Halo!

Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Heng-san Chapter 10

Memuat...

“Wuuuttt trang……” Bunga api berpijar ketika Bwee Hwa menangkis serangan itu dengan Sin-hong-

kiam di tangannya. Tangan Ji-kauwcu tergetar dan tahu bahwa mereka akan dikeroyok, Bwee Hwa dan Siong Li cepat berlompatan keluar dari kuil untuk mencari tempat yang luas. Mereka tiba di luar kuil yang luas dan di sana mereka menanti tiga orang yang mengejar mereka.

Tiga orang Kauw-cu itu segera serentak menyerang dan terjadilah perkelahian dua lawan tiga yang seru sekali. Bayangan lima orang yang tangguh ini berkelebatan di antara gulungan lima sinar pedang.

Para anak buah Hwe-coa-kauw juga mengejar dengan senjata di tangan. Akan tetapi ketika mereka hendak maju mengepung dua orang muda itu, tiba-tiba terdengar sorak sorai menggegap gempita dan muncullah limapuluh orang perajurit pengawal di bawah pimpinan Thio-taijin sendiri!

Kiranya tadi sebelum memasuki hutan, Bwee Hwa dan Siong Li bersepakat untuk minta bantuan Thio- taijin mengingat bahwa gerombolan itu mempunyai banyak anak buah. Mendengar permintaan Bwee Hwa yang sudah mengetahui sarang gerombolan yang menculik puterinya, Thio-taijin yang marah dan ingin segera menyelamatkan puterinya turun tangan dan memimpin sendiri limapuluh orang perajurit pengawal ditemani para perwira yang memiliki ilmu silat tinggi, mengikuti Siong Li dan Bwee Hwa. Mereka berindap-indap menghampiri kuil di tengah hutan itu.

Karena semua anggauta Hwe-coa-kauw sedang sibuk mengadakan upacara “pernikahan” maka tidak ada yang mengetahui akan datangnya pasukan ini. Pasukan bersembunyi di luar kuil dan setelah melihat Bwee Hwa dan Siong Li keluar dan bertempur, melihat pula puluhan anak buah Hwe-coa-kauw siap mengeroyok, baru pasukan itu keluar sambil bersorak sorai dan dengan senjata di tangan.

Para anggauta gerombolan terkejut bukan main. Akan tetapi karena pasukan itu sudah menyerbu, tidak ada jalan lain bagi mereka. Terpaksa mereka melawan mati-matian dan terjadilah pertempuran yang hebat di depan kuil itu. Sementara itu Thio-taijin sendiri, dikawal beberapa orang perwira, menyerbu kuil yang sudah ditinggalkan para anggauta gerombolan yang bertempur di luar. Mereka hanya menemukan belasan orang wanita cantik yang dipaksa menjadi pelayan di situ. Para wanita ini berlutut dan menyerah tanpa perlawanan. Jaksa Thio mendapatkan puterinya di ruangan tengah, mengenakan pakaian pengantin.

Ketika melihat ayahnya, Cin Lan berlari menyambut dan jatuh pingsan dalam pelukan ayahnya. Cepat Jaksa Thio mem bawa puterinya pulang lebih dulu untuk merawat gadis itu dan menyerahkan pimpinan pasukan kepada para perwira.

Biarpun mereka melakukan perlawanan nekat, namun karena jumlah mereka kalah banyak, hanya kurang lebih setengahnya, maka gerombolan Hwe-coa-kauw dapat dihancurkan. Banyak di antara mereka yang yang terbunuh atau tertawan, sisanya melarikan diri cerai berai ke dalam hutan. Sebagian perajurit lalu melakukan penggeledahan ke dalam kuil, menawan para wanita pelayan. Sebagian pula mengepung tiga orang kauw-cu yang masih bertanding melawan Bwee Hwa dan Siong Li. Mereka hanya berani mengepung dari jarak jauh karena ketika tadi mereka berusaha mengepung dari dekat dan membantu dua orang muda itu, baru beberapa gebrakan saja dua orang perajurit telah roboh terkena sambaran pedang tiga orang Kauw-cu yang lihai itu.

Memang kepandaian tiga orang kauwcu itu tangguh sekali. Ilmu pedang mereka berdasarkan ilmu pedang dari Go-bi-pai, walaupun mereka sama sekali bukan murid-murid perguruan besar itu. Entah bagaimana mereka dapat mencuri dan mempelajari ilmu pedang ini. Akan tetapi ilmu pedang Go-bi Kiam-sut itu sudah bercampur dengan ilmu silat aliran Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih), sebuah perkumpulan besar berkedok agama yang suka menentang pemerintah dan juga tidak segan melakukan perbuatan jahat.

Tiga orang ini selain memiliki ilmu pedang yang kuat juga mereka memiliki tenaga sakti yang cukup tangguh di samping gerakan mereka cepat sekali. Karena inilah maka sampai sebegitu jauh Bwee Hwa dan Siong Li masih juga belum mampu mengalahkan mereka. Hal ini membuat Bwee Hwa merasa penasaran dan marah sekali. Diam-diam gadis perkasa ini mengeluarkan enam batang jarum kecil dan dengan mengerahkan tenaga, tangan kirinya bergerak tiga kali.

“Sambut hong-cu-ciam ini!” bentaknya.

Sebagai seorang pendekar, ia memberi peringatan lebih dulu kepada orang yang ia serang dengan senjata rahasia. Ini merupakan peraturan tak tertulis bagi para pendekar agar tidak dianggap curang. Terdengar bunyi dengung dan tiga orang kauw-cu itu disambar senjata rahasia itu, masing-masing dua batang jarum.

Mereka bertiga terkejut dan maklum akan hong-cu-ciam, mereka cepat memutar pedang untuk menangkis sehingga jarum-jarum itu runtuh. Akan tetapi kesempatan itu dipergunakan Bwee Hwa untuk menyerang hebat. Pedangnya berkelebatan dan dari mulutnya terdengar dengung tawon yang membuat tiga orang lawannya terganggu konsentrasinya. Juga Siong Li menyerang dengan dahsyat menggunakan kesempatan selagi gerakan tiga orang itu kacau setelah diserang hong-cu-ciam.

Agaknya Toa-kauwcu yang bertubuh tinggi besar, mukanya brewok dan kepalanya gundul itu merasa bahwa kalau melawan terus, dia dan kawan-kawannya tidak akan menang, bahkan keadaan dia dan dua orang sutenya (adik seperguruannya) amat berbahaya karena anak buah mereka telah dihancurkan, segera dia memberi isyarat dengan teriakan rahasia kepada dua orang saudaranya. Mereka bertiga lalu berlompatan ke belakang sambil mengeluarkan senjata rahasia piauw beracun dan tanpa memberi peringatan seperti kelicikan para tokoh sesat, mereka menyambitkan piauw ke arah Siong Li dan Bwee Hwa.

Dua orang muda ini sudah waspada sejak tadi, maka ketika ada sinar-sinar hitam menyambar, mereka berdua cepat memutar pedang. Sinar pedang mereka membentuk payung yang menjadi perisai diri dan semua piauw itu runtuh tertangkis sinar pedang.

Kesempatan ini dipergunakan oleh tiga orang ketua gerombolan Hwe-coa-kauw untuk berlompatan keluar dari kepungan perajurit pengawal dan melarikan diri. Tentu saja Bwee Hwa dan Siong Li tidak mau membiarkan mereka lolos. Dengan cepat mereka berdua melakukan pengejaran sambil mengerahkan ilmu berlari cepat mereka. Setelah jarak antara mereka dan tiga orang kepala gerombolan itu cukup dekat, Bwee Hwa lalu menyerang dengan hong-cu-ciam (jarum tawon) ke arah orang yang berada paling belakang. Sinar lembut menyambar, terdengar dengung dan Ji-kauwcu yang bertubuh pendek gendut itu berteriak dan tubuhnya terpelanting. Sebatang jarum telah menancap di tengkuknya, membuat lemas dan sama sekali dia tidak dapat melakukan perlawanan ketika para perajurit pengawal datang lalu membelenggunya.

Melihat Ji-kauwcu roboh, Toa-kauwcu mewjadi marah sekali. Dia merasa sakit hatinya kepada dua orang pendekar yang telah mengobrak-abrik gerombolannya bahkan telah membunuh banyak pembantunya, maka dengan nekat dia lalu membalikkan tubuh dan mengamuk. Kesempatan ini dipergunakan oleh Sam-kauwcu untuk melarikan diri. Ketua ketiga dari Hwe-coa-kauw ini memang memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi dan dia mampu berlari dengan amat cepatnya.

Siong Li berusaha mengejarnya, namun dia segera kehilangan jejak dan karena dia mengkhawatirkan keselamatan Bwee Hwa, dia cepat kembali dan ikut mengeroyok Toa-kauwcu. Tentu saja ketua Hwe- coa-kauw ini tidak mampu menandingi dua orang pendekar muda itu dan lewat belasan jurus saja dia sudah roboh dan tewas. Maka terbasmilah perkumpulan agama sesat Hwe-coa-kauw. Hanya Sam- kauwcu seorang yang berhasil meloloskan diri. Banyak anak buahnya tewas atau tertawan dan hanya sedikit yang melarikan diri cerai berai mencari keselamatan masing-masing.

Ketika Bwee Hwa dan Siong Li kembali ke sarang Hwe-coa-kauw, mereka disambut dengan penuh kegembiraan dan kehormatan oleh Jaksa Thio.

“Bagaimana keadaan Enci Cin Lan, lo-pek?” tanya Bwee Hwa kepada Jaksa Thio.

“Ia baik-baik saja, hanya terkejut dan sekarang sudah diantar pulang. Syukurlah, semua ini karena pertolonganmu dan Ong-taihiap (Pendekar Besar Ong). Kami sekeluarga berhutang budi kepada kalian berdua.”

“Ah, harap jangan bicara tentang budi, taijin. Kami berdua hanya melakukan apa yang menjadi tugas kewajiban kami,” kata Ong Siong Li.

“Aku ingin melihat keadaan Enci Cin Lan sebentar,” kata Bwee Hwa kepada Siong Li.

Pemuda itu mengangguk dan mereka semua lalu kembali ke kota Ki-ciu dengan gembira karena selain Cin Lan telah dapat ditemukan dan diselamatkan, juga gerombolan agama sesat Hwe-coa-kauw telah dapat dibasmi.

Setibanya di gedung keluarga Jaksa Thio, Bwee Hwa lalu pergi ke kamar. Ia melihat Cin Lan dalam keadaan sehat. Gadis bangsawan yang mengalami peristiwa yang amat mengerikan dan menakutkan itu kini sedang tidur pulas. Bwee Hwa tidak mau mengganggunya, lalu mengambil buntalan pakaiannya dan menuju ke luar di mana Siong Li duduk bersama Jaksa Thio. Melihat gadis itu keluar dan sudah menggendong buntalan pakaiannya, Jaksa Thio terkejut sekali. Dia cepat bangkit berdiri. Siong Li juga bangkit dari duduknya.

“Eh, Bwee Hwa, engkau menggendong buntalan pakaianmu? Hendak ke manakah?” Nyonya Thio juga datang berlari dari dalam. “Bwee Hwa, jangan pergi sekarang. Tinggallah dulu di sini selama yang kaukehendaki! Kami senang engkau berada di sini!”

Bwee Hwa tersenyum dan menggeleng kepalanya. Ia tahu bahwa kalau ia lebih lama tinggal di situ, ia hanya akan menerima pujian-pujian dan penghormatan-penghormatan yang sesungguhnya sama sekali tidak ia kehendaki atau cari.

“Tidak mungkin, lopek dan bibi. Aku masih mempunyai banyak urusan yang harus kuselesaikan. Maka aku harus pergi sekarang juga melanjutkan perjalananku. Kelak, kalau aku lewat di kota ini pasti aku akan singgah untuk menanyakan keselamatan kalian dan Enci Cin Lan.”

Post a Comment