Halo!

Istana Pulau Es Chapter 08

Memuat...

Empat orang pelayan itu saling pandang, lalu tersenyum dan bagaikan empat ekor kupu-kupu, mereka berlarian menjauh dan bersembunyi di dalam bangunan kecil, agak jauh dari tempat itu.

"Tai-hiap, engkau hendak pergi ke manakah?"

"Siocia, saya mendapat tugas dari Menteri untuk melakukan penyelidikan ke negara bangsa Yucen....!"

"Aihhh....! Bangsa yang biadab itu....!"

Sang Puteri berseru kaget sekali.

"Karena itu, maka harus diselidiki keadaannya, Siocia. Demi kepentingan kerajaan ayahmu saya harus berangkat besok pagi-pagi. Karena inilah maka saya memberanikan diri menghadap Siocia untuk berpamit."

"Kam-taihiap, berapa lamakah kau pergi....?"

Han Ki menggeleng kepala.

"Bagaimana saya bisa tahu, Siocia? Tergantung keadaan di sana dan.... hemmm, kalau saya sampai tidak kembali menghadap Siocia itu berarti bahwa saya tentu tewas di sana.... eh! Siocia .... ! Siocia ....!"

Han Ki cepat menubruk dan merangkul dara itu yang tiba-tiba menjadi lemas dan pingsan mendengar ucapannya itu. Dia merangkul leher dara itu penuh kasih sayang, penuh kemesraan, lalu memondongnya dan memangkunya sambil duduk di bangku tepi kolam. Ia tahu bahwa dara itu hanya pingsan karena kaget, maka perlahan-lahan ia mengurut belakang kepalanya. Muka itu tengadah, agak pucat namun bibirnya masih merah segar. Pernapasan merasa lega sekali dan tanpa disadarinya ia menunduk mencium dahi yang putih halus itu. Sang Puteri sadar dan berteriak ketika mendapatkan dirinya dipangku dan dahinya dicium.

"Ahhh, Kam-taihiap....!"

Ia merintih dan kedua lengannya merangkul leher.

"Hong Kwi.... Hong Kwi....?"

Han Ki juga mengeluh, sakit hatinya karena maklum akan keadaan mereka yang seolah-olah terpisah jurang kedudukan, dan kini malah akan berpisah!

Ia menjadi terharu, bercampur cinta kasih mendalam dan tanpa mereka sadari dan tanpa mereka ketahui siapa yang memulainya, muka mereka saling berdekatan dan bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman mesra, ciuman yang mereka lakukan tanpa sadar, seolah-olah ada tenaga gaib yang mendorong mereka karena selama hidup mereka belum pernah berciuman seperti itu. Tercurah seluruh kerinduan hati, seluruh keharuan, seluruh cinta kasih sehingga sambil berciuman yang seolah-olah takkan pernah terlepas lagi itu mereka terisak, naik sedu-sedan dari dada mereka, ke tengorokan. Mereka terengah-engah, terbuai oleh gelombang asmara yang hebat, baru melepaskan ciuman setelah napas tak tertahan lagi, saling rangkul seolah-olah tak hendak melepaskan lagi.

"Hong Kwi....!"

"Koko....! Kam-koko....!"

Entah berapa lama mereka saling rangkul, entah berapa kali mereka saling berciuman. Tiada bosan-bosannya Han Ki mencium dahi, alis, mata, hidung, pipi, bibir dan leher wanita yang dicintanya, seolah-olah hendak menghisap semua itu dan menyimpannya ke dalam lubuk hatinya. Mereka lupa diri, lupa waktu,lupa keadaan.

"Siocia....!"

Suara pelayan menyadarkan mereka.

"Hamba mendengar suara peronda....!"

Puteri itu melepaskan diri dari atas pangkuan Han Ki, berdiri gemetar sambil memegang lengan Han Ki yang kuat.

"Koko.... bagaimana dengan kita....? Ahh, Koko, jangan tinggalkan aku, bawalah aku pergi.... mari kita minggat malam ini juga...."

Han Ki menutup mulut itu dengan ciuman mesra, tidak peduli lagi bahwa perbuatannya ini kelihatan oleh pelayan yang cepat membuang muka dengan sungkan.

"Hushhh, jangan berkata demiklan, kekasihku. Jangan khawatir, aku pasti akan kembali membawa jasa dan tentang masa depan kita, harap jangan khawatir.... Twako Kam Liong tentu akan membantuku dan engkau akan dilamar secara resmi. Mengingat akan kedudukan dan jasa Menteri, kiranya pinangan itu takkan ditolak oleh Hongsiang. Nah, selamat berpisah, manisku. Itu peronda datang...."

Han Ki melepaskan pelukannya dan hendak meloncat pergi.

"Koko ....! Ahh, Koko....!"

Puteri itu merintih. Han Ki meloncat kemibali, memberi ciuman yang mesra sekali yang seolah-olah menghisap hati dara itu, kemudian tanpa menoleh ia sudah meloncat cepat lenyap dari situ. Untung bahwa pemuda itu memiliki kepandaian yang hebat sehingga munculnya peronda tidak mengakibatkan sesuatu karena peronda-peronda itu tidak melihat atau mendengar kehadiran Si Pemuda yang nekat dan berani mati karena asmara itu.

Para peronda memberi hormat kepada Puteri Sung Hong Kwi yang telah menguasai hatinya dan tanpa mengeluarkan kata-kata dara itu kembali ke kamarnya diikuti empat orang pelayannya yang diam-diam saling towel saling cubit dan menutupi senyum dengan tangan mereka. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kam Han Ki berangkat melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya oleh Menteri Kam Liong, yaitu menyelidiki ke kota raja bangsa Yucen untuk menyusul Khu Tek San, yaitu murid Menteri Kam Liong yang diselundupkan ke Kerajaan bangsa Yucen. Adapun Menteri Kam Liong sendiri tak lama kemudian juga pergi seorang diri setelah mendapat perkenan Kaisar, pergi ke Khitan untuk menyelidiki kerajaan adiknya yang ia tahu terancam perang besar dengan bangsa Yucen, bahkan barisan Sung sendiri atas pimpinan panglima-panglima perbatasan yang sudah disetujui oleh Kaisar juga membantu bangsa Yucen menyerang Khitan.

Ia merasa khawatir sekali, apalagi karena ia pun tahu bahwa bangsa Mongol sedang berkembang dan selalu mengintai daerah-daerah perbatasan! Maya berjalan seperti kehilangan semangat bersama pasukan pengawal yang kini telah berubah menjadi perampok-perampok, menjadi serigala-serigala haus darah yang amat kejam di bawah pimpinan Bhutan. Anak perempuan yang usianya baru sepuluh atau sebelas tahun ini menderita tekanan batin yang bukan main hebatnya. Pertama-tama tentang keadaan dirinya yang ternyata bukanlah puteri Raja dan Ratu Khitan, melainkan keponakan mereka, dan bahwa ayah bundanya telah tewas. Hal ini saja sudah membuat ia berduka bukan main, sungguhpun andaikata dia benar puteri Raja dan Ratu, mereka ini pun sekarang telah tewas.

Ke dua, menyaksikan kekejaman-kekejaman yang dilakukan pasukan itu benar-benar mengerikan sekali. Ke tiga, memikirkan keselamatannya sendiri yang terancam malapetaka hebat. Malam itu, gerombolan yang dipimpin Bhutan mengaso di sebuah hutan dan mereka itu berpesta-pora dan mabuk-mabukan karena baru saja mereka membasmi sebuah dusun. Di antara suara ketawa-tawa mereka terdengar jerit dan rintih wanita-wanita yang mereka culik dan mereka seret ke dalam hutan itu. Ada di antara mereka yang sekaligus membawa dua orang wanita dan mempermainkan mereka seperti seekor kucing mempermainkan dua ekor tikus. Maya tidak melihat itu semua, tidak mendengar itu semua. Sudah terlalu sering ia mendengar dan melihat hal-hal mengerikan itu sehingga biarpun kini mata dan telinganya terbuka, namun yang tampak olehnya hanya api unggun di depannya.

Diam-diam dia telah mempersiapkan diri. Di dalam perampokan-perampokan itu, ia menemukan sebuah pisau belati yang runcing dan tajam. Disembunyikannya pisau itu di balik bajunya, diselipkan di ikat pinggang sebelah dalam. Dan ia selalu mencari akal untuk melarikan diri. Mereka sedang mabok-mabokan dan memperkosa wanita rampasan. Kalau saja Bhutan malam itu tidak menjaganya, tentu ia akan dapat melarikan diri di dalam hutan yang gelap itu. Mereka sedang mabok dan sedang mengganggu para wanita. Kalau dia lari, tentu takkan ada yang tahu. Jantungnya sudah berdebar karena dia tidak melihat Bhutan yang tadi rebah-rebahan tidak jauh dari situ. Akan tetapi harapannya membuyar ketika tiba-tiba terdengar suara ketawa Bhutan. Suara ketawa yang serak.

"Ha-ha-ha, engkau kelihatan manis sekali di dekat api unggun. Kulit wajahmu kemerahan. Wahai, puteriku jelita! Engkau seperti bukan kanak-kanak lagi, heh-heh-heh!"

Maya merasa muak dan mau muntah ketika muka Bhutan yang didekatkan itu mengeluarkan bau arak dan daging busuk! Jantung Maya berdebar tegang. Ia, tahu bahwa orang yang paling dibencinya ini sedang mabok. Dari pandang mata, sikap dan ucapannya, Maya merasa bahwa ada bahaya mengancamnya, bahaya yang selama ini amat ditakutinya. Biasanya Bhutan hanya merayu dan memujinya dengan kata-kata saja, akan tetapi sekali ini agaknya dia, mempunyai niat lain.

"Pergi dan jangan ganggu aku!"

Maya membentak marah.

Post a Comment