Halo!

Maling Budiman Berpedang Perak Chapter 06

Memuat...

“Segala macam penyakit timbul, obat-obat yang dibutuhkan hingga membikin kaya orang dagang obat saja! Sesudah sakit mencari obat, sebelum sakit tak mau menjaga diri, diobati juga apa artinya? Lebih baik menjaga diri sebelum sakit, ini sama sempurnanya dengan berpikir masak dulu sebelum berbuat!”

Setelah berkata demikian, orang tua itu meniup api lilin di atas meja hingga kamarnya menjadi gelap dan terdengarlah suara di pembaringan dijatuhi tubuh orang.

Diam-diam Tan Hong mengakui kebenaran ucapan tukang obat itu dan iapun pernah mendengar pernyataan suhunya, Cin Cin Tojin, bahwa segala macam penyakit datangnya tidak lain ialah dari mulut. Kalau orang dapat menjaga baik-baik dan memilih dengan teliti barang apa yang hendak dimasukkan ke dalam mulut, dan menjaga dengan teliti pula, suara apa yang hendak dikeluarkan oleh mulut, orang demikian itu akan selamat dan bahagia selama hidupnya!

Kemudian Tan Hong teringat akan maksud kedatangannya. Ia tersenyum geli, karena tukang obat itu benar-benar telah membuat ia termenung dan hampir lupa akan maksud kedatangannya. Ia lalu mencari-cari dan memasuki toko dari atas genteng. Ternyata di situ tidak terdapat banyak uang hingga ia hanya mendapatkan paling banyak lima puluh tail perak yang berada di laci meja toko. Uang ini ia keduk semua dan dimasukkan ke dalam sebuah kantong yang memang selalu ia bawa. Ia lalu mulai mencari-cari obat apa yang harus diambilnya? Di situ terdapat beratus-ratus macam obat yang berupa akar, daun- daunan, buahbuahan, kembang-kembang kering, malah banyak pula terlihat binatang-binatang kecil yang sudah kering seperti cecak, kodok dan binatangbinatang lain lagi yang sudah dikeringkan. Tan Hong benar-benar menjadi bingung karena ia tidak tahu harus mengambil yang mana. Ia lalu teringat akan obat jin-som, semacam akar yang amat mahal karena sukar di dapat dan yang terkenal sebagai raja obat dan kabarnya dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Maka ia mulai mencari-cari dan menggeledah semua lemari dan meja dagangan. Akhirnya dapat juga ia menemukan seperti kecil akar yang bentuknya seperti jin- som yang pernah dilihatnya. Tanpa banyak pikir lagi ia memindahkan semua benda ini dari dalam peti ke dalam kantongnya.

Setelah itu, ia lalu keluar dari toko itu dan melompat naik ke atas genteng. Akan tetapi, betapa kagetnya ketika melihat bahwa di atas genteng telah menanti seorang berpakaian serba hitam pula, berdiri dengan tegap, tangan kirinya bertolak pinggang dan tangan kanannya memegang sebatang pedang yang tajam!

“Maling hina dina! Sudah puaskah kau dengan hasil- hasil curianmu?” Orang itu membentak dan Tan Hong merasa makin heran dan kaget karena setelah bersuara orang itu dapat dikenal bahwa ia adalah seorang gadis muda!

Tan Hong merasa maludan tak perlu melayani gadis itu lebih lama, maka ia lalu melompat ke wuwungan lain dengan cepat. Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika ia mendengar sambaran angina dan tahu-tahu gadis itu sudah mengejar dan menghadang pula di depannya! Mungkinkah gadis ini memiliki kepandaian ginkang sedemikian tingginya? Tan Hong lalu memandang dengan penuh perhatian dan pada saat ia menatap wajah gadis itu, terjadi sesuatu dalam dada kirinya. Jantungnya seakan-akan berhenti berdetak dan kedua matanya memandang kagum. Dalam pandangannya, gadis itu sangat cantik jelita, dan gagah pula!

“Maling hina! Kaukira akan dapat melarikan diri dariku? Kembalikan dulu uang dan obat yang kaucuri dari tokoku, baru aku akan pikir-pikir apakah kau dapat diampuni atau tidak!”

Tan Hong merasa mendongkol juga mendengar kesombongan ini, pula ia memang sangat tertarik dan ingin menguji sampai di mana ketinggian ilmu pedang nona cantik ini. Maka ia lalu menggerakkan tangan kanannya ke pundak untuk mencabut keluar gin-kiam atau Pedang Peraknya. Akan tetapi, tiba-tiba ia menjadi pucat oleh karena pedangnya itu telah lenyap dari sarungnya! Ia teringat akan tepukan yang terasa pada pundaknya tadi, maka cepat ia memandang kepada gadis itu dengan tajam. Gadis inikah yang mempermainkannya dan yang telah mencuri pedangnya? Sampai demikian tinggikah ilmu ginkangnya hingga dapat mencuri pedang dari pundaknya tanpa diketahuinya?

Sementara itu, gadis berbaju hitam itu membentak, “Kau hendak melawanku? Cabutlah senjatamu dan rasailah gempuranku!” Ketika melihat bahwa Tan Hong tak mengeluarkan senjata, gadis itu segera memasukkan pedangnya di sarung pedang yang tergantung di pinggangnya, lalu berkata, “Kau tidak memiliki senjata? Baiklah, kau lihat! Untuk menghadapi seorang maling semacam kau saja aku tak perlu mempergunakan senjata!”

Mendengar ucapan ini tahulah Tan Hong bahwa yang mencuri pedangnya bukanlah nona ini, maka ia makin terkejut oleh karena tak pernah dalam sangkaannya bahwa di rumah obat itu terdapat demikian banyak orang pandai. Baru nona ini saja sudah memiliki kegesitan yang mengagumkan, apalagi pencuri pedangnya tadi! Ia makin tertarik dan hendak mengenal nona ini lebih dekat lagi.

“Maaf, nona. Aku tidak menyangka bahwa kau adalah pemilik obat itu. Akan tetapi dengarlah, biarpun andaikata aku tahu, tetap aku hendak mengambil obat dan uang ini untuk keperluan penduduk di dusun sebelah barat yang sedang menderita sakit itu. Kalau kau rela memberikan, terima kasih. Sebaliknya kalau kau hendak memaksa aku mengembalikan obat dan uang yang sudah kucuri ini, jangan kauharapkan?”

“Maling, kalau begitu aku harus mengambilnya sendiri!” Setelah berkata demikian, nona itu maju menyerang dengan sengitnya.

Kembali Tan Hong dibuat kagum dan heran melihat gerakan gadis ini, karena pukulannya benar-benar mempunyai isi tenaga lwekang yang hebat dan kegesitannya mengagumkan pula. Ia cepat berkelit dan oleh karena tangan kirinya memanggul kantong maka gerakannya menjadi kurang leluasa. Ia lalu menurunkan kantong itu di atas genteng, lalu maju lagi dan kini ia dapat mengimbangi kegesitan gadis itu. Setelah bertempur agak lama, maka kekaguman Tan Hong meningkat karena ternyata bahwa gadis itu benar-benar lincah sekali. Gerakannya gesit dan tenaganya cukup mengagetkan, bahkan gerakangerakannya tidak banyak bedanya dengan ilmu silatnya sendiri! Berkali-kali ia terdesak karena ia berkelahi dengan setengah hati sebab ia kuatir kalau-kalau melukai kulit yang halus itu, sebaliknya gadis itu berkelahi dengan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya.

Tan Hong makin tertarik dan kagum. Ia menahan sebuah serangan dengan kebutan tangannya, lalu berkata, “Nona, tahan dulu!” Gadis itu berdiri sambil bertolak-pinggang. “Eh, maling kecil, mengapa kau menahan gerakanku?”

“Nanti dulu nona. Ilmu silatmu sangat tinggi.

Sebenarnya siapakah kau ini?”

-oo0dw0oo-

“Kurang ajar! Apakah kaukira kau cukup berharga untuk berkenalan dengan aku? Aku tidak sudi berkenalan dengan segala maling! Sekarang rasakanlah kehebatan pedangku!” Sambil berkata begitu, nona itu lalu mencabut pedangnya dan mengirim serangan hebat, lupa akan ucapannya tadi yang memandang rendah Tan Hong karena sekarang iapun maklum bahwa maling kecil ini mempunyai kepandaian tinggi dan amat tangguh!

Kini Tan Hong yang sibuk mengelak ke sana ke mari karena ilmu pedang nona itu benar-benar luar biasa dan jauh lebih hebat daripada sekalian lawan yang pernah dijumpainya! Ia tahu bahwa kalau ia bertahan terus, ia tentu akan roboh, maka apa boleh buat, ia mengambil keputusan hendak lari!

Pada saat itu, terdengar suara orang, “Lan-ji, jangan kau menyerang orang yang bertangan kosong dengan mempergunakan senjata!”

Gadis itu melompat mundur dengan muka malu, sementara itu Tan Hong diam-diam memuji kehebatan orang yang baru datang itu, karena ia sama sekali tidak mendengar langkah kakinya!

“He, anak muda, bukankah kau Gin-kiam Gi-to?” tiba- tiba orang yang baru datang itu bertanya. Tan Hong membalikkan tubuh dan memandang. Ternyata orang itu adalah seorang tua dan ketika ia melihat lebih teliti, alangkah heran dan terkejutnya karena orang ini tidak lain adalah orang tua yang berpantun di dalam kamar tadi! Bajunya masih baju sasterawan yang lebar dan besar itu dan lagaknya masih lemah lembut seperti seorang sasterawan tulen. Dan yang membuatnya makin terkejut lagi adalah ketika ia melihat bahwa tangan orang itu memegang sebatang pedang yang tidak lain adalah pedangnya sendiri yang dicuri orang tadi!

Tan Hong tidak berani berlaku sembrono karena maklum bahwa ia menghadapi seorang tokoh yang berilmu tinggi, maka ia lalu memberi hormat dan berkata, “Siauwte yang rendah dan bodoh dengan tak sengaja telah mengganggu cianpwee, kini tak lain hanya menanti jatuhnya hukuman!”

“Ha, ha, ha, anak muda. Kau terlalu merendah. Setelah dapat menghadapi anakku sampai sekian lamanya, boleh diukur ketinggian ilmu silatmu. Nah, ini terimalah pedangmu kembali dan coba kauhadapi ilmu pedang anakku, hendak kulihat sampai di mana kehebatan Gin- kiam Gi-to!” Setelah berkata demikian, orang tua itu menggerakkan jari-jari tangannya dan tahu-tahu pedang Tang Hong sudah melayang terus meluncur ke arah dada pemuda itu! Tan Hong tahu bahwa orang sedang menguji kepandaiannya, maka ia lalu mengulurkan tangan kanan sambil merendahkan diri dan berhasil menyambut gagang pedangnya sendiri yang hendak makan tuan! Ia merasa betapa besar tenaga sentilan jari itu dan makin kagumlah dia!

“Lan-ji, sekarang seranglah lawanmu ini. Tapi berhati- hatilah, kalau tidak kau akan kalah!”

Panas hati gadis itu mendengar kata-kata pujian ayahnya terhadap maling itu, maka ia lalu maju menerjang dengan pedangnya. Sinar pedangnya berkelip-kelip bagaikan bintang berpindah di angkasa hingga Tan Hong terpaksa menggunakan pedangnya menangkis. Bunga api memancar keluar dari perbenturan kedua senjata tajam itu.

Tak lama kemudian kedua orang muda-mudi itu telah bertempur dengan hebat sekali. Keduanya sama kuat dan sama gesit, bahkan ilmu pedang mereka mempunyai gerakan-gerakan yang banyak persamaannya. Tan Hong makin kagum dan gadis itupun kini tahu akan kehebatan Tan Hong hingga ia tidak berani memandang rendah lagi. Setelah bertempur sampai seratus jurus lebih, tanpa ada yang terdesak, tiba-tiba tukang obat itu berseru, “Sudah cukup, tahan!”

Kedua anak muda itupun menaati perintah ini.

Post a Comment