Halo!

Istana Pulau Es Chapter 13

Memuat...
ID
ID

"Eh, bocah bermuka buruk! Kau mau apa?"

"Jawab dulu, apakah engkau ini telah melakukan perampokan dan membunuh para pengawal dan pelayan itu?"

"Ha-ha-ha! Benar sekali! Tidak hanya pengawal dan pelayan, juga tuan besar nyonya besar telah menjadi mayat di dalam kereta! Hanya puterinya, heh-heh, cantik dan menggairahkan, menjadi bagian tai-ong kami! Kau mau bagian? Jangan main-main! Para pengawal yang kuat itu semua mampus oleh kami. Nih, terima bagianmu!"

Tiba-tiba Si Tinggi Kurus itu melontarkan peti yang berat ke arah Siangkoan Lee. Peti yang beratnya lebih dari seratus kati itu melayang ke arah Siangkoan Lee dan para anggauta gerombolan itu tertawa-tawa, yakin bahwa pemuda kerempeng itu tentu akan roboh tertimpa peti dan gepeng tubuhnya. Akan tetapi, suara ketawa mereka terhenti dan mereka melongo ketika melihat Siangkoan Lee menerima sambaran peti itu hanya dengan telapak tangannya dan Si Pemuda kurus itu melontar-lontarkan peti itu ke atas seperti seorang anak kecil mempermainkan sebuah bola karet, kemudian tangan itu mendorong maju, peti melayang ke arah, Si Tinggi Kurus dengan kekuatan dahsyat.

"Ahhh....!"

Perampok tinggi kurus itu terkejut, menggunakan kedua tangan untuk menerima peti, akan tetapi tak tertahan olehnya dan dialah yang roboh terjengkang, kepalanya pecah tertimpa peti yang berat!

Para perampok yang tinggal delapan orang itu menjadi marah sekali. Mereka menurunkan bawaan masing-masing, mencabut senjata lalu menerjang Siangkoan Lee seperti serombongan srigala mengamuk. Pemuda kurus ini pun membentak keras dan mencabut sebatang golok melengkung yang amat tajam, memutar golok menghadapi pengeroyokan delapan orang itu tanpa merasa gentar sedikit pun. Ternyata olehnya bahwa para perampok itu bukanlah orang-orang biasa, melainkan penjahat-penjahat kawakan yang pandai ilmu silat dan bertenaga besar. Namun, Siangkoan Lee mainkan goloknya dengan hebat dan sebagai murid yang tekun dari Suma Kiat yang berilmu tinggi, tentu saja gerakannya selain cepat juga mengandung tenaga sin-kang yang kuat.

Sementara itu, Suma Hoat membalapkan kudanya melewati para anak buah perampok yang ia serahkan kepada sutenya, terus mengejar kepala perampok yang melarikan wanita itu. Karena kepala rampok itu menjalankan kudanya perlahan sambil tertawa-tawa dan tangannya menggerayangi tubuh wanita rampasannya, sambil mencium dan kelihatan makin gembira karena wanita itu meronta-ronta, sebentar saja kuda Suma Hoat telah menyusulnya.

"Berhenti kamu keparat hina!"

Bentak Suma Hoat dan sekali meloncat tubuhnya sudah berdiri menghadang di depan kuda yang ditunggangi kepala perampok tinggi besar itu. Kepala perampok yang tubuhnya seperti raksasa itu membelalakkan matanya yang lebar. Kumis dan jenggotnya yang tebal bergerak-gerak, mukanya menjadi merah dan dia menjadi marah sekali.

"Heh, siapa engkau bocah yang bosan hidup?"

Bentaknya sambil melompat turun dan masih memondong wanita yang kini berhenti meronta dan memandang kepada Suma Hoat dengan mata terbelalak seperti seekor kelinci ketakutan, namun dari sinar matanya timbul harapan yang tadinya sudah patah.

"Serrr....!"

Jantung Suma Hoat seperti berhenti berdetik tertikam sinar mata itu. Tak disangkanya dia akan melihat seorang dara yang seperti itu. Cantik jelita, manis dan berwajah seperti bidadari! Mengingat betapa tangan kasar dan kotor kepala perampok itu tadi menggerayangi tubuh Si Jelita, apalagi mengingat betapa wajah menyeramkan penuh cambang bauk itu tadi mencium muka yang begitu halus, bibir yang begitu merah segar, kemarahannya meluap dan darahnya seperti mendidih.

"Binatang rendah!"

Ia memaki sambil menunjuk ke arah muka kepala perampok itu.

"Engkau tidak mengenal Suma-kongcu, putera Panglima Suma Kiat? Engkau telah merampok, membunuh orang dan menculik gadis terhormat. Sekarang tibalah saatnya engkau mampus di tangan Suma Hoat!"

"Heh-heh-heh! Aku Si Tangan Besi Ciu Ok mana kenal segala macam bangsawan tukang korup? Kalau engkau sudah bosan hidup, marilah!"

Perampok itu melepaskan tubuh dara itu setelah menotok punggungnya membuat dara itu lemas dan rebah miring di atas rumput.

"Kau tunggulah sebentar, calon biniku, heh-heh! Lihat dan nikmati baik-baik betapa kakandamu membunuh tikus bermuka halus ini!"

Akan tetapi Suma Hoat sudah menerjangnya dengan hebat. Kepala perampok itu menangkis, mengandalkan kekuatan tangannya. Dia dijuluki Tiat-ciang (Si Tangan Besi) karena kedua tangannya amat kuat dan keras seperti besi, hasil latihan ilmu Tiat-ciang-kang yang latihannya menggunakan bubuk besi panas. Akan tetapi begitu ia menangkis, ia terpekik kaget karena lengannya terasa sakit dan ia terhuyung ke belakang. Kudanya kaget, meringkik dan lari.

"Kepala perampok laknat, kematianmu sudah di depan mata!"

Suma Hoat yang marah sekali itu sudah menerjang lagi dengan pukulan-pukulan mautnya. Si Kepala Perampok adalah seorang ahli silat, akan tetapi dalam hal ilmu silat dia tidak dapat dibandingkan dengan Suma Hoat yang memiliki ilmu silat tinggi. Ilmu silat yang dimiliki kepala perampok ini adalah ilmu silat kasar dan dia selama ini hanya mengandalkan kedua tangannya yang kuat. Namun, bertemu dengan pemuda itu, seolah-olah kedua tangannya bertemu dengan baja yang lebih keras lagi! Setelah tiga kali menangkis dan tiga kali terhuyung dengan lengan terasa nyeri dan panas, kepala perampok itu memekik keras dan mencabut keluar senjatanya berupa sehelai rantai baja yang ujungnya dipasangi bola baja berduri. Cepat ia mengayun senjatanya menerjang lawan.

"Wuuut-wuut-wuuttt....!"

Angin menyambar keras ketika bola berduri itu menyambar dan rantainya terputar-putar. Namun dengan mudah Suma Hoat mengelak dan pemuda ini enggan mencabut pedangnya setelah menyaksikan gerakan lawan yang hanya memiliki ilmu silat kasar itu. Dia menghadapi lawan yang bersenjata rantai dengan kedua tangan kosong, mengelak ke kanan kiri dengan lincahnya menanti kesempatan baik. Dara cantik yang tertotok dan rebah miring, dapat menyaksikan pertandingan itu dan dari mulutnya yang kecil terdengar jerit-jerit tertahan kalau melihat senjata yang dahsyat itu menyambar, mengancam wajah yang halus tampan Si Pemuda penolongnya. Biarpun dara itu tidak pandai ilmu silat, akan tetapi dia merasa heran mengapa pemuda tampan itu tidak mau mencabut pedangnya yang tergantung di punggung!

"In-kong (Tuan Penolong)...., pergunakan. pedangmu....!"

Akhirnya ia tidak dapat menahan kekhawatiran hatinya lagi melihat betapa nyaris kepala pemuda itu dihantam bola berduri, begitu dekat bola itu menyambar lewat di atas telinga kiri Suma Hoat.

Aneh sekali, dara itu sudah lupa akan bahaya yang mengancam dirinya sendiri, sebaliknya khawatir kalau-kalau pemuda itu kena pukul dan pecah kepalanya. Mendengar suara itu, Suma Hoat tersenyum gembira. Aku harus memperlihatkan kelihaianku, pikirnya gembira seperti lazimnya seorang pemuda ingin berlagak memamerkan kepandaiannya di depan seorang dara yang menarik hatinya. Cepat ia merubah gerakannya, sekarang tubuhnya berkelebat cepat sekali sehinga Si Kepala Rampok berkali-kali berteriak kaget karena tubuh lawan seperti lenyap. Tiba-tiba Suma Hoat mendapat kesempatan baik, ketika bola berduri menyambar ia menggunakan tangannya dari samping menangkap bola itu dan sekuat tenaga ia melontarkan bola ke arah muka penyerangnya.

"Prokkk! Adduuuuhhh....!"

Tubuh kepala perampok itu terjengkang dan roboh telentang dengan muka berubah menjadi onggokan daging yang remuk dan nyawanya melayang tak lama kemudian. Dara jelita itu memejamkan mata penuh kengerian, kemudian ia menangis terisak-isak. Suma Hoat cepat berlutut dan sekali totok ia membebaskan tubuh dara itu dari pengaruh totokan Si Kepala Rampok.

"Tenanglah, Nona. Bahaya telah lewat. Si Keparat laknat tewas."

Dara itu cepat menjatuhkan diri berlutut di depan Suma Hoat,

"In-kong telah menyelamatkan nyawa saya, akan tetapi.... hu-hu-huuukkkk.... ayah bundaku telah terbunuh.... di dalam kereta....!"

Suma Hoat terkejut dan marah sekali.

"Mari kita lihat, temanku sedang membasmi kawanan perampok, perlu bantuanku!"

Ia lalu menyambar pinggang dara itu, dibawa meloncat ke atas punggung kudanya yang tidak lari karena kuda itu sudah terlatih baik, kemudian membalapkan kudanya ke arah pertempuran yang masih berlangsung dekat kereta. Ternyata bahwa Siangkoan Lee dengan mudah telah merobohkan tiga orang pengeroyok dengan goloknya dan kini yang lima orang masih mengeroyoknya mati-matian.

Melihat ini Suma Hoat sambil memeluk pinggang dara itu dengan lengan kiri, mencabut pedang dengan tangan kanan, kudanya menyerbu, pedangnya berkelebat dan terdengarlah pekik-pekik kesakitan dan empat orang perampok roboh dan tewas. Siangkoan Lee berhasil merobohkan perampok terakhir dan Suma Hoat setelah menyimpan pedangnya lalu menurunkan tubuh dara itu. Sambil terisak-isak dara itu berlari ke arah kereta yang rebah miring, membuka pintunya dan menjerit-jerit memanggil ayah bundanya. Suma Hoat meloncat dekat kereta. Cepat ia mengeluarkan tubuh seorang setengah tua yang terluka dadanya. Orang itu masih hidup dan cepat pemuda ini mengeluarkan obat luka yang merah warnanya, mengobati luka itu dan membalutnya. Ayah dara itu masih hidup biarpun terluka parah, akan tetapi ibunya telah tewas karena tusukan pedang yang menembus jantungnya!

"Terima kasih.... Kongcu.... saya Ciok Khun menghaturkan terima kasih kepadamu...."

"Paman hendak pergi ke manakah?"

Post a Comment