Tan Hong terkejut sekali karena tadipun ia melihat betapa gerakan pedang gadis itu mempunyai dasar-dasar yang sama dengan ilmu pedangnya sendiri, yakni Bok-san Kiamhwat.
Ia lalu menundukkan kepalanya lagi dengan penuh hormat dan berkata, “Benar, siauwte yang bodoh adalah murid Cin Cin Tojin. Mohon maaf bahwa siauwte tidak mengenal locianpwe. “
“Ha, ha, ha, anak muda. Memang, kalau belum bertempur, takkan mengenal orangnya sendiri. Cin Cin Tojin adalah suhengku.”
Bukan main terperanjatnya Tan Hong mendengar bahwa gurunya masih kakak seperguruan orang tua ini. Ia teringat akan penuturan suhunya bahwa suhunya mempunyai seorang sute, adik seperguruan yang berilmu tinggi, bahkan yang menurut pengakuan suhunya memiliki kepandaian di atas suhunya sendiri. Segera Tan Hong menjatuhkan diri berlutut, “Ampunkan teecu, bukankah susiok ini yang bernama Lo Cin Ki dan terkenal dengan nama Jian-jiauw-sin-eng (Garuda Sakti Berkuku Seribu)?”
Kakek itu tertawa lagi terbahak-bahak, “Benar, akulah orang she Lo itu, bagaimana dengan suhumu? Dan siapakah namamu, anak muda?”
“Teecu bernama Tan Hong.“ Kemudian ia menuturkan keadaan suhunya ketika ia turun gunung, menceritakan bahwa suhunya kini telah menghentikan kebiasaannya merantau dan menetap di puncak Bukit Kwi-hong-san untuk bertapa.
Si Garuda Sakti menghela napas. “Pekerjaanmu ini baik juga, akan tetapi berbahaya. Baiklah aku tak usah ikut campur dengan pekerjaan yang telah kau pilih dan kauanggap baik itu. Bagiku segala perbuatan itu baik saja, asal ditujukan untuk kebaikan. Kau telah mengambil obat yang keliru dan kalau kau menghendaki obat untuk menolong penduduk di Cin-tong, pergunakanlah obat ini!”
Lo Cin Ki lalu mengeluarkan sebungkus obat bubuk dari saku bajunya yang lebar dan memberikannya kepada Tan Hong. Dengan muka merah karena malu, Tan Hong menerima obat itu dan ia tidak berani membawa kantong- kantongnya. Akan tetapi, susioknya hanya mengambil kembali jin-som yang tidak perlu dibawa itu dan menambahkan obat dan uang seratus tail lagi sambil berkata, “Terus terang saja, kami bukanlah orang kaya yang dapat menyumbangkan uang. Akan tetapi, biarlah dengan sedikit uang ini aku dapat membantu melancarkan pekerjaanmu itu!”
Bukan main rasa malunya Tan Hong, karena susioknya itu berkata dengan setulus ikhlas hati. Ia menerima pemberian itu dan setelah menghaturkan terima kasih, ia lalu berdiri dan memberi hormat kepada gadis tadi, “Mohon dimaafkan kekasaranku.”
Gadis itu memandang dengan masih marah, akan tetapi ayahnya berkata, “Siok Lan, kau harus memberi hormat kepada suhengmu ini!” Terpaksa Siok Lan menjura pula, tapi tak berkata sesuatu. Hatinya masih mendongkol dan panas, dan ia merasa malu mempunyai seorang suheng pemaling!
Tan Hong dapat menyelami perasaan gadis itu, maka dengan hati berat dan menyesal ia lalu melompat pergi untuk menjalankan kebiasaannya membagi-bagi uang dan juga obat yang didapatnya dari susioknya itu.
Seperti biasa, setelah membagi-bagikan hasil curiannya Tan Hong lalu pergi ke sebuah tempat yang sunyi untuk beristirahat. Akan tetapi kalau biasanya ia terus merebahkan diri di mana saja untuk tidur setelah bekerja semalam suntuk, kali ini ia tidak dapat tidur. Ia duduk di bawah sebatang pohon besar karena tak bisa mendapatkan kuil atau gubuk kosong, maka ia duduk saja sambil melamun! Bayangan nona Lo Siok Lan yang cantik jelita dan gagah itu tak pernah meninggalkan ruang matanya. Ia amat tertarik kepada gadis itu tiada habisnya ia mengaguminya. Akan tetapi, ia masih merasa sakit hati, apabila teringat olehnya ucapanucapan dan pandangan mata gadis itu yang ditujukan kepadanya dengan secara sangat menghina. Siok Lan yang menarik hati dan yang dikaguminya itu memandang amat rendah kepadanya!
Tan Hong lalu teringat akan keadaan dirinya sendiri. Siapa orangnya yang takkan memandang rendah dan menghinanya? Lihat saja keadaan tubuhnya yang kurus kering tak terawat dan pakaiannya yang kotor lagi usang serta penuh tambalan itu! Pemuda apakah dia ini? Dan ia adalah seorang maling pula. Takkan ada orang yang tidak akan menghina dan memandang rendah padanya karena ia seorang pencuri atau pemaling, biar maling budiman sekalipun! Tan Hong teringat kepada orang tuanya yang meninggal dalam keadaan sangat menyedihkan. Hatinya terharu. Ah, betapapun juga ia tak dapat melepaskan diri dari ikatan pekerjaan yang sudah menjadi idaman hatinya, yakni menolong mereka yang kelaparan. Ia tak dapat melupakan keadaan keluarganya, tak dapat melupakan kesengsaraan dan penderitaannya ketika ia kelaparan dulu! Tak dapat ia melupakan kekejaman dan kekikiran kepala kampung she Thio dulu! Orang-orang hartawan yang menumpuk makanan dan uang itu tak mau mengulurkan tangan kepada fakir miskin. Baik, ia akan mengambil makanan dan uang itu dengan jalan mencuri dan setelah itu membagikannya kepada mereka yang kelaparan! Biarlah, ia tidak memperdulikan keadaan sendiri asal ia dapat menolong orangorang yang kini menderita sebagaimana yang telah dideritanya dulu, mereka yang terancam bahaya maut kelaparan, maut yang mengambil jiwa kedua orang tuanya dulu!
Akan tetapi, kembali bayangan Siok Lan yang manis dengan pandangan mata menghina itu terbayang di depan matanya dan tiba-tiba Tan Hong merasa lemah dan bersedih hati. Ia lalu menundukkan muka dan menyembunyikan kepalanya di dalam pelukan kedua tangannya yang memeluk lutut. Disandarkannya punggungnya pada batang pohon besar itu dan akhirnya dapat juga ia tertidur dalam keadaan duduk!
Tiongkok selatan masih terus dilanda banjir hingga persediaan bahan makanan rakyat makin menipis dan kesensaraan makin memuncak. Di mana-mana bahaya kelaparan mengamuk dan merajalela hingga jumlah korban yang tewas akibat kelaparan makin banyak.
Tentu saja, bahaya kelaparan itu tidak dapat mempengaruhi atau mengganggu kesenangan hidup para hartawan dan pembesar yang telah mempunyai persediaan bahan makanan bertumpul-tumpuk di dalam gedung- gedung mereka yang besar. Bahkan, keadaan ini menguntungkan bagi mereka, mendatangkan keuntungan yang bukan sedikit! Kalau dulu mereka membeli bahan makanan yang kini ditumpuk itu dengan harga murah, kini mereka dapat menjualnya dengan harga puluhan kali lipat daripada harga pembelian. Tidak ada perdagangan yang lebih menguntungkan daripada menumpuk dan menyimpan bahan makanan ini! Mudah dan mendatangkan untung besar. Syaratnya hanya modal uang besar dan gudang yang luas! Datangnya setan kelaparan yang merupakan bahaya maut bagi ratusan ribu rakyat miskin ini, bagi para hartawan yang kikir dan licin itu merupakan datangnya dewa-dewa rejeki yang sekali pukul dapat memperlipat- gandakan kekayaan mereka! Dan untuk menutupi kejahatan yang bagi mereka bukan merupakan kejahatan, akan tetapi yang mereka dengungkan sebagai hasil kecerdikan dan kepandaian dagang mereka itu, mereka sengaja memberi sekedar hadlah kepada para handai-taulan yang sebetulnya tak memerlukan sumbangan oleh karena keadaan mereka tak begitu mengkhawatirkan. Sumbangan ini hanya untuk mempropagandakan bahwa mereka adalah orang-orang dermawan besar!
Bahkan, banyak kota-kota besar mendirikan sebuah panitia penolong korban banjir yang terdiri daripada orang- orang kaya dan pembesar-pembesar. Mereka mencari sumbangansumbangan daripada hartawan yang ingin “mendapatkan nama” ini, menuliskan nama para hartawan pada papan di depan gedung panitia agar diketahui oleh umum. Kepalsuan yang menjemukan ini masih belum seberapa hebat, yang lebih celaka lagi ialah bahwa pendapatan hasil sumbangan yang berupa uang dan bahan makanan ini sebagian besar “tersesat” dan “salah jalan” masuk ke dalam kantong-kantong para pengurusnya! Dan bagian yang sangat kecil itu barulah diberikan kepada korban-korban banjir menurut pilihan para pengurus panitia sendiri yang tentu saja mengadakan pilihan sesuka hatinya, berdasarkan sesuatu yang mereka anggap menguntungkan mereka pula! Maka, bukan hal yang dilebih-lebihkan atau isapan jempol belaka apabila diceritakan di sini bahwa dalam masa sukar itu, banyak anak-anak perempuan “ditukarkan” dengan beberapa kati bahan makanan!