Perkataannya belum habis, cong ie tampak sudah muncul kembali didepan mereka.
Ia agaknya mendongkol pada Ho Tiong Jong, pada siapa ia berkata.
"Mana itu selendangku, lekas kau kembalikan" katanya dengan suara dingin.
Ho Tiong Jong terkejut, mukanya seketika itu juga merjadi merah karena merasa malu sudah menyimpan selendangnya si nona dan kini telah di tagih.
Ia merogo-rogo sakunya, Sudah tentu saja tidak kedapatan karena selendang itu ada dalam saku bajunya yang kotor, yang diambil oleh Keng Jie, Entahlah apakah Keng Jie mencuci bajunya sekalian dengan selendang itu turut dicuci? "oh nona cong, maafkan aku kelupaan membawanya."
Sambil sipitkan matanya dengan kelakuan lucu sekali Kho Kie telah menyelak.
"oh, selendang itu kepunyaannya nona cong? celaka tiga belas, sebenarnya aku tak seharusnya bersenda gurau dengan Ho laote, selendang itu aku telah curi dari Ho laote dan ada disini."
Ia terus meraba raba kantongnya yang besar kemudian dikeluarkan segala isinya Kira nya didalam kantong itu berisi macam-macam benda seperti baju tipis hiram untuk keluar masuk tanah, uang perakan beberapa, potong sebuah batu sebesar kepelan, dua mainan dari kayu, potongan besi bersegi tiga dan empat yang tajam sekali, sebagai penuntun ia keluarkan handuknya yang sudah dekil dan menyiarkan bau asam, hingga cong ie yang turut memeriksa apa isinya kantong telah menekap hidungnya.
Ia heran mengapa Kho Kie mengantongi banyak macam barang ?
Tadinya ia hendak marah akan tetapi melihat kelakuannya Kho Kie yang lucu diam-diam ia merasa sangat geli, ia ketawa dibalik tangannya yang menutupi mulutnya. Untuk menahan rasa gelinya, supaya jangan keterlepasan ketawa, cong ie telah melototkan matanya mengawasi pada Kho Kie.
Sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, Kho Kie berkata didepannya si nona: "Nona cong," katanya, " betul- betul aku ini orang celaka, aku sekarang ingat betul selendangmu itu bukan kutaruh dalam kantong ini, tapi... "
"Tapi dimana? Lekas katakan" kata si nona separuh membentak.
"Aku taruh di bawah bantal kepalanya Ho laote..." jawabnya sambil nyengir. Ho Tiong Jong terbelalak matanya.
Si nona merah selembar mukanya, akan tetapi diam-diam ia merasa girang.
"Biarlah, aku tidak perlu lagi dengan benda itu," katanya agak bersenyum kepada si pemuda yang saat itu tinggal membisu menyaksikan kawannya menjual aksi.
"Tapi nona cong, tidak apa kau sekarang pergi mengambilnya." kata Ho Tiong Jong.
"Sudahlah " kata si nona, "Aku tak memerlukan lagi barang itu. kalau nanti kau dapatkan boleh buang saja."
Matanya yang jernih menarik mengerling kearahnya si pemuda tampan, setelah meninggalkan senyumannya ia telah pergi dari situ. Ho Tiong Jong dan Kho Kie jadi saling pandangan satu dengan yang lain-Keduanya kemudian ketawa terbahak-bahak.
"Ah, betul-betul wanita itu aneh... " Ho Tiong Jong menggandeng sendirian-
"Ho laote," kala Kho Kie sambil nyengir.
"Nona cong itu kelihatannya sangat memperhatikan padamu, cuma sayang kau tak bisa memikat hatinya, ia cantik sekali parasnya."
"Kho toako, kau jangan tertawakan aku, orang semacam aku ini mana dipandang oleh matanya nona cong yang unggul segala-galanya dari aku. Kalau dia sudah mau manggutkan kepalanya saja terhadap aku, sudah membikin aku merasa sangat bahagia, Aku tidak memikirkan hal yang bukan-bukan."
Kho Kie tertawa, Tiba-tiba parasnya tampak menjadi sungguh-sungguh.
"Ho laote, kalau untuk aku memilih wanita aku akan memilih nona in itu daripada... "
"IHusstt " Ho Tiong Jong mencegah kawannya meneruskan kata-katanya." Kau jangan
sembarangan berkata, nanti dapat didengar orang tidak baik."
Ho Tiong Jong melihat ada orang yang memperhatikan mereka dalam berCakap- cakapnya itu, makanya ia cepat mencegah kawannya berkata lebih jauh.
Ia heran, kenapa gerak-geriknya selalu diawasi saja? orang tadi telah mengikuti terus kemana mereka pergi seperti orang yang sedang menguntit pencuri saja.
Kho Kie juga tahu itu, tapi keduanya seperti yang sudah sepakat, tidak memperdulikan gerak-geriknya orang yang menguntitnya mereka itu.
Mereka teruskan jalan-jalannya, bercakap tidak putusnya dan sebentar-sebentar ditutup dengan gelak ketawanya malah Ho Tiong Jong terkadang sampai terpingkal-pingkal ketawanya, rupanya tidak tahan dengan omongan-omongan Kho Kie yang mengitik urat ketawa.
oleh karenanya, tidak heran kalau banyak tetamu dalam benteng itu pada menonton lagak-lagunya mereka berdua ini.
Tiba-tiba Ho Tiong Jong berhenti bertindak dan berbisik ditelinganya Kho Kie. "Kho toako, coba kau lihat disana, dialah itu si Raksaksa in Goei... "
Kho Kie cepat menoleh kearah yang di tunjuk Ho Tiong Jong, Dilihatnya dipinggir sebelah kiri dari ruangan tamu ada jalan seorang yang berbadan tinggi besar dan sikapnya gagah sekali, ia berjalan lewat diantara para tamu, Tiba-tiba ia berpapasan dengan ie Ya dengan siapa ia bercakap-cakap sambil ketawa- ketawa.
"Ho laote, bagaimana kalau aku gunakan senjata rahasia untuk bikin sebelah matanya buta, sehingga dia sebentar malam tidak dapat menghadiri pejamuan. Dengan begitu nona cong juga tidak harus meninggalkan tempat ini karena gara-garanya, kau pikir. baik atau tidak."
-ooodwooo-
KHO KIE menanya pikirannya sang kawan sambil ketawa nyengir ia tidak berani sembarangan menuruti hatinya, karena ia kuatir sang kawan nanti ngambek dan tidak mau bersahabat dengannya. Kho Kie dalam tempo pendek saja hatinya sudah tertawa oleh kelakuannya Ho Tiong Jong yang jujur dan polos, maka sayang sekali kalau karena kelakuannya yang ugal-ugalan dapat membikin putus tali persahabatan dengannya.
Ho Tiong Jong ditanya demikian tampak sangsi sangsi, tapi tokh ia anggukkan kepalanya. Kho Kie lantas siapkan senjata rahasia-nya setelah mendapat persetujuannya sang kawan.
Senjata gelapnya seperti sebuah batu dilepas dari lengan bajuuya, Dengan kecepatan luar biasa senjata telah membentur batu besar didepannya in Goei, hingga ia ini kaget dan celingukan mencari siapa yang telah melancarkan serangan gelap itu, justru ia belum dapat melihat terang, matanya telah disamber oleh pecahan senjata gelapnya Kho Kie yang membentur batu tadi. Tidak ampun lagi matanya yang sebelah kanan mengucurkan darah, sambil menekap matanya yang luka,. in Goei berteriak kesakitan dan hampir saja jatuh pingsan karenanya..
Ie Ya yang melihat kejadian itu segera memberikan pertolongan dengan memberikan totokan dibcberapa tempat jalan darah, sehingga darah tidak sampai mengucur lebih jauh, Para tetamu yang melihat juga pada kaget, mereka menduga duga siapa yang telah melancarkan senjata gelap membikin matanya in Goei terluka? Peristiwa yang tak diduga-duga itu membuat ie- Ya hatinya merasa tidak enak. cepat-cepat ia menghampiri Ho Tiong Jong dan Kko Kie, kemudian menanya.
"Hei, kalian apa tahu siapa yang telah melancarkan serangan gelap atas dirinya si Raksasa in Goei? Aku tak senang dengan perbuatan membokong itu, sebab belakangan hari orang akan menduga bahwa aku yang berbuat demikian-"
Ho Tiong Jong membisu mendapat pertanyaan si nona, tapi Kho Kie sebaliknya sambil ketawa nyengir telah menjawab
"Nona le sebenarnya kalau bukan padamu aku tidak mau bicara terus terang siapa yang telah melancarkan senjata gelap itu."
"Jadi kau sendiri yang telah berbuat ?" memotong Ie Ya.
"Bukan, bukan aku." jawab Kho Kie dengan tenang-tenang saja, seraya unjak aksinya seperti yang benar-benar tahu kemana larinya Sipembokong In Goei. "Aku lihat barusan ada orang lari
menerobos ketempat wanita berbareng aku mendengar teriakannya ia Goei, aku " ia tidak
meneruskan kata-katanya, karena sudah diselak oleh Ho Tiong Jong, menanya kepada Ie Ya.
"Ya, Nona Ie, kalau seandainya orang yang membokong itu diketahui In Goei mau berbuat apa terhadapnya?"
"Aku tidak tahu," sahut Ie Ya. "lihat saja nanti bagaimana?"
Ie Ya berkata sambil bersenyum pada pemuda dihadapannya, pemuda yang cakap ganteng menawan hati setiap wanita.
Sementara itu si Raksasa In Goei sudah di gotong masuk kekamar untuk diberikan obat sebagaimana mestinya, orang banyak pada menonton gerak-gerik Ie Ya yang menarik hati tengah bercakap-cakap dengan Ho Tiong Jong dan Kho Kie.
Menyambut senyumannya Ie Ya, diam-diam Ho Tiong Jong berpikir dalam hatinya.
"Ie Ya ada begini cantik, maka mudah saja memikat hatinya banyak lelaki dan mudah membuat dirinya jadi populer, Aku seharusnya juga membikin diriku jadi populer dimatanya orang banyak."
Berpikir kesitu lalu ia berkata, "Mari kita masuk kedalam ruangan untuk bercakap-cakap."
Li-lo-sat Ie Ya bersenyum manis,
"Ah, jangan, Aku masih banyak urusan, Pocu sebentar lagi tentu akan menyuruh orang untuk melakukan penyelidikan atas kejadian ini. Betul betul hatiku merasa sangat tidak enak, Eh, ya, hampir aku lupa memesan-.. "
"Memesan apa?" Tanya Ho Tiong Jong tidak sabaran.
"Memesan kau harus berhati hati sebentar malam dalam perjamuan- Murid-muridnya Siluman Khoe Tok tentu akan membikin susah padamu." Ho Tiong Jong bengong sejenak alisnya di kerutkan, tapi tidak berkata apa-apa.
"Ya, paling baik kau mendekati itu orang-orang dari oey san-pay." berkata pula Li-lo-sat ie Ya ketika melihat Ho Tiong Jong seperti merasa kebingungan-
Setelah sekali lagi melemparkan senyumannya, Li-lo-sat ie Ya telah meninggaikan Ho Tiong Jong dengan Kho Kie yang telah saling pandang satu sama lain-sebentar lagi tampak Kho Kie menggeleng-gelengkan kepalanya, "Sayang, sungguh sayang... "
"Apa yang dibuat sayang?" tanya Ho Tiong Jong heran-
"Sayang dengan nasibnya wanita telengas itu, ia sangat ditakuti, tapi juga ia harus dikasihani nasibnya yang buruk."
" Nasibnya bagaimana, apa Kho toako dapat menceritakan padaku?"
"Eh ya, celaka tiga belas. Dia tentu sudah mengetahui... "
"Siapa yang mengetahui urusan apa Kho toako ?"
"Nona cong."