Halo!

Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Heng-san Chapter 07

Memuat...

“Tranggg……!” Bunga api berpijar menyilaukan mata dan pemuda itu terkejut bukan main. Ternyata tangkisannya tidak mampu mematahkan pedang di tangan gadis itu, bahkan tangannya tergetar ketika dua pedang bertemu, menunjukkan tenaga sin-kang (tenaga sakti) gadis itu benar-benar amat kuat!

Juga Bwee Hwa merasa tercengang. Tangan kanannya yang memegang pedang tergetar hebat dan biasanya, pedang lawan yang berbenturan sedemikian kuatnya dengan pedang Sin-hong-kiam (Pedang Tawon Sakti) di tangannya, pasti menjadi buntung. Akan tetapi pedang lawannya ini tidak apa-apa. Hal itu berarti bahwa pemuda itupun memiliki sebatang pedang pusaka yang kuat dan ampuh!

Mendapatkan kenyataan ini, Bwee Hwa menjadi penasaran sekali. Maka ia lalu mengerahkan seluruh tenaga, mengeluarkan semua kemampuannya, memainkan ilmu pedang yang khusus dirangkai oleh Sin- kiam Lojin untuknya, disesuaikan dengan pedang pusakanya. Pedang pusakanya itu bernama Sin-hong- kiam (Pedang Tawon Sakti), ada ukiran beberapa ekor tawon di sepanjang badan pedang. Gurunya telah merangkai ilmu pedang yang disebut Sin-hong-kiam (Ilmu Pedang Tawon Sakti).

Pedangnya berubah menjadi segulungan sinar, ujungnya berkelebatan seperti tawon menyambar- nyambar dan mulut gadis itu mengeluarkan suara berdengung lembut tajam seperti dengungan banyak tawon yang mengamuk. Itulah Sin-hong-kiam-sut! Pemuda itu terkejut bukan main dan dia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk membela diri agar jangan sampai terdesak. Bukan hanya kecepatan gerakan pedang gadis itu yang membuatnya terkejut, terutama sekali suara dengungan seperti ada tawon-tawon yang mengiang- ngiang di dekat telinganya itulah yang membuat dia menjadi bingung. Suara itu sungguh membuat telinganya sakit, konsentrasinya buyar dan karenanya permainan pedangnya menjadi kacau.

Karena pemuda itu tidak bermaksud untuk berkelahi sungguh-sungguh dan tadi hanya ingin mencoba atau menguji saja, maka melihat kesungguhan gadis itu dalam penyerangannya, diapun melompat jauh ke belakang dan berseru, “Tahan. !”

Bwee Hwa menahan serangannya, menghentikan gerakannya dan dengan tangan kiri bertolak pinggang dan tangan kanan menggerakkan pedangnya melintang di depan dada, berkata dengan suara mengejek.

“Hemm, pengecut. Kalau sudah terdesak minta berhenti. Kau mau apa?”

Tiba-tiba pemuda itu memasukkan pedangnya kembali ke dalam sarung pedang, lalu tersenyum dan menjura dengan sikap hormat.

“Li-hiap (pendekar wanita), maafkan aku yang salah sangka. Tadinya aku mengira bahwa engkau adalah seorang anggauta Hwe-coa-kauw yang terkutuk itu, akan tetapi tadi setelah berhadapan denganmu, aku segera tahu bahwa engkau bukanlah anggauta gerombolan busuk itu. Aku tadi hanya ingin mengujimu dan ternyata engkau sungguh hebat dan lihai sekali, membuat aku kagum dan tunduk. Ketahuilah, pujianku ini bukan main-main untuk bermuka-muka, karena aku Ong Siong Li bukanlah laki-laki yang suka berbohong.”

Mendengar nama itu, Bwee Hwa menjadi ragu-ragu dan ia mengerutkan sepasang alisnya, mengingat- ingat. Suhunya pernah memperkenalkan nama orang-orang yang terkenal di dunia kang-ouw, sebelum ia berpisah dari gurunya itu. Dan kini ia ingat bahwa nama Ong Siong Li juga pernah disebut suhunya.

“Aku tadi juga menyangka bahwa engkau seorang anggauta Hwe-coa-kauw, maka aku mengejarmu karena aku memang sedang mencari-cari mereka. Namamu pernah kudengar dari suhuku. Bukankah engkau seorang tokoh Thai-san-pai (Partai Thai-san) yang berjuluk Kim-kak-liong (Naga Tanduk Emas)?”

Pemuda itu tersenyum lebar. “Ingatanmu sungguh kuat, nona. Memang benar akulah orang yang kaumaksudkan itu. Akan tetapi sebutan yang diberikan kepadaku oleh orang-orang dunia kang-ouw itu sungguh terlalu tinggi untukku.”

Kini Bwee Hwa tersenyum lega. Senyum yang membuat Siong Li terpesona karena begitu tersenyum, wajah cantik jelita yang tadi tampak galak itu berubah menjadi ramah dan manis bukan main. Bwee Hwa memasukkan pedangnya di sarung pedang yang tergantung di pinggang kiri. Ia maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang pemuda tokoh Thai-san-pai yang terkenal sebagai pendekar pembela kebenaran dan keadilan dan menurut suhunya pendekar muda itu memiliki kepandaian yang tinggi. Hal ini telah ia buktikan sendiri karena ketika tadi ia bertanding melawan pemuda itu, ia mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang pemuda itu tidak berada di bawah tingkat kepandaiannya sendiri.

“Memang kalau tidak bertanding lebih dulu kita tidak akan dapat berkenalan dengan baik seperti kata suhu dahulu,” kata Bwee Hwa. “Maaf, nona. Suhumu yang mulia agaknya sudah mengenalku. Siapakah sesungguhnya nama suhumu? Dan siapa pula nama dan julukan nona sendiri kalau aku boleh mengetahuinya?”

“Suhu berjuluk Sin-kiam Lojin. ”

“Wah! Kiranya engkau murid locianpwe (orang tua gagah) itu? Dan namamu……” “Namaku Bwee Hwa boleh juga disebut Ang-hong-cu (Si Tawon Merah).”

“Ah, pantas saja aku menjadi sibuk setengah mati menghadapi ilmu pedangmu. Tak tahunya engkau murid seorang ahli pedang yang hebat. Dan julukanmu tadi memang tepat sekali. Ketika tadi aku bertanding denganmu, aku merasa seolah-olah aku diserang ribuan ekor tawon yang luar biasa, membuat aku bingung dan permainanku menjadi kacau. Dan kalau tidak salah, locianpwe Sin-kiam Lojin adalah seorang ahli pula dalam mempergunakan senjata rahasia berupa jarum yang disebut hong-cu- ciam (jarum tawon). Tentu engkau pandai pula mempergunakannya. Pantas sekali kalau engkau disebut Ang-hong-cu. Dengan pakaian merahmu memang engkau seperti seekor tawon yang sengatannya dahsyat dan berbahaya sekali!”

“Hemm, sengatanku hanya kutujukan kepada para penjahat!” kata Bwee Hwa dan mukanya berubah agak merah oleh pujian pemuda itu. Diam-diam ia merasa suka kepada pemuda yang peramah dan wajahnya cerah gembira ini.

Karena merasa lelah setelah tadi berkejaran kemudian bertanding, Siong Li lalu duduk di atas sebuah batu besar yang berada di tepi jalan dan mempersilakan Bwee Hwa untuk duduk pula.

“Kita beristirahat sejenak agar lebih enak bercakap-cakap. Kukira, banyak yang dapat kita bicarakan tentang Hwe-coa-kauw yang sama-sama kita musuhi itu, bukan?”

Bwee Hwa mengangguk. “Agaknya engkau mengetahui banyak tentang perkumpulan gerombolan jahat itu. Ceritakanlah karena aku ingin menolong seorang gadis yang mereka culik.”

“Hemm, agaknya gadis yang aku tahu mereka larikan itu. Baiklah, aku mulai bercerita tentang asal usul mereka. Perkumpulan Hwe-coa-kauw sudah berdiri kurang lebih tigapuluh tahun. Timbulnya agama baru ini dari dunia barat. Pada suatu hari dari barat datanglah seorang pendeta perantau yang menyebarkan pelajaran tentang hidup yang baik dan benar. Pendeta ini mempunyai seekor ular yang aneh. Ular itu kecil saja, akan tetapi mempunyai keanehan. Ia mempunyai tonjolan di kanan kiri perutnya yang bentuknya seperti sayap dan ular itu dapat meloncat dan meluncur dengan cepat seperti seekor burung saja.”

“Mungkin ular kobra yang dapat mengembangkan lehernya,” kata Bwee Hwa.

“Mungkin saja. Akan tetapi ular kobra hanya dapat mengembangkan tubuh bagian leher saja, sedangkan ular kecil milik pendeta itu mengembangkan bagian perutnya mirip sayap. Karena itulah maka ular kecil itu disebut Hwe-coa (Ular Terbang) oleh penduduk.”

Siong Li melanjutkan ceritanya. “Pendeta itu bernama Leng Kong Hoatsu. Selain mengajar tentang budi pekerti baik, juga dia adalah seorang ahli pengobatan yang pandai dan banyak orang diselamatkan dari penyakit yang gawat. Sebetulnya ular itu hanya merupakan binatang peliharaan kesayangannya saja. Akan tetapi karena pada jaman itu orang-orang masih sangat bodoh dan percaya akan tahyul yang bukan-bukan, segera tersiar kabar bahwa Leng Kong Hoatsu mendapatkan ilmu kepandaiannya itu berkat kesaktian ular terbang itu! Mulailah orang-orang memuja ular kecil itu sebagai penjelmaan dewa! Sia-sia saja usaha Leng Kong Hoatsu untuk membantah kabar itu sehingga akhirnya pendeta ini menjadi kecewa dan meninggalkan tempat itu, kembali ke dunia barat, di balik pegunungan Himalaya.

“Biarpun Leng Kong Hoatsu dan “ular terbangnya” telah tidak ada lagi, orang-orang tetap memuja ular terbang. Kebodohan dan ketahyulan orang-orang ini dimanfaatkan orang-orang jahat dan timbullah perkumpulan yang disebut Hwe-coa-kauw (Agama Ular Terbang). Perkumpulan agama baru ini sebentar saja mendapat banyak pengikut dan untuk mendapatkan “berkat” dari Dewa Ular Terbang itu, orang- orang rela menyerahkan uang dan harta benda mereka, disumbangkan kepada perkumpulan agama baru itu.

“Setelah muncul tiga orang pendeta, sebenarnya mereka itu adalah bekas perampok yang kini mengenakan pakaian pendeta dan mencukur rambut mereka, yang memimpin Hwe-coa-kauw, perkumpulan itu maju pesat. Hal ini karena tiga orang pendeta itu memiliki ilmu kepandaian tinggi dan pandai pula bermain sihir sehingga orang-orang menjadi semakin percaya. Tiga orang bekas perampok itu mengangkat diri mereka menjadi Kauw-cu (Ketua Agama). Tiga orang ini memilih para pembantu mereka dari golongan penjahat yang memiliki kepandaian silat tinggi. Para pembantu ini dilatih dan tak lama kemudian Hwe-coa-kauw menjadi perkumpulan yang kaya, kuat dan berpengaruh.

“Akan tetapi, seperti sering kali terjadi di dunia ini, siapa yang sadar akan kekuatan dan pengaruh mereka, akan muncul watak sewenang-wenang mengandalkan kekuatan itu. Demikian pula dengan Hwe-coa-kauw. Setelah merasa kuat, mereka tidak puas hanya dengan menerima sumbangan- sumbangan, dan mulailah tampak belang mereka. Tiga kauwcu dan para pembantunya yang memang berasal dari golongan sesat, mulailah melakukan perbuatan sewenang-wenang dan memaksakan kehendak mereka sehingga rakyat yang tadinya percaya dan kagum, mulai memandang dengan alis berkerut, dan akhirnya menjadi ketakutan dan membenci. Hwe-coa-kauw berubah menjadi perkumpulan orang jahat yang tidak segan melakukan perbuatan keji apapun juga. Bahkan mereka berani melakukan penculikan, perkosaan dan peram pasan hak milik orang lain!

Post a Comment