Bwee Hwa merasa penasaran. Sejak ia ikut dengan gurunya, setiap kali ia tanyakan, gurunya seolah tidak mengacuhkan pertanyaannya tentang orang tuanya dan sekarang ia menduga bahwa ayahnya yang mempunyai julukan seperti itu, tidak salah lagi tentu seorang yang terkenal di dunia kang-ouw sebagai seorang ahli silat yang pandai.
“Apakah yang menjadi pekerjaan ayah, suhu?”
“Aku tidak dapat menceritakan kepadamu, Bwee Hwa,” Sin-kiam Lojin menggeleng-geleng kepalanya. “Pernah kuceritakan kepadamu bahwa dahulu aku menculikmu karena aku melihat engkau berbakat baik dan aku ingin mengambil engkau sebagai muridku. Ketika engkau kubawa lari, aku mendengar orang memanggilmu dengan nama Bwee Hwa. Ketika itu engkau berusia kurang lebih delapan tahun. Tentu engkau akan dapat mengenal wajah orang tuamu kalau engkau bertemu dengan mereka. Cari saja Kauw-jiu Pek-wan dan engkau tentu akan bertemu dengan ayah ibumu. Percayalah bahwa kelak kita tentu akan dapat saling berjumpa lagi. Baik-baiklah engkau menjaga dirimu dan setiap menghadapi persoalan ingatlah akan semua petuah dan nasihatku agar engkau selalu mengikuti jalan yang ditempuh para pendekar. Nah, selamat berpisah, Bwee Hwa!”
Sehabis berkata demikian, kakek itu mengebutkan lengan bajunya dan tubuhnya berkelebat ke arah barat. Bwee Hwa menggerakkan tangannya hendak mengejar, namun ia ingat akan watak suhunya yang aneh dan keras. Sekali suhunya mengeluarkan kata-kata, tidak akan ditarik kembali atau ditunda-tunda. Maka iapun lalu menjatuhkan dirinya berlutut ke arah perginya Sin-kiam Lojin sebagai penghormatan terakhir.
Hatinya disentuh keharuan dan tak terasa lagi air matanya mengalir turun di sepanjang kedua pipinya. Ia merasa betapa ia sangat mencinta dan menghormat gurunya yang ia anggap sebagai pengganti orang tuanya itu.
Ketika akhirnya ia bangkit berdiri sambil mengusap air matanya dengan ujung lengan baju, ia teringat akan ayah ibunya. Ia lalu duduk di atas sebongkah batu besar yang berada di tepi jalan dan mengingat- ingat, mengenang masa kecilnya.
Samar-samar ia ingat bahwa ayahnya adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi besar yang mukanya penuh cambang bauk yang hitam. Wajah ayahnya itu gagah sekali dan juga menyeramkan seperti harimau. Yang terbayang dalam benaknya adalah bahwa suara ayahnya itu besar dan lantang, dan sepasang matanya lebar dan bundar, pandang matanya tajam.
Ia lalu mencoba untuk mengingat-ingat wajah ibunya dan terbayanglah dibenaknya wajah seorang wanita yang cantik berkulit putih dan wajahnya selalu kepucat-pucatan dengan sepasang mata yang selalu tampak sayu dan sedih. Mengingat ibunya, hatinya kembali diliputi keharuan dan bibirnya gemetar ketika ia berbisik, “Ibu……” Kini ia hidup seorang diri. Dilepas sendirian di dunia yang luas ini, ia sama sekali tidak merasa khawatir atau takut. Ia hanya merasa kesepian. Dulu telah beberapa kali suhunya membawa ia berkeliling dari dusun ke dusun lain sehingga ia tidak merasa terlalu asing akan keadaan dusun-dusun dan kota. Juga di dalam buntalan pakaiannya yang tergantung di punggungnya terdapat beberapa potong uang perak pemberian suhunya untuk bekal dalam perantauannya.
Kalau ia kehabisan uang untuk biaya perjalanannya, suhunya berpesan bahwa boleh saja ia mengambil uang dari tangan para gerombolan perampok, atau dari rumah seorang pembesar yang terkenal korup, atau dari rumah seorang hartawan yang kikir dan suka menggunakan harta benda untuk berbuat sewenang-wenang.
Setelah menenangkan hatinya, Bwee Hwa lalu membenarkan letak buntalan pakaiannya, mengencangkan tali sepatu dan ikat pinggangnya, lalu berangkatlah ia menuju ke timur. Dengan hati tabah dan tekad bulat, ia mulai dengan pengembaraannya tanpa tujuan tertentu kecuali hendak mencari orang tuanya yang hanya dikenal sebagai Kauw-jiu Pek-wan dan akan mempergunakan semua kepandaian yang telah dikuasainya untuk membela kebenaran, keadilan dan kebaikan.
Kota Ki-ciu merupakan kota yang makmur dan ramai dikunjungi para pedagang dari daerah-daerah lain. Kota ini memiliki daerah petanian dan perkebunan yang subur dan terkenal sebagai daerah yang menghasilkan banyak buah-buahan, palawija, bahkan rempa-rempa. Hasil bumi yang banyak itu banyak dicari para pedagang yang membawanya ke luar daerah sehingga keadaan kota Ki-ciu menjadi ramai, penduduknya mendapatkan penghasilan yang cukup sehingga kehidupan mereka lebih makmur dibandingkan penduduk kota lain yang tidak memiliki tanah sesubur di daerah Ki-ciu. Karena keadaannya yang baik ini, makin lama kota Ki-ciu menjadi semakin besar.
Banyak pedagang menanamkan modalnya di situ, dan banyak penduduk daerah lain pindah ke daerah Ki-ciu untuk mencari nafkah. Kotanya sendiri semakin besar. Banyak toko-toko menjual segala macam kebutuhan. Banyak pula rumah makan dan rumah penginapan untuk melayani para pendatang dan pedagang yang bermalam di kota itu. Rumah-rumah besar dibangun untuk mengganti rumah-rumah butut. Tanah di daerah Ki-ciu, terutama di dalam kota, menjadi mahal sekali. Rumah-rumah besar dan bagus yang berderet-deret di sepanjang jalan raya kota itu menjadi lambang kemakmuran kota.
Pada suatu hari, kota Ki-ciu menjadi lebih ramai dari pada biasanya. Orang-orang yang berlalu-lalang di jalan raya, di daerah toko-toko dan rumah-rumah besar, tampak berseri-seri, dan banyak rumah yang dihias dengan kertas-kertas berwarna, bunga-bunga dan daun-daunan. Suasananya seperti kalau penduduk menyambut hari besar atau hari raya. Padahal hari itu tidak merupakan hari raya. Namun, penduduk kota Ki-ciu menyambut hari itu seperti sedang merayakan sesuatu yang menggembirakan.
Memang, sebagian besar penduduk Ki-ciu sedang bergembira, menyambut dan ikut merayakan hari ulang tahun Thio-taijin (Pembesar Thio) yang menjadi jaksa di kota Ki-ciu. Sungguh amat mengherankan kalau penduduk menyambut gembira perayaan hari ulang tahun seorang pembesar, apa lagi seorang jaksa! Padahal, pada waktu itu, pada umumnya rakyat membenci para pembesar yang mereka anggap sebagai penguasa yang suka menyalah-gunakan kekuasaan mereka, sewenang-wenang terhadap rakyat dan suka melakukan korupsi.
Akan tetapi, Thio-taijin terkenal sebagai seorang bangsawan dan jaksa yang adil dan jujur, dengan tegas dan adil membela kebenaran, suka membela rakyat kecil sehingga tidak mengherankan apabila dia disegani dan dicinta oleh penduduk kota Ki-ciu. Namun, seperti lajim terjadi di bagian manapun di dunia ini, kalau ada yang diuntungkan pasti ada pula yang dirugikan. Kalau yang diuntungkan mencinta jaksa Thio yang adil itu, pasti banyak pula yang membencinya, yaitu mereka yang merasa dirugikan oleh keadilan sang jaksa. Yang jelas, para penjahat amat membenci Jaksa Thio karena dia tidak pernah memberi ampun kepada penjahat yang tertangkap. Dan tidak segan menjatuhkan hukuman berat kepada para pemerkosa, perampok, pencuri, penipu dan sebagainya.
Selain para penjahat, juga banyak hartawan membencinya, yaitu para hartawan yang suka bertindak sewenang-wenang mengandalkan hartanya, ingin menjadi “raja kecil”, suka membeli tanah rakyat kecil dengan paksa. Mereka ini membentur karang dan tidak berdaya menghadapi Jaksa Thio karena dalam segala perkara yang diajukan di pengadilan, Jaksa Thio bertindak tegas dan adil, memenangkan yang benar dan mengalahkan yang salah. Para hartawan itu sama sekali tidak mampu untuk menyogok atau menyuapnya. Bahkan yang berani coba-coba, ditindak tegas dan dihukum!
Para pembesar lain di kota Ki-ciu tidak ada yang berani banyak ulah berbuat sewenang-wenang mengandalkan kekuasaannya karena tentu akan ditentang Jaksa Thio. Mereka ini “terpaksa” ikut menjadi baik pula. Keadaan inilah yang menambah tenteram dan makmur para penduduk kota Ki-ciu.
Pagi itu Bwee Hwa memasuki kota Ki-ciu yang sedang dalam suasana gembira itu. Gadis yang bagaikan seekor burung baru meninggalkan sarangnya itu merasa gembira sekali. Ia berjalan perlahan, memandangi ke kanan kiri, memuaskan pandang matanya yang mengagumi keindahan gedung-gedung dengan cat beraneka warna dan ukir-ukiran yang menghias wuwungan atap dan tiang-tiangnya. Bahkan ia menjadi agak bingung melihat banyaknya orang lalu lalang di atas jalan raya, di depan toko-toko bagaikan rombongan semut!
Ketika tiba di depan sebuah kuil, ia menghentikan langkahnya dan memandang dengan penuh kekaguman. Pernah ia melihat kuil-kuil di dusun yang dilewatinya, akan tetapi tidak seperti ini. Kuil-kuil itu kecil sederhana saja. Akan tetapi kuil ini besar, dengan ukiran-ukiran dan tata warna indah sekali. Di atas atapnya terdapat ukir-ukiran sepasang naga sedang memperebutkan sebuah bola mustika. Di depan kelenteng terdapat banyak arca besar yang menggambarkan perajurit-perajurit yang gagah perkasa, arca yang besar dan megah. Dari dalam kelenteng tampak asap mengepul keluar dan tercium bau hio (dupa) yang harum.
Kuil ini menjadi tempat pemujaan terhadap Kwan Kong atau Kwan In Tiang, seorang panglima besar, seorang tokoh yang amat terkenal akan kesaktian, kegagahan, kesetiaan dan kejujurannya dalam kisah lama Sam Kok (Tiga Negara). Kuil ini memang terpelihara baik-baik karena Jaksa Thio adalah seorang pemuja Kwan Kong dan dia merayakan hari ulang tahunnya di kuil itu. Jaksa inilah yang membiayai pemeliharaan kuil sehingga masih tampak terawat dan indah.