Bwee Hwa maklum bahwa keadaan para pengawal terancam bahaya. Ia menjadi marah dan kini pedangnya menyambar-nyambar dahsyat dan mulut gadis itu mengeluarkan suara berdengung yang tinggi. Suara itu tidak keras, seperti dengung lebah-lebah yang mengamuk, akan tetapi karena suara itu dikeluarkan dengan pengerahan sin-kang, maka mengandung getaran yang dapat menggetarkan perasaan lawan sehingga melemahkan semangat lawan.
Usahanya itu berhasil baik. Kedua orang pengeroyoknya melemah pertahanannya dan dengan jurus Sin- liong-bhok-cu (Naga Sakti Menyambar Mustika) pedangnya meluncur dan seorang pengeroyok berteriak dan roboh bergulingan di atas genteng lalu jatuh ke bawah, tewas seketika karena dadanya tertembus pedang. Pengeroyok kedua terkejut bukan main dan melompat ke belakang.
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar teriakan kebakaran dari belakang gedung dan tampak api berkobar menjilat-jilat ke atas payon. Melihat ini, sebagian para pengawal segera meninggalkan atap dan lari ke belakang untuk membantu teman-teman mereka yang berusaha memadamkan api agar jangan sampai menjalar ke bagian tengah gedung.
Bwee Hwa tidak berani meninggalkan atap itu karena ia harus melindungi Jaksa Thio sekeluarga. Ia mengamuk dan pedangnya menyambar-nyambar dengan ganasnya mendesak hwesio kedua yang tadi mengeroyoknya. Akan tetapi hwesio itu meloncat pergi melarikan diri dan terdengar suara mendesis- desis seperti ular. Suara itu menjadi isyarat bagi kawanan gerombolan Hwe-coa-kauw untuk melarikan diri. Bwee Hwa menjadi marah. Tubuhnya melayang bagaikan seekor tawon terbang dan sekali pedangnya berkelebat, hwesio yang melarikan diri terkena babatan pedangnya sehingga sebelah kakinya buntung dan dia menjerit kesakitan, tubuhnya menggelinding dan terjatuh ke bawah. Akan tetapi tiga orang hwesio lain sudah melarikan diri dan menghilang dalam kegelapan malam.
Bwee Hwa melompat turun. Ternyata banyak juga pengawal yang terluka, bahkan ada juga yang tewas. Sedangkan yang berhasil dirobohkan hanya dua orang penjahat gundul yang roboh oleh pedangnya tadi.
Ketika ia hendak masuk ke bagian dalam gedung untuk melihat keadaan Jaksa Thio sekeluarga, tiba-tiba ia melihat Jaksa Thio berlari keluar dengan napas terengah-engah dan pembesar itu berteriak-teriak.
“Tolong…..! Tolong….. Cin Lan diculik penjahat……!” Dia melihat Bwee Hwa berdiri di situ dengan pedang di tangan. Jaksa Thio lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata, “Tolonglah, Bwee Hwa tolong Cin
Lan…… ia dibawa lari penjahat berkepala gundul……!”
Bwee Hwa tidak menunggu sampai pembesar itu habis berkata-kata. Tubuhnya berkelebat lenyap dari depan Jaksa Thio dan sebentar saja dara perkasa itu sudah berlari-lari di atas genteng mencari ke sana- sini. Akan tetapi dalam kegelapan malam yang hanya disinari bulan remang-remang itu, ke mana ia harus mencari?
Setelah mengejar ke mana-mana, mengelilingi kota tanpa hasil, ia teringat akan dua orang hwesio yang dirobohkannya tadi. Cepat ia kembali ke gedung Jaksa Thio. Dia situ orang masih sibuk menolong mereka yang terluka dan mengurus yang tewas. Dua orang pendeta palsu itu masih menggeletak di sana. Yang seorang telah tewas mandi darah sedangkan yang buntung sebelah kakinya sudah tiga perempat mati karena banyak mengeluarkan darah dan tidak ada yang sudi menolongnya.
Bwee Hwa menyeret tubuh penjahat itu ke tempat terang. Ia menotok pangkal paha kaki yang buntung untuk menghentikan keluamya darah dan mengurangi rasa nyeri. Hwesio itu bergerak perlahan dan membuka matanya, memandang muka Bwee Hwa dengan kagum dan benci.
“Engkau akan mati. Lebih baik engkau menebus dosamu dengan memberitahukan kepadaku di mana sarang kawan-kawanmu. Mungkin dengan jalan ini dosa-dosamu menjadi ringan,” kata Bwee Hwa.
Dengan susah payah orang gundul itu bertanya, “......engkau... engkau...... engkau... siapakah. ?”
“Aku Bwee Hwa, murid Sin-kiam Lojin!” jawab Bwee Hwa tegas. Ia sengaja memperkenalkan nama gurunya yang dia tahu amat ditakuti para penjahat di dunia kang-ouw.
Kedua mata orang itu terbelalak, mukanya pucat sekali ketika dia memandang wajah Bwee Hwa. ““ahh…… engkau.... hong-cu…… Ang-hong-cu. !” setelah berkata terengah-engah itu kepalanya terkulai
dan diapun tewas.
Bwee Hwa menghela napas panjang. Ia telah gagal memaksa orang itu mengakui di mana sarang Hwe- coa-kauw. Akan tetapi ia tertarik mendengar ucapan terakhir orang tadi. Ia dapat menduga bahwa pendeta Hwe-coa-kauw itu tentu mengenal baik nama besar gurunya dan tentu mengenal pula kesaktian gurunya yang pandai menggunakan senjata rahasia jarum yang disebut hong-cu-ciam (jarum tawon), maka tadi dia menyebutnya sebagai Ang-hong-cu. Tentu karena pakaiannya serba merah itulah. Ang-hong-cu? Hemm, julukan yang tepat dan tidak buruk, bahkan lucu. Ia memang berpakaian merah, warna kesukaannya, dan ia pandai mempergunakan hong-cu-ciam, bahkan pedang pemberian gurunya juga disebut Sin-hong-kiam (Pedang Tawon Sakti)! Boleh juga, pikirnya. Mulai sekarang aku akan menggunakan julukan Ang-hong-cu!
Ia bangkit berdiri dan pada saat itu Jaksa Thio menghampirinya dan dengan suara gemetar dia bertanya mengenai Cin Lan, puterinya. Nyonya Thio berada di belakang suaminya, wajahnya pucat sekali.
“Harap lopek bersabar,” kata Bwee Hwa. “Aku sudah mencari ke seluruh penjuru kota, akan tetapi belum menemukan jejak penculik itu. Ketika aku memaksa keterangan dari penjahat yang terluka, sayang sebelum dapat memberi keterangan orang itu telah tewas.”
Mendengar ini, Nyonya Thio menjerit-jerit dan menangis sedih, sedangkan Jaksa Thio membanting- banting kaki dan menggeleng-geleng kepalanya dengan sedih dan bingung.
“Jahanam Hwe-coa-kauw! Kalau kamu hendak membunuhku, datanglah dan cobalah, jangan menggangu puteriku yang tidak berdosa!” teriak Jaksa Thio sambil mengamangkan kepalan tangannya ke arah genteng rumah.
“Lopek dan bibi, biarlah aku mencari enci Cin Lan sampai dapat!” Setelah berkata demikian, tubuh Bwee Hwa melayang ke atas genteng dan sebentar saja bayangannya sudah lenyap.
Malam telah hampir habis, terganti fajar yang berwarna putih keabu-abuan. Ketika Bwee Hwa sedang berlompatan dari sebuah genteng rumah ke genteng rumah yang lain, dengan gerakan cepat dan ringan sehingga tidak menimbulkan suara, tiba-tiba ia melihat bayangan orang berlari-lari di sebelah timur. Bayangan itu berlari di atas genteng dengan cepat sekali.
Bwee Hwa tentu saja menjadi curiga. Tak salah lagi, bayangan itu tentu seorang di antara para anggauta Hwe-coa-kauw, pikirnya, maka iapun cepat melompat dan melakukan pengejaran. Agaknya bayangan itu mengetahui bahwa dirinya dikejar orang. Dia mempercepat larinya dan sebentar-sebentar menengok ke belakang.
Dalam kejar-mengejar ini, keduanya terkejut dan heran karena mendapat kenyataan bahwa baik yang mengejar maupun yang dikejar tidak mampu mengubah jarak yang ada di antara mereka. Tidak dapat lebih dekat atau lebih jauh. Ini hanya berarti bahwa ilmu berlari cepat dan ilmu meringankan tubuh mereka setingkat dan seimbang! Hal ini membuat Bwee Hwa merasa penasaran sekali karena suhunya sendiri pernah mengatakan bahwa jarang ada orang yang mampu menandingi kecepatan larinya.
Mereka berkejaran terus sampai keluar dari kota. Kabut pagi menipis terusir cahaya matahari yang makin meninggi sehingga kini Bwee Hwa dapat melihat orang yang dikejarnya itu dengan jelas. Sebaliknya, orang yang dikejarnya itu ketika menengok, dapat melihat pengejarnya dengan jelas pula dan dia tertegun. Tak disangkanya bahwa orang yang sejak tadi mengejarnya adalah seorang gadis berpakaian serba merah. Diapun tersenyum dan menghentikan larinya, membalikkan tubuh dan menanti datangnya pengejar itu. Bwee Hwa yang sudah merasa panas hatinya dan penasaran bahwa sejak tadi ia tidak mampu menyusul orang itu, begitu berhadapan segera menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka orang itu dan memaki. “Pengecut jangan lari kalau engkau memang gagah!”
Ternyata pelari itu adalah seorang pemuda yang berwajah cukup ganteng dengan bahu bidang dan tubuh yang agak pendek, hanya lebih tinggi sedikit ketimbang Bwee Hwa.
“Astaga, kukira siapa yang mengejar-ngejarku sejak tadi ”
“Hemm, kaukira siapa?” bentak Bwee Hwa yang marah dengan suara ketus.
Pemuda itu tersenyum dan wajahnya tampak manis kekanak-kanakan kalau dia tersenyum lebar. “Kukira setan atau siluman, tidak tahunya ” dia tidak melanjutkan kata-katanya dan mengamati gadis
itu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, membuat Bwee Hwa merasa risi sekali. “Tidak tahunya siapa? Hayo bicara yang jelas!”
“Tidak tahunya seorang bidadari baju merah yang cantik jelita dan galak!”
“Bangsat kurang ajar!” Bwee Hwa memaki lalu cepat ia menggerakkan pedangnya yang sejak tadi sudah dipegangnya, menyerang dengan tusukan ke arah dada pemuda itu. Gerakannya cepat dan mengandung tenaga sakti yang amat kuat, terbukti dari suara pedang itu yang menggetar ketika ditusukkan.
Pemuda itu terkejut, maklum bahwa gadis itu memiliki pedang yang amat berbahaya dan merupakan lawan yang lihai sekali. Diapun cepat mencabut pedangnya dan segera menyambut dengan gerakan tangkas, cepat dan bertenaga. Juga dia bersilat dengan hati-hati sekali. Setelah beberapa kali serangan Bwee Hwa dapat dia hindarkan dengan elakan cepat, tiba-tiba pedang gadis itu menyambar dengan babatan cepat ke arah lehernya. Tentu saja pemuda itu tidak mengehendaki lehernya dipenggal. Dari samping diapun menggerakkan pedangnya menangkis sambil mengerahkan tenaga sekuatnya.