“Brett......!” Bajunya terkena cakaran dan robek di bagian pundaknya. Biarpun kulit pundaknya tidak terluka, namun hal ini membuat Bwee Hwa menjadi marah sekali. Ia lalu mengambil senjata rahasianya, yaitu hong-cu-ciam, jarum-jarum lembut dan cepat ia menyerang dua ekor burung itu dengan jarum- jarumnya.
“Wuuuttt sut-sut-sut!” Jarum-jarum itu lenyap di balik bulu-bulu tebal burung-burung itu. Bulu itu
terlalu tebal dan lemas licin sehingga jarum-jarumnya tidak mampu menembus, tidak sampai mengenai kulit. Bwee Hwa menjadi bingung. Untuk membidik ke arah muka, gerakan mereka terlalu cepat ketika menyambar turun.
Bwee Hwa terdesak hebat dan ia menjadi bingung dan lelah sekali. Kalau terus-menerus ia harus menghindarkan serangan mereka yang berbahaya itu, akhirnya ia tentu akan kehabisan tenaga dan tidak akan mampu membalas serangan sama sekali. Karena tidak melihat jalan lain, Bwee Hwa lalu mengambil keputusan untuk nekat dan mengadu nyawa mati-matian. Tiba-tiba ia menjatuhkan dirinya telentang dengan tangan kanan siap memegang pedang dan tangan kiri menggenggam jarum-jarumnya. Seluruh urat syarafnya menegang dan siap siaga.
Sepasang rajawali itu melihat bahwa calon mangsa mereka telah roboh seolah tidak berdaya. Mereka segera memekik penuh kemenangan, beberapa kali terbang mengitari tubuh Bwee Hwa lalu mereka menukik ke bawah sambil memekik nyaring, seolah sedang berlumba untuk menerkam ke arah leher dan dada gadis itu, untuk berpesta pora menikmati daging dan darah korban itu!
Akan tetapi pada detik terakhir, ketika paruh kedua ekor burung itu sudah dekat dengan tubuh Bwee Hwa, tiba-tiba terdengar pekik melengking mengerikan. Seekor rajawali, yang terbang lebih cepat dan lebih dekat dengan tubuh Bwee Hwa, tahu-tahu terpenggal kepalanya, disambar pedang Sin-hong-kiam. Gerakan tangan kanan Bwee Hwa demikian cepat dan sama sekali tidak terduga oleh burung yang sudah kegirangan dan bemafsu itu sehingga tahu-tahu kepalanya telah terpisah dari tubuhnya! Sedangkan burung kedua, tiba-tiba merasa nyeri pada kedua matanya yang disambar banyak jarum kecil lembut sehingga kedua matanya menjadi buta seketika!
Semua telah terjadi dengan cepat dan dengan gerakan kilat Bwee Hwa sudah menggerakkan tubuhnya bergulingan menyingkir dari tempat ia telentang tadi sampai beberapa meter jauhnya. Untung ia dapat bergerak cepat lalu melompat bangun berdiri. Dengan mata terbelalak ia melihat betapa rajawali yang sudah terpenggal kepalanya itu masih mencengkeram ke bawah sehingga tanah dan batu berhamburan. Kalau ia tidak cepat menyingkir, tentu tubuhnya yang akan tercabik oleh sepasang cakar burung yang sudah tak berkepala lagi itu.
Kemudian burung kedua, yang sudah buta matanya, menerkam ke bawah, mengenai tubuh burung pertama. Cakar dan paruhnya mematuk dan mencabik sehingga tubuh kawannya itu terkoyak-koyak, darah muncrat ke mana-mana! Bulu burung berhamburan bersama daging dan darah. Rajawali buta itu agaknya menyadari bahwa yang dicabik-cabiknya itu bukan tubuh manusia melainkan tubuh kawannya sendiri. Dia memekik-mekik mengerikan dan menyabet-nyabetkan sayapnya ke kanan kiri membabi buta dan suaranya berubah seperti raungan penuh sakit dan kesedihan.
Melihat keadaan burung itu, Bwee Hwa yang sejak tadi menonton dengan hati merasa ngeri, menjadi tidak tega juga. Kini dia teringat akan ucapan gurunya bahwa apa yang dinamakan binatang buas itu sebenarnya sama sekali tidak dapat dikatakan jahat.
Seperti burung rajawali ini. Kalau dia suka membunuh mahluk lain termasuk manusia, hal itu dilakukan bukan karena dia berhati jahat, melainkan dia menyerang dan membunuh untuk mempertahankan hidup, untuk mengisi perutnya yang lapar. Membunuh karena harus membunuh untuk dapat makan!
Rajawali ini tidak suka makan daun atau buah, makanannya memang daging dan darah, karena itu dia harus membunuh mahluk lain termasuk manusia agar tidak mati kelaparan. Dia tidak jahat!
Ia memandang dan merasa kasihan. Didekatinya burung buta itu dari belakang dan sekali pedangnya menyambar, leher burung itupun putus dan tubuh burung itu roboh dan mati.
Setelah semua itu berakhir, barulah Bwee Hwa menjatuhkan diri di bawah pohon dan bersandar pada batang pohon sambil mengatur pernapasannya yang masih terengah-engah karena kelelahan dan ketegangan. Ia memandang ke arah bangkai dua ekor burung itu dan diam-diam ia memuji keindahan dan kehebatan dua ekor burung rajawali itu. Selama hidupnya baru satu kali ini ia melihat burung yang demikian indah dan demikian kuat. Kalau saja tadi ia tidak mempergunakan akal yang nekat dan berbahaya, agaknya sekarang mungkin saja tubuhnya sudah dicabik-cabik dan sepotong demi sepotong masuk ke dalam perut dua ekor burung itu. Ia bergidik ngeri membayangkan hal itu.
Setelah mengaso sejenak dan merasa tangannya telah pulih kembali, Bwee Hwa lalu mengambil buntalan pakaiannya yang tadi ia lepas dan lemparkan ke bawah pohon sebelum ia memanjat pohon itu. Ia menggendong lagi buntalan pakaiannya dan melanjutkan perjalanannya. Ia ingin keluar dari hutan lebat itu sebelum hari menjadi gelap. Karena tidak mengenal daerah itu, ia berjalan ke depan dengan ngawur saja.
Akan tetapi tidak lama kemudian, hampir ia berseru gembira ketika ia melihat sebuah tempat terbuka di dalam hutan itu. Hutan di bagian itu sudah dibuka dan menjadi semacam ladang yang ditumbuhi tanaman sayur-sayuran, bahkan ada banyak pohon buah yang sudah digantungi buah-buahan yang masak. Ladang ini menunjukkan bahwa di situ terdapat orang-orang dan tidak jauh dari perkampungan! Karena perutnya lapar, maka ia tidak perduli akan kenyataan bahwa pohon-pohon buah itu tentu ada pemiliknya. Ia memetik beberapa butir buah pir dan memakannya dengan enak!
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar langkah dan gerakan orang di sekelilingnya dan tak lama kemudian bermunculan belasan orang laki-laki yang berpakaian kasar dan berwajah bengis. Juga mereka itu tampak bertubuh kuat dan di antara mereka terdapat seorang yang melihat pakaiannya tentu memiliki kedudukan yang lebih tinggi di antara mereka. Seorang laki-laki berusia kurang lebih empatpuluh tahun, tubuhnya pendek tegap dan dia membawa senjata sebuah tombak bergagang panjang yang lebih tinggi daripada tubuhnya yang katai.
Kini belasan orang itu mengepung Bwee Hwa yang sudah tidak makan lagi. Dengan tenang gadis yang tabah itu menyapu mereka dengan pandang matanya dan ia mengerutkan alisnya ketika melihat betapa belasan orang laki-laki itu memandangnya dengan mulut menyeringai dan mata seolah hendak menelannya bulat-bulat!
Orang pendek gempal yang agaknya menjadi pemimpin gerombolan itu juga memandang kepadanya dengan penuh perhatian dan keheranan. Siapa takkan heran melihat seorang gadis muda belia seorang diri berada di dalam daerah hutan yang lebat dan liar itu? Akan tetapi ketika kepala gerombolan itu melihat sebatang pedang tergantung di punggung Bwee Hwa, dia dapat menduga bahwa gadis itu tentu seorang gadis kang-ouw (sungai telaga atau dunia persilatan) yang memiliki ilmu kepandaian silat sehingga berani merantau seorang diri karena merasa mampu menjaga dan membela diri.
Dia dapat menduga ini, akan tetapi tetap saja dia merasa heran dan kagum karena keberanian gadis itu sungguh berlebihan. Dia lalu menegur dengan suara yang tinggi mirip suara wanita.
“Nona, engkau berjalan seorang diri di daerah kami, hendak pergi ke manakah?”
Bwee Hwa sudah merasa sebal melihat sikap para anak buah gerombolan itu, akan tetapi ia memaksa diri bersabar ketika menjawab. “Aku hendak pergi ke mana saja kakiku membawaku. Ada urusan apakah kalian menghadangku dan bertanya-tanya?”
Para anak buah gerombolan itu tersenyum dan ada yang tertawa mendengar jawaban Bwee Hwa yang mereka anggap lucu. Pemimpin gerombolan itupun tersenyum dan berkata lagi.
“Memang engkau yang memiliki kaki yang indah mungil itu, tentu saja engkau pula yang menentukan ke mana hendak melangkah dan pergi. Akan tetapi ketahuilah, nona, bahwa di sini bukan tempat untuk berjalan-jalan dan bertamasya. Hutan-hutan di sini amat liar dan terdapat banyak sekali binatang buas, di antaranya terdapat burung-burung rajawali raksasa yang ganas dan suka makan orang!”
Bwee Hwa tersenyum mengejek, akan tetapi dalam pandangan para anggauta gerombolan itu, senyum ini tampak manis bukan main.
“Engkau maksudkan kim-gan-tiauw (rajawali bermata emas)? Hemm, baru saja aku membunuh dua ekor!”
Meledaklah tawa semua anggauta gerombolan itu mendengar ucapan gadis itu. Siapa dapat percaya akan kata-kata itu? Membunuh dua ekor kim-gan-tiauw? Sedangkan beberapa hari yang lalu mereka mengeroyok seekor kim-gan-tiauw saja tidak berhasil melukai, apalagi membunuhnya, bahkan tiga orang di antara mereka tewas! Dan gadis kecil ini seorang diri membunuh dua ekor?
Merasa ia ditertawakan, Bwee Hwa membentak marah, “Kalian menertawakan siapa?”
Seorang anak buah gerombolan yang bertubuh tinggi besar dan tangannya memegang sebatang golok, berkata dan tertawa terkekeh-kekeh.
“Heh-heh-heh, mungkin yang kaubunuh itu dua ekor burung gereja! Wah, kalau gadis ini menjadi biniku, aaahh betapa senangnya hatiku dan akan amanlah hidupku. Ha-ha-ha……”
Belum juga ia menutupkan kembali mulutnya, tiba-tiba dia memekik ngeri dan dia roboh dengan mata mendelik karena bagaikan kilat menyambar sebatang hong-cu-ciam (jarum tawon) telah memasuki mulutnya yang ternganga dan menancap di langit-langit mulutnya! Ini terjadi karena ketika dia tertawa tadi, mulutnya terbuka lebar dan dia tertawa sambil mengangkat muka ke atas sehingga langit-langit mulutnya menghadap ke depan!