Bwee Hwa memandang Cin Lan dan tersenyum. “Usiaku delapanbelas tahun.”
“Ah, masih muda sekali. Aku sudah sembilan belas tahun. Adik Bwee Hwa, dalam usia semuda ini engkau sudah berani berkelana seorang diri. Engkau tentu pandai sekali bersilat. Maukah engkau bersilat pedang sebentar untuk kami?”
Bwee Hwa memandang Cin Lan dan tersenyum menggeleng kepalanya. “Tidak, enci Cin Lan. Aku tidak mau.”
Jaksa Thio ikut membujuk Bwee Hwa untuk memperlihatkan permainan pedangnya. Pembesar ini suka sekali melihat pertunjukan silat, walaupun dia sendiri tidak sangat pandai bermain silat. Dia mempunyai banyak pengawal yang ahli dalam hal ilmu silat, bahkan di sekitar kuil itu terdapat banyak pengawalnya yang menjaga keselamatan keluarganya. Dia hanya ingin memeriahkan suasana dengan membujuk Bwee Hwa bersilat pedang dan dia mengira bahwa gadis itu hanya memiliki kepandaian silat biasa saja.
Akan tetapi ternyata Bwee Hwa juga menolak keras. “Tidak mungkin!” gadis itu menggeleng-geleng kepalanya. “Suhu bilang bahwa sekali-kali aku tidak boleh bermain-main dengan pedang, lebih-lebih untuk sekedar memamerkan kepandaian. Aku hanya mau mencabut pedangku dan memainkannya jika terjadi kejahatan dan ada orang yang perlu kubela dan kutolong. Harap kalian tidak kecewa dan tidak marah.”
Biarpun mulutnya tersenyum, namun di dalam hatinya Jaksa Thio menganggap bahwa Bwee Hwa terlampau angkuh. Akan tetapi karena ucapan gadis itu jelas sekali terdengar demikian berterus terang dan jujur, maka diapun tidak menjadi kecewa dan mereka lalu makan minum.
Bwee Hwa tidak merasa malu-malu atau sungkan-sungkan lagi. Setelah dipersilakan, ia lalu menggasak hidangan di atas meja karena memang sejak pagi tadi ia belum sarapan. Apalagi masakan yang dihidangkan di atas meja itu ternyata lezat dan belum pernah ia makan senikmat itu.
Jaksa Thio sekeluarga merasa geli dan juga senang melihat sikap Bwee Hwa dan cara makannya yang gembul itu. Mereka membiarkan saja gadis itu makan sampai kenyang dan ayah, ibu dan puteri mereka itu dengan ramah bergantian menawarkan masakan-masakan yang belum disentuh Bwee Hwa. Akhirnya mereka merasa cukup dan melihat Bwee Hwa tidak makan lagi dan hendak menyusut bibirnya dengan ujung lengan baju, Cin Lan memegang lengannya dan menyerahkan sehelai kain lap putih yang memang disediakan untuk menyusut bibir dan tangan.
Bwee Hwa menerima dan tersenyum senang.
“Bwee Hwa,” kata Jaksa Thio yang mulai merasa akrab dengan gadis itu maka ia memanggil namanya begitu saja. “Engkau belum mengatakan siapa She (marga) dan siapa pula orang tuamu, di mana tempat tinggal mereka.”
Bwee Hwa mengerutkan alisnya akan tetapi ia menjawab juga.
“Aku tidak tahu siapa she-ku. Sejak kecil aku ikut suhu dan aku tidak tahu pula siapa nama orang tuaku, hanya ayahku berjuluk Kauw-jiu Pek-wan dan sekarang aku sedang mencari orang tuaku.”
Jaksa Thio mengangkat alisnya. “Akan tetapi, di mana tempat tinggal mereka?”
Bwee Hwa menggeleng kepalanya. “Aku tidak tahu, akan tetapi aku akan mencarinya.”
Jaksa Thio dan anak isterinya merasa suka dan iba sekali kepada gadis baju merah yang cantik jelita dan bersikap polos itu. Jaksa Thio juga tidak bertanya lebih lanjut agar tidak membangkitkan kenangan sedih dalam hati Bwee Hwa.
Pada saat keluarga Jaksa Thio dan semua orang sudah menyelesaikan perjamuan itu, tiba-tiba sebuah benda kecil hitam menyambar dari luar ke arah dada Jaksa Thio. Pembesar ini dapat melihat benda itu dan cepat mengelak dengan miringkan tubuhnya, akan tetapi gerakannya kurang cepat dan benda itu menancap di pundak kirinya. Jaksa Thio berteriak kesakitan dan semua orang terkejut. Benda hitam itu ternyata adalah sebuah senjata rahasia piauw (besi runcing bersayap).
Pada saat itu, terdengar bentakan nyaring dari mulut Bwee Hwa dan gadis ini melompat ke atas. Kedua tangannya bergerak menangkap dua benda piauw lagi yang melayang ke arah tubuh Jaksa Thio. Piauw ke empat ia tendang dengan sepatunya sehingga senjata rahasia itu mencelat ke atas dan menancap pada langit-langit ruangan kuil itu. Akan tetapi pada saat itu, dari luar menyambar lagi empat buah piauw ke arah Jaksa Thio dan isterinya!
Bwee Hwa kembali mengeluarkan bentakan nyaring, cepat ia menyambitkan dua batang piauw di tangannya, dengan tepat mengenai dua batang piauw yang melayang dari luar sehingga runtuh. Kemudian dengan kepretan tangan ia menangkis dua batang lagi sehingga dua batang piauw itupun jatuh ke lantai.
Bwee Hwa lalu tersenyum kepada Thio Cin Lan dan berkata, “Enci Lan, engkau tadi ingin melihat aku bermain pedang? Nah, sekaranglah waktunya aku bermain pedang!”
Cin Lan hanya memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat dan tiba-tiba pandang matanya menjadi silau ketika Bwee Hwa tahu-tahu telah mencabut sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya. Itulah pedang mustika Sin-hong-kiam (Pedang Tawon Sakti) pemberian gurunya. Kemudian, dengan menggunakan jurus Sin-liong-coan-in (Naga Sakti Menembus Awan), tubuh Bwee Hwa melompat tinggi dan melayang keluar ruangan itu. Di lain saat gadis baju merah itu telah bertanding di pekarangan kuil melawan tiga orang laki-laki yang berpakaian serba biru dan yang bertubuh tinggi besar. Bwee Hwa melihat betapa di bagian dada kiri tiga orang lawannya itu terdapat sulaman gambar seekor ular kecil bersayap. Mereka bertiga memegang golok dan ternyata ilmu golok merekapun cukup lihai.
Para pengawal Jaksa Thio hanya mengepung dari jauh. Mereka ada belasan orang, akan tetapi karena tadi ketika mereka hendak menangkap orang-orang yang menyerang Jaksa Thio dengan senjata rahasia, merekapun diserang dengan piauw dan tiga orang di antara mereka roboh. Karena itulah mereka menjadi gentar dan melihat nona baju merah itu bertanding seru melawan tiga orang penjahat, mereka hanya mengepung dan siap dengan senjata mereka.
Para penonton yang tadi ikut makan minum, menjadi ketakutan, akan tetapi karena perkelahian itu terjadi di pekarangan kuil, merekapun tidak berani keluar dan tinggal berkumpul dalam ruangan depan kuil itu sambil menonton pertandingan di pekarangan dengan muka pucat. Lima orang pengawal kini berdiri menjaga dan melindungi Jaksa Thio dan anak isterinya. Sikap mereka berlagak gagah-gagahan, seolah merekalah yang menyelamatkan keluarga itu!
Tiga orang laki-laki tinggi besar itu memang mahir sekali bersilat golok. Akan tetapi sekali ini mereka menghadapi murid Sin-kiam Lojin yang memainkan pedang pusaka ampuh dan ilmu pedangnya tinggi sekali. Belum sampai duapuluh jurus mereka bertempur, seorang pengeroyok telah roboh dengan pundak terluka tusukan pedang di tangan Bwee Hwa.
Dua orang pengeroyok lain yang sudah terdesak, tidak sanggup menandingi kelihaian Bwee Hwa. Mereka berseru keras dan melompat jauh, menyimpan golok mereka dan kedua tangan mereka bergerak. Dari masing-masing tangan mereka menyambar tiga batang piauw sehingga sekaligus ada dua belas batang piauw menyambar.
Bwee Hwa merasa kagum juga. Ia cepat memutar pedangnya sehingga piauw-piauw itu tertangkis runtuh. Akan tetapi ia mendengar jeritan di belakangnya dan ketika ia menengok, ia melihat betapa seorang penjahat yang tadi dirobohkannya telah tewas dengan dua batang piauw menancap di lehernya! Dan ketika dia memandang ke arah dua orang yang melarikan diri tadi, mereka sudah lenyap.
Bwee Hwa dengan tenang menyarungkan kembali pedangnya, lalu dipungutnya sebatang piauw yang tadi tertangkis runtuh ke atas tanah. Seperti semua piauw yang dipergunakan para penjahat itu, yang melukai jaksa Thio dan yang menewaskan penjahat, senjata rahasia itu berbentuk aneh. Kepala piauw itu berbentuk seekor ular bersayap. Ia teringat akan gambar sulaman di baju bagian dada kiri para penjahat.
Setelah seorang penjahat tewas dan dua orang melarikan diri, para penonton yang ikut berpesta bubaran tanpa sempat pamit atau berterima kasih kepada Jaksa Thio. Mereka menjadi ketakutan. Para pengawal kini sibuk berkumpul dekat keluarga Jaksa Thio dengan muka pucat. Ada pula yang mengurus mayat penjahat itu.
“Bwee Hwa, kami sekeluarga telah engkau selamatkan. Kalau tidak ada engkau di sini, besar kemungkinan kami tewas di tangan para penjahat. Marilah, Bwee Hwa, marilah ikut dengan kami ke rumah kami di mana kita dapat bicara dengan leluasa,” kata Thio-taijin setelah pundaknya diberi obat oleh kepala pengawal. “Terima kasih, lopek. Aku hendak melanjutkan perjalananku,” Bwee Hwa menolak.
Cin Lan menghampiri dan merangkulnya. “Adik Bwee Hwa, marilah engkau ikut dengan kami ke rumah. Engkau bukan saja telah menyelamatkan kami, akan tetapi aku sudah menganggap engkau sebagai adikku sendiri. Marilah, Bwee Hwa!”
Nyonya Thio juga membujuk. “Bwee Hwa, kami mohon agar engkau suka ikut dengan kami. Kami khawatir sekali. Bagaimana kalau para penjahat itu datang lagi dan mengulangi serangan mereka kepada kami?”
Karena keluarga itu membujuk-bujuk dan Bwee Hwa sendiri juga khawatir kalau-kalau para penjahat itu akan mengganggu lagi, maka akhirnya ia ikut juga. Keluarga itu bersama Bwee Hwa lalu menuju ke rumah Jaksa Thio, dikawal oleh para perajurit pengawal. Di sepanjang perjalanan, banyak orang menonton karena berita tentang gadis baju merah yang amat lihai dan yang sudah menyelamatkan nyawa keluarga Jaksa Thio telah tersebar luas di seluruh kota Ki-ciu.
Jaksa Thio yang sudah mendapat perawatan dan lukanya tidak terasa terlalu nyeri lagi, lalu memanggil semua pengawal yang tadi bertugas mengawalnya. Dia memarahi mereka dan menyatakan penyesalannya bahwa mereka itu lalai dan lemah.
“Bagaimana mungkin ada tiga orang penjahat dapat menyerang kami padahal kalian belasan orang menjaga di sana?” Jaksa Thio menegur kepala pengawal yang bernama Kim Tiong, seorang perwira pengawal yang bertubuh tinggi besar dan berkumis tebal.