Halo!

Golok Sakti Chapter 13

Memuat...

Kemana ia ingin mandi, tapi bagaimana dengan tukarannya? Apa ia harus pakai pakaiannya lagi yang buruk itu?

Setelah ia menjawab. Keng Jie sudah membuka lagi mulutnya berkata.

"Ho Siang kong, mari ikut aku, Akan ku antarkan kau ketempat mandi, setelah mandi aku tanggung kau akan merasa segar... " ia bersenyum.

Kembali Ho Tiong Jong dibikin heran- Baru saja ia ketemu dengan pelayan cilik ini, tapi ia sudah dapat bergurau seperti yang sudah lama kenal. Heran pikirnya. Tapi bagaimana juga memang ingin mandi maka ia lantas menjawab. "Baiklah mari antarkan aku ke tempat mandi." Keng Jie cepatjalan di muka, diikuti oleh Ho Tiong Jong.

Tidak berapa lama mereka berjalan, sampailah pada sebuah kolam yang dikitari oleh pepohonan yang rindang daunnya. Sejuk sekali keadaan disitu, airnya juga bening sekali, ketika Ho Tiong Jong melongok kedalam kolam.

Keng Jie yang menghentikan tindakannya sambil menunjuk kekolam tadi ia berkata. "Nah inilah tempat untuk Siangkong membersihkan badan-"

Ho Tiong Jong memang senang sekali kalau bisa mandi dalam kolam yang jernih airnya itu, maka dengan tidak menjawab lagi ia sudah membukai pakaiannya dan dengan hanya celana pendek. ia nyebur kedalam kolam, berenang kesana sini dengan gembira sekali, entah berapa lama merendam dirinya ketika matanya mengawasi kepinggiran, tidak tertampak Keng Jie untuk menantikan ia. Ia lalu berenang kepinggiran, lalu naik dan hendak mengambil bajunya. Tapi alangkah herannya ia sebab pakaiannya yang sudah Compang camping tidak ada pula ditempatnya, sebagai gantinya ada setumpukkan pakaian baru.

Setelah tertegun sebentaran ia lain mendekati pakaian tadi. Diatasnya ada sepotong surat yang berbunyi singkat saja. "Jangan sungkan, pakailah tukaran ini." Tidak ada tanda tangan siapa yang mengirimnya, tapi tulisan indah sekali.

la ingin tahu menanyakan pada Keng Jie, akan tetapi pelayan cilik itu sudah tidak kelihatan mata hidungnya. Entah kemana ia sudah pergi? Dengan apa boleh buat Ho Tiong Jong pakai pakaian sumbangan orang itu. Ternyata pakaiannya itu pas benar dengan perawakannya, warnanya putih terang. Anak muda itu dalam pakaian ini tampak menonjol parasnya yang cakap tampan-

Sambil berjalan Ho Tiong Jong memikirkan, siapa gerangannya yang telah menaruh perhatian padanya demikian besar? Bagaimana juga ia mengerjakan otaknya untuk menduga-duga, ia tidak dapat menebaknya.

Ia jalan terus, melewati sebuah kolam bunga teratai. Disini ia jalan mundar-mandir sambil menggendong tangan- Tiba-tiba pada suatu tempat tidak jauh dari kolam ia melihat ada tanah mumbul seperti terdorong dari sebelah dalam.

Matanya terus mengawasi pada tanah yang mumbul itu. kemudian terlihat satu kepala manusia yang lancip nongol disusul dengan badannya keluar dari tanah.

"Apakah ia setan yang muncul disiang hari?" ia menanya dirinya sendiri.

Meskipun menduga adanya setan- Ho Tiong Jong tidak takut. Ia terus mengawasi apa yang orang itu akan lakukan lebih jauh.

orang itu berpakaian hitam, tangannya besar dengan kuku-kukunya yang meruncing berkilat, hidungnya mancung, matanya sipit dan bibir tebal. Matanya yang sipit di-pelototkan kearah Ho Tiong Jong, sambil perlihatkan giginya yaug besar. Sungguh menyeramkan bagi orang penakut yang melihatnya . Ho Tiong Jong tetap berdiri tidak bergerak mengawasi orang itu.

Setelah meloloskan pakaiannya yang serba hitam tadi, tampak dimasukkan kedalam sebuah kantong. Kemudian ia merapihkan lagi tanah yang barusan terbongkar gara-garanya ia keluar dari tanah, hingga rapih kembali seperti asal mulutnya.

Ho Tiong Jong terus mengikuti segala gerak-geriknya, ia masih terus menduga bahwa orang itu tentu ada satu jejadian penunggu disitu.

orang itu setelah kembali mengawasipada Ho Tiong Jong tiba-tiba telah tertawa terbahak-bahak.

"Hei, lote, kau mengawasi saja kepadaku tentu kau merasa heran barusan aku keluar dari tanah bukan? Kau jangan takut, sebab aku bukannya setan atau siluman- coba kau datang kemari untuk kita bersenda gurau... ha ha ha "

Ho Tiong Jong mendengar suaranya orang itu, ia mendapat kepastian bahwa ia bukannya setan yang ia duga tadi. Hatinya mulai tegar, maka ia lantas menjawab. "Betul, aku kira tadinya kau ada setan yang menggasir tanah."

Kembali orang itu ketawa girang. "Laote, kau kemarilah. Aku ada punya rahasia yang akan kuceritakan padamu, amat penting, sukakah kau mendengarnya ?" Ho Tiong Jong bersenyum tidak menjawab.

Kembali orang itu tertawa tergelak- gelak sambil menunjukkan giginya yang besar. "Kalau begitu, biarlah aku yang datang padamu"

Perkataannya belum lampias, orangnya sudah melesat menghampiri dan sebentar saja sudah berada di hadapannya Ho Tiong Jong.

"Laote, aku mau tuturkan suatu rahasia padamu," kata orang ini, "apakah kau suka mendengarnya? "

Kali ini Ho Tiong Jong anggukkan kepalanya.

Diam-diam Ho Tiong Jong merasa suka dengan gerak-gerik dan segala ucapannya orang aneh itu, yang lucu jenaka.

"Toako, kau hendak cerita rahasia urusan apa?" tanyanya sambil tertawa.

"Sekarang kau hendak membuka rahasia itu dibelakang mu ada banyak orang yang mengawasi kau, kau percaya tidak?" jawab siorang aneh.

Ho Tiong Jong cepat berpaling kebelakang nya, benar saja ada beberapa orang yang mengawasi kepadanya sambil pada bersandaran ditiang jalanan-

Ho Tiong Jong menghadapi lagi si orang aneh katanya. "Mereka kira barangkali kita Sedang main sandiwara."

orang itu ketawa lagi. Tidak diduga orang itu ketawanya murah sekali. saban-saban ketawa, membikin Ho Tiong Jong mau atau tidak terpaksa ikut-ikutan-

"Nah, disini kau lihat." kata orang aneh itu sambil menunjukpada dua pemuda yang edang kasak-kusuk bicara, "Mereka ada pemuda sombong dari Go bie-pay, saban hari jalan ambil menyoren pedang dengan muka angkuh. Aku sebel melihatnya, mereka namakan dirinya ebagai "im- yang Siang-kiam", tunggu aku kasih mereka rasa."

Ia berkata sambil memunggut sebuah batu sebesar kepalan-

Sambil mengangkat tangannya ia kemak-kemik mendoa.

"Atas nama langit dan bumi, semoga batu ini mengenakan tepat kepada dua orang sombong

itu"

Ho Tiong Jong melihatnya jadi terkejut. Sambil lompat ia mencegah. "Toako, kau mau berbuat

apa ?"

"Aku mau kasih dua orang ini rasai batu ini" jawabnya sambil nyengir

"Ah, tidak baik berbuat begitu. Tidak baik mencari setori, nah, sekarang kau harus perkenalkan namamu kalau kau mau mengikat persahabatan aku." orang itu ketawa bergelak-gelak. Sambil tepok-tepok kepalanya sendiri berkata.

"Aku ini memang peluapaan- Maksudku menghampiri padamu adalah hendak berkenalan, tapi barusan timbul marahku pada dua orang jumawa itu. maka aku jadi lupa. Harap laote suka maafkan-" ia sambil menjura memberi hormat. Ho Tiong Jong menyambuti hormatnya orang sambil bersenyum geli.

Batu yang hendak ditimpuki tadi, telah dimasuki kedalam kantong bajunya yang besar pada saat ia hendak memberi hormat pada Ho Tiong Jong.

"Laote, sebenarnya kau she apa dan nama mu yang terhormat?" tanyanya Jenaka.

"Aku she Ho namaku Tiong Jong. Dan toako ?" Ho Tiong Jong balik menanya.

" Laote bicara terus terang, aku sebenarnya barusan didalam tanah telah melihat kau merasa suka dan ingin bersahabat dengan kau, makanaaku sudah nerobos keluar untuk berjumpah muka."

"Hei, bagaimana didalam tanah dapat melihat aku?" menyelak Ho Tiong Jong heran. orang itu tertawa tergelak-gelak.

"Laote, memang juga kau akan merasa heran kalau aku belum bercerita tentang diriku, Aku senang padamu, ingin bersahabat, maka aku akan menceritakan padamu."

"Toako kau masih belum menjawab pertanyaanku."

"Pertanyaan apa?"

"Namamu yang terhormat" jawab Ho Tiong Jong sambil bersenyum. "ow.. namaku Mudah saja. Aku bernama Kho Kie, suhuku yang menamai aku begitu, Kie, artinya buang, jadi aku ini anak buang-buangan- Ha ha ha ha... " "Dan Kho, apa artinya?" tanya Ho Tiong Jong berlaga pilon.

"Ah, masa laote tidak tahu. Kho, artinya tinggi, artinya inilah yang menjadikan aku tidak habisnya menyesal, karena aku bukan nya orang tinggi. Aku pikir hendak merubah namaku, supaya lebih enak kedengarannya."

Semakin lama Ho Tiong Jong semakin ketarik oleh Kho Kie yang Jenaka dan menggelikan hati segala gerak-gerik dan perkataannya.

"Kho toako, aku pikir buat apa kau ganti namamu, sebab itu sudah baik,." Kho Kie ketawa nyengir.

"Khotoa-ko, sekarang baik kau ceritakan padaku bagaimana kau dapat belajar ilmu masuk kedalam tanah. Kepandaianmu itu betul-betul membikin aku tidak mengerti," demikian kata Ho Tiong Jong pula sambil tertawa.

Kho Kie kelihatannya bangga ilmunya itu dikagumi sianak muda. la beraksi lucu sekali sebelumnya ia menuturkan kisahnya.

"Ya," ia kata, "sebenarnya ilmuku ini sangat dirahasiakan, tidak boleh sembarangan diberitahukan kepada orang lain- Tapi tidak apa aku ceritakan sedikit saja cara bagaimana aku bisa mendapatkan ilmu itu." Ho Tiong Jong angguk-anggukkan kepalanya.

"Bagus, bagus ceritakanlah apa yang boleh diceritakan," katanya tertawa.

"Ilmu itu dinamai Tun-te-sut (ilmu masuk tanah) yang aku yakinkan dengan susah payah baru berhasil. Aku harus melatih kepalaku supaya jadi keras, dibantu oleh alat yang merupakan topi lancip dari baja murni.

Bermula aku meyakinkan beberapa kali merasa pening kepalaku, tetapi pelahan-lahan dengan pengunjukan guruku yang telaten dapat juga mempelajarinya ilmu itu. Setelah aku dapat masuk ketanah, sering sering aku tidur dalam tanah, hingga guruku bukannya jarang telah kehilangan diriku: ha ha ha." ia tertawa tergelak-gelak.

Tingkah lakunya Kho Kie yang lucu dan agaknya berhati polos, membuat Ho Tiong Jong semakin lama semakin menaruh perhatian dan suka kepadanya.

Ia sebenarnya tidak percaya ada orang bisa masuk kedalam tanah, akan tetapi mau atau tidak ia harus percaya sebab ia sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Mereka bercakap-cakap sambil duduk didepannya jendela kamar.

Kelihatannya dua orang itu akur sekali, seperti juga kenalan lama. Tiap pembicaraan ditutup dengan suara ketawa, malah terkadang Ho Tiong Jong ketawa nya keterlepasan hingga merasa jengah sendirinya karena disitu ia seberapa bisa harus membawa dirinya berlaku sopan santun-

"Laote" Kho Kie berkata lagi, setelah berhenti ketawa. "tempat disini sangat adem, aku akan pindah disini saja menemani laote, bagaimana?"

"Dengan senang hati." jawab Ho Tiong Jong ketawa.

Kho Kie lalu minta pelayan ambilkan barang-barangnya untuk ia pindah kesitu. Kemudian ia berkata lagi pada Ho Tiong Jong.

"Laote, ketika aku berpisahan dengan suhuku beliau telah berkata padaku, bahwa aku ini sangat nakal. Kalau masih dibawah perlindungannya ada selamat, tapi kalau tidak dalam perlindungannya lagi aku bisa menemui bahaya karena perbuatanku yang nakal dan ugal-ugalan-"

"Ah kalau memang kita tidak mencari onar lebih dahulu, jangan kuatir kita dapat bahaya. Sebab orang boleh tidak begitu gila akan memusuhi kita tanpa alasan, bukan?" menyelak Ho Tiong Jong.

Post a Comment