukan?”
“Kami akan menjaga, taihiap!” kata Ban Kok dengan terharu.
Setelah itu, Tan Hong lalu meninggalkan Seng-koan, diikuti oleh pandangan mata kagum dari seluruh penduduk.
***
Ketika Tan Hong yang melanjutkan perjalanannya memasuki sebuah rimba belantara, ia berjalan perlahan sambil termenung. Bayangan nona Lo Siok Lan yang selama ini tak pernah meninggalkan bayangan matanya, kini sangat mempengaruhi otaknya, setelah ia merasa kesunyian seorang diri di dalam hutan yang luas itu. Bahkan kini perasaannya seolah-olah ia melihat wajah Siok Lan yang sebenarnya muncul di mana-mana, di tempat- tempat mana yang dilaluinya. Tiba-tiba saja wajah yang jelita dan gagah itu terbayang di sela-sela daun-daun hijau dan di antara kembang-kembang merah.
“Ah, aku sudah menjadi gila!” Tan Hong mengoceh pada dirinya di bawah sebatang pohon untuk beristirahat. Akan tetapi, makin celaka, setelah ia berhenti dan duduk, bayangan Siok Lan makin jelas kelihatan dan makin bertambah hebat menggoda pikirannya! Ia lalu melompat bangun dari duduknya dan melanjutkan perjalanannya.
Tiba-tiba kedua matanya terbelalak, hatinya berdebar kegirangan dan penuh harapan ketika ia menujukan pandangan matanya ke arah gerombolan pohon. Di situ muncul tubuh seorang wanita dengan pedang di tangan. Sesaat lamanya, wajah wanita itu dalam pandangan Tan Hong kelihatan seperti wajah Siok Lan itu berubah menjadi wajah seorang wanita berusia tiga puluh tahun lebih yang sedang berduka, pada wajahnya yang muram itu dapat diterka bahwa ia dalam kesusahan.
Akan tetapi, ketika wanita itu melihat Tan Hong, wajahnya berubah menjadi bengis dan sekali melompat saja ia telah berada di depan Tan Hong terus membentak, “Sobat, berhenti dulu!”
Tan Hong jadi terperanjat dan melihat gerakan wanita ini, menunjukkan bahwa ia memiliki kepandaian yang cukup baik. Ia memandang wanita itu dengan rasa kagum dan lalu bertanya, “Apakah perlunya Toanio menahan perjalananku?” Wanita itu memandang ke arah pakaian Tan Hong dan ketika melihat bahwa Tan Hong tidak berbekal bungkusan pakaian atau barang lain, jelas nampak perubahan pada mukanya yang menjadikan ia kecewa. Kemudian setelah ia melihat gagang pedang dari perak yang tersembul keluar di belakang punggung Tan Hong, maka ia lalu berkata, “Anak muda, kalau kau ingin melanjutkan perjalananmu denga selamat, serahkanlah pedangmu itu kepadaku!”
“Eh, mengapa begitu? Pedang ini adalah senjata untuk melindungi diriku apabila aku diserang oleh binatang buas di dalam hutan. Kalau pedang ini kau minta, dengan apakah aku dapat melindungi diri lagi?”
Mendengar jawaban ini, wanita itu memandang Tan Hong dengan tajam. “Kalau kau perlu memakai senjata juga, pakailah pedangku ini, dan sebagai gantinya pedangmu itu harus kauberikan kepadaku, mengerti!”
Tan Hong memandang pedang wanita itu, ternyata pedang itu adalah pedang yang telah berkarat dan buruk sekali, agaknya seringkali digunakan untuk membelah kayu! Tanpa disadarinya Tan Hong tertawa geli.
“Eh, eh, Toanio kau ini sedang main-main atau benar- benar hendak merampok?”
“Jangan banyak bicara!” hardiknya. “Kauserahkan pedang itu atau tidak!” Sambil berkata demikian, wanita itu mengancam dengan ujung pedangnya yang telah tumpul itu!
“Bagaimanakah kiranya, jika aku tak mau memberikannya?”
“Akan kupaksa!” kata wanita, lalu maju menyerang dengan pedang tumpulnya. Akan tetapi serangan ini membuat Tan Hong hampir berseru terkejut karena pedang yang telah tumpul ini dengan tepat sekali menyerang ke arah jalan darahnya! Ah, tak disangkanya bahwa wanita ini adalah ahli tiam-hwat (ilmu menotok jalan darah) maka, ia segera mengelak dengan cepat. Serangan kedua dan ketiga menyusul cepat dan semua serangan tertuju ke arah jalan darah yang berbahaya.
“Hebat benar!” Tan Hong memuji dan iapun segera mencabut pedangnya untuk mempertahankan diri karena ternyata wanita ini betul-betul tangguh. Segera mereka bertempur dengan seru. Tan Hong bersilat dengan hati-hati dan penuh cermat. Ia kagum juga melihat ilmu pedang wanita ini benar-benar hebat, lebih tinggi daripada ilmu kepandaian Seng-koan Sam-eng! Maka ia melawan dengan hati-hati dan waspada. Ia masih belum dapat menduga mengapa wanita ini ingin sekali memiliki pedangnya. Sebaliknya, ketika ia melihat bahwa pemuda ini bukan makanan empuk, wanita ini kelihatannya sangat kesal dan menyerang kembali dengan nekad. Seakan-akan ia seorang yang telah terlanjur berbuat suatu kesalahan yang tak mungkin dapat dimaafkan lagi!
Melihat kenekatan wanita ini, Tan Hong lalu memperlihatkan kepandaiannya, berkelahi dengan menggunakan ilmu pedang Ngo-heng Lian-hoan Kiam- hwat yang memiliki gerakan luar biasa. Sebentar saja wanita ini sudah sangat terdesak oleh serangan Tan Hong yang bertubi-tubi itu, hingga akhirnya pedang tumpulnya itu terlempar jauh lepas dari genggamannya. Baiknya tubuh wanita ini tidak cedera atau luka oleh pedang Tan Hong.
Anehnya, setelah menderita kekalahan, wanita itu tiba- tiba menjatuhkan diri duduk di atas tanah sambil menangis tersedu-sedu.
Tan Hong mengerutkan alisnya dan menyimpan pedangnya. “Toanio, kau sangat aneh. Kepandaian dan kiam-hoat (ilmu pedang) mu cukup tinggi, akan tetapi mengapa kau ingin merampas pedangku? Apakah kau suka kepada pedangku ini?”
Mendengar suara Tan Hong yang sopan dan lemah lembut, wanita ini mengangkat mukanya lalu memandang, “Eng-hiong, aku ... aku tadi memang sengaja hendak merampas pedangmu. “
“Mengapa demikian?”
Wanita itu menggelengkan kepalanya. “Bukan karena aku suka pedang orang lain, tetapi aku tertarik karena yang kau miliki pedang yang berharga yang mana gagangnya terbuat daripada perak!”