Halo!

Istana Pulau Es Chapter 02

Memuat...

"Jalan sudah buntu! Kita adalah bangsa yang besar dan biarpun selama ini kita mengalami nasib malang, namun semangat kita tak pernah padam! Kalau memang mereka menghendaki perang, apa boleh buat, kita terpaksa mengadakan perlawanan. Hanya aku menyesal sekali akan kebodohan bangsa Yucen, terutama para. bangsawan Khitan yang memberontak. Tidakkah mereka melihat datangnya bahaya hebat yang akan melanda kita semua? Bangsa Mongol jelas sekali memperlihatkan sikap hendak merajai seluruh daratan! Biarlah, kita akan mengadakan perlawanan!"

Raja ini lalu mengutus pengawal untuk mendatangkan bala bantuan dari kota raja, membawa perlengkapan perang dan diam-diam ia pun menulis sepucuk surat kepada isterinya.

"Bahaya besar mengancam kemusnahan kerajaan kita, Isteriku. Akan tetapi, kalau memang para dewa menghendaki demikian, biarlah aku musnah bersama kerajaanku. Aku akan mempertahankan kerajaan yang diberikan oleh leluhur kepadaku itu dengan jiwa ragaku! Akan tetapi engkau Isteriku, dan puteri kita Maya, jangan ikut menjadi korban. Bawalah puteri kita itu ke Pegunungan Gobi, carilah ayah bundaku yang bertapa disana, minta perlindungan!"

Demikian antara lain isi surat Raja ini kepada isterinya. Dan surat inilah yang membuat Puteri Mimi menangis, penuh cinta kasih dan keharuan kepada suaminya yang begitu gagah perkasa sehingga dalam menghadapi bahaya besar, tidak menyuruh dia pergi mencari pertolongan melainkan menyuruh dia dan anaknya pergi menyelamatkan diri, dan dengan sifat penuh kejantanan menghadapi bahaya seorang diri!

"Aduh, Suamiku tercinta,"

Demikian Puteri Mimi mengeluh,

"Lupakah engkau bahwa aku pun anak dan keturunan Panglima Khitan yang setiap saat siap dan rela mempertaruhkan nyawa untuk membela negara? Tidak, aku pun akan menjaga kerajaan dan merupakan benteng pertahanan terakhir. Kalau kerajaan runtuh, bukan hanya engkau, aku pun harus ikut runtuh pula! Biarlah anak kita yang akan kuusahakan agar menyingkir dan menyelamatkan diri."

Diam-diam Puteri Mimipun sudah mempunyai rencana dan menantilah dia akan perkembangan dengan hati gelisah namun tetap bersikap tenang. Perang tak dapat dihindarkan lagi. Pasukan-pasukan penjaga di garis terdepan sudah mulai bentrok dengan pasukan-pasukan musuh. Dalam keadaan seperti itu, seorang panglima tua Khitan menghadap Raja Talibu dan berkata,

"Pihak musuh amat kuat, apalagi hamba mendapat laporan dari para penyelidik bahwa dari utara, bala tentara yang besar dari Mongol telah bergerak datang. Keadaan amat terdesak mengapa sejak dahulu Paduka tidak mengirim utusan ke Go-bi-san mohon bantuan Ayah Bunda Paduka?"

Raja Talibu menggeleng kepalanya dengan sikap tegas.

"Paman Panglima, kalau aku melakukan hal itu, aku akan menjadi manusia tak berguna selama hidupku! Aku menerima kerajaan dari ayah bundaku, apakah hanya untuk dinikmati saja? Apakah aku harus bersikap seperti seorang anak kecil yang menerima benda mainan dari orang tua, kemudian kalau benda itu menjadi rusak lalu kusuruh betulkan orang tuaku? Tidak, Paman, itu bukan sikap seorang pahlawan! Diserahi kerajaan bukan semata untuk menikmatinya dan bersenang-senang, melainkan diikuti pula dengan tanggung jawab! Orang tuaku telah mengundurkan diri bertapa, tidak mengecap kesenangan sedikit pun dari kerajaan, kini kerajaan terancam masa mereka yang harus susah payah pula, biarpun ayah bundaku merupakan orang-orang sakti yang sukar dicari bandingnya, akan tetapi apakah artinya dua orang saja menghadapi gelombang barisan Yucen, dan Mongol dan puluhan bahkan ratusan laksa orang jumlahnya? Kita lawan sendiri, dan persoalannya hanyalah hidup, atau mati, dan urusan itu bukanlah wewenang kita untuk menentukan!"

Panglima tua itu kagum mendengar pendirian rajanya dan bangkitlah semangatnya. Ketika Panglima ini menyampaikan pendapat raja itu kepada para perwira dan perajurit, mereka pun bersorak. menyatakan hendak mempertahankan negara sampai dengan napas terakhir! Perang terjadi di perbatasan barat dengan dahsyatnya. Kekuatan kedua pihak berimbang sehingga banyaklah korban yang jatuh di kedua pihak. Sementara itu, barisan Mongol sudah datang makin dekat selama tiga hari setelah perang berlangsung. Dan sepak terjang barisan Mongol yang menyerbu ke selatan itu amatlah ganas seperti segerombolan harimau kelaparan. Mendengar laporan ini, kecutlah hati Raja Talibu. Betapa bodohnya mereka, bangsa Khitan dan Yucen tidak melihat datangnya bahaya dan berperang sendiri satu kepada yang lain!

Maka berangkatlah Raja ini ke medan perang, membawa gendewanya, naik ke atas kereta perang, dengan pakaian perang yang membuatnya nampak gagah perkasa. Untuk dapat membawa kereta perangnya ke tengah medan pertempuran, raja ini harus merobohkan banyak musuh dan kusirnya sudah beberapa kali diganti karena roboh binasa. Dengan gendewanya, Raja Talibu mengamuk sehingga akhirnya kereta perangnya dapat tiba di tengah medan laga, di tempat yang amat tinggi. Raja Talibu lalu meloncat di atas kereta perangnya, gendewa di tahgan kiri, topi perangnya sudah terlepas dalam, pertandingan ketika ia menuju ke tempat itu sehingga rambutnya terurai ke pundak, nampak gagah perkasa. Kemudian terdengar suaranya mengguntur seperti auman singa di padang pasir.

"Wahai seluruh bangsa Yucen dan Khitan, dengarlah kata-kataku! Kita dibikin buta oleh perang, oleh nafsu mencari kemenangan sehingga tidak peduli akan kedatangan gelombang bangsa Mongol yang akan menghancurkan kita bersama! Apakah tidak lebih baik kita bersatu sebagai dua orang saudara untuk melawan bangsa Mongol daripada kita seperti dua ekor anjing memperebutkan tulang, tidak tahu bahwa serombongan serigala sudah datang hendak menghancurkan kita setelah kita kehabisan tenaga saling berperang sendiri? Pikirlah dan cepat mengambil keputusan, mereka sudah dekat sekali."

Suara Raja Talibu ini amat nyaring dan seketika perang dihentikan, para pimpinan Yucen menjadi ragu-ragu. Memang para penyelidik mereka pun melaporkan akan datangnya gelombang dahsyat bangsa Mongol, akan tetapi karena mereka menghadapi bangsa Khitan yang sudah berada di depan hidung, tentu saja mereka tidak dapat lagi mencegah terjadinya perang dengan bangsa Khitan.

Akan tetapi sekarang Raja Khitan yang gagah perkasa itu bicara sendiri dan ucapannya amat cocok dengan isi hati mereka. Raja Yucen dan pimpinannya lalu berunding dan minta waktu sehari untuk mengambil keputusan. Sementara itu perang itu dihentikan dulu. Namun, keraguan orang-orang Yucen ini mendatangkan bencana hebat karena malam hari itu, secara tidak terduga-duga sekali, barisan Mongol sudah datang menyerbu dengan kekuatan besar. Perang hebat terjadi dan biarpun belum diadakan persetujuan, bangsa Khitan dan Yucen berjuang bahu-membahu untuk melawan barisan Mongol. Perang mati-matian itu berlangsung sampai dua hari dua malam, akan tetapi karena jumlah barisan Mongol lebih besar dan juga anggauta tentara mereka lebih kuat, biarpun pihak Mongol kehilangan banyak tentara,

Akhirnya barisan Khitan dan Yucen dapat terbasmi dan hanya sedikit yang dapat melarikan diri atau takluk setelah raja dan panglima-panglima mereka gugur. Raja Talibu sendiri gugur setelah tubuhnya penuh luka dan tak dapat bergerak lagi, Raja ini tewas sebagai seorang gagah perkasa, tangannya masih memegang pedang dan tubuhnya penuh luka dan mandi darahnya sendiri! Kematian tidak dapat terhindar dari setiap orang manusia, namun banyak macam kematian, dipandang oleh mata dan dipertimbangkan oleh pikiran manusia berdasarkan kebudayaan manusia. Kematian Raja Talibu merupakan sebuah diantara kematian yang terhormat, kematian seorang jantan dan tidaklah mengecewakan dia sebagai seorang Raja Khitan, terutama sebagai putera seorang pendekar besar seperti Suling Emas dan seorang ratu besar seperti Ratu Yalina.

Andaikata ayah bunda ini melihat kematian puteranya agaknya kedukaan mereka akan terhibur oleh kebanggaan! Sebagian para perajurit Khitan yang melarikan diri berhasil kembali ke kota raja dan gegerlah kota raja ketika mendengar berita tentang kehancuran pasukan Khitan dan gugurnya raja bersama para panglima, juga tentang bahaya penyerbuan bangsa Mongol yang sewaktuwaktu pasti akan tiba. Berita kematian Raja Talibu ini diterima oleh Ratu Mimi dengan muka pucat, akan tetapi dengan tenang sekali Ratu ini menahan tangisnya di depan para panglima dan menyatakan bahwa dia akan memimpin sendiri pertahanan kota raja. Bujukan para panglima agar supaya Ratu ini suka pergi mengungsi, diterima dengan kemarahan.

"Kalau aku melarikan diri mana aku patut menjadi ratu dari suamiku, raja gagah perkasa yang telah mengorbankan nyawanya untuk Khitan? Tidak, aku akan mempertahankan kerajaan, kalau perlu dengan tenagaku sendiri! Yang tidak berani boleh saja pergi meninggalkan Khitan!"

Maka gemparlah kota raja. Sebagian ada yang melarikan diri sehingga akhirnya tinggal Ratu Mimi dengan pasukan-pasukan yang setia. Kemudian Ratu ini mengumpulkan sepasukan pengawal, yaitu pengawal Puteri Maya, dan menyuruh mereka membawa Maya melarikan diri dan mencari kakek nenek puteri itu di Pegunungan Go-bi. Puteri Maya menangis dan berkeras tidak mau meninggalkan ibunya, akhirnya ibunya yang biasanya memanjakannya itu membentak.

"Maya! Dengarlah baik-baik! Engkau adalah keturunan Suling Emas, keturunan Ratu Yalina, keturunan Raja Talibu yang gagah perkasa. Patutkah dalam saat seperti ini engkau menangis?"

"Aku tidak mau meninggalkan Ibu. Aku pun akan membantu Ibu menghadapi musuh untuk membalas kematian Ayah!"

"Bodoh! Kalau kau tinggal di sini, engkau pun akan mati."

"Aku tidak takut mati!"

Ratu Mimi menahan tangisnya dan merangkul puterinya, menciumi sambil berkata,

Post a Comment