Wanita itu memondong Maya dan meloncat menjauhi.
"Aku yang lebih dulu mengambilnya. Anak ini hebat....!"
Ia mengelus pipi, memeriksa mata, rambut dan mulut Maya.
"Anak hebat....! Ah, manis, siapakah namamu?"
Tanyanya dalam bahasa Han. Biarpun dia seorang puteri Khitan, namun sejak kecil ia diajar bahasa Han di samping bahasa Khitan, maka Maya lalu menjawab,
"Namaku Maya. Kalian siapakah?"
Anak ini lupa akan kesengsaraannya karena heran menyaksikan dua orang aneh yang tadi bicara dalam bahsa yang tak dimengertinya, juga yang mempunyai wajah asing, hidung panjang dan pakaian yang aneh pula.
"Maya? Bagus sekali! Nama yang bagus sekali!"
Wanita itu berseru girang dan menciumi kedua pipi Maya. Anak itu mencium bau kembang yang aneh, wangi namun memuakkan baginya, akan tetapi dia tidak melawan dan membiarkan mukanya dihujani ciuman oleh wanita itu.
"Kau cocok denganku! Hebat! Engkau tentu suka menjadi kekasihku bukan? Maya, engkau tentu anak Khitan!"
Wanita itu kini menggunakan bahasa Khitin dan Maya menjawab dalam bahasa itu juga, suaranya berubah girang.
"Benar, aku adalah Puteri Maya, puteri.... Raja dan Ratu Khitan!"
"Apa....?"
Laki-laki itu meloncat maju.
"Puteri Khitan? Hayo, Dewi, berikan padaku anak itu. Aku yang berhak! Dia berdarah raja, dan tampaknya dia memang memiliki darah murni. Berikan!"
"Tidak!"
Wanita itu memondong Maya dengan lengan kiri sedangkan tangan kanannya mengepal tinju, mukanya merah menentang dan matanya bersinar-sinar merah kepada laki-laki berkulit hitam itu.
"Mahendra! Belum puaskan engkau dengan darah beberapa orang anak yang telah kauhisap habis? Engkau penghisap darah anak yang tiada puasnya! Tidak, anak ini adalah milikku. Engkau tidak boleh mengganggu Maya! Dia punyaku dan kalau engkau memaksa aku akan membunuhmu."
Laki-laki itu yang disebut Mahendra, tertawa bergelak sehingga ngeri hati Maya melihatnya. Muka yang hitam itu kelihatan lebih hitam lagi setelah tertawa dan nampak deretan gigi yang putih mengkilap!
"Ha-ha-ha-ha! Nila Dewi, engkau mengancamku berkali-kali seolah-olah aku ini hanya seekor semut yang mudah mati diinjak! Aku memang haus akan darah anak perempuan, akan tetapi hal itu hanyalah karena aku belum menemukan anak yang darahnya cocok untuk menyempurnakan ilmuku. Kalau aku sudah mendapatkan darah seorang anak seperti Maya ini, tentu aku selanjutnya takkan butuh darah lagi. Berikanlah, sayang. Malam nanti terang bulan, kita dapat berkasih-kasihan. Kalau ada aku di sini, masa engkau butuh belaian seorang bocah seperti itu lagi? Ha-ha-ha!"
"Mahendra, aku tidak main-main. Maya ini milikku dan habis perkara!". Nila Dewi mulai mencium-cium dan mencucup-cucup kulit leher dan pipinya. Gilakah perempuan ini, pikirnya.
"Ha-ha-ha, kalau begitu, sebaiknya kita bertanya kepada Maya agar dia yang memilih."
Mahendra memandang Maya dan berkata dalam bahasa Khitan,
"Eh, Maya anak manis, dengarlah. Kalau engkau memilih aku, terus terang saja aku akan mengambil darahmu untuk obat, akan kuisap habis dan engkau akan mati seketika tanpa merasa terlalu nyeri. Sebaiknya kalau engkau memilih Nila Dewi, dia akan menjadikan engkau kekasihnya untuk menuruti nafsu berahinya yang selalu berkobar tak pernah padam. Engkau akan dibelai, diperas dan perlahan-lahan engkau pun akan mati! Memilih aku berarti mati seketika tanpa banyak menderita, memilih dia berarti akan mau sekerat demi sekerat dan banyak menderita!"
"Phuaahhh, bohong!"
Nila Dewi menjerit marah.
"Memilih dia mati seperti seekor ayam disembelih, sedangkan memilih aku, hemmm.... akan mengalami kenikmatan dunia. Andaikata mati, mati dalam kenikmatan, bukankah itu bahagia sekali! Kau memilih aku, ya Maya? Memilih aku, anak manis?"
Nila Dewi mendekatkan mukanya dan mencium bibir Maya, mengecupnya lama-lama sampai tersedak-sedak kehabisan napas baru dilepaskan. Kini Maya menjadi takut sekali, hatinya dicengkeram rasa ngeri yang hebat. Kiranya dia terjatuh kedalam tangan dua orang asing yang entah gila entah memang berwatak Seperti iblis! Kalau tahu begini, jauh lebih baik dia pingsan di bawah tumpukan mayat-mayat itu!
"Hayo pilih, pilih siapa engkau. Maya?"
Laki-laki berkulit hitam itu mendesak dan melangkah maju. Maya memandang mereka bergantian dengan mata terbelalak. Bagaimana dia bisa memilih? Keduanya sama menyeramkan dan memilih yang manapun berarti dia akan mati! Kematian di tangan laki-laki itu sudah pasti, darahnya akan disedot habis.
Dia bergidik ngeri. Akan tetapi biarpun dia tidak dapat membayangkan bagaimana akan mati di tangan wanita itu, namun ia sudah membayangkan kengerian yang membuat ia bergidik dan menggigil. Dia dijadikan kekasih! Apa artinya ini? Kedua orang itu memang bukan manusia-manusia, lumrah. Keduanya adalah saudara seperguruan, murid-murid seorang sakti di Pegunungan Himalaya. Keduanya memiliki ilmu kepandaian luar biasa dan tinggi, akan tetapi mempunyai keahlian yang khusus, yaitu membuat pedang yang ampuh. Guru mereka, bertapa di Himalaya itu memang seorang ahli membuat senjata ampuh, di samping memiliki kesaktian yang tinggi. Ketika mereka, kakak beradik seperguruan ini mulai tergoda nafsu berahi di tempat sunyi itu dan melakukan pelanggaran hubungan kelamin, gurunya marah-marah dan mengusir mereka.
Mahendra dan Nila Dewi melarikan diri ke tempat asal mereka, yaitu di India Utara. Akan tetapi, di tempat ini pun mereka terkenal sebagai manusia-manusia iblis yang tidak segan melakukan pembunuhan dan perbuatan-perbuatan keji, menculik anak-anak, sehingga akhirnya mereka dimusuhi pemerintah dan kembali melarikan diri. Sekali ini mereka lari ke Nepal dan di negara ini mereka berdua, berkat kepandaian mereka yang tinggi, diangkat menjadi empu-empu pembuat pusaka kerajaan. Di tempat ini mereka dapat bertahan sampai puluhan tahun karena Raja Nepal selalu menyediakan segala kebutuhan mereka, anak-anak kecil untuk dihisap darahnya oleh Mahendra, anak-anak dan dara-dara jelita untuk dijadikan kekasih Nita Dewi yang mempunyai kesukaan aneh sekali, yaitu suka bermain cinta dengan wanita muda cantik!
Sampai berusia empat puluh tahun lebih, kedua orang saudara seperguruan ini masih menjadi kekasih, kadang-kadang bermain-main cinta dengan mesra, akan tetapi kadang-kadang bercekcok sebagai dua orang musuh besar, bahkan tidak jarang mereka bertanding mati-matian! Akan tetapi, selalu Mahendra yang mengalah karena diam-diam Mahendra benar-benar jatuh cinta kepada adik seperguruannya ini. Karena cintanya yang besar maka dia pun tidak mengganggu kesukaan kekasihnya yang membagi cintanya dengan anak-anak perempuan cantik. Kehidupan di Nepal membosankan dua orang manusia iblis ini. Apalagi ketika mendengar bahwa di timur terjadi pergolakan perang antar suku, mereka lalu meninggalkan Nepal untuk menonton keramaian. Di mana terjadi perang, di sana akan banyak ditemukan korban-korban mereka!
"Memilih siapa, anak manis?"
Nila Dewi bertanya, suaranya halus lemah-lembut dan penuh kasih sayang sehingga sejenak Maya terpengaruh, membuat dia hampir merangkul wanita itu. Akan tetapi dia teringat dan mulailah anak yang memiliki keberanian luar biasa dan yang sudah berhasil mendinginkan hatinya yang tegang itu memutar otaknya. Kalau memilih Mahendra, berarti terus mati dan tidak ada kesempatan menyelamatkan diri. Dia harus hidup. Masih banyak hal yang harus ia kerjakan dalam hidupnya! Kalau dia memilih Nila Dewi, berarti akan ada kesempatan baginya untuk melarikan diri.
"Aku memilih Nila Dewi!"
Katanya lantang. Nila Dewi girang sekali, sambil memondong Maya dia menari-nari berputaran. Maya merasa heran dan juga kagum karena tarian Nila Dewi sungguh indah. Tubuhnya dapat bergerak-gerak lemah-gemulai, pinggangnya meliak-liuk seperti tubuh ular dan sepasang gelang pada kakinya saling beradu menimbulkan irama seperti musik yang mengiringi tariannya!
"Anak manis! Anak baik! Kekasihku.... aihh, engkau memilih aku, hi-hik!"
Nila Dewi menunduk kembali mencium mulut, Maya, tangan kiri memondong, sedangkan jari-jari tangan kanannya menggerayangi Maya. Maya terkejut sekali dan merasa betapa semua bulu di tubuhnya bangun berdiri penuh kengerian. Sungguhpun wanita ini tidak menjijikkan seperti Bhutan, akan tetapi perbedaannya hanyalah karena Nila Dewi wanita, namun belaian-belaiannya sungguh mengerikan hatinya, memuakkan dan menimbulkan jijik dan takut. Tiba-tiba Mahendra melompat cepat dan Maya merasa betapa belaian dan ciuman Nila Dewi berhenti, tubuh wanita itu menjadi lemas kemudian roboh bersama dia!
"Mahendra, engkau pengecut curang....!"
Nila Dewi mengeluh, berusaha untuk bangkit akan tetapi roboh lagi. Mahendra tertawa-tawa, memeluk Nila Dewi dan memberi ciuman yang membuat Maya yang melihatnya membuang muka.
Ketika ia memandang lagi, ternyata Nila Dewi telah duduk bersila dekat pohon, kedua lengan ditelikung ke belakang dan diikat kuat-kuat. Tahulah ia bahwa tadi selagi Nila Dewi mencium dan membelainya, penuh nafsu berahi yang menghilangkan kewaspadaannya, Mahendra telah menyerangnya dan menotok wanita itu roboh terkulai lemas dan tidak dapat melawan lagi! Timbul rasa takutnya dan ia hendak lari. Akan tetapi, sekali sambar saja Mahendra sudah menangkapnya, kemudian menggunakan sebuah tali panjang mengikat kedua kaki dan tangannya, bahkan tali pengikat kaki yang panjang itu lalu dipergunakan oleh Mahendra untuk menggantung tubuh Maya dari cabang pohon. Tali itu diikatkan pada cabang pohon sehingga tubuh Maya tergantung menjungkir dengan kepala di bawah dan kedua tangannya terikat ke belakang punggung!
"Mahendra!"
Nila Dewi yang duduk bersila di bawah pohon itu berteriak.