"Mengikat leher kuda untuk ditarik keatas supaya badannya bisa berbalik."
cong ie bersenyum. Kemudian ia mengeluarkan selendang panjang yang menyiarkan bau harum menusuk hidung. " inilah, kau boleh pakai." kata si nona sambil menyerahkan selendangnya.
Ho Tiong Jong menyambuti sambil tertawa nyengir.
Bau harum selendang itu membuat semangatnya Ho Tiong Jong terbangun, ia kerjakan akalnya dengan bantuannya cong ie, benar saja ia berhasil memutar badannya kuda mereka menghadap balik ke ke tempat asalnya
Makan tempo juga pekerjaan itu, tapi berhasil setelah dikerjakan dengan tidak mengenal sulit karena sebelum mereka melakukan pekerjaannya itu sambil pasang omong dalam soal soal yang menarik dan menggembirakan hati.
"BAGAIMANA, apa kau masih menyesalkan aku? tanya cong ie bergurau. Ho Tiong Jong bersenyum girang tidak menjawab. Sebagai gantinya ia menggeleng-gelengkan kepalanya .
"Hm... orang bisu ... " menggrendeng si nona, sambil naik pula kudanya.
Selendang cong ie tadi tidak dikembalikan kepada pemiliknya, tapi disesapkan dalam kantongnya Ho Tiong Jong.
Kali ini dalam perjalanan pulang, mereka tidak melarikan kudanya berlomba, tapi jalankan kudanya berendeng sambil pasang omong.
Sambil menikmati pemandangan alam yang indah mereka kelihatan gembira sekali. Setelah sejenak mereka berhenti bercakap-cakap. cong Ie berkata. "Engko Ho, bagaimana pendapatmu hal dirinya itu dua saudara oet-ti?"
"Entahlah."
"Aku benci sekali padanya, Mereka sangat jahat, kalau suheng tidak melarang supaya aku jangan bikin onar ditempat ini, sudah sejak siang-siang aku ganyang dua manusia sombong itu." "Ow, galak betul kau nona cong"
"Bukannya galak. memang tabiatku membenci orang yang sombong. Mereka kira kepandaiannya sudah tak ada taranya makanya sikap angkuh dan menyebaikan itu," Ho Tiong Jong tidak memberikan pendapatnya.
Tampak ia hanya angguk anggukkan kepala, seolah-olah ia juga merasa setuju dengan pikiran sang kawan yang merasa sebal dengan sikap oet ti bersaudara.
Sementara Ho Tiong Jong dan cong ie dalam gembira menjalankan kudanya kembali ke tempat penginapannya, di lain pihak oet-ti bersaudara telah bersepakatan untuk membunuh mereka.
Melihat cek-bin Thian ong Him Toa Ki berada diatas puncak gunung ditemani oleh si Tangan Telengas Song Boe Ki, maka dua saudara oet-ti telah mengambil keputusan untuk menyingkirkan jiwanya cong ie dan Ho Tiong Jong berdua. Mayatnya akan dilemparkan kedalam jurang, supaya Him Toa Ki nanti menyangka kalau dua orang itu telah binasa dalam suatu kecelakaan-
Demikianlah, mereka telah mencegat jalan pulangnya dua korbannya.
Tempat dimana dua orang itu sedang lewat ada jalanan sempit dan pada kedua belah tepinya berjurang dalam sekali.
oet ti bersaudara mengintai mereka dibalikpohon dengan pikiran mengiri dan cemburu melihat kemesraan mereka bercakap-cakap.
Ketika dua calon korban itu datang mendekati mereka. oet-ti Koen berkata perlahan pada engkonya.
"Jiko, mari kita dorong saja mereka masuk kedalam jurang, bagaimana pikiran Jiko? ini adalah kesempatan baik untuk kita melampiaskan dendam."
"Itu juga baik." jawab oet ti Kang sambil anggukan kepalanya.
Berdua lantas melihat kesekitarnya, untuk dapat kepastian apakah benar sudah tidak ada orang yang lihat pekerjaan mereka sebentar? Tapi apakah kagetnya mereka ketika menampakkan dirinya di puncak gunung ada Him Toa Ki dan Song Boe Ki yang tengah memandang kebawah dimana Ho Tiong Jong dan cong ie sedang jalankan kudanya.
Him Toa Ki ada jago kawakan dari oei-san-pay, ia dibuat jerih juga oleh oet-ti bersaudara maupun suhengnya si Tangan Telengas Song Boe Ki, tidak heran kalau oet-ti- Koen saat itu menjadi cemas sendirinya.
"celaka, ada dia di atas yang melihat. Sukar untuk kita bekerja menurut rencana kita. Dasar mereka masih bernasib baik" demikian kata oet-ti Koen sambil menghela napas menyesal
oet-ti Kang hanya anggukkan kepalanya ia juga tidak berkata.
Song Boe Ki ketika dengan Him Toa Ki berada dikaki gunung, masing-masing telah turun dari kudanya. Setelah melihat-lihat pemandangan disitu, tiba tiba Song Boe Ki berkata.
"Saudara Him, bagaimana kalau kita naik ke puncak gunung tanpa naik kuda".
Him Toa Ki mengerti maksudnya Song Boe Kie hendak mencoba kepandaiannya, maka ia anggukkan kepala dan menjawab. "Baiklah, sembari kita lihat- lihat pemandangan-"
Song Boe Ki girang mendengar kesanggupan itu, sebab memang sebenarnya ia ingin menjajal kepandaiannya jago dari oei-san-pay itu.
Ketika mereka sampai ditengah-tengah gunung, tampak song Boe Ki kalah napas oleh Him Toa Ki, sebab kalau si orang she Him masih tenang-tenang saja adalah sebaliknya dengan si tangan Telengas, napasnya sudah sedikit memburu. Hal mana bukannya tidak dapat dilihat oleh Him Toa Ki, tapi karena hendak menutup orang punya malu, maka jago dari oei san-pay itu telah jalan bersama-sama saja.
Him Toa Ki dari jarak tiga puluh tombak telah melihat kebawah cong ie dan Ho Tlong Jong berkuda dijalanan yang berbahaya, maka ia minta Song Boe Ki suka bersama sama turun gunung untuk menyongsong cong ie dan Ho Tiong Jong. oet-ti bersaudara juga sudah muncul dari tempat persembunyiannya.
Mereka berenam lalu berjalan pulang. Kalau yang lain-lainnya pulang dengan hati senang karena selamat, adalah oet-ti bersaudara merasa kecewa dengan akal jahatnya telah gagal. Tapi diam-diam mereka masih punya pengharapan, lain kali dapat menganiaya Ho Tiong Jong dan cong ie.
Sebelum mereka sampai dibenteng Seng-kee-po ditengah jalan berpapasan dengan Li-lo sat ie Ya. Semua tidak menaruh perhatian pada wanita galak itu, hanya Ho Tiong Jong yang terkejut diam-diam ia mengawasi ie Ya dalam hati menanya, kedatangannya itu apa maksudnya?"
ie Ya setelah melemparkan senyuman kepada Ho Tiong Tong, lantas menghampiri cong ie dan berkata padanya.
"Barusan aku mendapat kabar si Raksasa in Goei sudah datang ke benteng. Tapi kau jangan takut, dia datang dengan pendekar kawakan Kong-thong Sian-im Hoei Tok Tojin-Mereka berdua telah pergi, maka entah sekarang bagaimana keadaan mereka."
cong ie berubah mukanya mendengar bicaranya ie Ya.
"Ya, In Goei pada lima tahun berselang pernah diusir oleh ayahku, dia tentu sampai sekarang ada menendam sakit hati." Ho Tiong Jong merasa heran-
Sambil tertawa, ie Ya berkata padanya. "Ya, dua partay itu ada merupakan dua musuh besar dari dahulu, maka dendaman sakit hati tak habis-habisnya." Mereka beromong-omong sambil berjalan menuju ketempat penginapan masing masing.
Ho Tiong Jong ketika sampai, segera disambut oleh pelayan yang mengantarkan kekamarnya dilain bagian, bukan dikamarnya yang semula.
Menurut keterangan pelayan, katanya ditempat itu khusus untuk para pendekar ulung yang dapat langsung berhubungan dengan Seng- Lo-pocu (kepala benteng).
Kamar kamar disitu dipecah dua baris yang sebelah kiri untuk pria mendapat pelayan-pelayan pria juga sedang sebelah kanannya untuk kaum wanita yang dilayani oleh pelayan wanita. Tampak keadaan disitu rapi dan resik sekali hingga menyenangkan yang menempatinya .
Ho Tiong Jong terbelalak matanya, ketika ia memasuki kamarnya. Perabotan disitu di- hias rapih dan indah, disekitarnya kamar penuh dengan pemandangan yang menarik hati.
Diam-diam Ho Tiong Jong menanya pada dirinya sendiri. "Apakah orang tidak keliru menanggap tentang diriku ? Aku bukannya pendekar ulung, akan tetapi mendapat tempat yang istimewa begini, betul-betul aku tidak habis mengerti".
Selagi ingatannya melayang-layang, pelayan yang mengantarnya tiba-tiba berkata.
"Ho Siang kong tentu belum tahu, dalam rumah ini mempunyai empat ratus kamar. Dalam bagian kamar-kamar disini masih belum ada yang datang, maka Ho Siang kong harus tinggal sendirian dahulu. Hari keramaian yang ditentukan masih ada tujuh hari lagi, untuk beberapa hari ini pasti Ho Siangkong akan merasa kesepian tinggal sendirian- Siangkong kalau ada keperluan apa-apa, panggil saja pelayan, ia pasti datang untuk melayani Siangkong. Tentang makan, sesuka siangkong mau dimana, dibawa kekamar juga boleh atau mau makan bersama sama teman juga tidak halangan- Pelayan akan menyediakannya. Sebentar malam, Pocu akan memperkenankan semua tetamunya yang sudah datang."
"Terima kasih," jawab Ho Tiong Jong bersenyum, "aku sekarang belum mempunyai teman, maka kalau tidak keberatan aku lebih suka kalau makanan untukku dibawa kekamarku saja"
"Baiklah" kata si pelayan- sambil anggukkan kepalanya lalu keluar dari situ.
Setelah sang pelayan berlalu, Ho Tiong Jong otaknya bekerja. ia memikirkan diam ditempat itu harus berlaku sopan santun, pakaian juga harus pantas enak dilihat orang. Ia bisa berlaku sopan santun, tapi bagaimana dengan pakaiannya? Diam-diam ia merasa tidak enak sendirinya.
Selagi pikirannya bekerja sambil jalan mundar mandir dikamarnya, ia kaget ketika pintu kamar dibuka. Kiranya pelayan tanggung kira kira umurnya sepuluh tahun masuk kedalam. Dengan hormat ia berkata.
"Aku bernama Keng Jie. sengaja datang pada Siang kong untuk menanyakan, apakah Sian kong tidak ingatan untuk membersihkan badan seulah menempuh perjalanan demikian jauh?"
Ho Tiong Jong melengak. la tidak mengira datang-datang pelayan cilik ini mengajukan pertanyaannya yang tepat sekali. Apakah dia tahu bahwa aku telah melakukan perjalanan jauh? Kalau tidak siapakah yang memberi tahukan padanya?" Demikian Ho Tiong Jong menanya pada dirinya sendiri.