"Nona in, aku akan ambil salah satu pil ini, mati hidupnya ada terserah ditangan Tuhan, tapi aku ada satu permintaan-"
Nona In bersenyum, "Ho Siang kong, katakanlah ada permintaan apa ?"
"Justeru aku hendak menerangkan pada Ho Siang kong." jawab nona In " kau tentu masih ingat diwaktu lohor ini gunung Hui-cui ada pesuruh menyerahkan seekor kuda dan sebilah golok baja padamu, itulah nona Seng majikanku yang memberikannya.
Kau tentu heran sebab apa nonaku berbuat demikian? sebetulnya ia sudah tahu Ho Siang kong ada seorang jujur dan polos sifatnya, ia amat memperhatikan apa-apa yang dibutuhkan oleh Ho Siang- kong, ia sangat menaruh perhatian kepada seorang yang baik hati, maka Ho Siangkong jangan salah mengerti padanya."
"Dan itu pakaian baru?" menyelak Ho Tiong Jong. "juga nonaku yang telah memberikannya jawab nona In."
Ho Tiong Jong tundukkan kepalanya. Diam-diam ia merasa bersyukur kepada nona Seng yang begitu memperhatikan dirinya tapi siapakah nona itu? ia belum pernah melihat kenal padanya.
Terdengar ia menghela napas. "la budi nonamu dan kau sendiri aku tidak bisa lupakan, sebenarnya dalam hidupku selainnya kau berdua yang menaruh perhatian begitu baik, hanya toako ada satu-satunya kawan karibku. Nah, kalau sebentar lagi aku mati juga tidak akan merasa penasaran aku sudah rela."
"Nona Seng." menyelak nona In, "sudah tahu ilmu silat Ho Siangkong, meskipun tinggi, tapi latihannya kurang. Jadi, kalau harus bertanding dengan orang-orang yang sudah berkumpul disini, perbedaannya jauh sekali, Apa lagi mengingat itu Siluman Khoe Tok punya anak murid yang jahat dan kejam.
Malam itu tentu mereka mencari akal keji untuk mencelakakan pada Ho siang kong. Nona Seng pikir bulak-balik untuk menolong Ho Siang kong, akhirnya dia telah mengambil dua butir pil ini sudah disimpan lima tahun lamanya untuk diberikan kepada Ho Siangkong."
Ho Tiong Jong merasa heran sekali, demikian besar ada perhatian nona Seng.
"Ya, memang juga aku lebih baik mati makan pil ini daripada menerima hinaan orang, Hanya
aku tidak menduga sama sekali kalau nonamu ada begitu besar menaruh perhatian atas diriku
yang rendah "
Sambil berkata, tangannya menjemput salah satu pil dan di telannya seketika. Ia menatap wajahnya nona In yang tertegun melihatnya pemuda itu menelan pil.
Ho Tiong Jong berseyum. "Nona in, sebenarnya aku tidak ingin mati, tapi, ia, karena hatiku yang angkuh dan pantang menyerah membuat aku memilih kematian dengan menelan ini daripada menerima hinaan orang."
Nona In merasa terharu mendengar kata-katanya anak muda itu.
"Sebenarnya pil ini selalu dibawa-bawa oleh nona Seng, tapi ia tak berani menerjang bahaya untuk menelannya," kata nona In-
"Dari mana nonamu mendapat pil mujarab dan beracun ini?" tanya Ho Tiong Jong sambil menyerahkan kembali kotak yang masih terisi satu butir pil lagi. Sambil menyambuti kotak tadi, nona In lalu menceritakan kisah nona Seng.
"Nona Seng pada suatu hari ada menonton gurunya, Kok Lo-lo, bermain catur dengan si Dewa Racun (Tok-sin) Khong Yat Sin, suatu saat nona Seng merasa kesal melihat kedua lawan itu terus mengasah otaknya, tak mau menggerakkan biji caturnya, sedang ia sudah tahu kemana jalannya untuk gurunya dapat memperoleh kemenangan dalam pertandingan itu.
Ia yang berdiri dipinggiran mesem-mesem melihat dua jago tua itu memutar otaknya, hal mana dapat dilihat oleh Kong Jat Sin. siapa telah berkata, "Hei, nona kecil kau mesem-mesem apakah sudah menemukan jalan untuk gurumu memperoleh kemenangan?"
Nona Seng hanya anggukkan kepala sambil melirik pada gurunya tidak berani membuka mulut.
Setelah gurunya mengijinkan untuk ia menunjukkan jalannya bagaimana dapat menjatuhkan lawannya, nona Seng baru mau berikan pengunjukan-
Dua orang tua itu merasa heran. Benar saja tidak lama kemudian Kong Jat Sin kena dikalahkan oleh Kok Lo lo atas bantuannya sang murid.
"Ha ha ha..." demikian Kong Jat Sin tertawa bergelak-gelak sambil mengurut- urut jenggotnya yang panjang, "Kau sungguh cerdik nona kecil, Nah untuk Kecerdikanmu aku si orang tua pecundang menghadiahkan padamu dua pil mustajab dan beracun, untuk suatu waktu bila diperlukan kau boleh menelannya."
Kong Jat Sin berkata sambil mengeluarkan dari sakunya dua ples kecil, dikeluarkannya sebutir pil dari masing-masing ples dan diberitahukan khasiatnya, hingga nona, Seng kegirangan bukan main.
"Bagaimana selanjutnya kisah pil mustajab dan beracun itu." kata nona in yang menutup ceritanya "itulah Ho Siang kong sendiri dapat menanyakan kepada nonaku " Nona In kemudian minta diri meninggaikan kamar Ho Tiong Jong,
Di pekarangan tiba-tiba ia melihat Kho Kie sedang jongkok sambil memainkan batu-batu?
"Melihat nona in mau lewat didepannya, tiba-tiba Kho Kie bangun dan menghalang-halangi sambil cengar-cengir ketawa dan mengucapkan beberapa perkataan bergurau jenaka .
Nona In sebenarnya suka pada Kho Kie yang Jenaka lucu ini, akan tetapi ia ketika itu sedang ada urusan penting menyampaikan laporan kepada nonanya, maka hatinya mendelu juga ketika dihalang-halangi dan diajak bergurau. "Nona In, parasmu yang cantik ada muram sedikit kenapa sih?" Nona In menjebikan bibirnya, tidak menyahut.
Ketika ia mau jalan, kembali Kho Kie menghalang-halangi, ia jadi tidak sabarandan sikutnya sudah membentur dadanya si orang aneh yang bisa masuk dalam tanah.
Benturan itu telak sekali, sebenarnya tidak dirasakan apa-apa oleh Kho Kie, tapi saat itu ia menemukan jalan rupanya untuk menarik perhatiannya si nona pelayan yang cantik maka ia sudah pura-pura sempoyongan sambil memegang dadanya, ia membentur dinding pekarangan dan rubuh.
Nona In matanya membelalak kaget, Apakah pukulannya sangat keras barusan? Tanyanya dalam hati, cepat ia sudah menghampiri Kho Kie yang pura-pura menggeletak pingsan. Dirabalah dada si konyol dan diurut-urut. "Kau kenapa, apa sakit kena disikut aku barusan? Makanya jadi orang jangan konyol, ini bagiannya orang yang suka godain orang." Kho Khie tinggal diam saja, hingga hatinya nona In menjadi lebih kuatir lagi.
Diam-diam sebenarnya Kho Kie merasa sangat bahagia, dadanya diuruti oleh tangan yang halus mungil, bau wangi dari badannya nona In menusuk hidungnya, hingga dirasakan seketika itu semangatnya seperti sedang melayang layang dikayangan.
Nona In coba angkat ia bangun, tapi sengaja Kho Kie memberatkan badannya hingga si nona menjadi kewalahan Kepinginnya ia berdiam terus di uruti oleh si nona pelayan yang telah menawan hatinya. Tapi nona In rupanya ada cara lain untuk mengangkat bangun padanya, ia selusupi tangannya yang mungil dalam ketiak orang, kemudian mengerahkan tenaganya menyeret
Kho Kie. MMi 1H1 KM Ml JIW. H I H
Kali ini, ternyata ia berhasil sebab Kho Kie tidak bisa memberatkan dirinya lagi, karena tidak tahan merasa geli ketiaknya disodok tangan si nona, ia paling takut kalau ketiaknya kena dikitik, maka dalam sekejapan saja ia sudah dapat dibawa ke kamarnya untuk direbahkan-
Kamarnya Kho Kie berhadap hadapan dengan kamarnya Ho Tiong Jong. setelah ia merebahkan Kho Kie, ia tidak mendengar suara apa-apa dari kamarnya Ho Tiong Jong, ia lupa Ho Tiong Jong telah menelanpil, karena hatinya sedang kusut memikirkan Kho Kie yang diduganya mendapat luka parah didalam karena sikutnya tadi, ia merasa simpati pada orang Jenaka ini, terutama ketika sudah mendengar riwayatnya yang sedih yang ia diam-diam mencuri dengar ketika Kho Kie ngobrol dengan Ho Tiong Jong, ia memeriksa jalan napasnya Kho Kie, kenyataan sebagaimana biasa, maka hatinya merasa lega juga.
Sebaliknya Kho Kie yang berpura-pura diam-diam merasa tidak enak. karena ia membuat orang ketakutan- Sambil memejamkan matanya ia memikir jalan bagaimana untuk bisa menghibur hatinya sinona pelayan cantik ini.
Tiba-tiba nona In ingat Ho Tiong Jong telah menelan pil maka ia cepat-cepat keluar dari kamar Kho Kie dan masuk kekamamya si pemuda. Apa yang ia lihat?
Hatinya berdebaran keras, ia melihat Ho Tiong Jong rebah dalam keadaan tidak berkutik "Mati, oh dia mati.. " pikirnya dengan sangat sedih.
Ia jalan menghampiri ketika ia memeriksa keadaan, Ho Tiong Jong, betut-betul badannya sudah dingin, maka ia telah mengucurkan air mata karena sedih. Pada saat hatinya gelisah tiba tiba pintu terbuka dan masuklah Keng Jie.
Nona In cepat-cepat menutupi badan Ho Tiong Jong dengan selimut dan berkata pada Keng Jie, bahwa Ho Tiong Jong entah kenapa dengan mendadakan saja telah mati.
Setelan berkata, ia terus ngeloyor ke kamarnya Kho Kie, meninggaikan Keng Jie yang jadi berdiri melongo mendengar kata-katanya nona In tadi.
Nona In mendekati Kho Kie dan menanya "Hei, apa kau sudah mendingan sakitnya?" Tidak enak kalau ia tidak memberikan jawaban, maka Kho Kie menjawab: "Ya, lukaku sudah mendingan-
it
Nona In girang mendengar Kho Kie menyahut, maka ia datang lebih dekat lagi dan menyampaikan kabar kematiannya Ho Tiong Jong.
Kali ini Kho Kie bukan pura-pura lemas badannya, betul-betul ia lemas dan gelisah halnya mendengar apa yang diceritakan oleh nona In- Sahabat karibnya dengan mendadakan telah mati sebab apa? Ah, tak mungkin, Tapi, kenapa mati?
Kho Kie tidak susah menanti jawaban, sebab nona in sudah menceritakan tentang dua pil yang diberikan pada Ho Tiong Jong dan satu diantaranya telah ditelan oleh pemuda itu. Rupanya ia telah menelan yang beracun maka ia telah menemui kematiannya. Kemudian ia menyerahkan pil yang satunya lagi kepada Kho Kie, berkata:
"Nih, sebutir lagi aku serahkan padamu, aku tidak tahu kau akan berbuat apa dengan pil ini untuk menolong sahabat karibmu itu. Kho Kie menjublek. seolah-olah tidak mendengar apa yang dikatakan si nona, semangatnya saat itu seperti sudah tidak ada lagi dalam tubuhnya, terbawa oleh kabar kematian atas sahabat karibnya itu.
"Ya, sungguh harus dibuat sayang orang yang demikian baik hatinya seperti Ho Siang- kong telah menemui ajalnya." kata nona in, sementara itu ia sudah gerakan kakinya untuk meninggaikan kamarnya Kho Kie.
Melihat nona In sudah berlalu dari kamarnya, Kho Kie jadi melamun-