"Ha-ha-ha, Maya yang manis! Tadinya aku hendak menunggu satu dua tahun sampai engkau lebih matang. Akan tetapi aku tidak sabar menunggu sekian lamanya dan engkau.... hemm, engkau sudah cukup matang, engkau seperti setangkai kuncup kembang yang sudah merekah, marilah, Maya manis!"
Bhutan yang kini sudah berubah seperti seekor anjing kelaparan itu menangkap tangan Maya dan menarik tubuh anak perempuan itu sehingga roboh ke dalam pelukannya.
Bhutan tertawa-tawa dan memondong tubuh Maya yang meronta-ronta, membawanya ke balik gerombolan pohon kembang di mana terdapat tilam rumput hijau yang lunak. Tak jauh dari situ terdapat mayat seorang wanita yang baru saja menjadi korban kebuasan Bhutan. Manusia kejam ini telah memperkosa wanita rampasan itu, kemudian membunuhnya karena wanita itu tidak memuaskan hatinya dan dalam kehausan nafsu yang bernyala-nyala, Bhutan teringat akan Maya dan kini membawa anak perempuan yang meronta-ronta itu ke situ tanpa mempedulikan mayat yang menjadi korban kebuasannya.
Sambil tertawa-tawa dan dengan nafsu makin menyala-nyala, agaknya makin terbangkit oleh perlawanan Maya yang meronta-ronta, Bhutan melempar tubuh Maya ke atas rumput di mana dara cilik itu terbanting roboh telentang, kemudian Bhutan menubruk dan menindihnya. Maya menggerakkan kepala ke kanan kiri untuk mengelakkan ciuman-ciuman Bhutan yang menjijikkan. Biarpun semenjak tadi Maya meronta-ronta dan menjerit-jerit seperti seorang yang tidak berdaya dan yang hanya bisa menjerit dan menangis, namun sesungguhnya diam-diam anak ini telah mempersiapkan seluruh urat tubuhnya dengan perhitungan seorang ahli silat.
Ketika melihat lowongan, yaitu kedua tangan Bhutan menjambak rambutnya, agaknya untuk memaksa Maya agar tidak dapat menggerakkan kepala mengelak, kemudian mencium mulut gadis cilik itu penuh nafsu, saat itulah yang dinanti-nanti Maya. Ia mengatupkan mulutnya ,kuat-kuat sehingga yang dicium Bhutan hanya sepasang bibir yang bersembunyi, dan tiba-tiba tangan kanan Maya bergerak, menikamkan pisau belati tepat, ke ulu hati Bhutan dan miring ke kiri, ke arah jantung, sedangkan tangan kirinya yang kecil itu menusuk dengan jari-jari terbuka ke arah mata lawan. Biarpun Maya merasa muak dan jijik, namun dengan kekuatan hatinya ia dapat menekan perasaannya itu dan dapat melakukan serangan mendadak secara tepat sekali.
Pekik yang keluar dari mulut Bhutan merupakan raungan binatang buas yang direnggut nyawanya. Tusukan jari-jari kecil pada kedua matanya dan rasa sakit pada dadanya membuat Bhutan secara otomatis membawa tangannya ke mata dan dada. Saat yang hanya beberapa detik ini cukup bagi Maya untuk meronta. dan keluar dari tindihan tubuh Bhutan, kemudian meloncat pergi lalu berlari cepat memasuki tempat gelap. Bhutan meloncat bangun, meraung lagi, berusaha mengejar namun roboh terguling, berkelojotan dan dari kerongkongannya terdengar bunyi mengorok seperti babi disembelih. Akhirnya ia tewas tak jauh dari mayat wanita yang telah dibunuhnya. Akan tetapi perhitungan Maya meleset. Dia tidak memperhitungkan pekik yang keluar dari mulut Bhutan ketika ia melakukan penikaman.
Pekik itu menarik perhatian dan mengejutkan beberapa orang anak buah gerombolan yang berada tidak jauh dari tempat itu! Mereka kaget dan meninggalkan wanita korban mereka yang sudah setengah mati, lalu meloncat ke tempat terdengarnya suara, pekikan. Tentu saja merasa terkejut melihat tubuh Bhutan berkelojotan dan lenyapnya Maya. Mereka berteriak-teriak dan tak lama kemudian, empat belas orang bekas pengawal itu telah mengejar Maya! Akhirnya Maya yang kelelahan dan kehabisan tenaga karena memang tubuhnya sekarang telah menjadi lemah akibat tidak terpelihara dengan baik, makan dan tidur tidak teratur, tertangkap oleh gerombolan itu di luar sebuah dusun menjelang pagi. Empat belas pasang tangan memperebutkan-nya, dan seorang di antara mereka cepat,berkata,
"Heh, kawan-kawan jangan bodoh! Kalau dipere-butkan begitu, dia akan mampus. Sayang sekali kalau begitu! Lebih baik dia dirawat dan kita pelihara baik-baik. Dia dijadikan milik kita bersama. Ingat, dia bukan kembang sembarang kembang, harus diperlakukan penuh kelembutan. Ha-ha-ha!"
Mendengar ini, yang lain-lain setuju dan sambil tertawa-tawa mereka menggandeng tangan Maya yang sudah babak belur itu.
"Nah, ini ada dusun, melihat bangunan-bangunannya lumayan juga. Bocah ini masih terlalu kecil, kita pelihara dulu sampai menjadi segar dewasa. Lihat, dia sudah hampir mati kelelahan. Lebih baik kita mencari bunga di dusun itu dan berpesta-pora!"
Terdengar suara seorang di antara mereka.
Setelah Bhutan tewas, empat belas orang itu merupakan gerombolan tanpa pimpinan yang tentu saja menjadi lebih buas seperti srigala-srigala tanpa bimbingan. Sambil bersorak-sorak, empat belas orang itu menyerbu dusun. Dua orang penjaga di pintu pagar dusun, mereka bunuh tanpa banyak cakap lagi. Mulailah lagi perbuatan jahat dan penuh kebuasan melanda dusun itu. Penduduknya yang terkejut karena tak menyangka akan diserbu pada pagi hari itu, menjadi geger! Ada sebagian penduduk yang nekad melakukan perlawanan, namun tentu saja mereka itu bukan tandingan gerombolan bekas pasukan pengawal yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi itu. Mulailah terjadi pembunuhan, disusul perampokan, pembakaran dan perkosaan.
Mulailah terdengar pekik-pekik mengerikan, pekik kematian dicampur dengan jerit-jerit penuh ketakutan, jerit-jerit para wanita yang diperlakukan semaunya oleh gerombolan itu. Sementara itu Maya tidak mendapat kesempatan untuk lari karena sewaktu para gerombolan menyerbu dusun, kaki tangannya dibelenggu kuat-kuat dan dia dipaksa menunggu mereka dalam keadaan tidak dapat bergerak, hanya sepasang matanya yang lebar menyaksikan semua kekejian yang terjadi di dusun itu. Seperti biasa pula pada akhir penyerbuan sebuah dusun, para gerombolan ini menyeret wanita yang mereka pilih, ada yang sibuk mengumpulkan benda-benda berharga, ada yang minum arak sampai mabok dan di antara asap rumah-rumah yang masih menyala, mereka tertawa-tawa dan berkumpul di dekat tumpukan mayat-mayat, memandang rumah terbakar,
Ada yang mulai mengganggu wanita di depan mata kawan-kawannya, ada yang bernyanyi-nyanyi, menyanyikan lagu kemenangan barisan tentara Khitan. Semua ini terjadi dengan hiruk-pikuk dan Maya terpaksa harus menonton semua yang terjadi di depan mata karena ia berada di tengah-tengah antara mereka. Belenggunya sudah dilepas dan dia menjadi muak dan pening. Di belakangnya, tiga orang gerombolan sedang mengganggu tiga orang wanita yang menjerit-jerit di antara suara ketawa mereka, di depannya juga ada dan di kanan kiri, gerombolan-gerombolan itu tertawa-tawa, minum-minum dan mengamat-amati hasil rampokan mereka dengan gembira! Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda banyak sekali mendatangi dusun yang terbakar itu. Empat belas orang gerombolan bekas pengawal menjadi terkejut.
Akan tetapi mereka sudah terlalu mabok, mabok oleh arak dan mabok nafsu sehingga mereka terlambat untuk mengetahui bahwa yang datang adalah pasukan musuh, pasukan bangsa Yucen yang berjumlah lima puluh orang! Tahu-tahu mereka diserbu oleh pasukan Yucen yang banyak jumlahnya itu dan terjadilah perang tanding yang berat sebelah. Biarpun gerombolan bekas pengawal ini rata-rata memiliki kepandaian tinggi, namun mereka itu sudah setengah mabok dan jumlah mereka kalah banyak. Mereka melakukan perlawanan gigih dan mengamuk. Melihat kesempatan ini, Maya berusaha untuk melarikan diri. Ia meloncat, akan tetapi sebuah tamparan seorang pengawal terdekat membuat ia roboh terpelanting dan pingsan di antara tumpukan mayat! Perang kecil yang berat sebelah itu berlangsung tidak terlalu lama.
Biarpun mengorbankan beberapa orang anak buahnya, namun pasukan Yucen akhirnya berhasil membunuh empat belas orang gerombolan bekas pengawal Khitan itu. Mayat mereka malang-melintang dan bertumpuk-tumpuk di antara mayat-mayat bekas korban mereka, penduduk dusun dan wanita-wanita muda yang mereka perkosa. Sisa pasukan Yucen lalu pergi meninggalkan dusun itu yang kini berubah menjadi tempat yang mengerikan sekali. Keadaan amat sunyi, yang terdengar hanyalah api yang masih memakan atap-atap rumah. Tampak di sana-sini muncul beberapa orang penduduk yang berani datang untuk mengambil dan mengungsikan barang-barang mereka, akan tetapi tak seorang pun berani mendekati tumpukan mayat empat belas orang gerombolan yang merubah dusun itu menjadi neraka bagi penduduknya.
Tak lama kemudian, dari arah barat tampak dua orang berjalan ke arah dusun itu. Dari jauh sudah tampak bahwa mereka adalah seorang laki-laki dan seorang wanita, yang laki-laki berkulit hitam sekali dan yang wanita berkulit putih, akan tetapi tubuh wanita itu tinggi, bahkan lebih tinggi sedikit dibandingkan dengan laki-laki berkulit hitam itu. Kalau dilihat dari dekat, tentu orang akan terheran-heran melihat pakaian dan wajah mereka yang berbeda jauh dari penduduk umumnya. Laki-laki itu tinggi kurus, kulitnya hitam arang, rambutnya yang keriting ditutup sorban kuning, tubuh atas tidak berbaju hanya dilibat kain kuning yang sudah dekil, tubuh bawah memakai celana hitam sampai di bawah lutut, kakinya tidak bersepatu.
Sederhana sekali pakaian dan sikapnya, namun wajahnya membayangkan kewibawaan besar dengan sepasang mata yang tajam seperti mata pedang tetapi juga menyeramkan dan liar itu bergerak ke sana-sini. Si Wanita tidak kalah anehnya. Wajahnya berbentuk seperti laki-laki itu, kening lebar, mata lebar, hidung mancung sekali dan besar, dagu runcing sehingga dia memiliki kecantikan yang aneh dan khas. Telinganya memakai hiasan cincin besar, rambutnya terurai sampai ke punggung. Tubuhnya tinggi besar, nampak kuat seperti tubuh pria namun gerak-geriknya yang lemah-lembut menandakan bahwa dia benar-benar seorang wanita. Memakai baju berlengan pendek dan celana panjang sampai ke kaki berwarna biru, akan tetapi di luar bajunya, ia memakai sutera kuning yang panjang dilibat-libatkan di tubuh.
Lengan kirinya yang berkulit putih kemerahan, bukan putih kekuningan seperti kulit wanita pribumi, memakai sebuah gelang emas yang besar dan tebal. Demikian pula kedua pergelangan kakinya dihias gelang kaki terbuat dari pada emas sehingga kadang-kadang kalau kedua kaki berganti langkah, gelang-gelang itu beradu dan menimbulkan suara berdencing nyaring. Usia mereka kurang lebih empat puluh tahun dan mereka berjalan berdampingan tanpa berkata-kata, memasuki dusun itu dan menggeleng-geleng kepala menyaksikan rumah-rumah terbakar dan mayat-mayat bertumpukan dan berserakan. Ketika tiba di tumpukan mayat empat belas orang bekas pengawal Khitan dan wanita-wanita serta penduduk, mereka berhenti dan bicara dalam bahasa India.
"Bukankah pakaian mereka itu menunjukkan bahwa mereka, pasukan pengawal Khitan?"
Kata Si Wanita.
"Agaknya begitulah,"
Jawab yang laki-laki suaranya parau dan dalam.
"Manusia di mana-mana sama saja, sekali diberi kesempatan, lalu berlumba saling membunuh."
Keduanya sudah akan melangkah pergi lagi ketika tiba-tiba terdengar rintihan yang keluar dari tumpukan mayat.
"Ha! Seorang anak perempuan!"
Laki-laki itu berkata dan matanya mengeluarkan sinar aneh, kedua tangannya bergerak mendorong ke depan. Angin yang kuat menyambar ke arah tumpukan mayat dan.... sebagian mayat yang bertumpuk di atas terlempar seperti daun-daun kering tertiup angin. Tampaklah kini seorang anak perempuan yang merintih tadi bangun dan berusaha melepaskan diri dari himpitan mayat-mayat. Anak ini adalah Maya yang tadi pingsan kemudian tubuhnya tertindih banyak mayat!
"Aihh! Anak siapa ini?"
Wanita itu meloncat maju mendahului Si Laki-laki, gerakannya cepat sekali seperti terbang dan sekali sambar ia telah mencengkeram punggung baju Maya dengan tangan kiri dan mengangkat tubuh Maya ke atas sambil dipandangnya penuh perhatian. Lagak wanita itu seperti seorang wanita sedang memeriksa seekor kepiting yang hendak dibelinya di pasar!
"Haiii! Kesinikan anak itu! Dia milikku karena akulah yang menemukannya, aku yang pertama membongkar tumpukan mayat yang menimbunnya!"
Laki-laki itu berseru, melangkah maju.
"Tidak!"