Halo!

Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Heng-san Chapter 14

Memuat...

“Bukan maksudku untuk mencampuri urusan rumah tangga anak buahmu, akan tetapi setelah aku memasuki perkampunganmu, aku melihat bahwa anak buahmu juga merupakan orang-orang biasa saja yang mempunyai keluarga baik-baik. Mengapa engkau mengajak mereka untuk melakukan kejahatan dan menjadi perampok? Bukankah lebih baik kalau kalian melakukan pekerjaan yang halal dan tidak melakukan pelanggaran dan tidak mengganggu orang lain?”

Mendengar ucapan gadis yang merupakan nasihat yang seolah keluar dari mulut seorang pendeta tua itu, Gak Sun Thai tersenyum geli, lalu dia menghela napas panjang.

“Memang, dipikir sepintas lalu saja memang demikianlah keadaannya dan kata-katamu tadi benar sekali, nona. Akan tetapi dari ucapanmu tadipun mudah diketahui bahwa engkau masih belum banyak mengetahui tentang keadaan orang-orang golongan kami. Nona tadi mengatakan bahwa lebih baik mencari pekerjaan yang halal dan tidak melanggar peraturan pemerintah, begitukah? Coba tolong beritahu, pekerjaan apakah yang dapat dikerjakan para anak buahku yang terdiri dari orang-orang kasar dan bodoh itu?”

“Bukankah banyak sekali lapangan pekerjaan? Misalnya jadi pelayan, menjadi petani dan lain-lain,” kata Bwee Hwa, tentu saja secara ngawur karena ia sendiri juga tidak banyak mengetahui tentang lapangan pekerjaan!

Kembali Gak Sun Thai tersenyum, “Ketahuilah, nona. Anak buahku yang puluhan orang banyaknya dan kini menjadi penghuni perkampungan ini bukan dilahirkan sebagai perampok. Mereka itu tadinya juga petani-petani, nelayan-nelayan dan pekerja-pekerja kasar. Akan tetapi, apakah yang dihasilkan oleh pekerjaan mereka itu? Hanya kelaparan bagi keluarganya. Bahkan untuk mengenyangkan perut sendiri sehari-hari saja kadang-kadang gagal. Apalagi untuk membeli pakaian yang pantas dan lebih-lebih lagi untuk menghasilkan rumah yang memadai. Pekerjaan apakah bagi orang kasar dan bodoh pada dewasa ini yang dapat cukup menghasilkan pangan-sandang-papan yang cukup beradab? Banyak anggauta keluarga mereka yang mati kelaparan karena kurang makan atau mati karena penyakit karena tiada biaya untuk pengobatan. Bertani tanpa memiliki tanah berarti hanya menjadi buruh tani yang diperas tenaganya habis-habisan oleh para majikan pemilik tanah seperti kerbau saja. Sedangkan pekerjaan- pekerjaan kasar lainnya amatlah sulitnya, harus bersaing hebat karena banyaknya penganggur sehingga digaji sedikitpun terpaksa diterima dan akibatnya, penghasilan kecil sekali dan tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Ah, nona, sungguh engkau tidak banyak mengetahui tentang keadaan rakyat kecil yang miskin pada dewasa ini.”

Mendengar ucapan panjang lebar itu, Bwee Hwa tertegun. Seakan baru terbuka matanya dan ia merasa heran sekali. Timbul pertanyaan dalam hatinya mengapa begitu banyak kesengsaraan di antara manusia, dan mengapa hanya untuk sekedar makan kenyang saja demikian sulitnya bagi banyak manusia? Akan tetapi banyak pula manusia yang hidupnya demikian kaya raya, bahkan berlebihan! Salah siapakah ini?

Di satu pihak, beberapa orang memiliki tanah beratus hektar luasnya, di lain pihak banyak orang yang tidak memiliki tanah secuilpun. Di satu pihak, beberapa orang memiliki rumah gedung ratusan buah banyaknya. Di lain pihak, banyak orang harus cukup puas tinggal di gubuk yang reyot dan bocor, bahkan banyak pula yang tidak memiliki tempat tinggal. Di satu pihak, beberapa orang menyimpan bahan makanan sampai membusuk dalam gudang karena terlalu banyak dan terlalu lama disimpan, di lain pihak banyak orang kelaparan. Di satu pihak, beberapa orang yang tidak pernah mengeluarkan keringat hidup kaya raya, hartanya berlebihan. Di lain pihak, banyak orang yang memeras keringat membanting tulang setiap hari, hidup miskin dan papa, pakaian tak utuh makan tak kenyang.

Di mana letak semua kesalahan ini? Tidak dapatkah yang berlebihan itu membuka jalan bagi yang kekurangan sehingga penghasilan mereka meningkat dan cukup untuk biaya hidup sehari-hari? Siapa yang berkewajiban mengatur semua ini?

“Paman Gak, apakah keadaan semacam ini tidak dapat diubah?”

Gak Sun Thai tersenyum. “Hemm, siapakah yang harus mengubah, nona?”

“Tentu saja pemerintah! Pemerintah yang harus mengubahnya, mengatur agar terdapat lapangan kerja yang cukup dan agar penghasilan rakyat meningkat sehingga setiap orang pekerja berpenghasilan cukup untuk biaya hidup keluarganya.”

Gak Sun Thai tertawa. “Ha-ha-ha, pendapatmu itu benar akan tetapi lucu, nona.”

“Lucu? Kenapa? Bukankah sudah semestinya kalau pemerintah mengatur agar rakyat hidup sejahtera?”

“Hemm, engkau belum banyak berkelana dan tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya. Lihat saja kehidupan para pembesar tinggi, terutama di kota raja. Mereka hidup berdampingan dan bergandeng tangan dengan para hartawan, saling bantu, bahu membahu membagi rejeki yang berlebihan. Memikirkan keadaan rakyat kecil yang miskin? Mana mungkin? Mereka hanya memikirkan bagaimana untuk menggendutkan perut sendiri! Bagaimana kita dapat mengharapkan pemerintah penjajah untuk melindungi rakyat bangsa Han? Penjajah Mongol itu hanya memikirkan diri sendiri, keluarga sendiri, bahkan memeras rakyat dengan berbagai peraturan yang menekan dan berbagai pajak yang memberatkan. Ahh, jangan mengharapkan kebaikan dari pemerintah penjajah Mongol, nona. Ah, kita sudah bicara banyak akan tetapi nona belum memperkenalkan nama. Bolehkah kami mengetahui nama nona?”

“Namaku Bwee Hwa.”

“Dan she (marga) nona yang mulia?” Bwee Hwa tidak mau bercerita banyak tentang dirinya. “Jangan tanyakan itu. Sebut saja aku Ang-hong- cu.”

“Si Tawon Merah? Ah, julukan yang tepat sekali. Nona masih muda dan cantik namun dapat bergerak lincah seperti seekor lebah, dan dengan pakaian yang serba merah maka cocok sekali kalau nona berjuluk Ang-hong-cu. Ang-hong-cu, karena engkau kami anggap sebagai seorang tamu agung, sekarang kami mohon sudilah kiranya engkau memberi kehormatan kepadaku yang bodoh untuk menyaksikan kehebatan merasakan kelihaian kepandaianmu.”

Bwee Hwa mengerti apa yang dimaksudkan kepala gerombolan itu dan ia mengangguk. Mereka sudah selesai makan dan Bwee Hwa merasa puas akan perjamuan yang membuatnya merasa kenyang dan tubuhnya terasa segar itu. “Engkau hendak menguji kepandaian, paman? Boleh, boleh! Silakan memberi pelajaran kepada aku yang muda.”

“Bagus ! Marilah kita keluar, nona. Pekarangan rumah ini cukup luas sehingga kita dapat bermain-main dengan leluasa!”

Bwee Hwa menurut dan mengikuti tuan rumah keluar dari ruangan itu. Memang benar, pekarangan rumah itu cukup luas. Ketika para anak buah gerombolan mendengar bahwa tamu mereka, gadis perkasa berjuluk Ang-hong-cu itu hendak pi-bu (mengadu ilmu silat) dengan para pemimpin mereka, berbondong-bondong mereka datang dan berdiri melingkari pekarangan itu. Bahkan para wanita dan anak-anak tidak mau ketinggalan. Semua keluarga anak buah gerombolan berkumpul semua di pekarangan itu.

Gak Sun Thai mempunyai tiga orang pembantu yang terkenal memiliki ilmu silat yang tangguh. Tingkat kepandaian mereka hanya sedikit berada di bawah tingkat ilmu silat Gak Sun Thai. Setelah semua anak buah dan keluarganya berjongkok dan berdiri dengan tertib, Gak Sun Thai lalu berkata kepada tiga orang pembantunya yang berdiri di dalam lingkaran itu sambil berpangku tangan.

“Saudara-saudara, kalian sudah mendengar bahwa nona gagah perkasa yang berjuluk Ang-hong-cu ini memiliki ilmu silat yang tinggi. Kini ia berkenan untuk memberi pelajaran kepada kita, maka siapakah di antara kalian bertiga yang menjadi orang pertama suka menerima pelajarannya?”

Seorang di antara tiga pembantu itu, yang bertubuh tinggi besar dan tampak kuat sekali melangkah maju. “Gak-twako (Kakak Gak), biarlah aku mencoba-coba tenagaku melawan Ang-hong-cu!”

Gak Sun Thai mengangguk.

Orang tinggi besar ini berusia kurang lebih empatpuluh lima tahun, bernama Lui Thong. Dia memang terkenal memiliki tenaga luar yang hebat melebihi tenaga seekor kerbau jantan. Kepandaian silatnyapun cukup tinggi dan senjatanya yang ditakuti lawan adalah sebuah twa-to (golok besar).

Bwee Hwa menghadapi Lui Thong yang mukanya tampak bengis dengan kulit kasar hitam itu dengan tenang. Melihat ketenangan gadis itu, diam-diam Lui Thong merasa heran. Sukar dipercaya bahwa gadis yang begitu muda dan cantik jelita, berkulit halus mulus itu memiliki ilmu silat yang tangguh.

“Ang-hong-cu, aku bernama Lui Thong dan orang-orang menyebutku Twa-to Hek-gu (Kerbau Belang Bergolok Besar), seorang di antara para pembantu Gak-twako.” “Hemm, Paman Lui Thong, engkau ingin bertanding dengan tangan kosong ataukah dengan senjata?” tanya Bwee Hwa dengan sikap acuh tak acuh.

Lui Thong mengerutkan alisnya yang tebal. Dia sudah mendengar bahwa gadis ini selain lihai ilmu silatnya, juga wataknya angkuh. Pertanyaannya tadi saja mengandung sikap meremehkannya.

“Nona, engkau adalah seorang gadis muda berkulit halus, tidak seperti aku yang kasar, maka tidak baik kalau kita bermain-main dengan senjata yang tak bermata dan dapat melukai kulitmu yang halus. Biarlah kita menggunakan tangan kosong saja sehingga pukulanku dapat ditarik kembali sebelum melukaimu.”

Bwee Hwa maklum bahwa biarpun kelihatan kasar dan bodoh, namun sebenarnya orang tinggi besar bermuka hitam ini cukup cerdik. Memang, dalam pertandingan tangan kosong, tenaga besar amatlah berguna, tidak demikian kalau pertandingan dilakukan dengan senjata tajam yang tidak begitu mengandalkan tenaga besar karena dengan tenaga kecilpun tetap saja senjata tajam akan dapat melukai lawan. Agaknya alasan inilah yang membuat Lui Thong yang bertenaga besar itu memilih pertandingan tangan kosong di mana dia dapat memanfaatkan tenaga besarnya untuk mencapai kemenangan! Akan tetapi Bwee Hwa tetap tenang saja dan sama sekali tidak merasa gentar.

“Kalau begitu, engkau menunggu apalagi? Silakan maju dan mulailah dengan seranganmu!” gadis itu menantang dan sama sekali tidak memasang kuda-kuda, melainkan berdiri santai saja walaupun tanpa ada yang mengetahui, seluruh urat syarafnya sudah siap siaga dengan waspada.

Berbeda dengan sikap Bwee Hwa yang santai, Lui Thong mulai bergaya. Dia menggulung tinggi kedua lengan bajunya sehingga tampak kedua lengannya yang dipenuhi otot yang melingkar-lingkar. Dia menggerak-gerakkan kedua tangannya sehingga terdengar bunyi berkerotokan dalam buku-buku jarinya! Setelah membuat gerakan pembukaan atau kuda-kuda yang kokoh kuat, dia membentak nyaring.

“Sambut seranganku ini! Haaaiiitt !”

Lui Thong menerjang maju dengan kedua lengan dikembangkan ke atas dan kedua tangannya membuat serangan seperti menerkam dari kanan kiri, mengarah kedua pundak gadis itu. Dia menggunakan jurus yang disebut Hek-houw-pok-yang (Macan Hitam Menerkam Kambing) yang walaupun merupakan serangan keras namun karena didukung tenaga raksasa maka dapat membahayakan lawan yang diserang.

Namun Bwee Hwa yang memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) tingkat tinggi, dengan lincah dapat mengelak. Serangan susulan dilakukan bertubi-tubi oleh Lui Thong, sampai lima jurus namun semua dapat dihindarkan Bwee Hwa dengan elakan.

Post a Comment