“Karena inilah maka banyak pendekar pembela kebenaran dan keadilan bertindak. Mereka bersatu padu dan memusuhi Hwe-coa-kauw yang berpusat di Tit-le itu. Para pendekar dari berbagai partai persilatan ini berhasil mengobrak-abrik sarang Hwe-coa-kauw, membunuh banyak anak buah mereka. Akan tetapi tiga orang kauw-cu (ketua agama) itu berhasil melarikan diri bersama sisa anak buah mereka yang tinggal sedikit.”
“Aku mewakili perguruan Thai-san-pai bergabung dengan para pendekar itu,” Siong Li melanjutkan ceritanya. “Aku amat membenci para pimpinan Hwe-coa-kauw itu karena mereka telah membunuh seorang suheng (kakak seperguruan) yang pernah mencoba menentang mereka seorang diri saja. Maka setelah mereka melarikan diri, aku segera mengejar mereka dan melakukan penyelidikan. Akhirnya aku mendapat keterangan bahwa ke tiga orang kauw-cu itu menyusun anak buah mereka dan membangun sarang baru di sebuah hutan besar dekat kota Ki-ciu, maka aku segera menyelidiki ke sini.”
Bwe Hwa yang sejak tadi mendengarkan dengan penuh kekaguman, bertanya. “Dan engkau telah menemukan sarang mereka yang baru itu?” “Kebetulan saja ketika aku sedang menyelidiki ke hutan, aku melihat mereka membawa lari seorang gadis. Aku segera mencoba untuk menolongnya. Akan tetapi ketika tiga orang pemimpin mereka yang mereka sebut Toa-kauwcu (Ketua Agama Pertama) Ji-kauwcu (Ketua Agama kedua) dan Sam-kauwcu (Ketua Agama ke Tiga) maju mengeroyokku, terpaksa aku melarikan diri karena aku tidak mampu menandingi pengeroyokan mereka yang lihai. Dan ketika melihat engkau mengejarku, kukira engkau seorang di antara mereka. Nah, sekarang ceritakan bagaimana engkau dapat bentrok dengan mereka dan siapa pula gadis yang mereka culik dan larikan itu.”
Bwee Hwa dengan singkat menceritakan tentang pertemuannya dan perkenalannya dengan Jaksa Thio dan anak isterinya. “Jaksa Thio itu seorang pejabat yang adil dan jujur. Isterinya juga ramah dan puterinya, Thio Cin Lan, adalah seorang gadis yang cantik dan lembut. Ketika malam tadi aku bermalam di rumah Keluarga Jaksa Thio, penjahat-penjahat itu menyerang dan aku cepat melawan mereka. Tidak tahunya mereka itu membakar belakang gedung dan selagi aku sibuk melawan penjahat dan semua pengawal memadamkan api, penjahat mempergunakan kesempatan itu untuk menculik Enci Cin Lan. Aku merasa heran sekali mengapa Hwe-coa-kauw itu memusuhi Jaksa Thio seperti itu?”
“Tidak aneh, li-hiap. Agaknya Hwe-coa-kauw bermaksud untuk menanam pengaruh di daerah Ki-ciu. Mendengar akan keadilan dan kejujuran Jaksa Thio, tentu saja mereka ingin menyingkirkan pejabat yang berbahaya bagi mereka itu.”
“Ong-taihiap (Pendekar Besar Ong), sukakah engkau bersamaku membasmi sarang Hwe-coa-kauw yang jahat itu dan menolong Thio Cin Lan?” tanya Bwee Hwa sambil menatap tajam wajah pemuda itu.
Ong Siong Li tersenyum. “Tentu saja, hal itu tidak perlu ditanyakan lagi. Akan tetapi harap engkau jangan menyebut tai-hiap (pendekar besar) kepadaku.”
“Tentu saja aku menyebut tai-hiap, karena engkaupun menyebutku li-hiap (pendekar wanita)!” “Ha-ha, baiklah, aku yang salah, lalu aku harus menyebutmu bagaimana?”
Bwee Hwa juga tersenyum. “Jawab dulu pertanyaanku. Aku harus menyebutmu apa?”
“Kita orang segolongan dan sealiran, sudah seperti saudara sendiri. Karena aku sudah berusia duapuluh satu tahun dan tentu lebih tua ketimbang engkau, maka bagaimana kalau engkau menyebut aku toako (kakak) saja?”
“Baiklah, Li-ko (kakak Li) dan engkau sebut aku Hwa-moi (adik Hwa).”
“Hwa-moi, kalau begitu mari kita pergi menyelidiki sarang Hwe-coa-kauw di dalam hutan besar itu. Mereka menggunakan sebuah kuil tua yang sudah kosong sebagai sarang dan mereka telah membangun kembali kuil itu. Akan tetapi kita harus berhati-hati, karena tiga orang kauw-cu itu benar-benar lihai sekali.”
“Baik, mari kita pergi.”
Keduanya lalu bangkit dan pergi menuju sarang Hwe-coa-kauw dengan Siong Li sebagai penunjuk jalan. Dengan mempergunakan ilmu berlari cepat, tubuh kedua orang pendekar muda itu melesat seperti terbang saja cepatnya. Thio Cin Lan membuka kedua matanya. Ia merasa seperti dalam mimpi, mimpi yang buruk sekali, bermimpi bahwa ia diculik seorang laki-laki berkepala gundul yang membawanya lari seperti terbang keluar dari rumah orang tuanya di Ki-ciu. Kini ia sudah terbangun dan tentu mendapatkan dirinya tertidur dalam kamarnya dan semua tadi hanya mimpi kosong belaka.
Ia membuka matanya, mengeluh lirih dan bangkit duduk, menggosok-gosok kedua matanya dengan punggung tangan. Ia tidak berada dalam kamarnya sendiri! Ia rebah di atas sebuah pembaringan bertilam merah, dalam sebuah kamar yang sama sekali asing! Oh, ia tidak bermimpi! Ia benar-benar diculik dan dilarikan orang lalu kini dikeram dalam kamar ini!
Cin Lan cepat turun dari pembaringan, bermaksud untuk melarikan diri keluar dari dalam kamar itu. Akan tetapi, tiba-tiba muncul lima orang wanita muda yang cantik-cantik dan mereka segera memegang kedua lengannya.
“Thio-siocia (Nona Thio), engkau tidak boleh keluar dari kamar ini. Seorang nona pengantin tidak boleh keluar dari kamar ini sebelum pernikahan disahkan!” kata seorang di antara lima wanita itu.
“Apa? Kau gila! Siapa yang menjadi nona pengantin? Siapa yang akan menikah?” bentak Cin Lan.
“Nona pengantinnya adalah engkau, Thio-siocia! Engkau yang akan menikah dengan Hwe-coa-sian (Dewa Ular Terbang) dan menjadi dewi!” jawab lima orang wanita itu hampir berbareng.
“Tidak! Kalian gila! Lepaskan aku……!” Cin Lan meronta-ronta dan mengamuk, akan tetapi lima orang gadis itu memeganginya dan tentu saja ia kalah kuat menghadapi lima orang wanita itu.
Cin Lan adalah seorang gadis terpelajar. Tentu saja ia tidak mau percaya sama sekali akan bujukan mereka yang penuh tahyul itu. Akan tetapi ia cukup cerdik untuk mengetahui bahwa ia berada dalam tangan orang-orang yang percaya akan tahyul, maklum bahwa ia berada dalam ancaman bahaya besar. Maka, ia pura-pura bersikap mengalah dan tidak meronta lagi sehingga lima orang wanita itu mengendurkan pegangan mereka. Cin Lan menggunakan kesempatan ini untuk tiba-tiba meronta dan berlari lepas dari tangkapan mereka, langsung lari ke pintu kamar yang terbuka.
Akan tetapi tiba-tiba ia menjerit kecil dan menahan larinya, bahkan lalu melangkah mundur sambil menatap wajah orang yang tiba-tiba muncul di ambang pintu dengan mata terbelalak. Yang muncul itu adalah seorang bertubuh tinggi kurus, berusia kurang lebih empatpuluh tahun dan ia ingat bahwa orang inilah yang menculiknya keluar dari rumah orang tuanya di Ki-ciu.
Laki-laki berpakaian jubah pendeta dan kepalanya gundul itu tersenyum mengejek. Wajahnya cukup tampan akan tetapi kulit mukanya pucat kekuningan. Inilah Sam-kauwcu (Ketua Agama ketiga) dan ketika lima orang gadis itu melihat dia memasuki kamar, mereka segera menjatuhkan diri berlutut dengan memberi hormat secara merendah sekali. Mereka menjulurkan kedua tangan ke depan dan mencium lantai, seperti para hamba yang memberi hormat kepada rajanya!
Pendeta tinggi kurus itu memasuki kamar dan menghampiri Cin Lan yang masih berdiri memandangnya dengan mata bersinar penuh keberanian dan kemarahan. “Nona, mengapa engkau menentang nasibmu yang amat baik ini? Ketahuilah, jika engkau menjadi pengantin Dewa Ular Terbang, engkau akan menjadi dewi dan hidupmu akan berbahagia dan terhormat.”
Mengingat bahwa orang ini yang menculiknya, Cin Lan menjadi marah dan ia menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Sam-kauwcu lalu membentak, “Penjahat yang berkedok pendeta! Siapa sudi mendengar ocehanmu? Cepat antarkan aku kembali, kalau tidak ayah tentu akan mengirim para pengawal untuk menyeretmu di depan meja pengadilan dan menghukum dengan seribu kali cambukan!”
Sam-kauwcu tersenyum menyeringai dan berkata, “Kalau begitu, terpaksa kami menggunakan kekerasan!” Tangannya menyambar ke depan dengan cepat sekali dan tahu-tahu Cin Lan telah tertotok dua kali yang membuat ia menjadi lemas dan tidak mampu mengeluarkan suara. Lima orang wanita pelayan, itu cepat memeluk tubuh Cin Lan sehingga tidak jatuh terkulai di atas lantai.
“Cepat dandani ia dengan pakaian pengantin yang sudah dipersiapkan karena upacara pernikahan akan dilangsungkan hari ini juga!” kata Sam-kauwcu kepada lima orang wanita pelayan itu, lalu diapun keluar dari dalam kamar.
Thio Cin Lan sama sekali tidak berdaya melawan ketika ia dimandikan oleh lima orang wanita itu, kemudian pakaian baru dikenakan pada tubuhnya. Pakaian dalam dari sutera halus, lalu pakaian luamya adalah pakaian mempelai berwarna merah berkembang-kembang dari kain tipis tembus pandang sehingga bentuk tubuhnya yang langsing dan kulitnya yang putih mulus itu membayang di balik pakaian pengantin itu. Rambutnya disisir rapi dan digelung secara indah, dihias tiara penuh mutiara. Wajahnya juga dihias sehingga Cin Lan tampak benar-benar cantik jelita dan agung bagaikan seorang bidadari!
Lewat tengah hari terdengar bunyi canang dan tambur. Mempelai perempuan diarak keluar dari kamarnya menuju ke ruangan tengah di mana semua anggauta Hwe-coa-kauw telah berkumpul. Di tengah-tengah ruangan itu dikelilingi oleh para anggauta yang duduk agak jauh, terdapat sebuah bangku tinggi yang sudah dihias dengan bunga-bunga dan kertas berwarna.