"Disinilah ada tempat tidur Ho Siang kong?" kata si pelayan, ketika hendak meninggalkan Ho Tiong Jong. "Harap Ho Siangkong perhatikan tanda jam makan tetamu, yalah bunyi kentongan tiga kali. Tidak akan dipanggil sendiri-sendiri."
"Terima kasih." kata Ho Tiong Jong sambil anggukkan kepalanya bersenyum^
Ho Tiong Jong setelah berada sendirian dalam kamar, pikirannya terkenang pada masa lima tahun yang telah berselang, makan dirumahnya si orang tua engkongnya Hong Jie ia juga mendapat kamar seperti itu, yalah kamar ia untuk bersemedhi.
Tingkah lakunya dan romannya yang mungil menarik dari si dara cilik Hong Jie, yang sekarang entah bagaimana kecantikannya sebab sudah dewasa, saat itu telah terbayang d ihadapan matanya Ho Tiong Jong. Ia diam-diam menghela napas.
Dalam kamar itu ia tidak tiduran, tiduran terus bersemedhi sampai kemudian terdengar ada tiga kali suara kentongan-
Perutnya sudah lama minta diisi, maka tidak heran kalau ia sudah tergesa-gesa meninggalkan kamarnya untuk pergi ke ruangan makan-Beberapa orang yang melihat dandanannya diam-diam pada bersenyum.
la merasa asing setelah berada dalam ruangan makan, karena tidak ada seorangpun yang ia kenali.
Untung ada orang yang memanggil padanya untuk diajak sama sama duduk makan, ia tanpa sungkan sungkan lagi sudah menghampiri dan ambil tempat duduknya. Satu meja untuk empat orang makan.
Tiga kawannya semeja Ho Tiong Jong memperkenalkan namanya Kiauw Jang, Hoi Jang dan Soe coe Liang, tiga orang yang Ho Tiong Jong ingat pernah dengar namanya ada dari kalangan penjahat yang ulung.
Dalam tempo sebentar saja mereka sudah bikin Ho Tiong Jong tidak merasa asing lagi akan dirinya dan saban-saban menyalahkan ia mengambil makanannya tanpa malu malu.
Diam diam Ho Tiong Jong menanya pada dirinya sendiri. Apakah mereka kenal dengan "Sepasang orang ganas"?"
Tapi kemudian ia tidak pikirkan lagi tiga-orang itu dari kalangan jahat atau baik, sebab buktinya menyenangkan padanya dalam makan minum itu. Mereka bersenda gurau dengan jenaka sekali seperti juga terhadap kawan lama. Ho Tiong Jong merasa puas dapat kawan semeja dengan mereka ini.
Setelah selesai makan, Ho Tiong Jong balik lagi kekamarnya untuk tiduran menghilangkan mabuknya karena banyak menenggak arak. Tapi saat itu sedang panasnya, mana ia betah tinggal
didalam kamar? ia tidak bisa tidur, lalu pergi keluar untuk mencari hawa adem. Baru saja ia berjalan dipintu luar, tiba-tiba ia berpapasan dengan seorang wanita yang sangat cantik.
Hatinya Ho Tiong Jong berdebaran ketika matanya berbentrokan dengan mata si nona yang jeli halus, mulutnya yang mungil menyungging senyuman memikat hati.
Pikirnya, ia tentu ada nona dari Seng- keepo. Tidak baik ia berpandangan dengan seorang gadis yang belum dikenalnya, maka ia lalu tundukkan kepalanya. Sejenak. ketika ia mengangkat kepalanya lagi si cantik sudah menghilang entah kemana.
Ia terus berjalan keluar, dimana ia berjumpa dengan nona cing ie yang cantik didampingi oleh suhengnya Him Toa Ki yang terkenal dengan julukannya cek- bin Thian-ong (Raja Langit Muka Merah) yang sedang mengobrol dengan Song Boe Ki dan dua saudara oet ti.
Sebenarnya Ho Tiong Jong mau pura-pura tidak melihat mereka, tapi Song Boe Ki tiba-tiba menegur "oh, sahabat Ho juga ada disini? Betul seperti kata peribahasa, sebegitu lama manusia bernapas satu waktu dapat berjumpah lagi. Bagaimana dengan sahabat Ho setelah kita berpisahan-"
Berkata demikian manis untuk yang tidak tahu duduknya urusan, tapi pahit untuk Ho Tiong Jong yang menjadi pecundang dari tiga murid Siluman KhuTok. Ho Tiong Jong tidak bisa menjawab, ta tebalkan muka untuk tertawa.
"Ya. saudara Song. "Tiba-tiba Him Toa Ki berkata pada Song Boe Kie, "dia siapa gurunya ? Apa kau suka jadi perantara untuk aku belajar kenal dengan-.. "
"oh, dia ada seorang yang tidak laku di- semua kantor Piauwkiok. Banyak kali ia melamar pekerjaan jadi Piauwsu selalu ditolak." sebelum Song Boe Ki bicara habis. Ho Tiong Jong menyelak.
"Aku yang rendah bernama Ho Tiong Jong seorang tidak berguna sudah lama aku mengagumi nama Him Tay hiap dan sumoy nona .. "
"Sudah, sudah, jangan mengumpak-ngumpak orang." memotong Him Toa Kie. "Menurut saudara song di dekat sebuah gunung Hui cui yang banyak binatangnya itu. bagaimana kalau kita sama-sama pergi ke sana untuk berburu ?"
Belum Ho Tiong Jong menjawab, cong Ie menyeletuk.
"Hei, bukankah kau bernama Ho Tiong Jong yang menga... "
"Husst " memotong suhengnya, sambil mengedipkan matanya pada sang sumoy hingga nona
cong tak jadi meneruskan kata-katanya. Ho Tiong Jong hanya bersenyum
"Mari, mari kita pergi, bagaimana, apa saudara Ho suka turut?" Him Toa Ki berkata lagi pada Ho Tiong Jong
"Aku mau turut, cuma cuma aku tidak punyaku... "
Belum lampias kata-katanya ia dibikin heran dengan munculnya seorang pelayan menuntun seekor kuda bagus, komplit dengan golok baja kegemarannya.
"Ho Siang kong" kata si pelayan, "karen tentu kau ingin pesiar dengan naik kuda, maka majikanku sengaja telah mengirim kuda ini untukmu?"
Ho Tiong Jong kemekmek. belum ia membuka mulutnya atau pelayan tadi sudah menghilang dari pandangannya.
"Bagus, bagus... " kata Him Toa Ki sambil ketawa terbahak-bahak. "Barusan saudara Ho mau bilang tidak punya kuda eh, mendadak muncul kuda sebagus ini... " Demikian mereka telah pergi berburu dengan masing-masing naik kuda.
sepanjang jalan Ho Tiong Jong masih memikirkan halnya kuda yang diberikan untuk ia pakai. Kudanya mungkin tidak mengherankan, sebab mungkin tuan ramah ada menaruh perhatian akan kepercayaannya sang tetamu, akan tetapi itu golok juga bukannya golok sembarangan- Betul-betul ia tidak habis mengerti.
Beranjau naik kuda turun dan naik gunung sampai sepuluh li jauhnya.
Sepanjang jalan Ho Tiong Jong selalu digocek dan mau dibikin celaka oleh musuhnya, akan tetapi selalu ia dapat menghindarkan dirinya.
Siluman Khoe Tok dengan oei-san-pay memang ada menaruh ganjalan, maka tiga muridnya juga anggap dua orang suheng dan sumoy yang berada diantara mereka itu ada musuh-musuhnya. Kiranya ganjalan bukan saja dibuktikan dengan kekuatan tenaga orang atau senjata, akan tetapi jaga dengan cara berkuda orang mau mengunjukkan keunggulannya.
Jadi mereka telah berlompat- lompat naik dan turun gunung, untuk membuktikan siapa diantar mereka yang mahir mengendalikan binatang kaki empat itu.
Nona cong ie mengenakan baju hijau dan kudanya berbulu kuning bagus. Ia mahir sekali menunggang kuda, ketambahan kudanya bagus maka ia kelihatannya yang paling hebat berlomba, dibelakangnya ada Ho Tiong Jong yang terus mengintil.
Bukannya tidak tahu disepanjang jalan tiga musuhnya selalu main mata untuk menyelakakan dirinya, akan tetapi ia tidak berdaya akan menimpanya dengan kekuatan maka sebisa-bisa ia mencari akal untuk menghindari dirinya dari bahaya.
cong ie yang melihat Ho Tiong Jong terus mengintil dibelakang tidak dapat merendenginya ia berkuda, maka ia berhentikan kudanya menunggu. Setelah Ho Tiong Jong sampai meneruskan berkudanya berendeng.
"Engko Ho," tiba-tiba cong ie berkata, "aku lihat kudamu baik dan larinya tentu hebat, tapi kenapa kau ketinggalan saja?" Ho Tiong Jong tidak menjawab, ia hanya bersenyum.
cong ie ada putrinya Tlong coe Goan, ketua oei-san-pay. Sedang Him Ton Ki apa murid kesayangannya cong coe Goan, belakang hari yang menggantikan cong coe Goan tentu Him Toa Ki sebagai ciang bun jin (ketua partai).
Sebagai putri tunggal, cong ie sangat dimanja oleh orang tuanya.Tidak heran kalau ia kolokan dan adatnya sangat congkak.
Melihat Ho Tiong Jong diam saja atas penanyaanya tadi, maka dengan sengaja ia sabet kudanya dan dikaburkan- ia tidak kira Ho Tiong Jong masih bisa mengintil terus dibelakangnya dalam jarak yang tertentu.
Ketika hendak menaiki gunung. cong ie berteriak. "Engko Ho.hayo kita berlomba naik gunung, siapa yang sampai terlebih dahulu kesana"
Ho Tiong Jong tidak menjawab, hanya bedal kudanya menyusul si nona yang sudah larikan kudanya terlebih dahulu. Banyak selat-selat gunung yang berbahaya telah di lalui oleh mereka, hampir-hampir diantara-nya masuk jurang. cong ie ternyata tenaga dalamnya cukup mahir ia gunakan itu untuk imbangan sehingga kudanya tidak sampai jatuh kedalam jurang.
Ketika sampai disatu tempat, cong ie menanya pada Ho Tiong Jong. "Engko Ho, apa kau berani untuk naik terus?"
Ho Tiong Jong sebenarnya sudah tidak mau meneruskan naik gunung, karena semakin lama jalanan sudah jadi semakin sempit saja, tapi karena ia merasa malu kalau mesti menyebutkan tidak berani, maka ia berkata.
"Nona Tiong, baik aku iringi kehendakmu jikalau kau masih ada minat untuk naik terus."
cong ie bersenyum manis, matanya mengerling galak, hingga Ho Tiong Jong tidak berani menatapnya wajah yang cantik itu lama-lama. Si nona lalu keprak kudanya lagi untuk naik terus.
Betul betul putri ketua oey-San-pay ini tidak mengenal takut. ia jalankan kudanya sampai ditempat yang tidak dapat dilalui oleh dua ekor kuda berendeng diteruskan keselat dimana sang kuda tak dapat memutarkan badannya lagi. Sampai ditempai itu barulah si nona geleng-geleng kepala.
Dengan Ho Tiong Jong ia mencari akal bagai mana baiknya untuk membalikan tunggangannya masing masing supaya bisa kembali,
"Nona cong, kalau tadi kau tidak nekad, sekarang kita tak akan menemui kesukaran ini." terdengar si pemuda seperti yang menyesali kawannya.
"Engko Ho, kalau tadi kau menampik ajakanku tentu kita tidak akan menemui kesukaran ini." si nona membalas menyesali: Ho Tiong Jong tidak berdaya di-kik balik oleh cong ie.
Melihat anak muda itu membisu si nona berkata lagi. "Engko Ho, kau tidak seharusnya menyesali aku sebab kalau kau tidak mau tentu juga aku tidak akan datang disini sendirian-Sekarang ibarat beras menjadi bubur mau apa lagi? Selainnya kita mencari daya bagaimana kita akali supaya kuda kita bisa berbalik badannya, bukan?" Ho Tiong Jong tertawa murung mendengar alasannya si nona. Mereka bercakap-cakap sambil duduk di atasnya batu besar.
Ho Tiong Jong lantas gerakan badannya turun kebawah mencari tali, tapi barang yang dicarinya tidak diketemukan- Terpaksa ia naik lagi dengan perasaan agak bingung menghadapi kesulitan diatas selat gunung yang sunyi itu.
"Kau turun kebawah mau apa?" tanya si nona, ketika melihat Ko Tiong Jong sudah naik kembali.
"Aku mencari tali."
"Tali untuk apa ?"