“Sekarang sambutlah seranganku!” kata Bwee Hwa dan baru saja ucapannya ini keluar, Lui Thong terkejut sekali karena dia sudah kehilangan lawannya! Dia cepat memutar tubuhnya dan benar saja, gadis itu telah berada di belakangnya. Akan tetapi begitu dia membalik, dia hanya melihat bayangan merah berkelebatan dan gadis itu sudah bergerak cepat sekali seperti seekor tawon merah terbang mengelilingi setangkai bunga! Sebentar saja Lui Thong merasa bingung dan pening karena serangan itu datang dari mana-mana, dari sekeliling dirinya. Dia harus menangkis dan mengelak dari serangan yang seolah dilakukan oleh empat- lima orang! Beberapa kali dia kena ditampar dan ditendang oleh Bwee Hwa yang biarpun hanya menggunakan sebagian kecil tenaganya saja, namun cukup mendatangkan rasa nyeri, pedas dan panas!
Riuh rendah sambutan para anggauta gerombolan itu saking heran dan kagum menyaksikan betapa Bwee Hwa merupakan bayangan merah yang berkelebatan di sekeliling tubuh Lui Thong. Pembantu Gak Sun Thai itu seolah menjadi seekor monyet besar yang diserang seekor kumbang dan tidak berdaya sama sekali menghadapi serangan si kecil yang amat gesit itu. Hal inipun terasa sekali oleh Lui Thong dan dia tahu bahwa kalau dilanjutkan, dia akan mendapat malu besar, maka cepat dia berseru.
“Tahan, nona!”
Bwee Hwa menghentikan serangannya dan berdiri di depan lawannya sambil tersenyum.
“Nona, ciang-hwat (silat tangan kosong) nona sungguh lihai, biarpun kuakui bahwa pukulan tanganmu hampir tidak terasa olehku. Sekarang marilah kita mencoba permainan senjata kita!”
Bwee Hwa tersenyum saja dan dalam hatinya ia berkata, “Hemm, manusia tolol! Kau dikasih hati tidak tahu diri. Kalau aku benar-benar menurunkan tangan dengan pengerahan tenagaku, apa kaukira engkau masih dapat bemapas lagi?” Akan tetapi ini hanya suara hatinya, sedangkan mulutnya berkata, “Memang, tenagaku tidak kuat sedangkan tubuhmu terlalu kuat. Kalau engkau masih belum puas dan menggunakan senjata, silakan!”
Lui Thong segera mencabut senjatanya, sebatang golok yang besar dan berat sekali sehingga dua orang anak buah yang dia suruh ambil menggotong golok itu dengan susah payah. Lui Thong menerima golok itu dengan tangan kanan dan dia mendemonstrasikan kekuatannya, memutar golok besar itu disekeliling tubuhnya sehingga terdengar suara berdesingan dan angin menyambar-nyambar!
Diam-dian Bwee Hwa merasa khawatir kalau-kalau Sin-hong-kiam, pedang pusakanya akan rusak jika dipakai melawan senjata berat itu, maka ia lalu ber-kata dengan tenang, “Nah, setelah senjatamu berada di tanganmu, engkau menunggu apalagi? Mulailah dengan seranganmu!”
“Mana senjatamu, nona? Keluarkanlah dan cabut pedangmu itu.”
Bwee Hwa tertawa dengan bebas, tanpa menutupi mulut seperti kebiasaan gadis-gadis yang selalu menutupi mulut bila tertawa agar tampak sopan. “Heh-he-he, untuk apa aku harus mencabut pedangku? Biar kuhadapi golok pemotong babi di tanganmu itu dengan tangan kosong saja!”
Lui Thong menjadi marah sekali, merasa dipandang rendah dan dihina. Akan tetapi karena gadis itu menjadi tamu ketuanya, dia menoleh kepada Gak Sun Thai dengan mata bertanya.
Gak Sun Thai bertanya kepada Bwee Hwa. “Sungguhkah bahwa engkau akan menghadapi golok Lui Thong dengan tangan kosong saja, nona?”
“Kenapa tidak? Empat batang golok seperti itu masih sanggup aku melawannya dengan tangan kosong, apalagi hanya sebatang.” Gak Sun Thai mendongkol juga dan diapun mengangguk kepada Lui Thong. Orang tinggi besar bermuka hitam ini lalu membentak marah.
“Ang-hong-cu, engkau sendiri yang mencari mati!” Dia lalu membuka serangan dengan jurus Hong-cui- pai-hio (Angin Meniup Daun). Golok itu menyambar dengan cepat dan kuat sekali dari kanan mengeluarkan suara berdesing. Jangankan tubuh Bwee Hwa yang ramping itu, biar sebatang pohon siong yang besar pun agaknya akan terbabat putus dengan mudah oleh sambaran golok ini!
Akan tetapi Bwee Hwa dengan gerakan lemas merendahkan tubuhnya hampir berjongkok sehingga golok itu lewat di atas kepalanya dan ketika golok itu menyambar kembali dari arah lain, kini membabat ke arah bawah, dengan lincahnya ia melompat ke atas sehingga kini golok itu berdesing lewat di bawah kakinya. Demikianlah, dengan menggunakan keringanan dan kecepatan gerak tubuhnya, Bwee Hwa dengan mudah menghindarkan diri dari serangan-serangan golok Lui Thong.
Orang tinggi besar itu menjadi semakin penasaran dan marah. Duapuluh jurus telah lewat tanpa dia dapat melukai lawannya. Jangankan melukai, bahkan goloknya itu sama sekali tidak mampu menyentuh ujung baju gadis itu. Rasa penasaran dan marah membuat Lui Thong seolah lupa bahwa pertandingan itu sebetulnya hanya merupakan “pertandingan persahabatan” untuk menguji ilmu silat masing-masing.
Kemarahan membuat dia bernafsu sekali untuk merobohkan lawan, kalau perlu membunuhnya! Dia lalu membentak nyaring dan segera memainkan ilmu andalannya, yaitu Go-bi To-hoat (Ilmu Golok Go-bi- pai). Goloknya diputar cepat bagaikan kitiran angin sehingga merupakan gulungan sinar putih yang menyambar-nyambar ke arah tubuh Bwee Hwa.
Akan tetapi Bwee Hwa mengeluarkan suara tawa lirih dan iapun mengerahkan gin-kangnya sehingga tubuhnya menjadi bayangan merah yang berkelebat di antara sinar golok yang putih bergulung-gulung itu. Karena bayangan merah itu bergerak lebih cepat dan gulungan sinar putih mengejarnya, maka seolah gulungan sinar putih itu dituntun oleh bayangan merah.
Pemandangan yang indah dan aneh ini amat menarik perhatian, membuat semua orang yang menonton merasa kagum. Terutama para anggauta gerombolan itu merasa gembira karena mereka mengira bahwa sekali ini Lui Thong berhasil mendesak gadis itu.
“Aughh……!” Tiba-tiba terdengar suara Lui Thong mengeluh dan semua penonton terbelalak. Semua terjadi begitu cepat dan di luar dugaan mereka.
Tiba-tiba saja, setelah terdengar Lui Thong mengeluh itu, golok besar itu terlepas dari tangan Lui Thong, jatuh berkerontangan di atas tanah dan tubuh tinggi besar itu kini berdiri kaku bagaikan telah berubah menjadi arca! Ternyata dia telah terkena totokan jari tangan Bwee Hwa pada jalan darah ta-tui-hiat-to sehingga tubuhnya menjadi kaku tidak mampu bergerak.
Setelah merasa yakin bahwa semua orang melihat jelas keadaan Lui Thong yang kaku tertotok, Bwee Hwa lalu melangkah maju, memungut golok yang besar dan berat sekali itu. Akan tetapi dengan amat mudahnya seolah golok itu seringan ranting kering, Bwee Hwa melontarkan senjata itu ke atas.
Semua orang memandang ke atas dan melihat betapa golok itu melayang tinggi sekali! Kemudian mereka melihat golok itu meluncur turun dengan cepat dan dengan ujungnya yang tajam runcing di bawah, golok itu meluncur ke arah kepala Bwee Hwa. Para wanita dan kanak-kanak merasa ngeri bahkan ada yang menjerit ketika melihat betapa golok itu seolah akan menimpa dan menembus kepala gadis itu. Akan tetapi dengan cepat tangan kanan Bwee Hwa bergerak dan tahu-tahu ia telah menangkap golok itu pada ujungnya yang runcing dan tajam. Tanpa banyak cakap ia lalu menggunakan gagang golok itu untuk membuka totokan pada tubuh Lui Thong sehingga tubuh itu dapat bergerak lagi.
Lui Thong yang dapat bergerak lagi meringis kesakitan karena kekakuan tu-buhnya tadi membuat urat- uratnya terasa nyeri. Ketika Bwee Hwa menjulurkan golok itu kepadanya, dia menerimanya lalu menjura dalam sambil berkata lirih.
“Sungguh aku yang bodoh telah mendapat banyak pelajaran darimu, nona.” Setelah berkata demikian, dengan menundukkan mukanya dia menyeret goloknya dan mengundurkan diri.
Bwee Hwa kini memandang kepada Gak Sun Thai dan bertanya, “Paman Gak, apakah ada lagi yang ingin menguji kepandaianku? Marilah kalau ada, selagi aku ada semangat. Kalau aku sedang malas, dipaksapun aku tidak mau bertanding secara main-main begini.”
Seorang pembantu lain segera melangkah maju menghadapi Bwee Hwa. “Gak-twako, biarkan aku mencoba kepandaian nona ini.” Gak Sun Thai juga menganggukkan kepala tanda setuju.
Orang itu bertubuh pendek kurus, berusia kurang lebih empatpuluh tahun. Hidungnya mancung dan mukanya meruncing seperti muka burung, matanya yang juling itu bersinar tajam. Dengan sikap digagah-gagahkan dia menjura kepada Bwee Hwa dan berkata, “Ang-hong-cu, aku adalah pembantu Gak-twako. Namaku Lie Hoat dan julukanku Kang-jiauw-eng (Garuda Kuku Baja).” Berkata demikian, Lie Hoat sengaja membentuk kedua tangannya seperti cakar garuda dan dia memang seorang yang mengandalkan ketangguhannya dengan ilmu pukulan Tiat-see-ciang (Tangan Pasir Besi).
Dalam melatih ilmu ini, dia menggunakan pasir besi dari yang dingin sampai yang panas dengan meremas-remas pasir besi itu. Latihan ini membuat kedua tangannya berwarna hitam dan karena dia seorang lwe-keh (ahli tenaga dalam), maka dapat dibayangkan betapa dahsyatnya kedua tangan itu. Pukulan Tiat-see-ciang itu dapat meremukkan tulang menghanguskan kulit daging. Cengkeramannya cukup kuat untuk menghancurkan batu karang yang keras!
“Hemm, apakah engkau juga hendak bertanding menggunakan senjata?” tanya Bwee Hwa.
“Nona, sungguh gagah perkasa. Aku tidak memiliki kepandaian atau senjata apapun, kecuali hanya mengandalkan sepasang tangan yang lemah ini.”
“Kedua tanganmu yang mengandung ilmu Tiat-see-ciang itu mana bisa dibilang lemah?” kata Bwee Hwa dan Lie Hoat terkejut bukan main. Dia merasa heran bagaimana gadis muda ini sekali pandang sudah dapat mengenal ilmu simpanannya.
Dia tidak tahu bahwa guru gadis itu, Sin-kiam Lojin, pernah menerangkan dengan jelas kepada muridnya itu tentang banyak macam ilmu yang aneh dan berbahaya dari orang-orang di dunia kang-ouw, termasuk Tiat-see-ciang ini. Bwee Hwa sudah hafal akan ilmu-ilmu itu dengan segala cirinya. “Ah, sungguh nona memiliki pandangan yang tajam sekali, dapat mengenal ilmuku sebelum kupergunakan! Sebetulnya siapakah nona ini dan siapakah guru nona yang mulia?”
Melihat sikap si katai yang sopan ini, Bwee Hwa menjawab sejujurnya. “Tadi aku sudah memperkenalkan namaku. Namaku Bwee Hwa dan orang menjuluki aku Ang-hong-cu. Adapun siapa guruku tidak perlu kuperkenalkan namanya.” Gadis itu memang tidak ingin menyebut nama suhunya karena ia menganggap bahwa tidak perlu nama suhunya diketahui oleh golongan perampok seperti ini.
Mendengar jawaban dan melihat sikap Bwee Hwa, Lie Hoat maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang gadis kangouw yang masih muda dan yang bersikap polos dan jujur. Dia lalu berkata, “Nona, sudilah engkau memberi pelajaran untuk menambah pengalaman dan memperluas pengetahuanku yang dangkal.”