Halo!

Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Heng-san Chapter 11

Memuat...

“Thio-taijin, apa yang dikatakan Hwa-moi tadi memang benar. Kami masih mempunyai banyak urusan masing-masing yang harus diselesaikan. Karena itu, sayapun mohon pamit!”

Jaksa Thio dan isterinya mencoba untuk menahan. Akan tetapi Bwee Hwa tidak dapat ditahan. Bahkan ketika Jaksa Thio menawarkan pemberian uang untuk bekal, baik Bwee Hwa maupun Siong Li menolak dengan halus. Mereka berdua lalu pergi meninggalkan Jaksa Thio dan isterinya yang hanya dapat mengikuti mereka dengan pandang mata heran dan kagum.

Setelah tiba di luar kota Ki-ciu, Bwee Hwa berhenti di sebuah perempatan dan ia berkata, “Li-ko, sekarang kita harus berpisah di sini. Engkau teruskanlah perjalananmu dan aku akan melanjutkan perjalananku sendiri.”

Siong Li tidak memperlihatkan rasa kecewa yang menyelubungi hatinya. Dia masih tersenyum ketika berkata, “Hwa-moi, apa salahnya kalau kita mengambil jalan bersama? Apakah engkau mempunyai tujuan tertentu?”

Bwee Hwa menggeleng kepala. “Kurasa lebih baik kita mengambil jalan masing masing, Li-ko. Tidak baik kalau engkau berjalan denganku karena hal itu akan mengakibatkan urusanmu sendiri terbengkalai. Aku hendak mencari seseorang.”

Ong Siong Li maklum bahwa gadis itu merasa tidak enak kalau harus melakukan perjalanan bersama dia dan diapun maklum akan hal ini, karena sebagai seorang gadis, tentu saja Bwee Hwa merasa malu untuk melakukan perjalanan bersama seorang pemuda yang sama sekali tidak ada hubungan apapun dengannya. Bahkan berkenalanpun baru saja! Dia menghela napas panjang dan bertanya.

“Tidak apalah kalau kita harus berpisah, Hwa-moi. Mungkin dan mudah-mudahan saja kelak kita akan dapat saling berjumpa kembali. Akan tetapi tentang orang yang kau cari itu, siapakah dia kalau aku boleh mengetahuinya?”

“Namanya akupun tidak tahu. Aku hanya mengetahui bahwa julukannya adalah Kauw-jiu Pek-wan (Lutung Putih Tangan Sembilan).”

Setelah berpikir dan mengingat-ingat berapa lamanya, Siong Li lalu berkata, “Aku pernah mendengar nama julukan yang cukup terkenal itu, akan tetapi aku belum pernah bertemu dengan orangnya.”

“Di mana dia tinggal?” tanya Bwee Hwa, ingin tahu sekali. Siong Li menggeleng kepalanya. “Menurut pendengaranku, dia adalah seorang tokoh kenamaan yang menjagoi beberapa belas tahun yang lalu, akan tetapi akhir-akhir ini tidak terdengar lagi namanya. Dahulu dia menjagoi di daerah utara, sekarang entah berada di mana, akupun tidak pernah mendengar lagi tentang dia.”

Bwee Hwa kecewa mendengar bahwa kawan baru ini tidak tahu di mana orang yang dicarinya itu berada.

“Sebetulnya dia itu orang apakah? Apa kedudukannya dan apa yang dikerjakannya? Melihat julukannya, tentu dia seorang ahli silat yang tangguh.”

Siong Li memandangnya dengan sinar mata heran. “Engkau mencari dia akan tetapi tidak tahu dia itu orang macam apa? Sungguh aneh sekali. Kauw-jiu Pek-wan adalah seorang perampok tunggal yang namanya ditakuti orang karena kejam dan lihainya. Engkau mencari dia ada urusan apakah, Hwa-moi? Hati-hati, dia seorang yang lihai sekali, dan terkenal amat kejam dan menurut apa yang pernah kudengar, dia suka mengganggu wanita.”

Tiba-tiba muka Bwee Hwa menjadi merah. “Ah, tidak ada apa-apa. Terima kasih atas semua keteranganmu, Li-ko. Nah, biarlah kita berpisah di sini.”

Biarpun hatinya terasa berat harus berpisah dari gadis yang baru saja dikenalnya akan tetapi yang amat dikaguminya dan amat menarik hatinya itu, Siong Li tidak dapat membantah. Mereka lalu mengangkat kedua tangan dada, saling menghormat.

“Selamat berpisah, Li-ko.”

“Selamat jalan, Hwa-moi. Semoga Thian (Tuhan) selalu melindungimu.” Mereka mengambil jalan masing-masing. Bwee Hwa menuju ke utara dan Siong Li menuju ke timur.

Bwee Hwa berjalan seorang diri. Ia tidak memperhatikan ke mana ia menuju. Ia membiarkan dirinya ke mana saja kedua kakinya membawanya. Pikirannya melamun tiada hentinya, mengenang apa yang ia dengar dari Ong Siong Li tentang Kauw-jiu Pek-wan. Dia itu, ayah kandungnya, adalah seorang perampok yang amat lihai dan amat kejam! Alangkah rendahnya! Jadi, ia adalah puteri seorang perampok, seorang penjahat?

Ia mencoba untuk membayangkan lagi wajah seorang laki-laki yang diingatnya sebagai ayahnya dahulu. Seorang laki-laki tinggi besar bermuka seperti harimau dengan sepasang mata bundar besar dan suara yang keras dan kasar. Memang pantas kalau ayahnya menjadi perampok, akhirnya ia menarik kesimpulan sebagai hasil lamunannya itu dan ia menghela napas dalam. Inilah agaknya yang menjadi sebab mengapa gurunya tidak pernah mau menceritakan siapa sebetulnya ayahnya itu. Agaknya sudah mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang penjahat kejam.

Bwee Hwa menghampiri sebatang pohon besar dan duduk di atas sebuah batu besar yang berada di bawah pohon itu. Timbul perasaan ragu dalam hatinya untuk melanjutkan pencarian terhadap ayahnya. Ia merasa malu memikirkan keadaan ayahnya sebagai seorang perampok, sebagai seorang penjahat besar yang kejam, bahkan yang menurut Siong Li tadi, seorang pengganggu wanita! Akan tetapi tiba-tiba ia teringat akan wajah ibunya. Ia masih ingat bahwa ibunya adalah seorang wanita yang cantik, akan tetapi seingatnya wanita cantik ibunya itu selalu diliputi kedukaan, sinar mata itu selalu sayu dan tak bersemangat. Ia menjadi terharu dan bibirnya berbisik lirih.

“.......ibu ”

Seketika lenyaplah semua keraguannya. Ia bukan hendak mencari ayahnya yang menjadi perampok jahat dan kejam, akan tetapi ia hendak mencari ibunya! Ibunya yang terkasih, ibunya yang cantik jelita dan ibunya yang selalu bersedih itu.

Menurut keterangan Siong Li tadi, ayahnya dahulu menjagoi di daerah utara. Karena itulah ia tadi memilih jalan yang menuju ke utara. Bwee Hwa bangkit dan melanjutkan perjalanannya, menuju utara. Mudah-mudahan ia akan dapat menemukan ibunya. Kini hanya ibunya yang menjadi tujuan perjalanannya. Ia mencari Kauw-jiu Pek-wan hanya untuk dapat bertemu dengan ibunya.

Karena ia tidak mengenal jalan dan hanya ngawur saja menuju ke utara, maka ketika bukit Siauw-liong- san menghadang di depannya, iapun langsung mendaki bukit itu. Bukit yang penuh hutan lebat dan besar, hutan-hutan liar yang jarang dimasuki orang dan bukit itu terkenal sebagai sarang gerombolan penjahat yang ganas. Orang-orang yang tinggal di daerah itu mengenal tempat ini dan tidak ada pemburu yang berani memburu binatang di hutan-hutan itu, tidak ada pedagang yang berani melalui jalan di hutan itu.

Berhari-hari Bwee Hwa keluar masuk hutan dan masih juga ia belum dapat keluar dari bukit penuh hutan liar itu. Ia kehabisan bekal roti kering yang dibelinya di sebuah dusun yang terakhir dilewatinya, dan sudah dua hari ia terpaksa mencari buah-buahan di hutan untuk dimakan. Bahkan ia terpaksa makan pupus-pupus daun agar jangan mati kelaparan. Baru gadis ini merasakan betapa susahnya melakukan perjalanan merantau ke daerah yang asing dan tidak dikenalnya sama sekali.

Setelah berputar-putar dalam hutan-hutan di atas bukit itu selama lima hari, pada hari keenam karena kesal dan bingung ia melompat ke atas cabang pohon lalu memanjat naik ke puncak pohon yang tinggi itu untuk melihat keadaan sekeliling mencari kalau-kalau ia dapat melihat sebuah dusun tak jauh dari situ. Tiba-tiba dari atas melayang turun dua titik hitam.

Setelah dekat, ternyata bahwa dua titik hitam itu adalah dua ekor burung kim-gan-tiauw (rajawali mata emas), semacam burung rajawali yang besar sekali dan matanya berwarna kuning emas dan bersinar mencorong! Kedua ekor burung itu mengeluarkan suara teriakan melengking dan langsung menyerang Bwee Hwa dengan sambaran kuku cakar mereka yang tajam dan runcing melengkung.

Bwee Hwa terkejut bukan main dan cepat ia melompat ke bawah pohon dan langsung mencabut pedangnya. Ia melihat dua ekor burung itu melayang turun. Bukan main besarnya burung-burung itu, ketika berdiri di atas tanah, tingginya hampir sama dengannya! Burung-burung rajawali raksasa itu masih memekik-mekik nyaring dan mereka lalu menerjang dengan paruh mereka yang kokoh kuat sambil mengibas-ngibaskan sayap mereka yang besar.

Bwee Hwa tidak merasa takut. Gadis perkasa ini bergerak cepat menghindarkan diri dari terjangan mereka dan membalas dengan serangan pedangnya.

“Trak-tranggg……!” Bwee Hwa terkejut sekali. Ketika pedangnya bertemu dengan paruh burung, paruh itu tidak terpotong dan bahkan tangannya yang memegang pedang tergetar saking kuatnya tenaga burung-burung itu. Dan kibasan sayap-sayap mereka mendatangkan angin kuat sehingga amat sukar bagi Bwee Hwa untuk menyerang. Menghadapi dua ekor burung rajawali itu, agaknya ilmu silat dan kecepatan gerakan gadis itu tidak ada artinya.

Bagaimanapun juga, ia masih dapat menyelamatkan diri dengan elakan-elakan cepat sambil mengerahkan pedangnya ke arah leher atau kepala kedua ekor burung itu. Akan tetapi gerakan burung- burung itu demikian cepatnya dan kibasan sayap mereka membuat serangannya selalu gagal, bahkan beberapa kali ketika pedangnya bertemu paruh yang keras dan kuat, hampir saja senjata itu terlepas dari genggamannya.

Dua ekor burung rajawali itu agaknya juga mulai menyadari bahwa lawan mereka sekali ini berbeda dengan manusia lain yang pernah mereka serang dan menjadi mangsa mereka. Dua ekor burung itu menjadi marah lalu terbang dan berputaran di atas kepala Bwee Hwa, memekik-mekik dan menyerang dari atas, menyambar-nyambar dari segala penjuru menggunakan cakar dan paruh mereka yang kuat.

Menghadapi serangan dari atas yang jauh lebih dahsyat dan berbahaya daripada serangan di atas tanah tadi, Bwee Hwa terkejut sekali. Kalau tadi, diserang dari depan ia masih dapat mengandalkan kegesitannya untuk mengelak dengan berloncatan ke kanan kiri atau belakang, sekarang serangan itu datangnya dari atas depan, belakang, dan kanan kiri. Terpaksa ia kadang-kadang harus menggulingkan tubuhnya ke atas tanah.

Post a Comment