"Nona cong kenapa ?"
" Laote kau tidak tahu, nona cong ketika melihat aku mengeluarkan isi kantongku mencari selendangnya, tentu dia dapat melihat juga senjata gelapku, pasir Terbang, suatu senjata yang lain daripada yang lain karena hanya suhuku saja yang mahir menggunakan senjata demikian."
Ho Tiong Jong terdiam. ia jadi memikirkan juga hal itu, karena dengan diketahuinya rahasia senjata itu pasti orang akan menuduh kepada Kho Kie yang telah membuat si Raksaksa in Goei terguling.
Mereka kasak-kusuk mencari jalan keluar untuk menyelamatkan diri, akhirnya diambil putusan buat dengan diam-diam balik ke kamarnya.
Demikianlah, setelah mereka berada dikamar Kho Kie lalu mengeluarkan semua isi kantongnya untuk Ho Tiong Jong lihat, Diantaranya yang paling menarik adalah itu pasir besi yang menjadi senjata gelapnya Kho Kie yang ampuh, Bergempal sebesar kepelan, beratnya luar biasa.
Kepada Sang- kawan Kho Kie menceritakan kisahnya belajar ilmu Pasir Terbang itu. suhunya ada seorang baik, meski benar tabeatnya kaku. Entah kenapa oleh dunia kangouw ia dicap sebagai orang yang jalan hitam (Jahat), Selama dua puluh tahun ia mengasingkan diri digunung Sam-ju, orang telah memberi julukan padanya Sam-ju Lo long atau Petani dari gunung Sam ju. ilmunya senjata gelap Pasir Terbang dibuat jerih oleh lawan maupun kawan-
Senjata ini dari pasir besi, dibikin menjadi sebesar kepelan tangan, ia dilepaskan dari lengan baju, Menggunakannya tidak perlu menuju sasarannya, cukup membenturkan senjata itu kepada salah satu benda yang berdesakan dengan yang diarahnya. Segera seketika itu setelah kebentur mengeluarkan reaksinya dan pasir besi halus menyerang kearah sasarannya.
"Hebat betul senjata rahasiamu itu, Kho toako." kata Ho Tiong Jong, diam-diam ia bergidik juga mendengar bagaimana bekerjanya senjata gelap itu yang tidak mengasih kesempatan kepada korbannya untuk meloloskan diri. Kho Kie ketawa nyengir lalu meneruskan kisahnya.
"Ia telah meyakinkan ilmu itu selama sepuluh tahun dan sekarang cukup mahir menggunakannya, ia ada mempunyai seorang suheng bernama Kie Gie Seng, siapa setelah meninggalkan perguruan telah berbuat yang bukan-bukan diluaran, hingga menimbulkan amarahnya orang-orang dalam dunia persilatan-
Mereka mengutuk kepada suhunya dan mereka merencanakan untuk menuntut balas, Sang suhu mendengar ini, tidak ambil pusing, ia tahu, bahwa semua itu ada gara-gara muridnya yang nyeleweng dan getahnya dilekatkan padanya.
Belakangan kejadian-kejadian jahat kejam dan telengas itu hilang dengan sendirinya.
Dengan begitu pelahan-pelahan maksud menuntut balas untuk perbuatan-perbuatan yang membangkitkan hawa amarah itu, telah lumer dengan sendirinya.
Mereka tidak tahu, kalau suhengnya yang berbuat itu semua, ketika pulang kegunung menemui suhunya telah dibikin buta matanya dan ilmu silatnya dimusnahkan-
Sejak membikin muridnya yang tersayang menjadi tak berguna sering-sering suhunya tampak menangis, rupanya sangat menyesal menerima murid yang tak kebetulan sehingga namanya menjadi jelek dikalangan kangouw."
Sampai disini Kho Kie menutur, tiba-tiba Ho Tiong Jong ingat akan selendangnya nona cong, maka ia lalu menanya "Toako, mana itu selendang nona cong?"
Sebelum Kho Kie membuka mulut menjawab, tiba-tiba masuk pelayan Keng Jie membawa benda itu dan diterimakan pada Ho Tiong Jong.
"Ho Siang kong, barang ini aku ketemukan dalam saku baju ketiga pakaian Siankong hendak dicuci," kata Keng Jie bersenyum, sambil menyerahkan selendang nona cong.
Ho Tiong Jong merah mukanya, ia memesan pada Kebg Jie, supaya kejadian itu tidak di ceritakan kepada lain orang lagi. Keng Jie berjanji akan perhatikan itu.
"Eh. Keng Jie, aku lupa tanya padamu." tiba-tiba Ho Tiong Jong berkata.
"Ada pertanyaan apa, Ho Siang kong ?"
" Keng Jie, itu nona in yang kau antar pada kami itu siapa ?"
Keng Jie bersenyum, "Ho Siang kong nona in adalah pelayan yang disayang oleh puterinya pocu, makanya ia sangat dihormati oleh orang-orang dalam benteng ini." Ho Tiong Jong jadi bengong, Pikirnya,
"Nona yang begitu cantik, kedudukannya hanya sebagai pelayan saja, Sayang..." Saat itu tiba-tiba Kho Kie tertawa,
"Ho laote." katanya, "pelayannya sudah demikian cantik, entah bagaimana kecantikannya nona yang dilayaninya, dapatlah kau membayangkannya sendiri, Ha ha ha... "
Ho Tiong Jong hanya bersenyum, Keng Jie sementara itu sudah meninggaikan mereka dan waktu sudah mengunjuk jam empat sore. Hatinya Ho Tiong Jong merasa tidak enak. karena bagaimana ia dapat turut dalam perundingan sekarang kepandaiannya ada sangat terbatas.
Jago-jago yang akan dihadapinya semua, terdiri dari pendekar-pendekar ulung, Apakah tidak lebih baik ia mengeloyor dengan diam-diam meninggalkan tempat itu supaya tidak mengunjukkan kejelekannya didepan umum? Sebab kalau misalnya ia harus bertempur dan mengalami kekalahan bukan saja dirinya merasa malu, tapi juga hal itu akan memalukan Kho Kie yang sudah menjadi sahabat karibnya.
Melihat kawannya membungkam seperti ada apa-apa yang dipikirkan keras, Kho Kie lalu menanya. "Ho laote kau kenapa?"
Ho Tiong Jong geleng geleng kepalanya, tapi kemudian ia minta pikirannya sang kawan juga, bagaimana baiknya untuk dirinya yang berkepandaian terbatas menghadapi musuh-musuh yang sudah ulung,
Kho Kie terdiam, ia juga rada bingung memikirkannya.
Diam-diam ia ingat dirinya ada mempunyai ilmu silat Kim-ci Gin ciang atau, jari emas Telapakan perak, yang hanya tiga jurus, tapi untuk membela diri juga ampuhnya luar biasa, ia ingin turunkan ilmu silat ini kepada Ho Tiong Jong, tapi ia yang takut kepada suhunya, sebab ilmu silat itu tidak boleh sembarangan di turunkan kepada lain orang, ia jadi bingung bagaimana dapat menolong kawannya itu. Terdengar Ho Tiong Jong berkata sambil menghela napas.
"Kho toako daripada aku menanggung malu, apa tidak lebih baik aku diam-diam saja meninggalkan bentengan ini ?"
Kho Kie merasa kesian, Segera ia ambil keputusan, katanya.
"Ho laote, jangan, kau jangan meninggalkan bentengan ini. Aku nanti ajarnya kau ilmu silat tiga jurus yang lihay untuk melawan musuh." Pemuda itu berubah girang wajahnya.
"Ho laote, sebenarnya bakatmu bagus sekali, ilmu tenaga dalammu juga cukup, asal kau mendapat pimpinan orang pandai dalam sedikit tempo saja kau akan merupakan seorang yang sangat lihay dalam rimba persilatan- Kini aku mau ajarkan kau ilmu silatku Kim-cie Gan ciang yang hanya tiga jurus, yalah jurus kesatu menggunakan jari kiri telapakan tangan kanan, kedua menggunakan jari kanan telapakan kiri, jadi sebaliknya dan yang ketiga balik ke yang kesatu yaitu jari kiri dengan telapakan tangan kanan yang agak sukar adalah bekerjanya tangan kanan dalam
jurus ketiga dan tangan kiri dalam jurus ke-dua sebab ada banyak perubahannya, sekarang aku mulai memberi petunjuk harap kau perhatikan betul-betul... "
Lantas saja Kho Kie menjalankan ilmunya, memberikan petunjuk petunjuk yang penting.
Ho Tiong Jong otaknya cerdik dan memang punya bakat yang luar biasa, maka tidak heran kalau dalam beberapa kali dimainkan saja ilmu silat tiga jurus tadi telah tercatat benar dalam otaknya.
Kemudian ia diminta oleh Kho Kie untuk menjalankan ilmu yang diberi petunjuk olehnya barusan- Dengan sungguh-sungguh Ho-Tiong Jong telah mainkan ilmu itu dengan segala perubahannya, yang membikin Kho- Kie bukan main girangnya, sebab semuanya tak ada kesalahannya
"Ho laote, kau hebat sekali." katanya sambil menepuk-nepuk bahu orang. Waktu-pun saat itu sudah jam lima sore dekat saat perjamuan akan dibuka.
"Ho laote, kau diam diam teruskan berlatih, aku mau kekamar kecil sebentar," kata Kho Kie tiba tiba sambil terus ngeloyor keluar kamar.
Saat Ho Tiong Jong mau memulai lagi dengan latihan ilmunya "tiga jurus" tiba-tiba pintu kamar terbuka dan nona in tampak masuk kedalam. Ho Tiong Jong heran, ia mengawasi nona in yang mukanya tertawa berseri-seri.
Nona in membawa kotak kecil, Sambil menyerahkan benda itu pada Ho Tiong Jong ia berkata.
"Aku disuruh oleh nonaku untuk memberikan benda ini kepada Ho Siangsong, tapi.. " sambil menyambut kotak kecil itu, diam-diam Ho Tiong Jong berpikir "Hei, nonamu belum kenal denganku, untuk apa ia menyerahkan benda ini padaku?"
la berpikir demikian, tapi tidak membuka mulut menanya, Hanya menantikan nona in
menyambung bicaranya." tapi ingat, benda ini ada untuk orang yang bersifat berani dan baik
peruntungannya "
"Apa isinya ?" menyela k Ho Tiong Jong.
"Didalamnya ada dua butir pil yang macam dan besarnya sama. Yang sebutir ada pil bikinannya Tok-sian Kong Jat Sin yang dinamai Siau-hoa-tan, sebuah pil yang sangat ajaib, Sebab kalau orang memakannya itu dapat bertambah tenaganya seperti sudah melatih diri puluhan tahun lamanya, sedang yang sebutir lagi... "
Nona in merandek. matanya yang bening halus menatap kepada pemuda cakap didepannya,
hingga Ho Tiong Jong merasa kikuk, Tapi toch ia menanya Nona in, "kenapa kau berhenti menutur, apa sih yang sebutir lagi?"
Nada suaranya nona ia agak tergetar ketika menerangkan "Ya... yang satunya lagi adalah pil maut (beracun) orang yang menelannya akan menderita hebat, keluar darah dari semua bagian tubuh yang berlubang misalnya hidung, mulut, kuping dan sebagainya sekarang kau diharuskan memilih salah satu diantara dua pil ini. Kalau kau memang nasibmu bagus, tentu kau akan memilih Siauw hoan tan, tapi kalau sebaliknya tentu ang membikin jiwamu melayang ke akherat."
Ho Tiong Jong kerutkan alisnya, Barusan ia menerima bingkisan diam-diam merasa kegirangan sebab itu ada bingkisan dari puterinya Pocu dari seng-ke-po, pikirnya baik betul nona itu telah menaruh perhatian atas dirinya yang belum dikenal. Tapi kini, setelah bicaranya nona in, hatinya merasa tidak enak.
Benar soal mati hidup ada ditangan Tuhan Yang Maha Esa, akan tetapi kalau mati karena makan pil itu, benar-benar ia mati konyol dan penasaran sekali. Meskipun berpikir demikian, adatnya yang tinggi dan pantang mundur mendorong ia untuk membukanya juga kotak kecil itu dengan perlahan-lahan-
Begitu terbuka, segera bau wangi menerjang keluar dari kotak itu.
Pil itu diperiksa, keduanya berwarna merah dan sama bentuknya, setelah menatap wajahnya nona in sebentar, ia berkata.