Cin Lan yang masih berada di bawah pengaruh totokan, tak mampu meronta atau berteriak, dinaikkan ke atas bangku tinggi dan didudukkan di sana. Gadis yang tak berdaya itu hanya dapat duduk lemas dan sepasang matanya memandang dengan penuh rasa ngeri. Di depannya, kurang lebih dua tombak jauhnya, terdapat sebuah kotak emas yang tergantung oleh tali dari tiang penglari. Kotak itu seluruhnya terbuat dari emas dan diukir indah, ukiran berbentuk seekor ular yang sedang terbang. Walaupun tidak diberitahu, Cin Lan dapat merasakan bahwa bahaya yang mengancam dirinya tentu datang dari kotak emas yang aneh itu, maka ia memandang ke arah kotak emas itu dengan gelisah.
Semua anggauta gerombolan itu tidak ada yang mengeluarkan suara, hanya mata mereka memandang ke arah gadis itu dengan mata kagum dan penuh gairah. Dari pandang mata mereka tampak kesan seolah mereka hendak menelan gadis itu bulat-bulat! Hal ini terasa oleh Cin Lan dan menambah kengerian hatinya. Siapa takkan merasa ngeri, dalam keadaan tidak berdaya berada di tengah-tengah kurang lebih tigapuluh orang laki-laki yang tampak buas dan pandang mata mereka seperti orang berotak miring itu! Di bawah gantungan kotak emas itu duduk tiga orang pendeta berkepala gundul dan berjubah longgar. Yang seorang bertubuh tinggi besar, mukanya brewok namun kepalanya gundul, matanya mencorong lebar, usianya kurang lebih limapuluh lima tahun. Inilah Toa-kauwcu, ketua agama yang pertama.
Yang kedua adalah seorang laki-laki berusia limapuluh tahun, pendek gendut sekali sehingga dia seperti seekor babi saja, wajahnya tampak lucu dan sama sekali tidak serem walaupun dia berusaha untuk membuat wajahnya tampak serem. Dia adalah Ji-kauwcu, ketua kedua. Adapun orang ketiga adalah Sam-kauwcu yang tinggi kurus berwajah pucat kekuningan dan berusia empatpuluh tahun itu. Mereka bertiga duduk di atas kursi-kursi berukir dengan gambar ular terbang.
Setelah menaikkan Cin Lan ke atas bangku tinggi itu, lima orang pelayan wanita itu lalu mengundurkan diri ke dalam kamar atau ruangan di bagian belakang bangunan besar bekas kuil itu, seperti para wanita pelayan yang lain. Mereka itu dilarang menyaksikan upacara perkawinan. Cin Lan ditinggalkan seorang diri dan gadis ini dengan wajah pucat ketakutan memandang ke sekeliling melalui kerudung pengantin yang berupa tirai tipis tembus pandang itu.
Kemudian tiga orang ketua agama itu berdoa dengan suara yang tidak jelas, seakan-akan hanya digumam saja. Akan tetapi aneh, semua anggauta yang berada dalam ruangan itu lalu menundukkan muka dan ikut berdoa sehingga ruangan itu penuh dengan suara orang berdoa yang menimbulkan gaung aneh dan suasananya menjadi seram sekali. Cin Lan mendengarkan dengan mata terbelalak dan bulu tengkuknya meremang karena ngeri dan takut. Toa-kauwcu lalu membakar dupa wangi yang asapnya memenuhi ruangan itu. Bau dupa yang harum aneh ini menambah suasana yang aneh dan menyeramkan.
Tiba-tiba semua mulut terdiam seperti mendapat komando tak bersuara. Suasana menjadi sunyi, sunyi yang aneh karena suara doa gemuruh tadi berhenti secara tiba-tiba. Tiga orang ketua agama itu lalu bangkit berdiri dan menghampiri Cin Lan yang duduk di atas bangku tinggi. Mereka menggeser kursi mereka ke dekat bangku tinggi yang diduduki Cin Lan, lalu mereka berdiri di atas kursi sehingga dapat berhadapan sama tingginya dengan gadis itu.
“Ya dewa ular yang maha agung, terimalah persembahan kami ini, pengantin paduka!” kata Ji-kauwcu dalam doanya sambil merenggut kerudung penutup kepala dan muka Cin Lan. Pada saat yang sama Sam-kauwcu membuka totokan pada urat gagu Cin Lan akan tetapi pada saat yang sama juga menotok pundak gadis itu sehingga Cin Lan menjadi lemas tak mampu bergerak sedikitpun. Gadis itu kini hanya mampu bersuara akan tetapi tidak mampu bergerak. Terdengarlah isak tangisnya yang ketakutan. Kalau saja ia tidak ditotok sehingga tak mampu bergerak, tentu Cin Lan akan melompat turun dari bangkunya yang tinggi.
Sementara itu, Toa-kauwcu menekan tombol yang terdapat pada kotak emas itu sehingga terdengar suara menjepret dan kotak emas itupun terbuka. Tampaklah dari kotak itu kepala seekor ular kecil yang menjulur keluar dengan sepasang matanya yang liar berwarna kemerahan dan lidahnya menjilat-jilat keluar dari moncongnya. Lidah itu lebih merah lagi warnanya.
Perlahan-lahan ular itu merayap keluar sehingga tampak tubuhnya yang kecil panjang berbintik-bintik merah dan hitam. Binatang itu merayap ke atas peti dan akhirnya melingkar diam di atas peti, kepalanya memandang ke sana-sini seperti seorang raja sedang memeriksa para hulubalangnya yang menghadap di depannya. Agaknya ular itu hendak turun, akan tetapi peti emas itu tergantung begitu tinggi sedangkan untuk turun tidak terdapat tempat untuk merayap. Ular itu lalu menggerak-gerakkan kepalanya mencari tempat yang dekat untuk diloncati, dan tentu saja yang terdekat dengan tempatnya adalah Cin Lan yang duduk di atas bangku itu. Maka perhatian ular itu kini pindah seluruhnya kepada gadis itu yang duduk tak bergerak bagaikan patung di atas bangkunya.
Cin Lan terbelalak memandang ular itu. Melihat betapa binatang itu memandang kepadanya sambil menjilat-jilatkan lidahnya, Cin Lan menjadi begitu ngeri dan takut sekali sehingga air matanya mengalir membasahi pipinya yang pucat tanpa dapat mengeluarkan sedikitpun suara karena ditahan-tahannya hati yang ingin menjerit-jerit, takut kalau-kalau hal itu akan membuat ular itu menyerangnya.
Pada saat itu, Toa-kauwcu berdiri dari kursinya dan menghampiri Cin Lan yang hampir pingsan ketakutan. Kauw-cu ini memegang secawan anggur dan berbisik kepada Cin Lan.
“Nona pengantin, silakan minum anggur pengantin untuk menghormati pengantin pria.”
Tentu saja Cin Lan tidak sudi menerimanya, bahkan ia memandang pendeta tinggi besar itu dengan mata penuh sinar kebencian. Toa-kauwcu lalu berdiri di atas kursinya dan berkata lirih, “Betapapun juga, lebih baik mati minum racun daripada mati tersiksa.”
Mendengar ucapan ini, Cin Lan menganggap bahwa ucapan itu ada benarnya juga. Karena menyangka bahwa yang berada dalam cawan itu tentu racun yang akan mematikannya, cepat ia berkata, “Baik.....
berikan anggur itu..... akan kuminum. !”
Karena Cin Lan tidak dapat menggerakkan tubuhnya yang tertotok lemas, Toa-kauwcu lalu mengangkat cawan itu ke bibir Cin Lan dan menunangkan isi cawan ke dalam mulut gadis itu yang menerimanya lalu meminumnya sampai habis. Rasa minuman itu manis akan tetapi berbau amis, akan tetapi karena merasa lebih baik mati cepat daripada menghadapi siksaan yang mengerikan itu. Cin Lan menahan kemuakannya dan menelan semua isi cawan.
Toa-kauwcu tersenyum lalu turun dari kursi dan meninggalkan Cin Lan setelah dia membebaskan gadis itu dari totokan yang membuatnya lemas tak mampu bergerak tadi.
Gadis yang malang itu merasa betapa kepalanya menjadi pening dan pandang matanva kabur. Segala sesuatu tampak berpusing dan ia memejamkan kedua matanya, siap menerima datangnya kematian. Ia merasa tubuhnya ringan sekali dan anehnya, ia merasa nyaman, enak dan menyenangkan! Untuk beberapa saat lamanya ia memejamkan kedua matanya dan di depan mata yang terpejam itu ia melihat banyak macam warna beterbangan, berputar-putar dan berkilauan amat indahnya.
Ketika ia membuka mata kembali, sungguh heran, ia merasa segar dan senang sekali. Ia melihat betapa ular yang berada di atas kotak emas itu mengangkat kepalanya dan kini tampak jelas betapa di bagian dada dan perut ulat itu terkembang sayap di kanan kiri! Alangkah indahnya ular itu. Kulitnya yang bertotol-totol merah hitam itu mengkilap dan warnanya amat indah.
Cin Lan merasa suka sekali melihat ular itu, bagaikan seorang gadis melihat setangkai bunga atau seekor burung yang bulunya berwarna indah. Tanpa disadarinya sendiri gadis itu mengangkat kedua lengannya ke atas seolah-olah hendak dijulurkan dan hendak membelai ular yang kini siap hendak meloncat! Semua anggauta Hwe-coa-kauw yang berada di situ memandang ke arah dua mahluk yang saling berhadapan itu dan mereka menahan napas dengan hati tegang. Mereka semua maklum bahwa sebentar lagi, “pengantin pria” itu akan melompat dan menerkam leher “pengantin wanita”, dalam gigitannya yang berbisa dan mematikan. Setiap tahun sekali terjadilah persembahan kurban seperti ini yang dipilih di antara gadis-gadis cantik. Dan tahun ini yang dipilih adalah Thio Cin Lan, yang selain cantik jelita dan menjadi kembang kota Ki-ciu, juga ia berdarah bangsawan dan terutama sekali puteri Jaksa Thio yang tidak disuka oleh Hwe-coa-kauw.
Suasana yang tegang memuncak dan semakin mencekam ketika orang-orang melihat betapa ular itu kini mengembang kan “sayapnya” yang sebetulnya hanyalah tubuh ular yang digepengkan sehingga menjadi lebar seperti sayap. Ular itu kini siap untuk “terbang” atau melompat ke arah Cin Lan yang berada di bawah pengaruh minuman perangsang itu, menanti ular kecil indah itu dengan senyum yang amat manis! Ular itu mendesis beberapa kali, kemudian tiba-tiba ia “terbang” melompat ke arah Cin Lan, meluncur ke leher gadis itu. Semua orang menahan napas melihat tubuh ular itu melayang, hati mereka penuh ketegangan.
Pada saat itu, dari luar jendela ruangan itu menyambar sinar-sinar kecil yang mengeluarkan suara berdengung seperti ada serombongan tawon kecil terbang masuk dan sinar-sinar kecil itu menyambar ke arah tubuh ular yang sedang meluncur di udara itu. Ular itu terpental di tengah udara sambil menggeliat-geliat dan jatuh ke bawah. Ketika tiba di atas lantai, ular itu berkelojotan sebentar lalu diam mati. Kepala dan lehernya penuh ditancapi jarum-jarum kecil. Itulah hong-cu-ciam (jarum tawon), senjata rahasia yang amat ampuh dari Bwee Hwa Si Tawon Merah!
Untuk sejenak keadaan menjadi sunyi dan semua orang yang berada di situ tercengang keheranan. Demikian pula tiga orang Kauw-cu yang sama sekali tidak menduga akan terjadi hal seperti itu. Mereka tertegun dan tak dapat berbuat sesuatu kecuali memandang bangkai ular pujaan mereka yang telah mati. Namun, keadaan ini tidak berlangsung lama. Segera mereka bertiga melompat dengan marah sambil mencabut senjata masing-masing.
“Jahanam busuk, jangan lari!” mereka berseru dan cepat mereka melompat keluar dari ruangan itu melalui jendela. Di luar jendela telah berdiri Bwee Hwa dan Ong Siong Li, menanti dengan sikap tenang dan dengan pedang di tangan kanan.
“Keparat, engkau berani datang lagi? Agaknya memang sudah bosan hidup!” teriak Toa-kauwcu yang segera mengenal Siong Li yang tadi pagi melarikan diri setelah menghadapi pengeroyokan mereka bertiga.
Siong Li tersenyum mengejek.
“Selama pedang ini masih berada di tanganku, aku takkan berhenti berusaha untuk membasmi Hwe- coa-kauw yang terkutuk!”
Bwee Hwa juga tidak mau kalah dan dengan pedang melintang depan dada, telunjuk tangan kirinya menuding ke arah tiga orang itu. “Kalian ini orang-orang sesat yang menyamar sebagai pendeta agama sesat. Kalau kalian ingin selamat, bebaskan nona Thio dan bubarkan perkumpulan jahat ini, lalu kalian menyerah kepada yang berwajib untuk menerima hukuman. Kalau tidak demikian, terpaksa kami turun tangan dan tidak saja kami akan membinasakan kalian bertiga, tapi juga akan kami obrak-abrik dan bakar sarang kalian ini!” “Nah, bukankah engkau ini perempuan yang semalam telah membunuh beberapa orang anak buah kami? Bagus, tidak usah kami bersusah payah mencari, engkau telah datang mengantarkan nyawa ke sini!” teriak Toa-kauwcu.
“Bunuh mereka!” bentak Ji-kauwcu yang segera menyerang Bwee Hwa dengan serangan kilat. Pedangnya membacok ke arah leher gadis itu.