Ketika Lo Siok Lan melihat betapa ayahnya dikeroyok, walaupun ia maklum bahwa kepandaian kedua hwesio gemuk itu jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri, ia lalu membentak, “Bangsat gundul curang! Jangan maju mengeroyok ayahku!” Gadis yang tabah inipun lalu menggerakkan pedangnya hendak membantu ayahnya, akan tetapi si Garuda Sakti berseru, “Jangan Lan-ji! Kaubantu saja suhengmu Tan Hong yang terdesak oleh iblis gundul itu!” Ternyata, biarpun ia sendiri terdesak, jago tua ini masih ingat kepada orang lain dan minta puterinya membantu Tan Hong!
Biarpun dengan hati ragu-ragu, namun gadis itu tidak berani membantah perintah ayahnya. Ketika ia memandang, benar saja bahwa keadaan Tan Hong amat terdesak, sungguhpun pemuda itu telah memainkan pedangnya sedemikian rupa merupakan sebuah benteng baja yang kuat sekali, hingga andaikata disiram airpun takkan membasahi tubuhnya yang terlindung sedemikian rapatnya oleh gerakan pedang! Tanpa mengeluarkan suara apaapa. Siok Lan lalu memutar pedangnya menyerbu dan menahan serangan Beng Kong Hwesio. Hwesio ini terkejut juga, melihat gerakan nona ini tidak kalah hebatnya daripada gerakan Tan Hong yang baginya sukar sekali untuk dirobohkan. Sebaliknya, ketika Tan Hong melihat betapa nona impiannya itu datang membantunya, timbullah semangatnya. Ia serasa dalam mimpi karena saat itu ia dapat bertempur melawan musuh bersama nona yang menjadi idamannya itu!
Dalam kegirangannya, Tan Hong beberapa kali mengerling dan memandang nona itu hingga Siok Lan menjadi tertekan oleh serbuan Beng Kong Hwesio yang mengamuk padanya, karena gerakan Tan Hong menjadi terlambat.
“Ayoh, kauseranglah dia! Mengapa ... lelah?” tegur gadis itu tanpa melihat Tan Hong, namun ia merasa betapa pemuda itu gerakannya agak mengendur.
Tan Hong terkejut dan bagaikan baru sadar dari mimpi ketika mendengar teguran ini. Wajahnya berubah merah karena malu kepada diri sendiri. Ia lalu menggertakkan giginya dan maju dengan semangat berapi-api! Kini keadaan menjadi berbalik. Beng Kong Hwesio yang menghadapi Tan Hong seorang diri saja hanya menang sedikit, tetapi tidak sanggup merobohkannya, kini menghadapi keroyokan Tan Hong dan Siok Lan yang memiliki kepandaian setingkat dengan Tan Hong, tentu saja sangat terdesak dan tak lama kemudian tubuhnya sudah mandi keringat dan napasnya terengah-engah!
Sementara itu, To Tek Hosiang yang menghadapi Ong Kai bertempur dengan seru pula, karena kepandaian si muka hitam inipun hebat pula dan setingkat dengan To Tek Hosiang! Mereka saling serang dengan mati-matian, akan tetapi sebegitu jauh belum terlihat siapa yang akan menang di antara mereka. Melihat pertempuran hebat ini di ruang kelentengnya itu, diam-diam To Tek Hosiang menjadi ragu- ragu dan bingung. Apalagi ketika tadi ia mendengar nama orang tua itu yang disebut si Garuda Sakti, ia menjadi tambah ragu-ragu karena sepanjang pendengarannya, nama ini adalah nama seorang tokoh persilatan yang termasyur sebagai seorang pendekar tua pembela keadilan! Tadinya ia bermaksud mengukur kepandaian Tan Hong si Maling Budiman, tapi sekarang ia telah terlibat dalam pertempuran antara mati dan hidup yang belum diketahui sebab- sebabnya. Oleh karena inilah maka ia berkelahi sambil mundur dan mendekati Tan Hong untuk mengajukan pertanyaan!
Pada saat itu, Beng Kong Hwesio sudah sangat terdesak, akhirnya dengan sebuah tendangan kilat dari Tan Hong yang berhasil mengenai tepat pada tulang kakinya menyebabkan hwesio ini serta-merta roboh terguling. Siok Lan dengan gemas sekali lalu menubruk maju dan menusuk dengan pedangnya! Tan Hong terkejut melihat niat Siok Lan ini, maka cepat-cepat ia memegang tangan nona itu dan berkata, “Nona ... sumoi ... ! jangan sembarangan membunuh!”
Siok Lan merenggutkan tangannya dengan gemas. “Kau tahu apa? Ketiga hwesio cabul ini telah menculik dan membunuh piauwmoi-ku (adik perempuan misan)!” Sambil berkata demikian, gadis ini dengan marah sekali melanjutkan serangannya dan pedangnya menancap ke dada Beng Kong Hwesio. Dan sejurus kemudian terdengar pekik nyaring Beng Kong Hwesio dan ia tewas pada saat itu juga!
Mendengar keterangan gadis ini, Tan Hong terkejut sekali hingga ia berdiri diam tak kuasa mencegah gadis itu membunuh Beng Kong Hwesio, sedangkan To Tek Hosiang ketika mendengar keterangan inipun lalu melompat ke belakang dan berseru, “Tahan dulu! Pinceng tidak tahu bahwa mereka ini hwesio-hwesio jahat!” Si muka hitam yang dalam keadaan masih marah hendak menyerbu terus, akan tetapi Siok Lan berseru, “Tahan ... ! Suheng!” Sungguh heran, si muka hitam yang tinggi besar ini segera menghentikan serangannya, demikian taat dan tunduk ia rupanya terhadap dara itu.
Akan tetapi, pada saat itu terdengar keluhan Lo Cin Ki dan ketika mereka semua memandang, ternyata dalam satu benturan nekad, Lo Cin Ki telah berhasil memukul pundak Bhok Kong Hwesio membuat ia terhuyung ke belakang, akan tetapi sebaliknya, ujung kebutan Kim Kong Hwesio- pun telah menghantam ke belakang dan mengeluarkan darah dari mulutnya!
“Ayah ... !” Siok lan memburu dan memeluk ayahnya, sedangkan Kim Kong Hwesio yang melihat Beng Kong Hwesio sudah tewas dan Bhok Kong Hwesio juga terluka pada pundaknya, secepatnya ia mengangkat tubuh Beng Kong Hwesio yang sudah menjadi mayat itu, lalu mengajak Bhok Kong Hwesio pergi dari tempat itu. Ia berpikir sia-sia saja untuk terus melawan, karena biarpun Lo Cin Ki telah menderita luka berat, akan tetapi di situ masih ada tiga orang muda yang hebat itu, bahkan ada pula To Tek Hosiang yang agaknya hendak membalik dan membantu mereka!
Tan Hong dan Ong Kai hendak mengejar, tetapi karena Siok Lan sedang sibuk menangisi ayahnya, maka mereka berdua tidak berdaya dan merasa tidak sanggup menghadapi Kim Kong dan Bhok Kong hwesio sekalipun ia telah luka, tetapi masih kelihatan gesit dan kuat jua.
Ong Kai yang bertubuh tinggi besar lalu mengangkat tubuh suhunya dan atas petunjuk To Tek Hosiang yang tadi bertempur mati-matian dengannya, jago tua yang terluka itu dibawa masuk ke dalam sebuah kamar di kuil itu. Ternyata bahwa Lo Cin Ki telah mendapat luka yang berbahaya di dalam tubuhnya. Pukulan ujung hudtim itu buruk sekali akibatnya, karena pukulan ini telah mematahkan dua buah tulang iga di dada Lo Cin Ki dan menggoncangkan paru-parunya! Untung Siok Lan juga telah mempelajari ilmu pengobatan, maka setelah memeriksa luka di dada ayahnya yang masih pingsan itu, gadis ini dengan jari-jari tangannya yang halus, tapi cekatan itu lalu menyambung tulang-tulang yang patah dan menggunakan obat gosok dan obat minum yang dimasukkannya ke dalam mulut ayahnya.
Pada keesokan harinya, setelah berkali-kali diminumkan obat, jago tua itu siuman dari pingsannya. Selama ia masih pingsan, semua orang, termasuk juga To Tek Hosiang, diam saja dan tak berani berkata apa-apa, sedangkan Tan Hong dan Ong Kai hanya saling pandang dan menghela napas. Mengapa Tan Hong tidak pergi dari tempat itu? Ia merasa tak sampai hati meninggalkan Siok Lan, sekalipun gadis itu tak sepatah katapun mau berbicara dengannya.
Akan tetapi setelah ayahnya siuman kembali, wajah gadis itu tampak berseri, lalu ia berkata kepada Tan Hong, “Tan-suheng, kiam-hoatmu sungguh hebat!”
Merahlah muka Tan Hong mendengar pujian ini. “Ah ...
! Sumoi, kepandaianku masih belum dapat dibandingkan dengan kepandaianmu yang tinggi itu!”
Sementara itu, setelah Lo Cin Ki siuman, ia lalu menggunakan jari-jari tangannya meraba dadanya. Ia menarik napas panjang ketika ia mengetahui bahwa dua tulang iganya patah, akan tetapi ia memuji kecekatan puterinya yang telah melakukan penyambungan tulang iganya dengan sempurna. Ketika semua orang datang ke kamar, untuk menjenguknya, ia menghela napas dan berkata kepada Tan Hong, “Tan hong! Untung kau telah lebih dulu turun tangan, kalau tidak, mungkin kerugian besar yang akan kita derita.”
Tan Hong mengeluarkan ucapan merendah diri untuk sebagai jawaban atas pujian susioknya ini padanya, sedangkan To Tek Hosiang buru-buru tunduk memberi hormat kepada Lo Cin Ki sambil berkata, “Lo-enghiong, maafkan pinceng yang telah sesat dan telah pula membantu orang-orang jahat. Percayalah, hal ini pinceng lakukan tanpa pinceng sadari, bahkan sampai sekarangpun pinceng masih bingung dan tidak tahu duduk perkara sebenarnya.”
Oleh karena ia tahu bahwa apabila ia banyak berkata- kata, maka hal ini akan mengganggu kesehatannya, Lo Cin Ki lalu mendesak muridnya untuk menceritakan hal yang telah terjadi sehingga mereka datang mencari Pek-hoa Sam- sian untuk membalas dendam.
Ong Kai lalu bercerita yang didengarkan oleh Tan Hong dan To Tek Hosiang dengan penuh perhatian.
***
Ong Kai adalah murid tunggal dari Lo Cin Ki si Garuda Sakti Berkuku Seribu yang telah menamatkan pelajarannya dan bekerja sebagai seorang piauwsu di kota Lui-koan-bun. Ia adalah seorang pemuda yang biarpun beradat kasar, akan tetapi ia mempunyai kecerdikan luar biasa. Sayang sekali, bakatnya dalam hal ilmu silat kurang baik, maka biarpun telah lama ia belajar silat, paling banyak ia hanya dapat mewarisi setengah bagian saja dari kepandaian suhunya, bahkan ia masih kalah oleh Siok Lan.
Lo Cin Ki mempunyai seorang adik perempuan yang telah menjadi janda dan adiknya ini mempunyai seorang anak gadis yang cukup cantik dan halus budi bahasanya. Gadis ini bernama Kiu Hwa dan semenjak kecil menjadi sahabat baik Siok Lan yang lebih tua setahun daripadanya. Siok Lan berbakat baik dalam ilmu silat, sebaliknya Kiu Hwa tidak suka belajar silat, ia lebih suka menjadi seorang gadis yang lemah-lembut. Dan dalam hal kepandaian tangan, ia jauh lebih pandai daripada Siok Lan.
Lo Cin Ki tahu, sekalipun mukanya hitam, akan tetapi hatinya tetap suci bersih. Ia mengusulkan kepada adiknya untuk mengambil Ong Kai si muka hitam itu jadi iparnya. Demikianlah, tak lama kemudian pemuda ini dipertunangkan dengan Kui Hwa.
Beberapa hari yang lalu datanglah malapetaka menimpa diri Kiu Hwa. Pada suatu malam, kota Lui-koan-bun didatangi oleh tiga orang penjahat besar, yang tidak lain ialah Pekhoa Sam-sian, tiga hwesio gemuk berbatin kotor itu. Di sepanjang jalan mereka ini melakukan perbuatan- perbuatan yang keji yaitu, mengganggu anak bini orang.
Walaupun Kiu Hwa adalah seorang gadis lemah-lembut, akan tetapi memiliki kenekatan besar. Melihat ketiga orang hwesio biadab itu berniat jahat terhadap dirinya, ketika ia diculik dan dibawa ke sebuah kelenteng rusak di luar kota. Gadis ini mendapat kesempatan untuk mencabut tusuk kondenya yang terbuat daripada perak yang tajam seperti pisau belati itu dari rambutnya. Dengan nekad Kiu Hwa lalu memasukkan benda tajam itu ke tenggorokannya hingga ia tewas pada saat itu juga!